
Gadis itu sudah lengkap dengan jas lab dan sarung tangannya. Seorang pria berjas lab menghampiri putrinya, tangan besar yang terlindungi sarung tangan itu mengulurkan sebuah tabung berisi cairan kimia warna biru. Gadis tersebut menerimanya seraya memasang senyum.
“Nama Kepala sekolahnya Hikmal, teman Papa.”
“Oh, ya? Teman apa itu? Sekolah, kuliah, atau… yang lain?”
“Teman jahat.” Pria itu tertawa sebentar untuk mengisi kesunyian. “Gara\-gara Hikmal, Papa nggak jadi melanjutkan strata dua di Jerman,” katanya seraya terkekeh kecil.
“Karena hal apa?”
“Ketika hari wisuda, dia mengenalkan sahabatnya sama Papa. Menyebalkan sekali itu orang. Dua hari sesudah wisuda, Papa mau pulang ke Indonesia, sialnya Papa tertahan di sana karena ada yang tidak beres dengan ….” Telunjuknya menunjuk ke dada sebelah kiri.
Gadis itu menyergit, tidak paham dengan apa yang dibicarakan papanya.
“Kamu tahu siapa sahabatnya Hikmal?”
Dia mulai penasaran. Badannya dibalikkan, gadis itu menatap papanya serius.
“Mamamu,” jawabnya dengan santai sambil tersenyum tipis. “Felyana sahabat kecilnya Hikmal. Tidak pernah terpisah sampai besar, kuliah pun sama\-sama di London, meski mereka berbeda universitas. Hikmal sama Papa kuliah di University College London, Felyana di Oxford. Felyana masih perlu satu tahun lagi menyelesaikan study, tapi Hikmal sudah pulang duluan ke Indonesia dan meninggalkan sahabatnya sendiri. Coba kamu bayangin, seorang gadis sendirian di negeri orang. Papa jadi khawatir.”
Pria seserius papanya bisa saja khawatir dengan seorang perempuan baru dikenalnya? Gadis itu tekekeh diiringi gelengan kecil.
“Kamu jangan tertawa, Sayang.”
“Terus Papa langsung menikahi Mama saat itu juga?”
Dia menggeleng kecil. “Tidak semudah itu. Rintangannya menantang, Sayang. Mamamu sahabatan dengan Hikmal sudah lama, mustahil tidak ada sesuatu, kan? Namun, Hikmal menjelaskan bahwa mereka hanya sahabat. Terhitung tiga minggu sejak perkenalan di acara wisuda, Papa lamar Felyana.”
“Diterima?”
“Mama kamu ingin menyelesaikan study nya dulu. Papa harus menunggu sampai dia menyelesaikan S2. Namun, tidak selama itu. Papa memutuskan untuk kerja di sana sambil jaga Felyana. Dan itu yang membuat mamamu luluh.”
“Hebat juga ya trik nya Papa. Veli suka loh.” Gadis itu tertawa geli seakan tidak percaya bahwa papanya melakukan hal itu.
🎗🎗🎗🎗
“Sorry I’am late.”
Gadis berbandana putih dihiasi telinga kelinci yang berbulu itu mengalihkan pandangan dari novel. Tatapan matanya datar, sulit untuk orang lain tebak. Tidak ada senyum penyambutan, hal itu membuat pemuda yang baru datang merasa canggung untuk duduk.
“Ooo, mau langsung bahas projeknya? Sebaiknya kita pesan sesuatu dulu untuk menemani perbincangan kita.”
Velicia tidak sedatar tadi. Kekehan kecilnya membuat pemuda itu sedikit menarik kedua sudut bibirnya. “Oke.” Tangannya diangkat untuk memanggil seorang waiter.
Keduanya diberi buku menu. Betapa kagetnya pemuda itu ketika melihat angka\-angka yang ada di bawah menu makanan. Tidak ada harga di bawah seratus ribu. Restoran macam apa itu? Matanya menjelajahi sekitar, restoran berdesain mewah yang mempunyai nilai seni di lantai dan langit\-langitnya membuat pemuda itu tidak mampu berkata\-kata lagi. Jangan jauh\-jauh dulu, kursi yang diduduki saja empuknya mengingatkan dia pada surah Ar\-Rahman. Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
“David,” panggil Velicia.
Pemuda itu belum tersadar. Matanya mengarah lurus ke tangga beralaskan karpet merah da tengahnya disorot lampu putih.
“Pesanannya didouble saja,” putus Velicia pada akhirnya. Tangannya perlahan bergerak untuk menyentuh tangan yang terbalut hodie untuk menyadarkan lamunan pemuda itu. “Kita bertemu untuk diskusi, bukan melamun!”
David tersentak oleh kibasan tangan Velicia di depan matanya. Tangan kanannya refleks menggaruk belakang leher. “Makanannya mahal\-mahal, ya?” Dia tertawa kaku dan dibalas kekehan kecil oleh gadis di hadapannya. “Ini pertama kalinya aku ke restoran mewah.” Pemuda itu sedikit membungkukkan badannya. “maaf kalau nanti aku malu\-maluin.”
Sontak gadis itu tidak dapat menahan tawanya. Kepolosan dan apa adanya David adalah hal menarik di mata Velicia. “Really?”
Pemuda itu tidak segan untuk menangguk. “Keluarga aku tidak terbiasa dengan kemewahan.”
Kejujuran tentang kehidupannya tidak membuat David malu. Dia adalah pemuda apa adanya, yang tidak tertarik untuk terlihat punya segalanya di hadapan Velicia. “Kemewahan tanpa kebahagian tidak berarti apa\-apa, bukan?”
“Betul banget. Kebahagian itu mahkota tertinggi, tidak bisa dibeli oleh materi," balas David.
“Tidak ada yang menjual kebahagian. Jadi, mau beli kebahagian di mana?”
“Ah, iya.” Pemuda itu menepuk keningnya seraya tersenyum. “You are smart.”
Mereka tertawa lepas seolah sudah kenal lama. Sampai pesanan datang, Velicia menghentikan tawa dan segera tersenyum ke waiters. Dua piring seafood plater, dua dalgona coffee, disertai dessertnya chocolate brownie sundae diteliti oleh David.
Begitu wanita berseragam merah dihiasi renda warna putih itu pergi setelah menyerahkan secarik kertas berisi total pembayaran kepada Velicia, David mencondongkan kepala. “Makanannya nggak mahal\-mahal banget, kan?” tanyanya polos sekali.
Menurut Velicia, itu adalah pertanyaan konyol tapi sukses mengundang tawa. Gadis itu geleng\-geleng kepala seraya menutup mulut dengan telapak tangan untuk meredakan tawa. Dia memilih untuk menunjukkan total pembayarannya daripada menjawab dengan suara.
Mata David seketika membulat. Mulut yang menganga segera dia tutup dengan tangan. “Tujuh ratus? Makanan apaan ini?” Jangan tanyakan berapa persen keterkejutannya.
“Enak, kok. Cobain aja.”
Pemuda itu mendengkus. Permasalahannya adalah uang. Projek untuk cover lagu akan memakan biaya yang lumayan, sebisa mungkin dia harus hemat. Bagaimana bisa berhemat jika belum satu jam duduk di kursi empuk itu dirinya sudah mengeluarkan tujuh ratus ribu. “Vel—”
“Kita mulai diskusinya,” putus Velicia.
David berdecak kesal seraya menggaruk kepalanya kasar. Semuanya juga sudah terlanjur, makanan yang ada di hadapannya tidak bisa dikembalikan.