For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Pengusiran



  Satu jam lagi waktu pulang kantor, dan Velicia belum menampakkan batang hidungnya. Hal itu mengundang banyak tanya dari karyawan-karyawannya.


Ada juga klien yang ingin bertemu dengan gadis itu, dan berakhirlah hanya meninggalkan pesan serta meminta nomor bos kecil itu untuk dihubungi langsung. Ketidak hadiran Velicia membuat kerjaan Mia semakin menumpuk, padahal dia tidak boleh kelelahan mengingat sedang trimester pertama.


“Di mana cucuku?”


Mia telonjak mendapati omanya Velicia dengan wajah datar. Suara yang dikeluarkan wanita itu sangatlah mengintimidasi, membuat Mia takut sendiri dan langsung menyudahi bicaranya dengan seorang gadis berjilbab itu. “Nanti dilanjut lagi,” katanya kepada gadis itu. Mia beralih sepenuhnya pada Oma Rianti. Dia mengenal wanita itu jauh sebelum Velicia menggantikan posisi mamanya. Karena Felyana sering mengenalkan keluarganya kepada karyawan lainnya. “Velicia belum ke kantor hari ini. Ada yang bisa saya bantu?”


“Sudah dihubungi cucuku di mana?”


“Nomornya tidak aktif, Oma.”


“Di mana ruangan cucuku?”


Mia tersenyum tulus untuk menanggapi ketusnya pertanyaan wanita paruh baya itu. “Mari saya antar,” ajaknya penuh penghormatan.


“Cucuku selama kerja tidak sakit, kan?”


Sering. Kemudian Mia teringat pada ucapan Velicia, kalau Veli sakit, jangan coba-coba menghubungi keluarga Veli. Kalau sampai mereka bertanya, katakan saja Veli baik-baik selama ini. Jika Mia tidak menuruti perintah bos kecilnya, auto dipecat. Dia masih nyaman bekerja di kantor itu. “Baik, Oma.”


“Kok jawabnya lama? Ada yang disembunyikan?”


“Ti…dak, Oma.” Setelah keluar dari lift, Mia langsung mengarahkan wanita tersebut ke ruangan Velicia. “Di sini.”


“Ini kan ruangan menantuku! Kenapa kamu tidak bilang daritadi? Aku kan bisa sendiri ke sininya.”


Mia selalu mempertahankan senyumnya meski hati terasa dongkol dengan sikap wanita itu.


Tanpa sepatah kata pun, Oma Rianti mendorong pintu di depannya. Mia tidak mengikutinya lagi. Dalam tempurung kepala wanita itu tersimpan pertanyaan. Senyaman apa kantor ini sampai cucunya jarang pulang? Mungkin karena rumah, tempatnya untuk pulang tidak memberi kenyamanan lagi, Velicia sampai menyamankan diri di tempat ini.


Dia duduk di kursi putar yang sandarannya terbalut hoodie warna hijau army. Ada setumpuk file yang tersipan di sisi meja itu, Oma Rianti tidak tertarik kepada pemandangan itu. Di ruangan tersebut ada rak pajangan warna putih menempel di dinding yang digunakan Velicia untuk menyimpan buku sekolahnya. Ini bukan hanya ruang kerjanya, tetapi ruang belajar dan istirahat cucunya.


Tangannya bergerak membuka laci, mengeluarkan berkas-berkas yang memenuhinya. Sampai akhirnya dia menemukan dua papan obat tablet yang ada tulisan cataflam 25mg. Mata sendu wanita itu sangat terlihat. Itu obat antiinflamasi nonsteroid yang sering dikonsumsi suaminya dulu. Obat pereda nyeri.


Jadi selama ini….


Dadanya sesak mengingat seberapa terpuruknya Velicia selama ini. Sampai-sampai mengkonsumsi obat seperti itu. Dia cepat-cepat beranjak tanpa membereska berkas-berkas itu. Ini semua karena anaknya. Berawal dari pergi meninggalkan tanggung jawab dan pulang semakin memperkeruh konflik.


“Oma, mau ke mana?” tanya Mia ketika bertemu dengan wanita itu di koridor.


