For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Luka Terdalam



Gadis itu keluar paling akhir dari ruang meeting seraya memijat kedua pilipisnya. I-Pad dan proposal ditidurkan di lengan kirinya. Kembalinya Hans membuat hari-hari Velicia terasa berat, syukurlah ada banyak pekerjaan yang mampu menyita waktunya. Untuk melampiaskan marahnya, dia tidak mengingat berapa kali dua puluh empat jam telah dilaluinya tanpa tidur sejak masalah mengguncang hidupnya. Ritme kerja yang diluar kapasitas adalah hiburan tersendiri bagi Velicia, tanpa memerlukan kebutuhan fisik. Andai sana mamanya tahu, pasti hal itu membuatnya murka.


“Papa tidak mau tahu, besok kamu harus hadir!” Pria yang sudah menunggunya di dalam ruangan bertumpang kaki seraya mengetukkan ujung bolpoin ke permukaan meja.


“Nggak wajib, tuh,” balas Velicia setenang mungkin.


“Turuti apa kata Papa!” Hans berdiri dan langsung menatap tajam untuk mengancam putrinya.


“Buat apa?”


“Papa tidak mau ribut sama kamu. Sekarang ikut Papa pulang.”


Velicia berjalan dengan tenang menuju kursinya. Apa yang ada di tangannya disimpan di permukaan meja. “Lebih baik Papa pulang sendiri. Pikirkan dulu dengan matang sebelum mengambil keputusan.” Gadis itu memindahkan setumpuk file dari mejanya ke rak yang ada di belakang. Tindakan itu seakan tidak menghargai kehadiran Hans di ruangan itu, Velicia bersikap hanya ada dirinya sendiri di sana.


Hans mengamati setiap gerak-gerik putrinya. Luka telah mendewasakan putrinya. Kepergiannya yang hampir tiga bulan bukan suatu hal mudah untuk diterima gadis berusia lima belas tahun. Rasa bersalah tentu menyelimuti hati pria itu, tetapi kenyataan tidak bisa dielak. Putrinya pasti lelah kerja di saat usia dia belum waktunya untuk bekerja. Namun, sekeras apapun Hans larang, sekeras itupun putrinya menantang. Karena Hans telah menutunkan sifat keras kepalanya kepada putrinya. Jadi, dia tahu sekeras apa keras kepalanya Velicia dan sebesar apa kenekatan Velicia.


“Papa capek lihat kamu seperti ini. Dalam waktu lima menit, Papa bisa jelaskan semuanya. Kamu tidak seharusnya ada di sini. Seandainya mama kamu tahu keadaan kita sekarang seperti ini, apa kamu masih bisa berpikir jika mamah kamu tidak akan sedih?”


Velicia berdehem di tengah-tengah membaca sebelum membubuhkan tanda tangan di atas materai. “Harusnya Papa menjelaskan itu sebelum kecewanya Veli sedalam ini.”


“Papa bisa mengerti kalau kamu tidak mau mendengar penjelasannya. Tapi Papa punya satu permintaan. Tolong jangan bekerja seperti, ya. Kamu fokus dulu sekolah, perbanyak pertemanan, jangan pernah melakukan hal di luar batas kemampuan kamu. Ini semua demi kebaikan kamu.”


Di kantor inilah yang bisa membuat Velicia melupakan masalahnya. Dengan setumpuk kerjaan, candaan karyawannya, kerja rodi untuk mengejar deadline. Meski benar-benar melelahkan, tetapi itu berhasil untuk mengusir stress. Gadis itu kembali pada file yang dibacanya tanpa ada niat menanggapi pria di hadapannya. Namun, bukan Hans yang jika menyerah untuk membujuk putrinya. Membujuk untuk menghadiri pernikahannya dengan Hana.


Syarat yang diberikan Hana terlalu sulit untuk Hans wujudkan. Karena keras kepalanya Velicia lebih keras dari karang diterpa ombak. Hana menginginkan pernikahannya disaksikan juga oleh Velicia. Namun, membujuk anak itu tidak semudah yang Hans pikirkan, terlebih keduanya sedang berada dalam laga salah paham.


Sekeras apapun Hans memberi pengertian, Velicia tetap menolak.


“Maka dari itu, Papa harus menjelaskannya. Salah pahamnya kamu sudah terlalu jauh.”


