
Sore setelah mendapat kabar bahwa David tidak mau menerima bantuannya, gadis itu memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya malam itu juga. Meski harus tidak tidur semalaman, itu tidak masalah, sudah biasa juga. Sebelum magrib Velicia suapaya omanya tidak khawatir, setelah memastikan wanita itu tertidur, Velicia kembali ke kantor. Jika omanya tahu bahwa dia bekerja semalaman di saat kondisi fisik masih lemah, wanita itu pasti menceramahi sepanjang malam.
Berkutat dengan laptop semalaman membuat matanya terasa perih, meski merasa mengantuk, gadis itu berusaha terjaga, sesekali mengucek matanya. Ini akan menjadi malam panjang untuknya. Pukul 2:35, di saat kopi dicangkirnya tidak tersisa, dia beranjak untuk kembali membuatnya lagi. Itu adalah kopi keempat yang dibuatnya.
Suasana koridor sepi, angin malam masih terasa meski tubuhnya sudah terbalut hoodie. Butuh beberapa menit untuk menyeduh kopi hingga akhirnya dia kembali lagi ke ruangan.
Tangan, mata dan otaknya bekerja secepat mungkin. Melihat modul, menghitung disebuah note kecil, mendesain di laptopnya. Dia membuka catatan di I-Pad, beberapa poin penting dari Pak Andri lumayan membantunya.
Tepat di pukul 5:00, rasa kantuknya tidak bisa ditahan lagi, kopi yang tadi buatnya sudah habis. Kepalanya jatuh ke permukaan meja tanpa disadari. Otaknya sudah terlalu lelah untuk dikerja rodikan, setidaknya gadis itu bisa istirahat sampai pukul 07:00.
Seorang wanita cantik berperawakan tinggi layaknya pramugari, rambut digelungkan, dan polesan make up sederhana masuk ke ruangan bos kecilnya. Melihat gadis yang tertidur di sana membuatnya geleng-geleng kepala. Ah, itu sudah biasa, gadis itu pasti lembur semalaman. Tidak ada ada niat untuk mebangunkan karena ada rasa kasihan yang muncul di hatinya. Namun, baru juga mau melangkah keluar, suara serak membuat tindakannya berhenti.
"Veli mau keluar sampai siang nanti. Kalau Pak Andri sudah datang, tolong berikan laptopnya kepada dia. Satu lagi, kalau Kak Rio datang ke sini membawa makanan, simpan saja di meja, nanti Veli makan," pesannya sambil menyandarkan punggung yang terasa sakit ke sandaran kursi. Dia ingin secepatnya beranjak, tapi merasa lelah, ditambah punggung dan leher terasa sakit.
Beberapa menit menunggu tubuhnya kembali berfungsi hingga akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Dia memasuki lift seraya menelepon sopir pribadinya untuk segera menjemput.
Velicia harus pulang ke rumah terlebih dahulu, untuk memastikan omanya tidak khawatir. Sesampainya di rumah, di dekat tangga, asisten rumah tangganya menghampiri.
"Oma sudah menunggu, Nona."
Mana mungkin Velicia menemui omanya dengan wajah lusuh dan mata panda. "Iya, sebentar lagi ke sana," katanya lalu berlalu ke arah lift. Dia harus membersihkan diri terlebih dahulu untuk terlihat baik-baik saja di depan wanita paruh baya itu.
****
David langsung mematung setelah membukakan pintu. Seorang gadis dengan balutan midi dress warna teal yang dirindukannya bertamu sambil menunjukkan senyum yang membuat hatinya bergetar hebat. Velicia yang hari kemarin berwajah datar, kini kembali tersenyum?
"Vel...." David ingin bersorak, sudah lama senyum itu tidak muncul!
"Temukan Veli dengan ayah kamu."
Permintaan Velicia tanpa basa-basi membuat David bingung. Ada apa dengan ayahnya? "Untuk apa, Vel?"
"Ingin membicarakan suatu hal," jawabnya.
David terdiam beberapa saat. Suatu hal? Velicia terlalu sulit ditebak karena kata-kata dan tindakannya penuh teka-teki. Jika bertanya secara frontal, David terlalu malas mendapat jawaban yang penuh teka-teki lagi. Orang idiot dan orang cerdas itu sama, sama-sama membuat orang waras pusing!
