
David menyergit saat melihat nomor induk siswanya dipasangkan dengan nomor induk siswa 00267839464. Dia langsung searching nomor itu di web forum sekolahnya. “Veli!” pekiknya disertai mata yang membulat seraya menepuk\-nepuk gadis di sampingnya. NIS itu milik Velicia Navvirel Aulia. “Gue sebangku sama Veli, Jea. Ya Allah, mimpi bukan, sih?”
“Lebay amat,” cibir gadis yang sibuk dengan ponselnya.
“Terlalu bahagia, Jea, bukan lebay.”
“Sama aja.” Gadis itu mengembungkan pipi saat mengetahui dirinya dipasangkan dengan kelas 12. “Lo ruangan berapa, Dav?”
“114, lo?”
“203. Kita beda lantai,” ujarnya tak bersemangat.
“Yang penting gue sebangku sama Veli.”
Jeani kesal atas kebahagiaan yang didapat sahabatnya. Yang menentukan pasangan adalah sistem, haruskah Jeani memarahi sistem karena telah membuat jarak David dan Velicia dekat? Dia menggigit bibir bawahnya, ya kali harus memarahi sistem, seperti orang gila saja. Namun, hatinya tidak rela jika mereka berdekatan.
“Lo bahagia banget, ya?” tanya Jeani dengan polosnya.
“Lo masih nanya? Ya iyalah!”
“Syukuran sana. Gue balik dulu, ya.” Gadis itu melenggang pergi dari ruang keluarga David. Hari yang menyedihkan baginya, kenapa harus sesakit ini.
Sebenarnya dia bingung dengan perasaannya. Satu sisi ingin melihat sahabatnya bahagia, tapi satu sisi tidak suka jika David bahagia karena orang lain. Namun, dia bisa apa jika bahagianya David ada di Velicia. Dia tidak bisa marah pada gadis itu, karena hati tidak pernah tahu akan jatuh kepada siapa.
Mencintai dalam diam memang sesakit itu, tapi Jeani berusaha bertahan. Dia akan mengalah jika kebahagiaan David ada pada Velicia.
David kembali belajar untuk persiapan ujian. Fakta bahwa hari Senin akan sebangku dengan Velicia membuatnya semakin semangat untuk belajar. Dia berusaha menjadi yang terbaik di atas yang terbaik. Bayang\-bayang senyum Velicia dalam tempurung kepalanya menyuntikkan semangat luar biasa.
Ada satu rasa yang belum pernah muncul selama ini sebelum Velicia datang dalam hidupnya. Ini bukan suatu yang biasa, tapi seperti sesuatu yang besar.
“David, Jea ke mana?” tanya seorang wanita awet muda berjilbab dari arah ruang makan.
“Pulang, Bun.”
Saat bundanya duduk di kursi, David langsung bangkit dari atas karpet berbulu dan berpindah ke samping bundanya. Dia tidur di pangkuan bundanya, menjadi anak tunggal adalah kebahagiaan sempurna yang bisa bermanjaan kapan saja.
“Bun, aku punya kan punya pacar. Tapi berasa nggak punya pacar,” curhat pemuda itu saat bundanya mengelus rambut.
“Maksudnya gimana, tuh?”
“Kita pacaran, tapi kita nggak pernah saling sapa, tanya\-tanya kabar, bahkan chattingan aja enggak.”
“Kenalnya di mana? Kok bisa gitu?”
“Dia adik kelas aku Bun. Dia itu gadis terindah dan tercantik setelah Bunda yang aku temuin. David bisa seperti ini karena dia, Bun. Namanya Velicia, orang pertama yang percaya dengan mimpi\-mimpi aku. Dia hebat, mau menopang aku untuk mewujudkan mimpi dan memberikan imajinasi\-imajinasi yang sebelumnya tidak ada di pikiran aku.” Pemuda itu menatap lurus manik mata hitam bersih bundanya. “Tahu nggak, Bun?” Dia mengubah posisinya menjadi duduk. “Tunggu sebentar, aku ke kamar dulu terus kembali lagi.”
David berlari ke kamarnya untuk mengambil sesuatu di laci meja belajarnya. Sebuah photozine yang sudah beredar di pasaran adalah wujud kebersatuannya dengan Velicia.
“Ini, Bunda.” Dia memberikan buku itu ke bundanya. “Aku belum kasih tahu Bunda soal ini. Photozine ini adalah karya David dan Velicia. Bagus, kan?”
Wanita itu mengangguk\-angguk sebagai tanda bahwa itu sangat bagus. Satu per satu halamannya dibuka.
“Aku nembak dia pas hari ulang tahunnya. Kita pacaran nggak seperti pada umumnya. Kita nggak pernah saling menyatakan perasaan, Bunda. Status ya status aja, cuma sekadar status. Pegangan tangan, enggak, apalagi pelukan. Kita bersama karena aku ngerasa nyaman. Tapi… sekarang dia beda. Veli udah kayak nggak kenal sama aku, padahal kita masih pacaran.”
“Mungkin ada alasannya,” kata wanita itu seraya menutup photozine itu. “Mungkin kalian salah paham? Mungkin juga kalian terlalu egois. Dia yang nggak mau ngasih tahu, dan kamu yang nggak mau mencari tahu.”
“Terus aku harus gimana?” tanya David dengan polosnya.
