For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Sesuatu yang Buruk



Velicia tidak bisa bertahan lebih lama. Seusai ujian semester itu, kondisi fisiknya benar-benar lemah. Mungkin dengan istirahat seharian full akan kembali sehat, nyatanya tidak. Berulang kali beberapa asisten rumah tangganya bersuara, sekadar mengingatkan bahwa sudah waktunya sarapan, tapi gadis itu enggan membuka pintu. Sampai matahari beranjak hingga tepat di atas kepala, Velicia masih berada di bawah selimut. Dia melupakan perjanjiannya untuk berdiskusi dengan Pak Andri.


“Non Veli ada di kamarnya, Oma. Tapi tidak kunjung keluar saat dipanggil,” lapor asisten yang bernama Marni.


“Pagi tadi sudah sarapan?”


“Belum, Oma.”


Wanita paruh baya itu beranjak untuk melihat kondisi cucunya tanpa peduli makan siangnya sudah tersaji di permukaan meja. Dia pergi ke kamarnya lebih dahulu, mengambil sebuah kartu untuk mengakses kamar Velicia.  Ada sinar hijau yang menyala di samping pintu kamar cucunya, tapi kenapa panggilan asisten rumah tangga diabaikan oleh Velicia.


“Velicia,” panggilnya menelusuri lorong sebelum masuk ke ruang kamar.


Gadis yang masih berselimut itu membulatkan mata saat mendengar suara omanya. Satu hal yang terbesit di pikirannya, jangan sampai wanita paruh baya itu khawatir dengan kondisinya.


“Kenapa kamu masih tidur?”


Semakin mendekat, semakin besar pula ketakutan Velicia.


“Nggak pa-pa, Oma," jawab gadis sambil berusaha duduk.


Tangan yang sudah keriput itu hendak ditempelkan ke keningnya, Rianti khawatir saat melihat wajah pucat cucunya. Sebelum punggung tangan itu mendarat sempurna, Velicia lebih dulu menahannya.


“Sudah makan siang?” tanya gadis itu untuk menyembunyikan apa yang dideritanya.


“Kamu sakit?” Rianti tidak bodoh, cucunya benar-benar sakit, tapi berusaha untuk disembunyikan.


“Nanti juga sembuh, Oma,” katanya berharap bisa menenangkan omanya.


“Makan siang dulu, ya. Nanti kita ke rumah sakit.”


Jika dibantah, omanya akan tetap ngotot. Velicia mengangguk pelan dengan mata sedikit terpejam. Entah kenapa matanya terasa perih saja dibuka.


“Bentar, ya. Oma ambil dulu makanannya.”


Gadis itu menahan aksi omanya yang hendak beranjak dari samping tempat tidurnya. Bukan berarti keadaannya lagi sakit, omanya disusahkan seperti itu. “Veli masih kuat, kita makan di bawah aja.” Sebenarnya Velicia bodoh. Kepalanya terasa berat sekali, matanya terlalu sulit dibuka sempurna, badannya juga seakan tidak beradaya. Namun, demi omanya, dia harus melawan itu.


Setelah berhasil mengambil posisi duduk dengan tegak, udara dingin seakan menerpanya. Mata gadis itu ditekan dalam-dalam, kepalanya semakin berat dan terasa sakit.


“Oma ambilkan saja, ya.”


Velicia mengembuskan napas lalu menggeleng. Dia berusaha menurunkan kakinya dari tempat tidur. Baru saja berdiri hendak melangkah, kakinya terlalu lemah untuk digerakkan, kepalanya tiba-tiba diserang tusukan dasyat. Gadis itu kembali ambruk membuat Rianti memegang kedua bahu cucunya yang lemah sekali.


“Tuh, kan, Oma saja yang mengambil.”


Menjadi orang yang keras kepala membuat Velicia tidak mau menuruti kemauan omanya. Dia mencoba berdiri lagi, tiba-tiba pandangannya seolah berputar. Dan detik setelah, kesadarannya diambil alih oleh dunia hitam, di mana Velicia tidak tahu apa-apa lagi.


Saat dia kembali membuka mata, langit-langit rumah sakit menjadi suguhan pertama untuk matanya.  Kepalanya masih terasa pening, tapi tidak separah sebelum pingsan. Melihat  tangannya yang diinfus membuat decakan lolos dari bibirnya.


Velicia mengarahkan pandangan ke pintu yang baru terbuka. Laki-laki pecicilan yang memakai kemeja merah bata kotak-kotak hitam menghampirinya. “Oma di mana?”


