For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Bermuka Dua



Dua minggu telah berlalu sejak hari pemakaman Felyana. Keluarga itu masih diselimuti duka atas kepergian Felyana dan kehilangan Hans. Pria itu tidak lagi menunjukkan wujud setelah membanting segala barang di rumah. Bukan Velicia tidak mau mencari, tapi kecewa membuatnya tidak peduli. Gadis itu semakin dingin kepada semua orang dan lebih suka menyendiri.


Velicia lebih menyukai berpuisi dan bernyanyi lagu sedih untuk mengisi channel youtubenya. Jika bukan dari youtube, darimana dia punya pendapatan? Papanya saja tidak tahu ada di mana.


Gadis itu menghabiskan siangnya dengan puluhan buku dan malamnya dengan alunan musik. Tidak ada tawa karena dunianya terasa mati. Gadis itu terkesan menjauh dari David, bukan karena pemuda itu mempunyai kesalahan, tapi dirinya yang enggan membuka diri kepada orang lain.


Di bawah cakrawala sore, Velicia tertidur di sofa dengan wajah tertutup buku.



“Veli, boleh aku bicara?”



Velicia tahu suara itu milik Sumi. Hanya untuk menghormati orang lain, dia menegakkan duduknya. Gadis itu tidak akan menjawab pertanyaan asisten rumah tangganya, tapi tatapannya meminta Sumi langsung bicara ke inti.



“SPP sekolah bulan ini belum dibayar,” katanya dengan takut\-takut. Melihat sorot tajam putri majikannya membuat dia bergidik ngeri.



Hanya anggukan sebagai jawaban. Velicia kembali membaca buku setebal delapan ratus halaman. Diamnya bukan berarti tidak peduli dan lepas tanggung jawab. Biaya sekolah Sumi ditanggung oleh mamanya, kini wanita baik itu sudah tidak ada. Siapa lagi yang menanggung biaya sekolah gadis desa itu selain dirinya? Tidak mungkin omanya yang sudah tua itu.



Mengingat mamanya sudah tidak ada, papanya hilang entah ke mana, dan omanya larut dalam sedih. Di sini Velicia ditekan untuk mendiri dan menanggung beban hidup untuk sementara waktu, mungkin. Setidaknya sampai Hans kembali lagi. Namun, jika tidak kunjung kembali? Velicia menggeleng untuk memgusir pikiran buruknya.



“Kalau kamu nggak mau bayar, nggak pa\-pa, deh. Biar aku keluar aja dari sekolah. Aku juga sadar diri, kok.”



Velicia seakan tidak peduli dengan ucapan Sumi. Dia larut dalam teori black hole di buku tebal itu.



Selalu saja seperti ini. Sumi sudah biasa didiamkan oleh putri majikannya. Selama ini dia diam bukan berarti pasrah saja dengan sikap Velicia, karena dalam hatinya muak melihat Velicia yang sok berkuasa. Dia menatap gadis yang sedang membaca itu dengan tatapan benci sebelum berlalu.



Baru saja dua minggu ditinggal oleh kedua orang tuanya, Velicia dihadapkan dengan masalah ekonomi. Biaya operasi ditunjang oleh tabungannya, kebutuhan rumah juga menjadi tanggung jawabnya. Dia bersikeras untuk terlihat baik\-baik saja di depan omanya yang kini seperti mayat hidup. Makan harus disuapin, kerjaannya hanya melamun, ingin tidur saja minta Velicia menemani. Kehidupannya benar\-benar berubah.


Jika boleh memgeluh, Velicia tertekan dengan keadaannya seperti ini.


Dia tidak bisa mengandalkan pendapatan dari youtube dan tulisannya. Puisi\-puisi yang berceceran di instagramnya berusaha dikumpulkan untuk diajukan ke penerbit. Velicia juga nekat ikut casting iklan. Uang memang bukan segalanya, tapi hidup tidak bisa lepas dari uang.



Pikirannya sudah berat oleh sekolah, kerja, dan menjaga omanya. Kini, Sumi yang dikira adalah gadis baik\-baik ternyata….



Hari sekolah di SMA Pancasila hanya lima hari, dan hari Sabtunya dia menyempatkan diri untuk sekolah Sumi. Dia hanya ingin memenuhi tanggung jawabnya, membayar SPP yang diminta Sumi. Namun, Velicia benar\-benar tidak menyangka.



“Iya, Dek. SPP\-nya Sumi baru sampai bulan Agustus, ini pun dibayarnya oleh orang tua saat masuk sekolah,” jelas wanita gempal di balik meja panjang itu.



Velicia menghela napas lelah. Masalah apalagi ini? Lalu di ke manakan uang bulanan untuk membayar SPP dari mamanya? Gadis desa itu tidak membayar SPP dua bulan.



“Saya lunasi sekarang. Totalnya berapa?”



“SPP empat bulan totalnya 760.000.”



Gadis itu membuka sling bag dan hanya menemukan beberapa lembar uang seratus ribu. “Bisa ditransfer ke rekening sekolah?” tanyanya seaya mengeluarkan ponsel.



“Bisa, Dek.”



