For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Planning II



“Kita mulai diskusinya,” putus Velicia.


David berdecak kesal seraya menggaruk kepalanya kasar. Semuanya juga sudah terlanjur, makanan yang ada di hadapannya tidak bisa dikembalikan.


Sebuah buku tebal dikeluarkan David dari tas gendong. Halaman pertengahannya dibuka sebelum mempresentasikan projek kepada Velicia. “Ini pertama kalinya aku mau cover lagu sampai membuat video clipnya. Terdengar nekat banget, sih. Tapi, apa salahnya mencoba?” David merasa kaku harus bicara panjang lebar apalagi sampai ditatap seintens itu oleh gadis di depannya. Jangan tanyakan kabar jantungnya yang kini mulai tidak beres. “Ketika aku dan kamu nyanyi bareng malam itu, entah dorongan dari mana, yang jelas ada gejolak semangat dalam dada aku untuk melakukan aksi. Selama ini aku hanya bisa bermimpi, tapi terlalu takut mengambil langkah untuk mewujudkan semua itu. Untuk itu, aku ajak kamu dalam projek ini.”


“Mimpi tanpa aksi itu seperti asap, David. Terlihat ada, tapi tak tergapai. Melangkah maju memang harus berperang dulu dengan rasa takut. Dan kamu, kamu orang yang rela dibunuh rasa takut sebelum berusaha melawannya.”


David tersentak dan merasa ditampar oleh kata-kata itu. Memang benar seperti itu, tapi dia tidak bisa menerima dikatakan seperti itu. David bungkam sesaat, dalam diamnya berusaha mengendalikan emosi. “Aku akui kesalahan itu, sekarang bantu aku melawan itu semua, Vel.”


“Share your dreams with me, aku akan bantu sebisanya.”


Lengkung senyum tercetak tipis di bibir pemuda itu. David mulai membuka lembar setelah lembar pertengahan. “Aku buat sedikit percakapan untuk nanti. Jadi, setelah selesai lagunya, kita mengobrol tentang mimpi.” Dia memberikan buku tersebut supaya Velicia membaca percakapan singkat yang dibuatnya. “Percakapan itu belum fix, jika kamu ingin merubahkan, silakan. Aku tidak ahli dalam merangkai kata, beda sama kamu yang udah pro.”


Velicia meneliti huruf-huruf yang tertuang dalam lembar kertas tersebut. “Bagus, kok. Hanya saja ada beberapa kalimat yang kaku.”


David memberikan bolpoin. Velicia tidak segan mencoret kalimat-kalimat yang menurutnya terlalu kaku lalu menggantinya dengan kalimat baru, tapi maknanya sama seperti tadi, perubahan tersebut hanya permainan kata saja.


“If you can dream it, you can do it. Veli suka kata-kata ini,” katanya seraya memberikan buku itu kepada pemiliknya. “David, jika kamu bisa membuat kata-kata seperti ini, tidak ada alasan bagi kamu untuk takut melakukan aksi. Ketika seseorang mampu membuat quotes motivasi untuk orang lain, sebaiknya quotes itu ditunjukkan untuk diri sendiri dulu.”


Pemuda itu tersenyum kaku untuk menanggapi. “Itu bukan quotesku, Vel. Beberapa bulan yang lalu aku pernah melihat rombongan kunjungan industri siswa SMK, terus di belakang baju yang mereka pakai ada kata-kata itu.”


“Kalau begitu, kamu sudah menjadi plagiator.”


“Kenapa begitu? Aku mengkopi kata-katanya cuma sedikit.”


“Mau banyak atau sedikit, yang namanya karya adalah sesuatu yang tidak ternilai. Cara termurah untuk membelinya dengan mencantumkan siapa penulis dari kata-kata tersebut. Karena kita tahu sendiri, membuat suatu karya itu tidak semudah kita membaca karya orang lain.”


David mendengkus pelan lalu mencoret kata-kata itu. Dia bersikeras berpikir untuk mengganti kata-kata yang sudah dicoret. Tiba-tiba Velicia mengambil buku serta bolpoinnya. Gadis itu menulis sesuatu.


“Apa kamu tahu kenapa Veli menerima tawaran kamu tanpa berpikir dulu?” tanya gadis itu menatap David dengan lekat.


David menyergit. “Kenapa?”


“Karena A Million Dream adalah lagu favorit Veli, David. Lagu itu motivasi buat Veli, obat malas buat Veli, dan pengingat buat Veli. Setelah satu mimpi berhasil Veli wujudkan, Veli teringat masih ada 999 ribu mimpi yang menunggu diwujudkan.”


“Jadi, batas mimpinya hanya sejuta?”


“Lebih dari itu.”


David tiba\-tiba senyum tanpa sebab. Velicia telah membuatnya nyaman lewat kata\-katanya yang memukau. Keduanya seperti dua orang yang sudah lama berteman, tanpa sekat dan canggung dalam berbicara.


Pemuda itu mengambil bukunya yang dipegang Velicia. Tangannya menjelajah ke halaman yang diberi judul ‘jadwal’. “Vel, ini jadwal untuk projek kita. Kebetulan Om aku seorang musisi, dia punya studio di Jakarta Timur. Bagaimana jika lusa kita mulai rekaman?”



Velicia mengambil tisu untuk lap bibirnya setelah memakan makanan laut itu. “Bisa, tapi rekamannya sore hari, ya?”



“Kenapa tidak pagi?”



“Veli harus ikut tes masuk sekolah dulu. Jadwalnya lusa. Kalau besok bagaimana? Kebetulan Veli free.”




Velicia mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar jadwal yang dibuat David. “Ada lagi yang ingin didiskusikan?” tanyanya seraya memasukkan ponselnya lagi k etas persegi panjang yang disimpan dekat dalgona coffee.



“Cukup sampai di sini saja. Oh iya, aku mau minta izin buat chat kamu. Boleh, kan?”



“Emang kamu punya nomor Veli?”



“Aku menyalin nomor kamu dari novel Menantang Dunia.”



Mereka saling berpandangan, senyum terukir perlahan . “Chat saja jika ada perlu.”



“Setelah ini kita pulang?”



“Makan dulu, baru pulang.”



David menatap makanan laut yang belum tersentuh sama sekali. Rasanya tidak percaya jika harga sepiring seafood plater di hadapannya mencapai ratusan ribu. Apasih istimewanya makanan itu?



“Kamu nggak suka? Atau alergi seafood? David, maaf. Kalau nggak suka, kamu pesan menu lain aja, ya.”



Tidak ada riwayat alergi seafood di keluarga David. Hanya saja, ini kali pertamanya akan mencicipi makanan yang menurutnya super mahal. “Enggak, kok. Tapi, masih kaget aja sama harganya.” Pemuda itu terkikik geli sambil geleng\-geleng kepala. “Vel, aku bawa uang sedikit. Mana mungkin bisa bayar semua ini. Aku nggak tahu kalau harga makanan di restoran ini mahal\-mahal. Boleh nggak pinjam uang kamu dulu? Aku janji, besok akan ke rumah kamu untuk mengembalikan uangnya.”



“Nggak usah dipikirinlah. Kamu makan aja dulu. Yang pesan kan Veli, yang bayar juga harus Veli.”



“Nggak bisa gitu, Vel. Aku kan cowok.”



Velicia mengembuskan napas kesal. Pemuda di hadapannya itu terlalu polos dan menjengkelkan. Soal pembayaran saja dibawa ribet. “Makan aja dulu. Hal sepele nggak perlu dipermasalahkan."