For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Bahagia Tanpa Alasan



Ada sesuatu yang hilang saat gadis itu tidak masuk sekolah. David sudah biasa duduk di bangku taman sekolah sambil edit video bersama Velicia, untuk hari ini dia sendiri. Mengedit ditemani sekotak teh sedikit memperbaiki mood. Jika saja dia mengikuti apa kata napsunya, David ingin ke kantin untuk memperbincangkan banyak hal bersama temannya. Hanya saja, dia tertahan sesuatu.


Kenapa jika berada di dekat Velicia rasanya selalu semangat melakukan sesuatu, dan ketika tidak ada menjadi malas tingkat dewa. Editannya seperti tidak bernyawa, saat mengetik pun sering typo. Sesuatu yang dipaksakan memang sering mengecewakan.


Beruntunglah Velicia memanggil. Pemuda itu menempelkan headseat bluetooth ke telinga. “Coba deh buka instagram, terus cari #isyaratdankenangan. Kamu akan nyesel tidak ikut Veli.”


David mendengkus. Dia meminimize halaman tempat memngedit video dan segera membuka instagram untuk memenuhi perintah princess bocahnya di laptop. “Ada apaan?”


“Seeruuuu banget! Veli lagi ada di bandara, mau ke Jawa Timur. David, doain Veli, ya.”


Novel keempat gadis itu berjudul Isyarat dan Kenangan. Saat David mencari hastag yang diperintah Velicia, banyak postingan orang-orang berfoto dengan novel berjudul itu. Semakin besar saja nama Velicia di tanah air. Di sana juga banyak orang yang mengunggah potret bersama Velicia, captionnya bermacam-macam, tapi intinya sama. Bahwa mereka senang bisa bertemu dengan penulis terkenal itu.


Jika Velicia sefamous itu, apa kabar dirinya? Rasanya memang tidak sebanding jika mereka mempunyai kedekatan.


“David,” panggil Velicia karena tak kunjung mendapat jawaban.


“Ya, Princess?”


"Udah lihat?"


"Hmm...," jawab David seperti malas sambil melihat-lihat postingan di layar laptopnya.


“Nyesel nggak?”


“Nggak lah. Lagian aku harus prioritaskan sekolah.”


“Oooh begitu. Ya udah, Veli tutup dulu sambungannya. Kalau mau ikut berpetualang sama Veli, awasi aja kegiatan Veli di sosmed.”


Semakin mereka dekat, semakin David tahu bahwa Velicia tidak sedingin yang dipikirkan. Mungkin dia memperlihatkan wajah datarnya kepada orang lain, irit bicara jika tidak penting, tapi dihadapannya berbanding terbalik. Velicia yang cerewet, sering senyum, dan juara menggombal. Dia hanya memanggilnya princess bocah karena gadis itu layaknya putri kerajaan. Semua orang tunduk padanya, dilimpahi kasih sayang dan materi. Kemudian, dengan asal-asalan, Velicia memanggilnya pangeran ganteng tanpa sebab. Ketika ditanya apakah dia ganteng, jawabannya tidak. Bocah itu benar-benar aneh, tapi David menyayanginya.


Bukan David percaya diri sekali, tapi memang itu faktanya. David merasa dispesialkan oleh gadis itu.


“Bawel,” katanya seraya menutup sambungan. David segera melepaskan headseatnya lalu kembali fokus pada pekerjannya. Suara Velicia meski cerewet tapi mampu membangkitkan semangat.


Di saat semangat-semangatnya mengedit, seorang gadis duduk di sampingnya tanpa izin. Kehadirnnya memang tidak mengganggu, hanya saja ucapan gadis itu yang mengangggu.


“Mau sampai kapan kamu kayak gini?”


David enggan merespon.


“Dav, gue bicara sam lo, ya.”


“Apa?” tanyanya malas.


“Lo kenapa berubah? Gue butuh alasan.”


“Gue nggak mau dibuat terus-terusan pesimis sama lo, Jea. Gue berhak bermimpi. Melakukan hal yang gue suka dari dulu. Tanpa lo, gue merasa bebas.”


“Terus lo deketin Velicia buat apa? Lo mau manfatkan dia buat mewujudkan mimpi-mimpi konyol lo itu?” Jeani tampak meremehkan.


Pemuda itu berusaha tenang supaya tidak tersulut emosi. Bagaimanapun dia dan Jeani masih sahabatan, pertengkaran kecil tidak perlu diperpanjang. Mendiamkannya adalah hal terbaik. Dia menunjukkan sikap tidak peduli pada  ucapan Jeani. Tentang dia yang mendekati Velicia, tidak ada sedikit pun niat untuk memanfaatkannya.


