
Sampai pukul sepuluh pun Velicia tidak punya keberanian untuk membuka kertas itu. Dia orang kedua yang menyelesaikan ulangan matematika dengan hasil great! Artinya semua jawaban benar. Dia keluar dan memilih duduk di kursi koridor depan kelasnya bersama pemuda yang menyelesaikan ulangan pertama.
Mereka satu kelas, pemuda itu tahu Velicia, sayangnya gadis itu tidak tahu pemuda tersebut. Memangnya siapa yang tidak mengenal Velicia? Juara faralel, penulis, youtubers, orang famous gitu loh. Namun, Velicia terlalu menutup diri, seakan tidak mau kenalan atau diajak kenalan.
Mencari topik itu benar-benar susah. Itulah yang dirasakan pemuda itu. Mana gadis di sampingnya sibuk dengan laptop, entah mengerjakan apa. Karena bingung harus memulai obrolan dari mana, pemuda itu memilih untuk membaca buku.
Velicia mendapat sebuah panggilan dari orang kantor. Dan... bom! Orang kepercayaannya terlibat dalam kasus korupsi. Gadis itu segera ngecek e-mail yang baru saja masuk, membuka sebuah file, di sanalah tertampang bukti akurat ada tiga orang yang terlibat kasus. Dua orang yang bekerja di lapangan sudah Velicia ketahui kemarin, tetapi orang kantor yang terlibat itu benar-benar membuatnya tidak percaya.
"He is my father," ujar pemuda di samping Velicia ketika melihat monitor yang sedang menampilkan video berdurasi sepuluh detik merupakan rekaman cctv.
Pernyataan pemuda tersebut sukses membuat Velicia menoleh. "Really?"
"Yes. Anusa Architects?" Pemuda itu menyebut nama perusahaan tempat papahnya berkerja.
Velicia tidak perlu melibatkan seorang anak karena kesalahan papanya sendiri. Yang mencari masalah adalah Pak Andri, bukan putranya. Gadis itu menggelengkan kepala untuk mengendalikan diri supaya tidak mencampur adukkan masalah di kantor dengan teman sekolahnya.
"Eum... sorry, my father...."
Velicia cepat-cepat beranjak untuk menghindari pemuda itu sementara waktu. Meski dia tahu bahwa tindakannya itu tidak benar. Namun, dia butuh waktu. Orang kepercayaannya selama ini berkhianat? Siapa yang percaya?
****
"Get out from here!"
"Without me, it would be impossible for this company to be like now! Ini semua berkat saya! You!" Pak Andri menunjuk bocah ingusan yang berani memecatnya karena masalah sepele. "Tanpa saya, Anda tidak akan seperti sekarang! Harusnya saya yang berada di posisi Anda, mengambil alih perusahan ini, karena saya orang kepercayaan Ibu Felyana. Anda hanya bocah ingusan! Bocah yang tidak tahu apa-apa!"
"I don't care," balas Velicia setenang mungkin sembari melipat kedua tangan di depan dada.
"Bocah tidak tahu diri!" Pria itu keluar dari ruangan disambut tatapan penasaran dari karyawan lainnya. "All this, bullshit! You all, percaya sama saya! Bocah ingusan ini sok berkuasa, dia tidak layak jadi pemimpin!" serunya dengan amarah menggebu-gebu menelisik karyawan lainnya yang menatap heran.
Velicia hanya menampilkan tampang datar setenang mungkin meski daritadi dibentak-bentak. Pria itu wajar marah karena keputusannya meskipun akibat kesalahan diri sendiri.
"Say everything," pancing Velicia samil menyandarkan punggung di pintu.
"Saya bawa ini semua!" Dia menyambar file demi file yang menurut Velicia tidak penting dan beberapa alat kerjanya. Mungkin itu miliknya.
"Bawa saja."
"Ini semua berkat saya! This company like now, ini semua berkat kerja keras saya!"
Gadis itu tersenyum miring menanggapinya. Marah membuat seseorang egois. Perusahan itu bisa seperti sekarang bukan karena Pak Andri saja, melainkan kerja sama tim.
"Saya tidak akan menginjakkan kaki di sini lagi! Pengkhianat!"
