
Velicia tidak menerima papanya mengucapkan ijab qobul dan langsung disambut kata ‘sah’ oleh saksi. Dalam tunduknya sudah mengalir air mata. Kenangan keluarga bahagia akan abadi dalam ingatan Velicia. Wanita paruh baya di sampingnya merengkuh cucu kesayangannya yang sedang rapuh. Dia masih bisa bertahan dibentak atau dikasari papanya sendiri, tetapi melihat acara sacral ini membuat benteng pertahanannya lumpuh. Benar-benar hancur, berserakan.
“Velicia, salim sama Mama.”
Gadis itu langsung mendelik. Mamanya hanya satu, Felyana. Mutlak, tidak ada yang kedua atau pengganti. Namun, sadar posisinya sedang di mana, banyak orang yang menjadikan mereka pusat mata, akhirnya Velicia menyalimi dan langsung berlari sesudahnya karena tidak kuasa menahan tangis.
Air dari wastafel mengalir, dibanting-bantingkan ke cermin yang ada di hadapannya. Tangannya terkepal dan memukul-mukul wastafel itu sampai muncul lebam di tangannya. Selama ini dia diam untuk menyadarkan papanya supaya memikirkan dengan matang tentang keputusannya. Namun, keputusan pria itu tidak berubah.
Ada kalanya sebuah keluarga diuji. Dan inilah saatnya. Velicia menjadi paham apa yang dirasakan seorang anak broken home.
“Dek, udah! Kamu gila?!” Pemuda pecicilan berpakaian batik menyerobot masuk ke kawasan toilet perempuan untuk memastikan keadaan Velicia. Ternyata sesuai dugaannya, gadis itu sangat terpukul. “Nggak gini caranya. Kamu sakit, Tante Felyana lebih sakit, dia akan sedih.”
Ario tahu saja kelemahan Velicia untuk sekarang ada di nama mamanya. Pemuda itu membawa adik kecilnya ke dalam pelukan, berharap itu akan sedikit menenangkan.
“Kakak tahu ini berat untuk kamu. Namun, kamu hanya butuh waktu menerimanya. Tolong jangan seperti ini, karena akan banyak orang di sekeliling kamu akan sedih melihat gadis kecil mereka terluka.”
Gadis itu terisak dalam dekapan. Berusaha mengendalikan diri yang terbungkus amarah. “Veli nggak bisa ikut acaranya.”
“Kasihan Om Hans, Vel. Kamu nggak boleh egois seperti ini. Setidaknya kamu tetap di sini sampai acaranya selesai. Lagipula, tidak ada resepsi, kan?”
“Veli nggak bisa sekuat itu!” Ario mundur satu langkah karena dorongan Velicia. Keras kepala gadis itu sulit dilunakkan.
Tidak ada yang tahu sehancur apa perasaan Velicia saat ini. Kenekatannya untuk pulang sudah bulat dan tak bisa ditentang. Kejadian itu justru membuat Hana menangis. Kehadirannya tidak diterima oleh anak tirinya.
“Jangan diambil hati. Nanti saya jelaskan pada Velicia,” bisik Hans seraya merengkuh wanita yang beberapa menit lalu menjadi istrinya.
“Ini semua gara-gara kamu, Hans! Ibu tidak akan memaafkan jika terjadi sesuatu kepada cucuku!” Oma Rianti tergesa-gesa menyusul cucunya yang keluar masjid. Ario yang melihat wanita itu berlari kesusahan segera menghampiri. Tujuan mereka sama, mengejar Velicia yang berlari sambil menangis.
Gadis yang kuat, tepat hari ini, dia benar-benar terluka.
Acara pernikahan itu tidak berjalan sesuai rencana. Hans dan Hana seklaku pengantin harus menanggung malu atas kejadian yang diperbuat Velicia. Bersyukurlah tidak ada acara resepsi hari ini, karena mereka akan mengadakan acara itu setelah Velicia menerima Hana sepenuhnya, meskipun itu terdengar mustahil.
“Vel! Jangan kayak kecil!” Ario bersikeras mengetuk kaca mobil. “Kamu selalu mengambil keputusan dengan kepala dingin. Dan hari ini, kamu tidak seperti biasanya. Jangan membuat malu keluarga, kasihan Om Hans.”
“Ke Anusa Architects , Pak,” kata Velicia kepada sopir taksi.