Velicia menyodorkan ponsel kepada staf administrasi itu untuk mengetikkan nomor rekening sekolah. Kepalanya terasa pening akibat ulah asisten rumah tangganya itu, tidak habis pikir gadis yang terlihat lugu ternyata bisa berbuat hal seperti itu.



Seusai menyelesaikan administrasi tersebut, Velicia menelusuri koridor dengan langkah anggun dan memukau. Melihat fisik SMA swasta itu membuat Velicia risih saat berjalan. Mulai dari seragam putih abu yang aneh\-aneh, seperti rok terlalu ketat, kemeja sekolah dikeluarkan, ada celana yang sobek di bagian lutut, dan ada juga rok yang diberi plaster di bagian belakangnya. Belum lagi dandanan anak perempuan yang melebihi batas. Murid laki\-lakinya pun mendadak memusatkan mata pada Velicia dengan tatapan yang sulit ditebak.



Velicia sadar bahwa dia bukan murid sekolah ini, ditambah pakaiannya memakai midi dress warna sea foam, yang artinya Velicia semakin mencolok di sana.



“Cantik, \*\*\*\*\*! Anak baru bukan, sih?!”




“Kecantikannya itu membutakan duniaku.”



“Kalau dia sampai sekolah di sini, itu buat gue, n\*i\*ng”



“Sembarang lo!”



“Taruhan ajalah, yang dapat dia harus….”



Velicia mempercepat langkahnya dan bersikap bodo amat.



“Cewek,” panggil pemuda yang pakaiannya dikeluarkan. “cantik,” lanjutnya seraya mengedipkan mata tepat di hadapannya.



Dalam jarak sedekat itu membuat Velicia tidak segan untuk mendorong pemuda dan langsung melemparkan tatapan tajam. Tanpa kata\-kata lagi, gadis itu lari sampai di selasar kelas yang sedang melakukan kegiatan belajar mengajar.



Langkah Velicia perlahan memelan dan hendak berbelok. Empat perempuan yang berjalan di depannya dengan gaya centil membuat gadis itu bergidik ngeri. Terlebih pantatnya yang sengaja tercetak sekali. Velicia benar\-benar tidak menyangka dengan sekolah ini. Murid seperti itu tidak diberi sanksi? Gadis itu menggeleng, keadaannya berbanding jauh dengan sekolahnya yang menjungjung kedisiplinan dan kesopanan, sedangkan di sini terlihat urakan sekali.



Velicia mencoba tidak peduli dengan yang dilihatnya. Saat salah satu dari keempat itu menoleh ke belakang, gadis berlipstik merah itu menarik lengan teman di sampingnya mengampiri Velicia.



“Lo…” Gadis itu seperti menelisik. “Tuh, kan, bener! Lo Veli, kan?!”



Suara cempreng gadis itu membuat Velicia mengambil langkah mundur dan menutupi kedua telinganya. Velicia terkejut atas aksi gadis itu saat tiba\-tiba memeluknya.



“Gue tuh ngefans banget sama lo! Vlog\-vlog lo bagus banget! Suara lo juga bagus.”



Kedua gadis temannya yang memeluk Velicia juga ikut menoleh ke belakang. Dan salah satunya langsung membulatkan mata saat menatap Velicia. Gadis itu hendak berlari karena tidak siap bertemu Velicia di sekolah dengan penampilannya yang berlebihan. Bibirnya dilapisi lipstick, bedaknya mencolok sekali, dan rambutnya digerai. Berbeda sekali dengan penampilannya di rumah, rambutnya diikat satu dan wajah tidak dilapisi apapun.



Velicia kesulitan jika harus mengejar gadis itu karena pelukan dari fansnya belum dilepaskan. “Sumi!”



Langkah Sumi mendadak kaku dan langsung berhenti. Wajah kagetnya tidak bisa disembunyikan lagi. Dia tidak memikirkan kemarahan Velicia, tapi bagaimana kehidupan ke depannya setelah Velicia mengetahui semua kelakuannya.



Gadis yang memeluk Velicia segera melepaskannya dan terheran karena idolanya mengenali temannya. “Lo kenal Sumi?”



Velicia tidak menanggapi. Dia melangkah menghampiri gadis tidak tahu diri itu. Bermuka dua? Velicia benar\-benar tidak habis pikir.



Sumi menunduk takut saat berhadapan dengan Velicia.



Gadis itu tidak menggertak meskipun sedang marah kepada asiten rumah tangganya. Hanya melemparkan tatapan tajam seraya memberikan kwitansi pembayaran SPP saja kepada Sumi, gadis itu berlalu saja.



“Sumi, lo kenal Veli?” tanya fans Velicia tidak percaya.



“Wait, gadis cantik itu namanya Veli? Emang dia siapa?” tanya gadis yang rambutnya dikuncir dua.



“Itu loh yang pernah gue certain ke kalian, youtubers yang suaranya bagus. Gue pernah nunjukin video dia lagi nyanyi sambil main piano ke kalian. Gila, aslinya cantik parah. Aduh! Gue lupa minta foto bareng.”



Mendengar pujian untuk Velicia membuat Sumi melengkungkan bibirnya dalam posisi menunduk. Sepertinya ini kesempatannya untuk tidak diasingkan dan dihina lagi. “Marwah, Velicia itu sepupu gue.”