
Hari yang Velicia kira akan bahagia ternyata jauh dari kata itu. Kembalinya sosok pahlawannya bukan mengobati kecewa, melainkan semakin menggoreskan luka. Setelah hampir tiga bulan menghilang lalu kembali membawa sebuah berita buruk. Setidak punya hatikah pria bernama Hans? Hancur, hampa, sakit, kecewa.
“Papa akan menikah dengan Hana minggu ini.”
Bulir bening meluncur begitu saja di pipi mulusnya. Ketika Felyana sekarat, di mana Hans? Ketika Felyana kembali pada penciptanya, kenapa Hans pergi? Ketika Velicia sudah mulai menerima kepergian, kenapa Hans kembali dengan orang baru?
Puncak dari marah adalah diam. Mata Velicia menyorot nyalang kepada wanita berjilbab. Dia tidak mampu berkata, hatinya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa papanya tidak sebaik yang dia pikir.
“Ibu enggak setuju, Hans! Menantu Ibu hanya satu, itu Felyana! Enggak akan terganti sama dia!” Oma Rianti menatap tajam seraya menunjuk wanita yang ada di samping Hans.
“Ibu….” Hans menatap penuh permohonan untuk meminta restu. “Felyana tidak akan terganti, aku juga tidak akan melupakannya. Bu, percayalah bahwa Hana orang baik. Aku berani jamin, jika Ibu dan Veli mengenal Hana lebih dalam kalian akan suk… Veli, mau ke mana kamu?!”
Gadis itu berlari ke arah pintu dan membantingnya tanpa ampun. Hans langsung mengambil langkah panjang untuk menyusul. Sayangnya Velicia langsung masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
“Velicia, dengerkan Papa dulu!” teriaknya saat mobil mulai maju menuju gerbang. “Beri Papa waktu untuk menjelaskan!” Pria itu segera berlari ke arah mobilnya untuk menyusul putrinya. Ini semua akan salah paham jika tidak dijelaskan. Hans tahu ini menyakitkan untuk putri kesayangannya, tapi Velicia harus mengerti kenapa dirinya menikah lagi secepat itu.
Hans menambah kecepatan mobil untuk menyusul mobil putih yang berjarak sekitar sepuluh meter dari mobilnya. Hampir saja dia bisa menyusul, mobil putih itu melaju di atas kecepatan rata\-rata.
Mama harus tahu ini, semuanya berubah setelah hari itu.
Velicia mencabut selembar tisu untuk menghapus air matanya. Rasanya terlalu menyakitkan.
Pelampiasan gadis itu kala ada masalah bukan marah, tetapi menyiksa fisik dengan menyibukkan diri. Dia kembali ke kantor untuk meluapkan amarahnya pada sederet pekerjaan yang terasa tiada habisnya. Kaki mungil itu melangkah cepat setelah turun dari mobil, berlari secepat mungkin ke arah lift kemudian mengunci diri di ruangannya.
Baru saja duduk di kursi, seseorang mengetuk pintu secara kasar. Velicia tahu siapa orangnya, itu alasan lebih baik tidak menanggapinya.
“Velicia, ini Papa, Nak! Papa mau menjelaskan semua itu sama kamu.” Ketukan itu semakin keras. Namun, apa peduli Velicia?
Dia menyalakan laptop untuk berkutat dengan kerjaannya. Biarkan pria di depan pintu itu berkicau sampai lelah sendiri.
BRAAK!
Velicia mengalihkan pandangan kepada pria yang berdiri tanpa dihalangi pintu lagi. Hans berhasil mendobraknya. Dia segera mengamankan filenya di flasdisk, setidaknya harus waspada jika kemarahan ini berlangsung sampai ada benda yang menjadi korban. Setelah memasukkan benda persegi panjang itu ke laci, tangan Velicia mengambil proposal paling atas lalu membacanya dengan santai. Kehadiran papanya seolah tidak dianggap oleh Velicia.
Tindakan Velicia yang seperti tidak menganggapnya ada membuat Hans murka. Dia segera merebut kertas itu dan langsung menyobeknya. “Papa punya penjelasan!” tegasnya. Namun, tidak digubris oleh gadis itu. "Dengarkan dulu sebelum bersikap seperti itu!"