Peduli apa Velicia dengan Ario yang menggedor-gedor kaca mobil? Untuk menoleh padanya saja enggan. Mobil warna biru tersebut melaju meninggalkan pemuda berambut gondrong menggeram kuat.
Ini sifat asli jika Velicia marah. Diam, tetapi menghanyutkan.
Selama di perjalanan, gadis itu hanya ditemani slide kenangan kebahagian bersama orang tuanya. Di masa lalu, betapa besarnya sayang dan cinta Hans dan Felyana untuk buah hati mereka. Meski ibunya seorang wanita karier, tetapi mampu membagi waktu untuk kerja, anak dan suami. Pukul tiga sore hari, Felyana sudah pulang untuk menyambut kepulangan suaminya nanti. Selama lima belas tahun usianya, Velicia belum pernah merasa sekecewa ini kepada papanya. Dulu, keluarganya hangat, sangat humoris, hampir tidak ada masalah besar yang melanda.
Hans Pratino Arsenio, ilmuan sekaligus bisnisment itu terkadang pulang malam, tetapi masih bisa memberi kebahagiaan untuk ibu, anak, dan istrinya. Di tengah kesibukannya, Hans rela memberikan waktu jika Velicia, Felyana, atau Rianti jika memintanya. He is perfect boy, perfect husband, perfect father.
Namun, sekarang keadaannya sudah 180º.
Sesampainya Velicia di kantor sendiri, berkutat dengan pekerjaan sepertinya lebih baik. Atau, dia harus kembali ke sekolah? Yang Velicia butuhkan adalah pekerjaan yang padat, sekolah bukan tempat bagus untuk menyibukkan diri.
“Velicia, saya mau bicara,” ujar sekretarisnya.
Gadis itu mengangkat wajahnya dari hadapan monitor untuk bertanya apa kepada wanita di depannya.
“Soal malam ketika Velicia menyuruh saya membeli laptop. Maaf sekali. Ketika itu saya sedang bersama suami setelah memeriksa kandungan. Suami saya tidak mengizinkan untuk ke toko laptop dan melarang keras ke kantor.” Wanita itu menundukkan kepalanya, keputusan yang dipilihnya terasa berat. Dia mengabdikan diri di perusahaan ini sudah sejak lulus kuliah. Dimulai dari menjadi karyawan biasa hingga sekarang menjadi sekretaris. “Saya tahu alasan Velicia mendiamkan saya selama ini karena itu. Jika Velicia tidak mau saya menjadi sekretaris lagi, tidak pa-pa. Saya memutuskan untuk resign hari ini. Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak tahan dengan sikap Velicia mendiamkan saya meskipun saya tahu itu akibat kesalahan saya.”
Map pengunduran diri yang diserahkan Mia membuat Velicia khawatir. Selama ini wanita itu baik kepadanya dan bekerja professional. Sekretarisnya hamil? Dan malam itu, seharusnya Velicia tidak menyuruhnya.
“Niat banget mau resign?” tanyanya memastikan. Sekretaris seperti Mia agak sedikit langka karena kinerjanya bagus. Mungkin Velicia sudah salah telah bersikap tidak peduli karena masalah laptop pada hari itu. Namanya juga emosi.
Mia tidak menjawab. Setengah hatinya menolak untuk resign, karena dirinya sudah merasa nyaman di kantor ini.
“Kembali kerja sana. Saya tidak mau kamu resign. Nanti saya akan berusaha mengubah sikap ini.”
Ingin sekali saja Velicia istirahat, hanya saja waktu luang akan membuat pikirannya memikirkan hal yang akan membuat dadanya sesak. Ini bukan saatnya memikirkan hal yang tidak penting, apalagi memikirkan ucapan papanya yang lancar ketika ijab qobul. Secepat itukah melupakan?
“Velicia, akhirnya kolaborasi kita diapprove oleh klien utama. Pak Preto sangat suka dengan hasil finalnya.” Pak Andri bertepuk tangan dari pintu sampai dia duduk di hadapan bos kecilnya.
“Baguslah. Hasil melek tuh.”
Pria itu terkekeh membuat bahu lebarnya bergetar. “Kamu ini, masih kecil udah seambisius itu. Pak Preto sampai nggak percaya kalau kerjanya secepat ini.”
“Ah, itu. Jawab aja, kalau kita bukan kaum siput.”