Velicia menggebrak meja ketika telinganya sudah panas dengan ocehan papanya yang tidak jelas arah. “Veli akan hadir, sekarang Papa pulang.” Mungkin itulah keputusan terbaik untuk mengusir pria itu. Daripada konsentrasi kerjanya diganggu terus,  akhirnya dia menuruti kalimat yang diharapkan papanya sejak tadi.


“Akadnya pukul sembilan di masjid Istiqlal.” Hans berdiri kemudian mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut putrinya. Sudah lama tidak memperlakukan putrinya seperti itu, Hans tersenyum getir kala kenangan demi kenangan yang telah dilewati bersama putrinya memenuhi ruang kepalanya. Dia dan putrinya seperti terpisah oleh benteng besar dan menjulang. “Kamu hati-hati ke sananya. Jangan tidur terlalu malam.”


****


“You don’t write anymore?” tanya kakak kelasnya yang berambut dikuncir kuda dengan kacamata bulat duduk di samping Velicia.


“No time.”


Ini rekor Velicia datang ke sekolah paling pagi karena belum mengerjakan tugas. Tempat pertama yang diburu adalah perpustakaan. Rencana setelah mengerjakan tugas adalah tidur sampai bel masuk berbunyi, sayangnya ada kendala. Kakak kelas berkacamata itu melemparkan pertanyaan yang menuntutnya  untuk dijawab.


“But have plans to write again? I really like your work.”


“Certainly. But, I don’t know when.”


“I pray that as soon as possible.”


Mendengar doa itu membuat kedua sudut bibir Velicia terangkat kecil. “Thank you.”


“Oke, Velicia. I have to go to class now. See you at another time.”


Velicia hanya bisa mengikuti dua jam pelajaran sebelum pergi memenuhi janjinya untuk menghandiri akad papanya. Setidaknya Velicia ke sekolah untuk memberikan tugas minggu lalu meski tidak bisa ikut kelasnya.


Kakak kelasnya mengingatkan Velicia dengan menulis. Velicia tidak sadar bahwa sudah berbulan-bulan dirinya tidak menulis. Akun media sosialnya tidak terurus, piano di rumahnya sudah lama tidak tersentuh, alat-alat yang menunjangnya melahirkan sebuah karya mungkin sudah berdebu. Kamarnya saja jarang dikunjungi.


“Princess kenapa melamun terus?”


Mata gadis itu mengerjap saat pikirannya menciptakan suara David. Sudah sejauh mana Velicia melamun? Sampai-sampai menciptakan ilusi seperti itu.


“Aku kangen tahu. Kapan sih kamu selesainya?”


Ini bukan ilusi! Velicia tertawa ketika mendapati sosok David berada di sampingnya. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. Dia kira suara David adalah khayalan. Ternyata itu nyata.


“Nggak tahu,” jawabnya.


“Kamu capek, ya?”


“Ya iyalah! Masih nanya.”


“Kelihatan banget dari mukanya. Lesu terus. Kayak ada tekanan.”


Velicia enggan menjawab. Setransparan itu?


“Kamu kerja buat apa sih, Vel? Udah kaya juga.”


Untuk menyibukkan diri. Gadis itu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. David tidak tahu saja permasalahannya. “Bagaimana dengan film pendek kamu?” tanyanya untuk membelokkan topik.


“Ah, itu! Dua part lagi selesai. Doakan, ya. Eh, satu part lagi.”


“Semuanya ada berapa part?”


“Dua belas. Sekarang aku lagi edit part sebelas. Kamu tahu, nggak? Karena film itu, subs aku udah tiga ribu, hampir empat ribu tahu.”


“Oh, ya? Alhamdulillah, dong.”


“Alhamdulillah hirabbil alamin. Ini semua karena kamu juga. Tanpa kamu, aku ini siapa, Vel? Makanya aku butuh kamu.”


Velicia senang mendengarnya. Penjuangannya untuk mempertahankan mimpi David terbayar dengan semangatnya pemuda itu melahirkan sebuah karya. “Rencana setelah selesai film ini apa?”


“Fokus ke musik kayaknya. Om aku mau buat lagu, makanya aku sering bolak-balik ke Jakarta Timur kalau ada libur.”


“Teruskan mimpi kamu, ya.”


“Ada satu mimpi besar yang baru saja terpikirkan. Aku rasa, itu mimpi besar yang pernah aku impikan. Untuk mewujudkannya, aku butuh kamu.”


Mata bulat dengan kantung besar milik Velicia memicing penasaran. “Apa?”


“Belum saatnya kamu tahu.”


“Ishh…”