For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Melengkapi



 


Saat istirahat tiba, mereka pergi ke gedung kesenian untuk shooting. Lantai satu khusus untuk praktik seni rupa yang dijadikan basecam oleh guru\-guru seni rupa. Lantai dua dikhususkan untuk ektrakulikuler tari. Dan lantai terakhir adalah ruang seni musik. Ketiga remaja itu menaiki tangga yang menghubungkan ke lantai tiga. David menyeringai ketika melihat Velicia yang tampak kelelahan menaiki anak tangga. Kertas naskah yang ditangannya diberikan kepada Jeani, dia langsung ambil aksi untuk mendorong gadis di depannya.


Velicia sontak terkejut atas tindakan pemuda yang mendorongnya. Namun, dia senang. Sampai tangga terakhir didorong David membuat membuat mereka lebih cepat sampai dari Jeani.


Melihat tingkah dua remaja yang selalu tertawa setiap harinya membuat Jeani dibakar rasa iri. Atau mungkin dibakar cemburu. Kenapa Velicia menggantikan posisinya? Namun, dia tidak bisa apa\-apa, untuk menyentak mereka saja tidak berani. Apa haknya melarang mereka? Jeani cukup sadar diri bahwa statusnya hanya sahabat David.


David membukakan pintu kemudian membungkuk di depan Velicia untuk mempersilakan gadis itu masuk. Velicia tersenyum sambil geleng\-geleng kepala melihat tingkah aneh pemuda itu.


“Oke, part dua, fighting!” seru David seraya melangkah mendahului Velicia menuju piano.


“David, cepat!” sentak Velicia saat pemuda itu menekan\-nekan tuts secara asal.


“Iy\-ya, Princess.” David segera ambil posisi berdiri.


Persiapan shooting dimulai.


Velicia sudah berdiri di jarak yang tidak jauh dari piano dan David berada di depannya dengan jarak empat meter. “And action!”


Gadis itu mengembuskan napas sebelum melangkah menuju piano. David perlahan mundur seiring Velicia melangkah. Tangan putih mungil gadis itu menyapu tuts demi tuts dengan ekspresi memelas. Namun, suara notifikasi dari ponsel David membuat Velicia meledakkan tawanya. Suasana yang serius langsung jungkir balik saat itu juga.


“Daaavid! Silent dulu, dong!” geram Velicia merasa kesal.


Jeani paham dengan maksud David menyodorkan ponsel kepadanya. Dia mengecek siapa tahu notifikasi itu penting, tapi …. Gadis itu membekap mulutnya untuk menahan tawa supaya tidak menganggu proses shooting. Pesan yang mengganggu itu dari operator yang mengatakan pemilik nomor yang dipakai David mendapatkan uang 320 juta.


Untuk penutupan, Velicia menempelkan ujung jari tangan kanan ke kaca besar itu.


David menyudahinya dan segera memutar ulang video yang baru saja diambilnya. Tidak ada serius tinggi dalam projek ini, proses shootingnya pun terkesan santai. Terkadang tidak ada persiapan untuk take karena David orangnya spontanitas. Semakin lama menyatu dengan pemuda itu membuat Velicia mengagumi David yang cepat dalam bertindak. Velicia melihat ada cahaya besar dalam diri pemuda itu, cahaya yang akan membawa perubahan dalam hidupnya. Namun, sayangnya kekangan keluarga yang meredupkan cahaya tersebut. Mungkin ini tugasnya untuk membantu pemuda itu bangkit, menerjang rintangan yang ada di depan, untuk masa depan yang berkilau.


“Nanti Veli yang video, kan?” tanyanya mengingat sēn setelah ini adalah David dan Jeani. “Di mana?”


“Pas tangga aja, deh,” jawab Jeani.


David langsung menyetujuinya dan keluar dari ruang itu secepatnya diikuti dua gadis cantik. Kamera dari pemuda itu beralih ke tangan Velicia. “Ambilnya bagusan dari atas atau bawah, ya?” tanya Velicia lagi meminta saran dari David.


“Bawah aja.”


Dia langsung ambil langkah menuruni anak tangga. Scene Jeani dan David saat itu mengobrol sambil berpegangan tangan layaknya orang pacaran pada umumnya. Seperti tidak ada rasa yang libatkan, tapi itu salah. Adegan itu tidak berpengaruh apa\-apa untuk David, berbeda lagi dengan Jeani. Dipegang seperti itu membuat hatinya masih ada harapan untuk memiliki sahabatnya.


