
“Gimana, ya? Kita nggak bisa tuntasin film pendek ini tanpa Velicia. Dia pemeran utamanya, dia yang nulis ceritanya, dan dia yang selalu punya ide buat semuanya jadi hidup.” Pemuda itu tampak kebingungan di depan laptopnya. “Kalau nggak dilanjutin, di sini udah ada yang komen katanya film pendek ini bagus, ada beberapa orang yang nagih part selanjutnya lagi.”
Gadis yang daritadi menyimak ocehan sahabatnya mendengkus seraya memainkan sumpit di atas mie ayamnya. “Ya… bingung sih gue. Coba aja lo ajak Veli buat lanjutin film itu. Sayanglah, Dav. Udah ada yang nonton, tuh. Meski yang nontonnya masih dikit.”
“Kayaknya Velicia lagi sibuk pake banget, deh. Dia seperti nggak punya waktu buat ngurusin hal kecil. Gue chat, nggak dibalas. Gue telepon, nggak aktif. Setiap kali gue lihat dia, Veli kayak tertekan gitu sama hidupnya. Mukanya lusuh banget setiap hari, tapi masih cantik.” David mengulum senyum saat membayangkan wajah Velicia siang tadi, terlihat lusuh tapi cantik.
“Mungkin dia lagi ada masalah kali. Dia kan berubah tiba\-tiba. Dan gue yakin, ada alasan di balik itu semua.” Gadis itu menyuapkan mie ayamnya sebelum bicara lagi. “Eh, by the way, lo punya niat buat lanjutin projek ini karena apa, nih? Bukannya kemarin lo bodo amat sama semuanya?”
David melihat\-lihat foto dan video yang ada di kameranya. Melihat wajah gadis itu membuatnya teringat pada perjanjian beberapa hari yang lalu. Velicia dengan dunianya, dia juga dengan dunianya. Suatu hari bukannya Velicia berjanji akan menyatukan kedua dunia itu? “For the world we’re gonna make,” jawab pemuda itu tanpa mengalihkan pandangan dari kamera.
“Dunia apaan?”
“Cuma gue dan Veli yang tahu maksudnya.” David tersenyum tipis saat memandang fotonya dan Velicia yang ada di bukit.
“Belagu.”
“Gue punya ide, Jea!” serunya seraya membenarkan posisi duduknya dari posisi tengkurap di atas karpet ruang keluarga. Jeani memandang sahabatnya dengan kening mengkerut, seolah meminta penjelasan. “Kayaknya Veli bener\-bener mau gue mandiri, nggak bergantung sama dia terus. Dia akan menjauh sementara. Dia mau fokus sama dunianya dan membiarkan gue fokus juga sama dunia gue,” katanya bertele\-tele.
“Intinya,” pinta gadis itu seraya memutarkan bola matanya jengah.
“Lo punya temen yang suka nulis fiksi, nggak?”
Jeani menggeleng. Menurutnya itu pertanyaan bodoh. Jelas\-jelas temannya selama ini hanya David, kenapa harus ditanya lagi?
“Lo punya kenalan sama anak sastra atau siapa gitu. Ayolah, Jea, bantuin gue, dong.”
“Buat apasih?”
“Gue butuh seorang penulis buat ngelanjutin film pendek itu. Selama ini kan Veli yang buat ceritanya, sekarang dia nggak ada, terus sekarang siapa lagi yang bakal buat skenarionya?”
Keduanya sama\-sama memutar otak untuk memecahkan satu masalah. David berusaha optimis meski Velicia tidak ada di sampingnya. Mungkin ini saatnya dia menyimbangi gadis itu. David harus berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu berjuang. Jeani membantu mencari seseorang yang bisa diandalkannya lewat sosial media. Mungkin ini saatnya dia membantu David, berharap dapat menebus kesalahannya yang dulu dilakukan. Dia sering merendahkan sahabatnya, memaki dengan kata\-kata kasar, dan tidak pernah percaya dengan mimpi\-mimpi seorang David.
Mereka perlu waktu untuk berdiri tanpa Velicia. David berusaha keras untuk menemukan orang yang bisa membantunya. Sudah dua hari mencari, hasilnya masih nol.
Jeani menarik tangan sahabatnya ketika ekor mata menangkap sesuatu di mading. Pemuda itu sedikit terhuyung ke belakang akibat tarikan kasar Jeani.
“Apasih?!”
Gadis itu mendekat ke mading untuk menunjuk sebuah kertas yang tertempel. Jeani tersenyum penuh arti dan disambut senyum lebar oleh David. Pemuda itu mengerti dengan apa yang ada dipikiran sahabatnya. Mereka bergegas menuju ruang jurnalis yang ada di lantai satu.
David dan Jeani menghadap seorang gadis berambut hitam legam lurus yang menjabat sebagai ketua ekstrakulikuler jurnalis.
“Siapa yang nulis cerpen di madding?” tanya David langsung pada sang ketua yang merupakan kakak kelasnya.
“Ada dua orang yang selalu mengirim tulisan cerpen atau puisi ke kami. Dari kelas 11\-IPS\-2, namanya Nindi Arwita dan dari kelas 10\-Bahasa\-1, namanya Bara Gibrano. Dulu sih dari anak sastra banyak yang kirim karya ke kami, tapi untuk sekarang jurusan mereka punya media snediri untuk menerbitkan karyanya sehingga mereka punya penghasilan. Namun, yang bertahan hanya Bara saja.”
David melengkungkan garis bibirnya seraya meninju lengan atas sahabatnya. “Yes! Gue nemu orangnya, Jea!” Pemuda itu tersenyum ramah sebagai tanda terima kasih atas infonya kepada gadis di hadapannya. “Makasih, kami pamit dulu.”