Wanita itu enggan menjawab. Langkahnya cepat keluar gedung. Tujuannya hanya satu, Hans harus tahu kelakuan putrinya akibat kesalahan dia. Seandainya Hans tidak pergi saat hari pemakaman istrinya, seandainya Hans tidak hilang berbulan-bulan, seandainya Hans tidak menikah lagi. Cucunya tidak akan menjadi korban.


“Pulang, Bu?” tanya Pak Dirga ketika nyonya besarnya memasuki mobil.


“Iya. Cepat. Ngebut jika bisa.”


Waktu perjalanan yang biasanya memakan waktu setengah jam menjadi kurang dari dua puluh menit. Oma Riantin sudah tidak sabar memaki anaknya sendiri. Velicia adalah cucu kesayangannya, cucu tunggal yang dia miliki.


“Dirga, kamu tahu di mana cucuku?”


“Katanya masih di sekolah, Bu.”


“Ngapain dia?”


“Kurang tahu. Mungkin ada kegiatan. Neng Ayu hanya mengatakan jemput pukul lima.”


“Jemput dia sekarang. Oma ingin bertemu,” katanya kemudian membuka pintu mobil.


“Baik, Oma.”


Oma Rianti murka kepada anaknya sendiri. Dia melangkah cepat memasuki rumah, sesegera mungkin menuju lift untuk menemui putranya di lantai dua. Apapun yang berkaitan dengan cucunya, wanita itu tidak akan segan bertindak meski pada anak kandungnya sendiri. Kali ini, Hans sudah keterlaluan.


“Di mana anakku?!” Oma Rianti setengah membentak kepada menantu barunya saat berpapasan di dekat kamar Hans. “Cepat panggil dia keluar. Atau aku yang masuk!”


“Lagi di ruangannya, Bu. Mas Hans sedang meeting online. Jangan diganggu dulu.”


“Siapa kamu berani nyuruh aku?!”


Tidak peduli dengan apa yang dilakukan anaknya di ruang kerja, Oma Rianti langsung menggebrak pintu tersebut dan menyelonong masuk. Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kanan pria itu.


“Ibu….”


“Pergi kamu dari sini!” Wanita itu meremas dada agak sebelah kiri. Sesak dan nyeri datang bersamaan sebelum dia puas menghajar putra sulungnya.


“Bu, ada apa, sih?” Hans menyentuh bahu ibunya untuk membantu. Namun, segera ditepis. Seolah wanita itu tidak mau disentuh oleh anak sendiri. Sehina itukah Hans di mata ibunya? Dia sadar akan kesalahannya, tetapi orang lain juga tidak perlu menghukumnya seperti ini. Mereka tidak tahu beratnya ada di posisi Hans, terlukanya, rasa bersalahnya. Hans sanggup jika harus memberi penjelasan sekarang, tetapi mereka menolak untuk itu.


“Ka…mu keluar dari rumah ini.”


Pengusiran tiba-tiba itu membuat Hans membulatkan mata sempurna. “Kalau itu kemauan Ibu, baiklah. Sekarang, aku bantu istirahat dulu. Ibu sudah tahu sakit, jangan marah-marah seperti ini.” Meski hatinya sakit diusir oleh ibu sendiri dari rumahnya sendiri, Hans tetap harus menjungjung sopan santun kepada ibu yang telah bertaruh nyawa untuknya. Dengan apa balasan tumpahnya darah sang Ibu jika selain dengan bakti?


“Kamu pergi secepatnya…,” ujar Oma Rianti saat dipapah oleh Hans. “Ibu tidak mau melihat kamu dan istri kamu itu.”


Wanita yang disebut oleh mertuanya langsung mematung di samping pintu ruang kerja suaminya. Apa salahnya sampai dia disalahkan sedemikian rupa.


Merasa bahwa ibunya terlalu lemah untuk berjalan, Hans memutuskan untuk menggendongnya ketika di depan lift. Pria itu menidurkan Ibunya yang dari dulu sampai sekarang dibanggakannya.


“Ibu tidak bisa memaafkan kamu, Ibu benci sama kamu,” racaunya dan menolak untuk Hans selimuti.


“Aku menikah dengan Hana karena bentuk tanggung jawab saja, Bu. Aku tidak mencintainya dan aku rasa tidak akan pernah mencintainya. Sampai kapan pun istriku, Felyana, tidak akan tergantikan.”