Lagi-lagi pria itu tertawa. “Nggak ada akhlak.”
Kedua sudut bibir Velicia terangkat sedikit. Meski hari ini adalah hari paling terluka, tetapi dia masih bisa tersenyum. Ini alasan Velicia nyaman di kantor. Ada banyak orang yang membuat hatinya tenang dan pikirannya tidak terlalu berat. “Iya juga. Maaf.”
Pak Andri sangat senang dan menerima bos kecilnya dengan sepenuh hati. Meski awalnya kurang percaya dengan bocah lima belas tahun itu, tetapi sekarang perusahaan ini lebih maju di bawah pimpinan Velicia Navvirel Aulia.
“Jadi, hasil pertemuan tadi apa saja?” tanya Velicia mulai masuk batas serius.
“Pak Preto ingin kamarnya dibuat kedap suara.”
“Konsepnya perlu diganti lagi, nggak?”
“Sedikit. Pak Preto sangat menyukai konsep itu, dia memohon untuk jangan terlalu diubah. Lagipula, saya rasa tidak berpengaruh banyak pada konsep.”
“Huh, syukurlah. Masih trauma sama klien yang kemarin.” Velicia langsung teringat pada klien sebelumnya. Tentang proyek residence-nya Ibu Pevita. Ketika sudah final, tiba-tiba tanpa angin meminta tangganya ingin dipindah tempatkan. Hal itu tentu mengubah konsep lantai satu dan dua. Andai saja kesabaran Velicia ada batasnya, mungkin klien itu sudah tak hiiii.
“Ya, begitulah klien, Vel. Permintaannya suka aneh-aneh. Inilah dunia kerja yang sesungguhnya, harus selalu melapangkan hati dan mengedapankan kerja sama tim.”
“Ya, gila-gila,” cibirnya dengan nada datar.
“Gila begitu juga kita dapat uang dari mereka.”
Betul juga.
Berada di bawah pimpinan Velicia harus siap mental dan fisik. Jika saja ada karyawan yang menyerupai siput, Velicia tidak segan-segan mengambil alih kerjaannya dan mendiamkan orang itu selama waktu tertentu. Hal tersebut membuat karyawan di perusahaan itu menjungjung tinggi kedisiplinan. Meski Velicia putri dari Felyana, tetapi karakter mereka dalam bekerja sangat beda jauh.
Velicia dan Pak Andri kembali melanjutkan diskusinya. Mereka seperti Ayah dan anaknya yang sedang berbincang diselingi tertawa. Pria itu yang paling dekat dengan Velicia karena tanpa Pak Andri, Velicia tidak akan sampai sepaham ini di dunia arsitek.
Kini, Velicia tahu. Bahwa IQ dan sekolah akan kalah oleh kerja keras. Halnya pendiri online marketplace yang bernama Alibaba. Tanpa pembekalan pengetahuan sedikitpun dibidang teknologi dan komputerisasi, Jack Ma ternyata mampu mendirikan retailer online terbesar di China berkat kerja kerasnya. Tidak beda jauh dengan Velicia, tanpa sekolah arsitektur bisa menjadi arsitek.
Dering dari IP Phone membuat Velicia menghentikan ucapannya lalu mengangkat panggilan itu. “Siapa?”
“David dan Jeani.”
“Saya sedang diskusi. Suruh mereka menunggu sebentar.”
Velicia kembali berdiskusi. Namun, tidak fokus. Nama David terlalu mengganggu otaknya. Dia kesal sendiri kenapa bisa seperti itu. Hingga akhirnya… “Nanti dilanjut lagi, Pak. Veli harus ke bawah dulu.”
“Oh, ya, baiklah.”
Mau apa dua orang itu ingin bertemu Velicia? Mengganggu saja.
Velicia keluar dari lift di lantai dasar. Di kursi koridor yang berhadapan dengan meja resepsionis terdapat dua remaja berseragam SMA Pancasila. “Apa?” tanya gadis itu dengan wajah datarnya.
David tersenyum dengan mata berbinar menatap gadis memakai dress warna putih selutut dengan model fleksibel, berbahan stretch satin dilapisi brukat diluarnya.
“Euuh… gue pulang ya, Dav. Tugas gue kan cuma anter lo doang. Hafal jalan baliknya, kan?” tanya Jeani.
“Ah, gampang. Ada google maps. Thank you udah anterin.”