
Kendaraan roda dua di depannya mengingatkan pada kenangan itu. Potongan kenangan yang tidak akan usang oleh waktu. Sejak sopir pribadinya membelikan sepeda atas perintahnya, tidak sedetik pun kenangan itu hilang dari tempurung kepalanya. Sorot sendu tidak bisa disembunyikan lagi, mereka pasti tahu gadisnya sedih, hanya saja pura-pura tidak peduli.
Dia mengangguk untuk meyakinkan tiga orang yang mengkhawatirkannya. Foto seorang cucu kecil bermain sepeda dengan seorang pria paruh baya itu dari tangannya segera dimasukkan ke saku rok sekolah.“Veli nggak pa\-pa, kok.” Gadis itu memaksakan tersenyum.
Dua remaja yang menunggunya sudah bersiap di atas sepeda masing\-masing. Velicia segera menghampiri sepeda barunya untuk bergabung bersama David dan Jeani. Hans menuntun putrinya sampai sepeda, sifat terlalu protektifnya semakin melekat. Ketika Velicia naik pun, pria itu dengan kasih sayangnya memegangi stang sepeda untuk membantu putrinya naik.
“Dirga harus mengikuti kalian. Oke, Princess?”
“Pa….”
“Tidak ada penolakan, Sayang.” Hans mengecup kening putrinya singkat.
Gadis itu tersenyum paksa. Untuk apa dirinya naik sepada jika diikuti sopir pribadinya. Namun, dia tidak kuasa membantah untuk kedua kalinya. Baru bersiap akan menggayuh, keseimbangannya hilang begitu saja. Beruntunglah Hans cepat ambil aksi untuk memegang putrinya.
“Hati\-hati, Sayang,” ingat sang papa dengan suara lembut.
“Dulu Veli bisa main sepeda,” katanya.
“Sudah sepuluh tahun berlalu, Nak.”
Mata berkacanya tidak bisa disembunyikan lagi. Hans segera membawa Velicia turun dari sepeda. Dipeluknya sang putri kebanggaannya dengan erat. Felyana dan Rianti sudah jelas tahu alasan kesedihan gadisnya, beda lagi dengan David dan Jeani yang terheran atas adegan mellow di pagi hari. Seorang anak dan papanya berpeluk menjadi tontonan gratis bagi pasang mata yang melihatnya.
“Diantar dulu sama Dirga, ya.”
Velicia mengggeleng dalam pelukan pahlawannya. Begitu dia melepaskan pelukan itu, tatapannya langsung menuju ke arah David. “Veli sama David aja ya, Pa?” tanyanya.
“Di mana?”
“Di belakangnya. Boleh, ya? Veli mauuu,” rengeknya manja.
“Kalau jatuh?”
Gadis itu terdiam sesaat. “Enggak bakal.”
“Papa salahkan David, ya?”
Kedua matanya membulat. “Kok David? Janganlah….”
Hans tampak berpikir untuk mengeluarkan keputusan. Dia tidak akan membiarkan putrinya dalam bahaya, di satu sisi tidak bisa menolak keinginan Velicia. “Kalian boleh bareng, asal Dirga mengikutinya. Bagaimana?” Pria itu mencuil hidung menimalis putrinya.
“Pa, nanti Veli kesiangan kalau kita terus\-terusan bicara.”
“Setuju dulu dengan usulan Papa.”
Sesekali Jeani melirik sepasang remaja di atas sepeda berdua. Posisinya Velicia berdiri di belakang sahabatnya dengan tangan ditumpukan ke bahu David. Pemuda itu tampak bahagia saat berbincang dengan gadis di belakangnya. Terlebih David dan Velicia menggunakan hoodie couple. Hoodie berwarna army yang di depannya ada huruf DV. Gadis itu mempercepat laju sepedanya ketika sudah tidak tahan dengan gejolak rasa tidak suka melihat mereka. Berangkat bersama David pun sia\-sia, dirinya ada, tapi tidak dianggap. Daritadi sahabatnya sibuk membincangkan banyak dengan Velicia, sampai dirinya dibiarkan sendiri.
“Setelah baca Isyarat dan Kenangan, kenapa aku ingin jadi penulis?”
“Ya udah, nanti Veli ajarin. Dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Belajarnya yang serius. Karena segala sesuatu itu bukan permainan.”
David tidak perlu berpikir untuk menyetujuinya. Dengan anggukan kecilnya adalah jawaban serius. “Vel, nanti kita lanjut projek photozine itu?”
“Nanti pas jam istirahat di sekolah aja.”
“Pulang sekolah di rumah kamu lagi, ya? Biar cepat selesai.”
“Nggak bisa, David. Maaf. Veli ada meet and greet sore nanti.”
Begitu mereka masuk parkiran, seluruh mata menatapnya penasaran. Sepasang remaja itu berangkat sekolah bersama menggunakan sepada, memakai hoodie couple, terlihat serasi pula. Velicia menekan tumpuannya ke bahu pemuda itu saat hendak turun. “Veli berat, nggak?”
David menggeleng sambil menstandarkan sepedanya. “Badan kering begini mustahil berat.”
“Ish, hinaannya itu….” Velicia memajukan bibirnya tidak suka.
David tersenyum seraya mengacak puncak kepala gadis di depannya. Puluhan pasang yang menatap mereka pun terbakar gejolak iri. