For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Separuhku



“Siap ya, Bang!” Pemuda itu menepuk bahu sepupunya sebelum beranjak menuju panggung kecil di café bagian outdoor.



Semua telah direncanakan sebaik\-baiknya, perayaan ini akan sukses di bawah pimpinan David. Acara ini akan diabadikan Ega dalam bentuk video, karena David tidak mau melewatkan kenangan manis bersama gadis yang selama ini ada di sampingnya. Di kolom ke tiga barisan ke enam, seorang gadis terbalut midi dress biru terang duduk bersama kedua orangnya sambil bercanda. Gadis itu tidak tahu rencana David, karena ini adalah kejutan.


Malam terindah dalam hidup gadis itu dimulai.


Lampu dari empat sudut menyorot Velicia begitu saja membuat semua pandangan pengunjung berpusat padanya. Gadis itu tersentak atas cahaya yang tiba-tiba menerpa, pikirannya berpusat pada dua orang yang berada di hadapannya. Pasti ini kejutan dari dua orang tercintanya, Felyana dan Hans. Lihat saja dari tatapan serta senyum menghias bibir mereka.


Belum sempat pertanyaan untuk orang tuanya keluar, petikan gitar memecahkan suasana hening. Pencahayaan yang remang mulai menyorot pemuda yang sedang duduk di atas panggung. Wajah pemuda itu terlihat kuning akibat cahaya, tapi Velicia mengenalinya.


“Assalamuaikum, Teman-teman. Selamat malam semuanya. Kuingin menjadikan malam ini adalah malam terindah untuk gadis yang di sana, Velicia Navvirel Aulia.”


Gadis itu belum sepenuhnya percaya atas apa yang dilakukan David. Pandangan mereka bertemu meski jaraknya lumayan jauh. Keduanya sama-sama tersenyum disaksikan seluruh pasang mata yang ada di outdoor café itu.


“Selamat ulang tahun, bahagialah kamu, kuingin jadikan kamu sebagai ratu malam ini.”


David kembali memetik gitarnya. Alunan melodi begitu menghanyutkan hati, pemuda itu menciptakan suasana tenang lewat lagunya.


Entah kenapa, kejutan sederhana dari David mampu membuat jantungnya berdegup.


“Senyuman, terlukis di wajahku....


Di saatku mengingat kamu....


Tawamu manjamu membuatku rindu....


Tak sabar ingin bertemu....


Suara lembut menyapa aku....


Lembutnya selembut hatimu....


Tulusnya setulus cinta padaku....


Kusadar beruntungnya aku....”


Dia membakap mulutnya tidak percaya. Velicia telah melewati lima belas tahun dan ini adalah pertama kali ulang tahunnya dirayakan. Arah pandangnya tidak lepas dari pemuda yang sedang bernyanyi di sana, hingga sampai di detik\-detik akhir lagu, langkahnya menuntun untuk menghampiri David.



Riuh tepuk tangan bergelora saat Velicia berjalan anggun menghampiri pemuda di atas panggung itu.. Mereka saling lempar senyum dalam jarak dekat, membuat euforia memeluknya. Tidak ada yang tidak terhipnotis oleh mereka berdua, semua pengunjung mematapnya suka.



“Berbagi suka duka


Saling mengisi dan menyerpunakan


Velicia tersenyum lebar begitu David menyelesaikan lagu Separuhku milik Nano. Pemuda itu beranjak menuju meja yang di atasnya ada laptop serta proyektor. Velicia memandang pantulan cahaya proyektor yang menampilkan home laptop David. Kursor bergerak sesuai perintah, masuk ke goggle, ke youtube, dan diam di halaman itu.


“Bersamanya kumengukir mimpi, dan kuyakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Velicia, kujadikan a million dreams ini sebagai hadiah untuk ulang tahun kamu.” Pemuda itu melirik gadis yang masih berdiri di tengah panggung kemudian menekan enter untuk upload cover lagu A Million Dreams.


Permintaannya saat itu hanya bercanda. Setelah Velicia mengatakan semua itu, David tidak membahas apa-apa lagi. Velicia kira pemuda itu tidak akan memenuhi keinginan untuk diberi hadiah itu. Kelopak matanya mulai dipenuhi air mata haru atas apa yang diberikan David. Kakinya tidak mampu digerakkan, tangannya masih setia membekap setengah wajahnya.


David tersenyum seraya menghampiri gadis yang selalu cantik setiap detik di matanya. Tidak ada suara yang tercipta, suasana juga sangat hening. Pemuda itu mengangkat tangannya sebatas bahu dengan jari-jarinya dibuka lebar supaya Velicia mengisi kekosongan sela jarinya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk paham. Jari mereka saling melengkapi, adegan romantis dua remaja itu membuat suasana riuh, terlebih pengunjung remaja yang terbawa perasaan sampai berteriak histeris.


“I can show you the world shining, shimmering, splendid. Tell me, Princess, now when did you last let your heart decide?” Velicia menatap lekat mata legam pemuda di hadapannya bingung. “I want you to come with me to run the world, and hope we dreams will take there. Velicia Navvirel Aulia, so will you my girlfriend? I hope, we one forever.”


Mendengar penuturan itu membuat Velicia langsung kicep. Bagaimana bisa pemuda itu dengan mantapnya mengatakan hal yang menurut Velicia tidak mungkin. David tidak mengatakan perasaannya, dia hanya mengajaknya menguasai dunia saja, tapi kenapa harus dengan pacaran?


“I want the answer.”


Gadis itu masih melongo tidak percaya menatap mata David. Jangan-jangan prank.


“I’m really with you. I need you, Velicia.”


Hanya dengan satu anggukan kecil sudah menjadi jawaban yang membahagiakan bagi pemuda itu. Penerimaan tanpa rasa. Gadis terlewat serius itu tidak tahu tentang rasa. Cinta yang dia tahu hanyalah kepada orang tua dan keluarga, selain itu tidak mengerti. David mengajaknya pacaran tanpa ada pernyataan perasaan, dan Velicia menerima tanpa ada rasa sama sekali. Puluhan pasang mata menyaksikan senyum dua remaja di atas panggung itu, tanpa ada yang tahu hati mereka seperti apa.


Tatapan dan penyatuan tangan mereka terputus saat sepasang suami-istri membawakan kue sederhana yang di atasnya ada lilin angka lima belas.


Selama ini tidak pernah ada perayaan ulang tahun di keluarganya, karena mereka sepakat dalam pandangan. Bahwa bertambahnya angka usia otomatis mengurangi waktu kita di dunia. Tidak ada hal indah dalam hari ulang tahunnya selama ini selain ucapan happy birthday dari keluarga dan fansnya, hanya itu, tidak pernah lebih.


Sekalinya ulang tahun dirayakan, kenapa akhirnya seperti ini.


Bukan maksud Velicia untuk berbohong, tapi dia tidak berani menolak.


Velicia tidak percaya dengan kolaborasi orang tuanya dan David yang sangat memukau. Bagaimanapum dia masih belum percaya atas pesta kecil yang dibuat mereka.


Gadis itu langsung berhambur ke pelukan sang mama. “Thank you, Mom. I’am really happy.”


Felyana mengelus rambut putrinya dengan lembut kemudian mencium puncak kepalanya.


“Tiup lilinnya, ya.”


Mereka yang mengenal Velicia dari dunia maya menyukai gadis itu atas dasar paras cantiknya, postur tubuhnya, pakaian sederhana tapi memukau, dan prestasi-prestasi gemilang yang diukirnya. Dari beberapa postingan bersama keluarganya, mereka tahu bahwa gadis itu dilimpahi kasang sayang. Belum lagi dari vlog Velicia, mereka tahu seperti apa kehidupannya yang serba mewah.


Mereka menyukai Velicia, sekaligus merasa iri ketika melihat gadis itu tersenyum. Tidak ada alasan bagi Velicia untuk tidak bersyukur. Memiliki kehidupan layak, dilimpahi kasih sayang, dan selalu diperlakukan special. Apalagi yang kurang? Tidak ada orang yang tidak ingin berada di posisi Velica, mereka semua mau. Hanya saja, mereka tidak seberuntung gadis itu.


Riuh tepuk tangan menggema seusai Velicia meniup lilin itu. David tersenyum melihat gadisnya sedang memeluk papanya. “Thank you my hero.”


“You’re welcome, Sayang.”


Velicia hanya tersenyum pada David tanpa ada niat untuk memeluknya seperti yang dilakukannya kepada Mama-Papa. David mengangguk paham. Velicia memang sudah menjadi pacarnya, tapi bukan berarti miliknya.