"Ayah udah berangkat ke rumah sakit."
"Ayo kita ke sana."
Susah memang jika bicara dengan orang seserius Velicia. Satu-satunya cara untuk tahu tujuan Velicia adalah menurutinya. Dia yakin pada gadis itu, Velicia bukan orang yang harus dicurigai. Meski di tempurung kepalanya tersimpan ribuan tanya, tapi dia tidak mencoba untuk mengeluarkan lewat suaranya. "Aku ganti baju dulu."
Gadis itu tersenyum seraya mengangguk.
Tersenyum lagi!
David cepat-cepat masuk untuk mengganti pakaiannya. Apakah Velicia sudah menyelesaikan urusannya dan kembali lagi seperti janjinya? Inilah waktu yang ditunggu-tunggu. Pemuda itu mamatut dirinya di depan cermin, meski penampilannya sederhana, hanya jeans dan kaos warna cokelat susu, tapi tidak menghilangkan kesan tampan.
Mereka bersiap ke rumah sakit tempat ayah David bekerja. Velicia membutuhkan informasi, sepanjang perjalanan terus bertanya tentang keluarga David. Pemuda itu seorang anak pemilik rumah sakit swasta, dididik tanpa kemewahan, ditekan untuk menjadi sorang dokter.
"Dulu aku punya adik. Namanya Ainila, tapi...."
Velicia mengusap punggung tangan pemuda di sampingnya, berusaha memberinya kekuatan. Pasti ada sesuatu yang terjadi hingga membuat David sedih.
"... dia meninggal delapan tahun yang lalu akibat insiden kecelakaan." Dia menunduk menutup wajah dengan kedua telapak tangan yang sikutnya ditumpukan ke paha. "Sejak kejadian itu, Ayah selalu menekan aku, memaksa untuk menjadi murid unggulan, aku benar-benar enggak pernah punya kebebasan. Sejak itu, Vel... sejak itu aku ditekan untuk meneruskan langkah ayah untuk menjadi dokter."
"Dengan menangis tidak menyelesaikan masalah," kata Velicia seraya mencondongkan badan ke depan, bermaksud mengambil tisu yang ada di dashboard. Pak Dirga yang tahu maksud putri majikannya langsung memberikan kotak yang dimaksud Velicia.
"Tidak perlu."
Beberapa menit setelahnya mereka sudah ada di ruangan ayah David. Sudah satu jam menunggu ayah David menyelesaikan pekerjaannya. Velicia berusaha menyamankan diri dalam kebosanan tanpa kegiatan. Dua remaja itu berada di ruang direktur utama rumah sakit, duduk bersampingan di sofa, tanpa ada yang mengeluarkan suara. Sesekali Velicia hilang kesadaran karena kantuk yang mneyerang, mungkin karena semalam lebur sampai subuh. Sampai akhirnya benar-benar tertidur.
David meringis saat memindahkan posisi kepala Velicia dari lengan atasnya ke pangkuannya, takut jilakau Velicia sampai terbangun. Terlihat sekali bahwa gadis itu kelelahan, lihat saja kantung matanya yang besar sekali, tapi anehnya tidak pernah jelek.
"Nanti bangunkan kalau ayah kamu datang," kata Velicia tanpa membuka mata.
Baru saja bicara seperti itu, suara pintu terbuka membuat matanya terbuka.
"Vid, ada apa?" tanya pria berjas putih kebesaran lengkap dengan stetoskopnya.
"Ini, Yah, Veli mau bicara."
Velicia langsung terbangun dan berusaha keras mengusir kantuknya. Setelah menegakkan tubuh sesegera mungkin dia menghampiri pria tersebut. Inilah saatnya, dia harus mengambil tindakan untuk membuat David merasa terbebas.
Dia duduk menghadap pria tersebut. Sedikit basa-basi dan langsung loncat ke inti. Velicia tidak menyukai membuang-buang waktu.
"Karena David harus meneruskan apa yang sudah saya mulai. Dia anak tunggal saya, rumah sakit ini butuh penerus."
Ternyata itu alasan kenapa David ditekan. David hendak menyela, tapi Velicia lebih awal bersuara. "Maaf, tapi, apa perlu dengan cara menekan seperti itu?"