Jeani ditarik paksa oleh sahabatnya keluar dari ruang yang dindingnya didesain seperti koran. Terlihat sekali seni ruangan jurnalis itu.
“Pulang sekolah nanti kita samperin tuh si Bara,” ajaknya bersemangat. “Eh, Jea. Kayaknya kita butuh anak teater, deh. Masa iya main filmnya cuma kita berdua. Kan nggak lucu.”
Ini adalah awal David berjuang untuk membuktikan kepada Velicia bahwa dirinya mampu. David tidak sabar menggarap projek itu lagi. Meski tanpa Velicia, dia harus tetap semangat.
Sekarang Jeani akan berubah. Menjadi lebih baik dan berharap bisa banyak membantu sahabatnya.
Sesuai yang siang tadi diucapkan David, mereka langsung ke gedung yang berada di sebelah timur GUP \(Gedung Utama Pancasila\). David dan Jeani terfokus pada balok\-balok dari kayu yang dilapisi kaca bertulisan nama kelas ditempelkan di depan pintu. Tepat di lantai dua, kelas yang mereka cari ditemukan. Namun, di bawah balok ada tulisan berjalan atau maquee horizontal berwarna merah. Dari sana mereka tahu bahwa di dalam masih melangsungkan kegiatan belajar mengajar sesuai maquee horizontal itu ada kalimat ‘Ada guru’.
Jeani duduk di kursi depan kelas dan David memilih berdiri dengan menyandarkan punggungnya di pintu kelas.
Hanya beberapa menit menunggu kelas itu bubar. Ketika mereka keluar, David berusaha menyamakan wajah Bara yang ada di ponselnya dengan pemuda yang keluar dari kelas.
Setelah menemukan pemuda yang bernama Bara. Mereka membincangkan suatu hal di lorong yang agak sepi sambil berjalan. David menjelaskan secara jelas hingga Bara mengerti meski sekali dijelaskan. Keduanya berjabat tangan sebagai tanda setuju dengan kerjasama. Jeani dan David harus mengurus satu hal lagi, dengan anak teater.
David mengamati gadis berponi yang sedang berjalan membungkuk dibantu dengan tongkat. Seperti sedang berlatih memerankan seorang nenek.
“Gue suka sama cewek itu,” ujar David mengulum senyumnya dengan arah mata menuju pada gadis berponi tersebut.
Jeni memukul bahu sahabatnya dengan keras untuk menyadarkan. “Udah punya pacar juga.”
“Maksud gue, suka dalam artian gue suka kalau dia peranin sosok pengganti Veli,” jelasnya lalu melangkah memasuki ruang teater.
Beberapa orang di dalam sana menatap sang wakil ketua OSIS dengan heran. David hanya mampu melempar senyum untuk menyembunyikan canggung saat ditatap seperti itu. Arah langkahnya lurus ke gadis yang tadi ditatapnya.
“Ne…nek tid…dak ap..pa\-ap…pa, Cu,” ujar gadis sambil mengekspresikan sedih.
David memandangnya dengan jarak dua meter dari gadis itu. Namun, dia seakan tidak menyadari sedang diamati seseorang. “Nama kamu siapa?” tanya David seraya melangkah mendekati gadis itu.
Keduanya berpandangan sejenak sebelum gadis itu tersenyum canggung. Ditanya nama oleh seorang senior ganteng plus wakil ketua OSIS siapa sih yang tidak kaget? “Fanya, Kak.”
“Boleh bicara sebentar? Di luar.”
Didatangi seorang David saja sudah membuatnya terpaku, apalagi diajak bicara. Gadis itu menepuk kedua pipinya untuk memastikan apakah mimpi atau bukan. Rasanya sulit dipercaya. Fanya tersenyum lebar lalu berlari mengikut kakak kelasnya keluar.
David membawa arah langkah Jeani dan Fanya menuju taman samping sekolah. Dua gadis itu dipersilakan duduk, tapi David memilih untuk berdiri. Dia menceritakan soal projek film pendek itu kepada Fanya dan mengajaknya untuk bergabung. David merasa karakter Fanya sangat pas.
“Failed nggak tuh kak kalau aku yang meranin?” tanya Fanya menatap David.
“Gue lihat karakter lo cocok. Konsepnya juga nggak drama banget, natural aja. Kebetulan Velicia kan pakai poni, jadi gue mau peran penggantinya sama pakai poni.”
Perbincangan setengah jam lebih diakhiri oleh Fanya karena ada seseorang yang memanggil. Fanya harus latihan untuk penampilan akhir semester yang dilaksanakan setelah ujian akhir semester. David berterima kasih kepada gadis itu karena mau bekerja sama.
Jeani tidak henti\-henti memandang David sepanjang koridor sampai ke parkiran. Bukannya pemuda itu tidak menyadari, hanya saja pura\-pura tidak sadar. Saking tenggelam memandangi wajah sahabatnya, Jeani sampai menabrak sepedanya sendiri membuat David tertawa puas. Pemuda itu membungkuk sambil memukul lututnya karena tertawa melebihi batas. Melihat sahabatnya menderita seperti itu ada kesenangan tersendiri. Pantas saja Jeani sering menjahili hingga membuatnya menderita, ternyata ini alasannya. Seru saja melihat orang menderita.
“Udah puas mandangin wajah ganteng gue, Tuan Putri?” tanya David setelah berusaha meredakan tawanya. Tangan besar itu diulurkan ke hadapan Jeani yang duduk nyaman di paving block.
Gadis itu mendengkus kesal sambil menerima uluran itu. "Lo itu ganteng, sayangnya playboy."
"Hei, sembarangan!" kata David tidak terima.
"Lihat aja nanti, bisa saja kan suatu hari nanti lo jatuh cinta sama cewek tadi."
"Ngomong apa sih?!"