“Cucuku sakit gara-gara kamu!” Nada Oma Rianti kembali tinggi membuat Hans langsung mengelus lengan atas ibunya untuk menenangkan.


“Jangan marah, Bu,” katanya mengingatkan untuk kesehatan ibunya. “Sakit apa? Velicia sekarang di mana? Biar aku langsung bawa ke rumah sakit.”


“Dia sampai minum obat pereda nyeri gara-gara kamu! Dia kerja terus-terusan gara-gara kamu! Tempat yang dulunya jadi rumah ternyaman bagi cucuku, kini seperti di neraka. Cucuku nggak pernah menginginkan ibu baru, Hans….”


Benar kata ibunya. Dia terlalu egois. Setelah menaburkan garam di luka putrinya, dia biarkan Velicia begitu saja, yang dia lakukan hanya memantau saja. Namun, dia juga tidak sepenuhnya bersalah atas keputusan menikahi Hana. Wanita itu seorang yatim piatu yang dari kecil hidupnya di panti asuhan.


“Apa tadi Ibu bertemu Velicia di kantornya?”


“Cucuku melewati hari selama tiga bulan lebih dengan luka. Kamu tidak becus menjadi Papa untuk cucuku!”


“Ibu, tenang. Jangan marah seperti ini. Katakan di mana Velicia, aku sekarang aku akan menemuinya.”


“Kamu tidak becus jadi Papa. Ibu mau kamu pergi! Bawa wanita perebut suami orang itu!”


“Aku akan pergi kalau itu permintaan Ibu. Tapi aku perlu bertemu dan bicara dengan Velicia, Bu. Dia putri aku satu-satunya.”


“Apa?”


Suara dari arah pintu membuat kedua orang itu mengalihkan pandang ke sumber suara. Velicia berjalan menghampiri omanya yang terbaring di atas tempat tidur. Fokusnya hanya pada wanita itu, Velicia tidak menganggap kehadiran papanya.


“Oma kenapa lagi? Mau ke rumah sakit?” tanyanya dengan suara lembut.


Yang dilakukan Oma Rianti adalah mengelus lembut pipi cucunya. Dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan gadis kecil kesayangannya. “Mana yang sakit, Nak? Sini cerita sama Oma. Oma tidak suka cucuku sakit atau sedih.”


Hans perlahan menggeser untuk memberi ruang untuk ibunya dan putrinya.


“Nggak pa-pa, Oma.”


“Sejak kapan minum cataflam?”


Velicia langsung mendongak dan membulatkan matanya, Darimana wanita itu tahu?! Hans juga tidak kalah terkejut. Putrinya yang terlihat kuat di luar tidak sekuat itu.


“Opa kamu meninggal karena obat itu….” Oma Rianti mulai menitikkan air matanya. “Opa kamu mengkonsumsi obat itu selama belasan tahun, sampai akhirnya divonis sakit ginjal karena efek obat itu. Jangan minum itu lagi, Nak….”


Slide demi slide papanya yang gila kerja itu, yang melewati dua puluh empat jam selama berbulan-bulan di laboratorium bergentayangan di kepala Hans. Mengisi seminar dari satu negara ke negara lainnya, berkutat dengan kerjaan dan menghabiskan seluruh waktunya untuk penelitian mengusik pikiran Hans saat itu. Sampai akhir hayatnya, beliau meninggal di laboratorium, di samping sebuah mesin buatannya yang belum sempurna jadi. Dia menggeleng cepat menyebabkan turunya air mata. “Jangan…,” katanya dengan suara parau. Dia tidak ingin putrinya melakukan hal gila seperti apa yang dilakukan papanya dulu. “Baik, Papa dan Hana akan pergi dari sini. Kembalilah ke rumah ini, Velicia, tolong jangan forsir diri kamu untuk kerja.”


Velicia yang langsung tanggap dengan situasi mengangkat bahunya cepat. “Tergantung,” ucapnya tenang.


“Papa akan penuhi kebutuhan kamu.”


Tidak. Velicia terlalu nyaman berada di kantornya. Kerjanya, bercandanya, hiburannya. “Veli pertimbangkan.”