"Masa depannya akan terjamin jika menjadi dokter. Kamu harus tahu semulia apa pekerjaan saya."
"Semua pekerjaan baik itu mulia, selama itu memberi manfaat untuk makhluk." Velicia menyuarakan pendapat yang membuat pria itu kalah telak.
"Oh, iya, kamu memang benar. Tapi, tolong jangan mencampuri urusan keluarga saya," sangkalnya.
David menyimak perdebatan kecil itu, Velicia sangat berani menentang ayahnya. Ini hal diluar dugaan, tindakan gadis itu sudah diluar batas. Meski dirinya ingin menenangkan Velicia untuk tidak menentang, tapi dia tahu bagaimana Velicia, orangnya keras kepala.
"Berikan David kebebasan, Dok, setidaknya sampai lulus SMA. Biarkan dia berpetualang sebelum menentukan ke mana dia akan pulang-"
"Hari ini saya sibuk-"
"Lima menit, tolong beri waktu untuk saya bicara." Velicia menghela napas sejenak untuk memulai pembicaraan yang sedikit panjang. Diamnya ayah David adalah pertanda setuju memberikannya waktu lima menit itu. Ekor matannya melirik pemuda di sampingnya yang menggelengkan kepala. Sepertinya David tidak mau diperjuangkan, tapi Velicia tidak semudah itu untuk menyerah.
"Cita-cita saya menjadi ilmuan, karena Papa saya juga ilmuan. Namun, sebelum saya sibuk untuk menggapai cita-cita itu, saya memilih untuk berpetualang ke dunia lain. Saya seorang penulis, modelling, youtubers, arsitek, dan hobi bermain alat musik. Banyak hal yang sudah saya lakukan, itu semata-mata karena saya ingin bermain-main. Seperti apasih rasanya jadi penulis? Seperti apasih dikenal banyak orang? Seperti apasih menjadi arsitek tanpa pernah sekolah arsitektur? Alhamdulillah, keluarga saya mendukung sepenuhnya apa yang saya lakukan. Ingin menjadi apapun, itu hak saya, orang tua tidak pernah mengekang. Namun, di hati saya, cita-cita tetap menjadi ilmuan."
Ada hal ganjal yang David dengar. Arsitek? Sejak kapan?
"Kamudian saya akan berhenti menjelajah setelah lulus SMA untuk menfokuskan diri dengan pendidikan," imbuh Velicia lagi.
"Lalu apa hubungannya dengan anak saya?" Pria berjas itu agak emosi mendengar cerita Velicia yang menurutnya membuang waktu.
"Begitupun dengan David, berikan dia kebebasan untuk mencari jati dirinya dulu. Biarkan dia bersama musiknya dan seni visualnya supaya David merasakan berada di dunia itu sampai akhirnya dia mengatakan 'oh, jadi seperti ini rasanya berada di dunia musik'." Diliriknya David yang sudah menunduk, pemuda itu terlalu lemah di hadapan ayahnya. Matanya segera dialihkan ke papan nama di atas meja. "Jika dokter menginginkan David mengikuti langkah Dokter Fardan, saya rasa David bersedia. Karena saya melihat, David sangat menjunjung bakti kepada orang tuanya. Sekarang, tolong biarkan David berpetualang terlebih dahulu sebelum dia memenuhi keinginan dokter. Antara cita-cita dan orang tua, saya rasa David akan memilih orang tua. Jadi, dokter tidak perlu khawatir."
David tidak menyangkan dengan gadis kecil itu. Diamnya bukan berarti tidak peduli. Perjuangan Velicia dalam memperjuangkan mimpinya adalah hal paling mengharukan dalam sejarah hidup. Velicia, princess bocahnya, gadis yang disayanginya. Terima kasih, Vel.
Velicia mengangkat tangannya untuk melihat jam tangan. "Saya rasa sudah cukup. Maaf telah mengganggu waktunya, saya permisi." Dia berdiri kemudian tersenyum penuh hormat sebelum berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Fardan dan putranya yang mematung.
Setelah David tersadar, pemuda itu bangkit dan segera menyusul gadis itu.
"Vel, terima kasih," ucapnya sambil berlari kecil untuk mengejar gadis yang berjalan cepat di koridor.