“Orang yang sudah dikecewakan akan sulit merima penjelasan, sejujur apapun itu!” balas Velicia tidak mau kalah. Tangannya menarik laptop, berusaha bersikap bodo amat pada pria berjas di depannya.
“Hana tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia shalehah, berjilbab, jiwanya penuh dengan kasih sayang. Tidak ada alasan untuk kamu membencinya. Soal mama kamu, dia akan selalu nomor satu selamanya di hati Papa, mutlak dan tidak akan terganti. Velicia, dengarkan Papa kali ini, Papa mohon sama kamu, terima Han—”
Gadis itu berdiri dan langsung melempar laptop ke lantai. Tidak ada ekspresi yang ditunjukkan Velicia, hanya mata menyorot penuh luka dari kedua bola matanya. Tanpa ada satu kata pun, dia memilih berlalu daripada mengeluaarkan suara tinggi.
“Velicia!”
Kepalanya menggeleng kuat, rasa sesak memenuhi rongga dadanya. “Nggak semuda itu, Pa. Veli kecewa sama Papa sejak Papa pergi tanpa sepengetahuan dan tidak ada di saat Mama butuh Papa! Papa pergi gitu aja saat Mama pergi, berbulan\-bulan lenyap dari kehidupan Veli, Papa tidak tahu seberapa hancurnya Veli saat itu. Tidak ada senyum, tidak ada tawa, yang terasa hanya pengap dan gelap!”
“Dengarkan Papa dulu, Sayang. Papa bisa jelaskan—”
“Apapun yang keluar dari mulut Papa, itu nggak akan pernah ada artinya sama sekali! Veli terlanjur kecewa, benci, dan marah!”
Kombinasi rasa benci dalam hati Velicia memberanikan dirinya menatap tajam pada sorot penuh penyesalan milik Hans. Pria itu mematung melihat pancaran luka di mata putrinya. Hal itu tentu dimanfaatkan Velicia untuk terlepas dari kurungan papanya.
“Bayangkan jika Mama ada di sini dan tahu semuanya,” kata Velicia sebelum pergi meninggalkan papanya yang menjelma menjadi patung.
Ini hal menyakitkan setelah kepergian mamanya bagi Velicia.
Setelah kejadian itu, Hans pergi dari kantor, Velicia mengunci diri di ruangannya. Dia segera mendial nomor sekretarisnya, tapi lama sekali mengangkatnya.
“Maaf telat mengangkatnya, tadi saya sedang periksa kandungan.”
“Belikan saya laptop dan malam ini harus ada. Veli ada di kantor.”
“Laptop kamu yang biasa ke mana?”
Velicia segera memutuskan sambungannya. Pertanyaan yang tidak penting untuk apa dijawab.
Sedangkan di tempat lain, sekretaris Velicia yang bernama Mia itu berada di depan ruang dokter kandungan bersama sang suami. Usai bos kecilnya memutuskan panggilan, itu tandanya dia harus nurut.
“Mas, kita toko komputer dulu, ya,” pintanya.
“Untuk apa?”
“Beli laptop untuk Velicia.”
Pria tinggi dan putih khas keturunan eropa menautkan kedua alisnya. “Bos kamu itu? Ini sudah hampir magrib, kita langsung pulang ke rumah.”
“Mas, tolong. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan anak itu.”
“Sayang, ini di luar jam kerja. Tidak seharusnya anak itu menyuruh kamu. Kalau kamu tetap ngotot mau menuruti perintah bos kamu itu, sebaiknya resign lebih baik. Aku tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa\-napa.”
“Mas, tapi Velicia butuh aku.”
“Pilih bos atau suami?”
Mia langsung bungkam. Ini belum saatnya untuk resign. Lagipula kandungannya baru berusia dua bulan. “Aku pilih kamu. Tapi, kasihan dia, Mas. Pasti ada sesuatu yang terjadi.”
Bule itu langsung merengkuh istrinya, mengecup puncak kepalanya. “Jangan banyak pikiran, aku tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa\-napa.”
Dan hari itu adalah satu hari di mana Mia tidak menuruti perintah bos kecilnya. Berharap besok tidak terjadi apa\-apa di kantor.