“Sebenarnya Bunda nggak setuju dengan pacaran\-pacaran gitu. Bunda sama Ayah kenal dengan jalur ta’aruf akibat dari perjodohan. Kami menikah bukan atas dasar cinta yang tumbuh di antara kami. Tapi, kami berusaha menumbuhkan cinta setelah menikah semata\-mata untuk mencari keridhoan Allah.”
“Bun….”
“Kamu tahu yang benar dan yang salah.”
David menatap lurus ke depan. “Velicia mengajarkan banyak hal sama aku. Mimpi aku yang sebenarnya itu menjadi musisi. Dan Veli dukung aku sepenuhnya.”
“Kamu mau buat Ayah kecewa?”
Pertanyaan itu membuat David bungkam. Benar apa kata bundanya. Antara hati dan Ayah, sulit untuk David pilih salah satunya.
🎗🎗🎗🎗
Velicia tiba di detik\-detik ujian akan dimulai. Dia meminta maaf pada pengawas dan segera mengambil tablet serta bersiap untuk login.
*Dalam jarak sedekat ini aja, kita seperti orang asing*.
David melirik gadis di sebelahnya yang sibuk mengisi NIS dan password. Sampai tiba waktunya harus login, David masih memperhatikan wajah seriusnya Velicia.
“Fokus, ini sedang ujian,” ujar Velicia membuat David tersentak.
Dia menatap LED di depan kelas yang menampilkan enam digit campuran abjad dan angka sebagai kode yang harus dimasukkan dalam kolom token. Velicia benar, fokus, ini sedang ujian.
Mereka akan sedekat itu selama satu minggu, setidaknya sampai ujian selesai.
Yang David harapkan, dalam posisi sedekat ini mampu membuat mereka seperti dulu lagi, bukan seperti orang asing. Namun, harapan hanya harapan. Tidak ada tegur sapa saat di hari pertama ujian, begitu pun di hari kedua. Velicia berlalu setelah ujian selesai, dan David tidak diberikan sedikit waktu untuk berbincang dengan gadis itu.
Sampai di hari ketiga, di ujian mata pelajaran fisika, Velicia sudah menyelesaikannya di menit ke lima belas setelah ujian di mulai. David terheran, secerdas apa dia? Kertas HVS yang digunakan untuk menghitung saja hanya terpakai setengah halaman, berbeda dengan David yang kertasnya hampir penuh dengan hitungan. Beruntunglah dia meminta dua lembar kertas HVS kepada pengawas.
Gadis itu tertidur dengan wajah menghadap ke David. Tablet yang dipakai Velicia untuk ujian sudah menampilkan hasil akhir. 48/50. David membulatkan matanya, dalam waktu lima belas menit, Velicia mengerjakan dengan sempurna. Hanya salah dua.
Dia juga tergolong orang cerdas karena menduduki posisi ranking 1 paralel saat kelas 10 semester dua.
Sembari mengerjakan, sesekali ekor matanya melirik gadis di sampingnya. Senyumnya terukir selama mengerjakan soal. Di menit ke 35, David menyelesaikan ujiannya. Dia bisa puas menatap wajah tenang gadis cantik itu. Kantung mata dan lipatan besar yang ada di atas bulu matanya tidak menghilangkan kesan cantik dari wajah Velicia.
Beberapa helai rambut sedikit menutupi wajahnya, David menyingkap dengan perlahan supaya tidak membangunkan tidur gadisniru. Saat tangannya bersentuhan dengan pipi mulus itu, rasa panas menjalar membuat David tersentak.
“Vel,” panggilnya seraya menempelkan punggung tangan ke kening gadis itu untuk mengecek suhu tubuh. Panas. “Vel, bangun, Vel.”
Gadis itu hanya terusik, tapi tidak kunjung membuka mata.
“Kamu demam?”
Tidak ada gerakan dari Velicia, hal itu membuatnya semakin khawatir. Dia mengambil posisi berdiri memnbuatnya menjadi pusat pandangan. Pengawas menatap tajam karena David tidak mempunyai sopan santun. Namun, setelah meminta izin membawa Velicia ke UKS. Mr. Kamal menghampiri Velicia untuk memastikan.
Velicia adalah murid kesayangannya, hal itu tentu saja membuat pria kembarannya Jack Ma khawatir.
“I’m fine,” ujar Velicia seraya duduk.
Gadis itu menekan kedua matanya dalam, berusaha mengusir pening yang menyerang kepala. Dia izin untuk keluar tanpa mempedulikan David yang mengikutinya dari belakang.
“Kamu nggak pa\-pa?” tanyanya khawatir.
“Enggak,” jawabnya tanpa menghentikan langkah. “Kamu baik\-baik aja?”
Seulas senyum terbit hanya karena pertanyaan Velicia. David bahagia luar biasa, akhirnya Velicia juga mempedulikannya. “Euu…” Tangannya menggaruk belakang leher. “Vel, film pendek itu udah sampai part empat.” Bukannya menjawab, David malah memberikan informasi yang tidak penting.
“Oh, ya?” Bibir pucat itu melengkungkan senyum. “Nanti Veli bantu promosi kalau ada waktu.” Langkah gadis itu terhenti lalu menghalang David dengan tangan kanannya. “Mau ke mana? Ikut masuk ke toilet perempuan?”
David mengerjap beberapa kali. Tubuhnya mematung seketika. Sial, salah tingkah. “Ma… maaf.” Tangannya menggaruk belakang leher lagi. “Aku tunggu di sini aja,” lanjutnya sambil tersenyum kaku.