“Udah diantar pulang sama Pak Dirga. Ini udah malam, Kakak yang akan nunggu kamu di sini.”


“Kak Rio….”


“Istirahat. Kakak mau ke kantin dulu, belum makan,” pamitnya lalu pergi lagi.


💥


Satu minggu telah berlalu setelah ujian semester. Hari Sabtu, pukul 9, seluruh murid Pancasila dikumpulkan di GUP. Setelah serangkaian sambutan,  tibalah pengumuman kejuaraan. Mulai dari kejuaraan kelas dari kelas 12, 11, dan 10. Pengumuman itu adalah detik di mana seluruh murid tegang mendengarnya. Apakah namanya tersebut, atau tidak.


David mengepalkan tangan di samping tubuhnya seraya menunduk. Semakin tinggi menggantungkan sebuah harapan, semakin tinggi ketakutan di hati muncul. Pengumuman kejuaraan kelas 12-Bahasa-7 adalah penutup dari kejuaraan kelas dua belas. Saatnya yang paling negangkan, kejuaraan kelas 11 akan segera dia dengan. Dia berharap namanya tidak disebut saat itu. Namun, kenyataannya harus seperti itu.


“First place from 11-Seince-1, David Anjaya Anggana, with an averange grade of 9.4,” kata master of ceremony itu menjatuhkan ekspetasi pemuda tersebut.


Bukan juara kelas yang David mau. Namun, juara paralel seperti yang didapatkannya ketika kelas 10 semester 2.


Mengetahui sahabatnya yang sedang tidak baik-baik saja, Jeani memegang tangan David untuk menenagkan. “Ini belum berakhir. Lo harus bersyukur, setidaknya masih bisa naik panggung karena prestasi. Lha, gue, masuk tiga besar di kelas aja enggak mungkin.”


Pemuda itu menahan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk. Setelah mengembuskan napas kasar, dia beridiri untuk maju ke panggung.


David memaksakan tersenyum meski hatinya ingin memaki siapa saja. Apa kata ayahnya nanti? Sesuatu yang buruk akan terjadi nantinya.


Reno, juara kedua di kelasnya naik ke atas panggung dan beridiri di belakang David. Keduanya mengepalkan tangan lalu bertos ria.


Satu per satu nama sang juara disebutkan. Pemberian reward berupa setifikat dan kotak yang dilapisi sampul warna cokelat. David kembali lagi duduk setelah menerima itu. Pengumuman kejuaraan kelas sepuluh tiba. Namun, nama Velicia Navvirel Aulia belum disebut. Mungkin gadis itu juara umum? David yakin itu.


“Faralel champion from the tenth grade won by Velicia Navvirel Aulia with an average grade of 9.8.”


Sudah David duga. Velicia dipercaya oleh salah satu guru untuk mengajar di kelas 11 adalah suatu yang membanggakan. Ketika saat ujian semester semeja dengan Velicia, di beberapa mata pelajaran, anak itu menjawab benar semuanya.


“Velicia Navvirel Aulia, where are you?” MC itu meneliti ribuan siswa di depannya. Barulang kali memanggil nama Velicia, tidak ada gadis yang gerak-geriknya akan maju ke depan. “If a student in the name of Velicia is not present, the homeroom teacher please represent.”


Sesibuk apa Velicia sampai ke acara penting di sekolahnya tidak hadir. David celingak-celinguk mencari keberadaan gadis itu. Meski posisi rankingnya yang diharapkan didapatkan Velicia, bukannya merasa iri, tapi David khawatir.


Apa yang terjadi sama kamu, Vel? Tanya dalam hati dengan sorot mata sendu.


Gadis itu benar-benar hilang ditelan bumi. Selama seminggu tidak tampak batang hidungnya, sudah lama nomornya tidak aktif, DM, line, skype, telegram, dan snapchat darinya tidak ada yang dibalas. Beberapa kali ke rumahnya, baru juga sampai di gerbang, satpam sudah mengatakan bahwa Velicia tidak ada di rumah. Mendali yang harusnya dipakaikan kepada Velicia diwakilkan kepada wali kelasnya. Wali kelas Velici berbincang sebentar dengan kepala sekolah, mereka berjabat tangan, saling lempar senyum, lalu turun bersamaan.


"Apa Veli kira acara ini enggak penting?" David benar-benar khawatir kepada gadis berwajah datar yang merupakan pacarnya.


"Mungkin ada alasan lain kenapa Velicia enggak hadir, Dav. Berpikir positif aja, gampang kok." Jeani meraih tangan sahabatnya, mengelusnya dengan pelan, berharap itu mampu menenangkan.