Siapa yang berkhianat di sini? Bukannya pria itu yang menggelapkan uang perusahaan. Beruntunglah penggelapan itu belum parah sehingga tidak terlalu merugikan perusahaan, mungkin mereka bertiga baru mencobanya untuk main-main atau sinonimnya 'coba-coba'. Coba-coba untuk korupsi, bagaimana sih rasanya? Biar menjadi orang kaya dengan cepat dan mudah, seperti melewati jalan pintas, tetapi cara yang mereka lakukan itu salah.
"Ini semua berkat saya! Ingat itu!" katanya sebelum benar-benar pergi.
Karyawan lain yang kesibukannya terganggu oleh perdebatan yang terjadi memusatkan pandangan kepada bos kecilnya.
"Bukan masalah besar," kata Velicia untuk menenangkan mereka. "Kejujuran adalah modal hidup. Ingat itu. Saya butuh partner baru sekarang. Siapkan diri mulai sekarang, saya akan menilai langsung kinerja kalian untuk penyeleksian layak dan tidaknya menjadi partner saya."Selepas itu Velicia kembali masuk ruangannya sambil memasukkan kedua tangan ke jas almamater sekolahnya.
Pikiran Velicia mumet dan tidak bisa memaksakan diri untuk bekerja. Selepas melapas jasnya, menyimpan tas sekolah di meja kerjanya, dia keluar dengan kertas dari David yang kini sudah lusuh. Velicia butuh hiburan, Velicia butuh orang untuk menghiburnya.
Gadis itu ikut bergabung dengan kumpulan karyawannya yang sibuk menghitung beserta berbagai macam penggaris yang digunakan. Dia duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja besar tersebut.
Fokus mata Velicia tidak teralihkan dari pemuda berseragam putih abu yang sibuk membangun miniatur. "Kamu siswa PKL itu, ya? Berapa orang yang PKL di sini?"
Rian Deniandra, huruf yang tersusun di badge name seragamnya. Pemuda itu menjawab, "Dua orang, Kak... Bu... ah, bos."
Velicia dan tiga orang yang meneglilingi meja itu langsung meledakkan tawa melihat gelagat pemuda itu yang kebingungan memanggil bosnya. Siapa suruh menjadi bos diusia belia? Lima belas tahu lagi. Jadinya orang lain bingung mau manggil apa.
Mereka masih setia dengan tawanya, tetapi Velicia kembali berekspresi datar. "Yang satunya mana?"
Rian menatap Velicia dengan takut-takut. Wajah datar itu terlalh menyeramkan. "Tadi diajak ikut ke lapangan."
"SMK mana?"
"Little bos, udah, kasihan, Rian sampai gugup diintrogasi sama bosnya," kata pemuda yang memakai kemeja dengan tangannya dilipat sampai siku.
Velicia terkekeh melihat anak itu. "Bagaimana mau melamar kerja kalau diintrogasi segitu saja ciut? Jangan punya mental tahu, Yan."
"Iy... iya, Kak."
"Little bos kita lebih muda dari kamu, Yan. Kakak-kakak, enggak sekalian ibu?"
Beberapa karyawan ada yang tahu di mana waktunya Velicia serius atau bercanda. Ketika bersantai sambil kerja seperti ini, Velicia datang sambil menghampiri, itu tandanya bos kecil mereka sedang ingin bercanda untuk mengusir penat. Jadinya mereka tidak perlu menggunakan bahasa formal atau menciptakan suasana seserius mungkin.
"Little bos, soal masalah Pak Andri, itu kenapa?"
Ya, Velicia sengaja menutup masalah korupsi itu. Hanya beberapa orang yang tahu masalah tersebut. Yang mereka tahu hanyalah Pak Andri dipecat. "Bukan masalah serius. Yang harus kalian tahu, perbuatan tidak baik itu tidak akan pernah menang."
Akan banyak orang tidak percaya bahwa Pak Andri melakukan hal seperti itu. Pasalnya, pria itu tipe orang pekerja keras, selalu jujur, dan berwibawa. Namun, siapa sangka bahwa bukti berkata lain? Mungkin pria itu sedang khilaf.
Ekor mata Velicia menangkap kertas yang tadi disimpan di samping tangan yang tertumpu pada meja. Kertas dari David itu apa isinya? Kenapa hatinya yakin sekali bahwa itu pernyataan putus. Sekeras apapun Velicia menolak, tetap saja hatinya tidak rela. Mungkin David bosan karena selama ini dia terlalu egois. Pemuda mana yang bertahan jika pacarnya cuek level dewa seperti Velicia?