“Lo salah besar, Jea,” ujar David seraya beranjak dari tempat itu. Dia bukan laki-laki temperamental yang mudah tersulut emosi, difitnah bagaimapun, dia tidak peduli.


David percaya apa yang dikatakan Velicia. Bahwa seseorang yang tidak menyukai kita akan semakin tidak menyukai jika kita lawan. Dan jika seseorang tidak menyukai kita lalu tidak kita pedulikan, mereka akan lelah dengan sendirinya.


Lihatlah siapa pemenang akhir.


Pemuda itu mengulum senyum karena pikirannya tertuju pada gadis yang sedang terbang menuju Jawa Timur.


🎗🎗🎗🎗


“Vel, aku beneran nggak ada niatan numpang terkenal sama kamu. Aku dekat sama kamu karena aku merasa nyaman ketika ngobrol, bercanda, dan diskusi. Aku jadi semangat menggapai mimpi-mimpi saat bersama kamu. Sumpah, aku nggak ada niatan untuk manfaatin kamu.”


Gadis itu terkekeh tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. Sesekali dia memiijat bahu sendiri. Mungkin terasa pegal. Setelah seharian berpetualang ke Pulang Jawa, malam harinya diajak David untuk menggarap projek photozine. Velicia tanpa kata lelah. Mungkin itu julukan tepat untuk seorang gadis ambisius sepertinya. “Emang siapa yang bilang kamu manfaatin aku?”


“Seorang manusia.” David tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya pada Velicia. Bahwa yang mengatakan itu sahabatnya sendiri. Dia masih punya hati untuk menutup mulut tentang sahabatnya yang selalu merendahkan, bagaimanapun Jeani adalah sahabat yang dari dulu sampai sekarang disayanginya.


“Didengerin boleh, tapi nggak perlu dimasukin hati. Mereka tahu apasih tentang hati seseorang? Menyelami hati diri sendiri aja kadang susah, apalagi hati orang lain.” Velicia memandang layar laptop yang dihiasi gambar dirinya dan David berpunggungan tapi pandangan mereka sama-sama mengarah ke langit. Velicia yang cantik dengan balutan midi drees merah muda dan David dengan kaos navy serta jeans hitam. Panorama yang sangat indah mendukung keduanya. “Gambar ini Veli kasih quote ‘tidak ada yang kutakutkan untuk terbang, selama ada kamu di sampingku. Eh, buciiiiin,” pekiknya seraya menepuk-nepuk kedua pipi.


David geleng-geleng kepala melihat tingkah yang menurutnya lucu. Suasana sedih yang tadi dibuatnya mendadak lenyap hanya dengan kalimat bucinnya Velicia.


“Memberanikan diri untuk terbang tanpa risiko takut jatuh adalah pemenang sejati. Waaaa kereeen!” Velicia kagum sendiri dengan apa yang diucapkannya. Dia segera mengambil note yang ada di samping laptop kemudian menuliskan apa yang baru saja diucapkan.


“Cerdas banget sih princess bocah ini,” puji David seraya tersenyum lebar.


“Emang kamu,” balas Velicia sadis.


David mendengkus pelan. “Bagian aku dong buat quotesnya.” Dia segera memangku laptop Velicia yang daritadi di hadapan gadis itu. Beberapa foto dia pilih untuk dicocokkan dengan quotes yang daritadi berputar di kelapanya. Sampai akhirnya dia menemukan satu foto, di mana dirinya dan Velicia sedang tertawa di atas batu. “Jangan tanyakan itu, karena bahagiaku di sampingmu tanpa alasan.”


Velicia melempar bantal sofanya ke kepala pemuda itu. “Belajar bucin darimana, sih?”


“Baper, nggak?” tanyanya seraya mengangkat-angkat kedua alisnya.


“Enggak.”


“Yah..., kirain aku bakal baper.”


Kini bagian Velicia yang geleng-geleng kepala karena tingkahnya David. Malam itu mereka habiskan tertawa bersama dengan kata-kata receh yang diciptakan. Setidaknya Velici bahagia atas kehadiran David. Penatnya berkurang atas kegiatan seharian tadi.


“Vel, udah pukul delapan, aku pulang dulu.”


Velicia mengehentikan kegiatan menulis di note, senyumnya dilempar untuk David. “Biar Pak Dirga yang antar pulang. Veli khawatir kalau kamu sepedahan malam-malam.”


“Nggak pa-pa, Vel. A—”


“Nggak ada penolakan.” Dia langsung menghubungi sopir pribadinya untuk mengantar David pulang.


David hanya bisa menghelas napas pasrah. “Terus sepeda aku?”


“Pulang sekolah bareng sama Veli ke sini. Terus kamu pulang dengan sepeda.”