For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Diselimut Kecewa



Ternyata bukan penjelasan yang didapat. Melainkan dua ratus eksemplar harus ditandatanganinya. David memandangi Velicia yang sibuk menandatangani secara terang-terangan. Apasih isi dari otaknya Velicia? Sampai mempunyai salah saja seperti tidak merasa bersalah. Yang David butuhkan hanya penjelasan, apa itu sulit bagi Velicia?


 


Tidak ada tanda\-tanda Velicia bersuara. Gadis bermata sembab itu sekan bisu.


“Vel—”


“Maaf.”


Hanya satu kata? Apa maksud dari kata maaf itu? Ini sudah kedua kalinya Velicia mengucapkan kata ‘maaf’.


“Apa aku punya salah sama kamu?”


Gadis itu ada niat untuk menjawab pertanyaan tidak penting dari David.


“Aku tahu kamu sedih karena Tante Felyana. Tapi aku rasa kamu nggak perlu mendiamkan aku kayak gini. Kamu selalu menghindar, seakan aku kembali menjadi orang asing di mata kamu.”


Velicia menginginkan tangannya semakin gesit dalam membubuhkan tanda tangan supaya cepag terlepas dari ocehan pemuda di sampingnya. Untuk saat ini dia belum siap bercerita. Velicia kira David tidak akan menuntut secepat ini.


“… dan siapa laki\-laki yang memeluk kamu itu?”


Rasanya ingin pergi saat itu juga. Dia belum siap bercerita. Velicia hanya diam dan mencoba fokus menandatangani. Satu jam berlalu begitu saja, Velicia terlepas dari kegiatan yang membuat pegal tangannya.


“Veli pergi duluan. Maaf.”


Tidak ada sahutan dari pemuda itu. Pandangannya tidak lepas dari punggung gadis itu hingga ditelan pintu. Mungkin dia terlalu cepat mengajak Velicia pacaran. Dan harusnya dia sadar diri, dia tidak bisa menuntut lebih kepada gadis itu.


Maaf yang sudah tiga kali dikatakan Velicia tidak berarti apa\-apa bagi David. Dia bukan ingin maaf, tapi penjelasannya.


Seberapa buruk pikirannya saat ini, dia harus tetap berpikir positif. Bahwa Velicia punya alasan untuk melakukan hal itu. Tugasnya hanya menunggu, menunggu mendapat penjelasan dari gadis itu. Entah kapan itu waktunya, tapi dia tidak akan bosan menunggu.


“Neng Ayu, kondisi Ibu semakin buruk,” ujar sopir pribadinya setelah menerima telepon dari seseorang.


“Putar balik, kita kembali ke rumah sakit.”


Velicia memutuskan untuk membatalkan rencananya untuk mengambil file hasil editan. Di tengah kekalutan karena sebuah masalah yang menimpa keluarganya, Velicia menyempatkan membuat vlog yang diedit oleh orang kepercayaannya.


Macet sudah biasa, apalagi di jam\-jam kantor. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima belas menit menjadi setengah jam. Gadis itu langsung berlari saat mobil baru saja berhenti di parkiran rumah sakit. Oma dan seorang pria berjas menunggu cemas di depan ruangan. Velicia langsung memeluk omanya tanpa mempedulikan pria yang berdiri tepat di depan pintu.


“Veli,” panggilnya dengan suara lemah. “Papa minta maaf.”


Gadis itu tidak menanggapi. Dia mendudukkan omanya yang terisak dan berusaha menenangkan dengan cara mengelus lengan atas wanita itu.


 


“Oma tenang, ya. Mama pasti kuat.” Mereka saling berpelukan sampai seorang dokter keluar.


 


“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun….” Gelengan dokter itu membuat Hans menatapnya tidak percaya.


Penyesalan terbesarnya adalah di saat orang yang disayanginya sedang berjuang untuk hidup, di sana dia tidak ada. Satu butir air bening meluncur dari kelopak mata pria itu, hatinya seakan dihantam beban ribuan ton. Velicia masih mempertahankan ekspresi datarnya kemudian menggelengkan kepala. Gadis itu berlari ke dalam dan menemukan mamanya yang sudah ditutupi kain putih.


Ini terlalu menyakitkan. Velicia berlari keluar sekuat yang dia bisa. Tidak peduli sedikit pun papanya tersenggol saat di pintu. Secepat ini takdir bermain. Dia mengambil Felyana sebelum Velicia belum sanggup ditinggal.