Setelah menyiapkan hati untuk menerima kenyataan, tepat saat membuka kertas itu, isinya hanya rumus, soal matematika, dan angka yang tidak dipahami Velicia.
1) x² + (y-√(|x|))² \= 1
2) 9x-7i > 9x-21u
3) 444 55566688833 88
4) 128√e980
Maksudnya, ini tugas matematika David yang harus dikerjakan Velicia? Ah, imposible, David kan cerdas. Lagipula soal nomor dua itu mudah, anak SMP juga pasti bisa menjawab. Velicia tinggal menelitinya dan langsung bisa tahu bahwa isinya i < 3u.
Perlu beberapa waktu otak prosesor Velicia mencerna, sampai akhirnya tahu maksud dari jawaban itu.
Seketika tawanya meledak atas gombalan yang dilontarkan David lewat matematika. "Hei, pinjam bolpoin atau pensil." Sebelum diberi izin, gadis itu langsung menyambar pensil dan kertas HVS yang ada di dekat laptop pemuda berkumis tipis.
Dia langsung menulis 'answer: i < 3u too' di samping soal nomor dua.
Gadis itu mulai menghitung nomor satu. Perlu beberapa menit baginya untuk menjawab soal itu, sampai akhirnya senyum gadis itu terukir lebar setelah membuat sebuah grafik.
Bahagia Velicia sederhana, cukup dibuat pusing oleh angka-angka itu kemudian menemukan jawaban yang romantis. Sebuah grafik cinta, dari David, sesederhana itu sukses membuat Velicia tidak bisa menahan senyumnya.
"Little bos kenapa?"
Bukannya menjawab, Velicia memukul-mukul meja pertanda bahwa dia tidak mampu menahan senyumnya lagi. Ini pertama kalinya Velicia merasakan debar jantung yang tidak normal, wajah rasanya seperti dibakar, dan senyumnya tidak mau luntur.
Hal tersebut muncul tidak tahu tempat. Harusnya Velicia menghitung soal dari David di ruangannya, bukan di tempat yang disaksikan oleh karyawannya. Tinggal tunggu waktu saja kapan Velicia akan dipanggil orang gila oleh karyawan sendiri.
"Jatuh cinta itu kayak apa?" tanya Velicia polos di depan pemuda-pemuda yang melingkari meja itu. Pertanyaan itu mengundang tatapan penasaran dari mereka. Arah pandang Velicia menuju ke pemuda yang memakai kemeja warna hijau army. "Kamu udah punya istri, kan?"
"Iya, status saya sekarang calon bapak. Kenapa?"
"Kamu pernah jatuh cinta sama istri kamu?" Oke, soal fisika, Velicia masternya, matematika, dia juga jagonya, kimia, bahasa Inggris, dan pelajaran lainnya, gadis itu patut diapresiasi. Namun, soal cinta, dia seperti orang ****, bertanya tentang cinta saja tidak jelas. Mana otak prosesornya? Kenapa tidak berfungsi saat membahas soal cinta?
"Haduh, little bos, kalau nggak jatuh cinta, mana mungkin Kevin menikahi istrinya," seru pemuda berkumis tipis seraya menggelengkan kepala, tidak percaya dengan sisi kepolosan bos kecilnya.
Rian melirik kertas soal dan HVS tempat Velicia menjawab soal matematika dari David. Keningnya mengkerut, meneliti apa yang dilihatnya. "Ini dari pacar, Mbak? Romantis, ya. Cinta-cintaannya pakai matematika. Kalian sama-sama orang pintar, ya." Dan sialnya, Rian memindahkan kertas soal dan jawaban Velicia ke tengah meja.
Hari itu adalah hari patah hari berjamaah, terutama untuk para jomblo. Seperti pemuda berkumis tipis itu. Karyawan baru lulusan Universitas Pancasila yang lulus satu tahun lalu di usianya yang masih dua puluh tahun. Melihat grafik yang dibuat Velicia membuat wajahnya langsung masam. "Kamu punya pacar?"
"Enggak," sanggah gadis itu.
"Terus?"
"Masa depan Veli," jawabnya sembari menjatuhkan kepala ke meja. Veli bodoh! Kenapa harus sejujur itu? Ah, David benar-benar menjadikannya orang gila sungguhan.