Adegan itu juga tidak berpengaruh pada Velicia. Meski David mengeluarkan kata\-kata gombal kepadanya setiap hari, terkadang hatinya terbawa perasaan, tapi dia bisa bersikap profesional. Bahkan, gadis itu tidak ada hal aneh dalam hatinya. Velicia bukan Jeani, yang digombal sekali bawa perasaannya tidak hilang sebulan.


Setelah menyelesaikan kegiatan di gedung itu, mereka kembali lagi ke gedung sekolah. Velicia dan David sering kali bercanda hingga tertawa di sepanjang jalan, berbeda lagi dengan Jeani yang tampak diasingkan. Padahal, cerita Jeani dan David di film pendek itu adalah pacaran. Gadis itu mengembuskan napas ketika tidak tahan lagi melihat tingkah dua orang di depannya. Daripada semakin sakit hati melihat mereka, Jeani memilih membelokkan langkah dan memilih koridor yang lebih jauh untuk sampai ke kelasnya.


“Kantin, yuk!” ajak David.


“Nggak, ah. Veli nggak suka."


“Kenapa, sih? Tempatnya terlalu ramai?”


“Iya.”


Senyum gadis itu mengembang. David memang pemuda yang peka. Tangannya merongoh saku jas untuk mengambil selembar uang berwarna merah. Satu hal yang David sadari sekarang, setiap Velicia mengeluarkan uang, selalu saja warna merah.


“Aku aja yang traktir.” Jika nominal uangnya terlalu besar, jajannya tidak seberapa, dia juga yang malu.


Velicia menggeleng. Tangannya meraih tangan David kemudian menyimpan uang tersebut di tangannya. “Kamu harus nabung banyak untuk menunjang mimpi\-mimpi kamu itu.”


“Nggak pa\-pa?” tanya pemuda itu meyakinkan.


“Ya udah, pergi sana. Veli tunggu di bangku biasa.”


Kebaikan gadis itu selalu saja mengiris hati. Jika saja seperti itu terus, David merasa posisinya sedang memanfaatkan Velicia. Mulai dari followers instagram yang bertambah karena Velicia sering tag akunnya jika memposting foto berdua. Begitu pun dengan subscribersnya yang mulai meningkat atas promosi di akun media sosial milik Velicia. Bahkan, sehari\-hari pun gadis itu selalu mengeluarkan uang untuk dirinya. Rasa tidak enak hati jelas saja, tapi dia sungkan untuk menolak.


Meski Jeani mendesaknya untuk jujur tentang dirinya yang memanfaatkan Velicia, David tetap mengatakan tidak. Karena memang dirinya tidak ada niat setitik pun memanfaatkan gadis jelita itu.


David tersenyum ketika ingin menghampiri gadis yang duduk membelakanginya. Seringai muncul begitu saja seraya melangkah pelan. Makanan yang dibungkus plastik logo SMA Pancasila disimpan pelan di atas rerumputan. Kedua tangannya menutup kedua mata gadis itu agak lama.


“Veli bukan orang bodoh, ya. Yang nggak tahu siapa kamu,” ujar Velicia pada akhirnya.


“Kamu tahu aku siapa?”


“Tukang gombal.”


Pemuda itu mendengkus dan mengambil posisi duduk di samping gadis yang sibuk dengan ponsel. “Emang beneran ya aku tukang gombal?”


“Iya.”


“Kamu bawa perasaan, nggak?”


“Enggak”


“Pernah bawa perasaan?”


“Pernah.”


David menempelkan botol mineral yang masiih dingin ke pipi gadis itu. “Kapan?”


“Waktu kamu bilang ‘kita akan bersatu, suatu hari nanti’.”


Kalimat jujur yang Velicia katakan membuat David mengembangkan senyum paling lebar seumur hidupnya. Ada bahagia menyelinap dalam dadanya. “Aamiin.”


“Eh, kok diaamiinin?”


“Kan biar terkabulkan,” jawab pemuda itu dengan santainya.


Velicia tidak mampu lagi menahan tawanya hingga kedua tangan berusaha menutup wajah. Belum pernah ada yang paling membahagiakan di dunia selain bercanda dengan David. Pemuda itu hadir menjadi teman pertamanya, menghiasi hari yang sebelumnya terlalu serius, melunakkan senyum yang dahulu terasa kaku.


Keduanya sama\-sama membutuhkan. David butuh penopang untuk menggapai sebuah mimpi, dan Velicia merelakan diri sebagai topangan. Velicia juga membutuhkan candaan untuk menghiasi hari, dan David dengan suka rela memberikan itu semua. Mereka mengucap jutaan terima kasih dalam hati atas Tuhan yang mempertemukan keduanya, meski tidak pernah dikeluarkan suara.