 


🎗🎗🎗🎗


 


Pemakaman dilangsungkan malam hari. Pukul sepuluh baru selesai. Hans adalah orang terakhir yang pulang dari pemakaman tersebut. Amarahnya memuncak saat dia terlambat datang. Seandainya tidak pergi ke Papua karena masalah pekerjaan, seandainya dia berusaha mencari jaringan saat di pedalaman itu, dan seandainya dia pulang secepatnya, setidaknya dia masih bisa melihat kekasihnya lebih lama. Bibirnya bergetar hebat seraya memukul\-mukul stir berulang kali. Seharusnya dia mengikuti apa kata hati saat firasatnya buruk.


Meski sudah keluar darah dari buku tangannya, pria itu tidak henti\-henti memukul stir, sesekali kepalanya dibenturkan ke kaca jendela. “Bodoh!” makinya pada diri sendiri.


Napasnya tidak teratur seraya menginjak pedal gas dengan dalam. Kecepatan mobil itu di atas rata\-rata, beruntungnya jalananan yang dilewati tidak ada kendaraan yang lewat. Hans sudah hilang kendali, pikirannya kalut saat melihat jasad istrinya di rumah sakit. Dia mendorong pintu rumah dengan kasar. Semua barang yang berada di rak ruang utama dilempar sembarang, membuat asisten rumah tangga berhambur untuk melihat. Dia beralih ke lantai dua, semua vas bunga dilempar dan lampu yang berada di setiap sudut ruangan dipecahkan.


Jika Hans meluapkan emosinya dengan membanting semua barang, Velicia hanya bisa duduk bertekuk lutut sambil menangis. Keadaan kamarnya tidak serapi biasanya. Banyak kertas tergeletak, foto\-foto berhamburan di tempat tidur, laptop menyala menampilkan video saat Velicia menyanyikan lagu Mama Kaulah Bintang tepat di hari ulang tahun Felyana.


Semuanya berlalu terlalu cepat.


“Buka!!” Gedoran dari pintu membuat gadis itu kembali meneteskan air matanya. Suara papanya yang dirindukan, kini menjadi hal yang dibencinya. “Bukaaa!!” Gadoran itu semakin keras.


Velicia mengusap air matanya kasar dan beranjak membukanya. Hans langsung memeluk putrinya erat. Darah dari tangannya menempel di bagian belakang kaos Velicia bermotif koran. Pelukan berlangsung lama, Velicia tidak menolak itu karena pelukannya terlalu erat. Begitu Hans melonggarkannya, Velicia menatap papanya tajam dan langsung mendorongnya.


Kecewa pada orang yang selama ini menjadi pahlawannya, itu yang Velicia rasakan. Gadis itu membanting pintu sekeras mungkin membuat Hans terpukul berkali\-kali lipat. Dia sudah kehilangan istrinya, sekarang putrinya menatap penuh kebencian. Kepalanya dibenturkan ke tembok sebelum melangkah cepat menuruni tangga.


Enam orang asisten rumah terheran dengan adegan Hans yang membanting segela barang. Mereka memang di bawah atap yang sama, tapi keluarga itu terlalu terutup dengan sebuah permasalahan. Semua pekerja di rumah itu dilarang keras ikut campur dalam masalah keluarga.


“Di rumah ini orangnya nggak ada yang bener semua. Marah\-marah mulu, mukanya datar\-datar aja, yang paling baik emang almarhumah Ibu doang,” kata Sumi dengan ekspresi tidak suka.


“Hush, jangan bicara begitu. Bapak marah\-marah mungkin terpukul karena kepergian Ibu.”


“Pantes aja anaknya belagu, orang bapaknya suka marah\-marah gitu,” cibir Sumi kedua kalinya.


Hans membanting pintu utama dengan keras kemudian melesat pergi dengan kecepatan di atas normal. Beberapa asisten rumah tangga berhamburan keluar menyaksikan majikannya pergi dengan amarah.


Seorang wanita tua yang mengabdikan diri kerja di rumah itu selama sepuluh tahun berlari menaiki tangga menuju kamar tiga. Hal ini pernah terjadi ketika papa dari majikannya meninggal, Hans pergi setelah mengacak\-acak rumah dan berujung tabrakan dengan sebuah truk. Hans pernah koma satu bulan akibat kecelakaan itu.


“Non, Bapak pergi, Non,” ucapnya lirih disertai isakannya. “Non Bibi takut Bapak kenapa\-napa. Bapak pergi setelah marah\-marah, Non.” Wanita itu tidak menyerah mengetuk\-ngetuk pintu. "Non, tolong buka!"


Velicia menutup diri di kamar mandi, berdiri di bawah shower membuat pakaiannya basah kuyup. Dia bisa menenangkan omanya sampai berhasil membuat wanita itu tertidur. Namun, dia tidak bisa menenangkan diri sendiri atas kehilangan yang dirasakan. Ini semua terlalu berat dan sakit.


Hatinya terlalu rapuh saat sendiri.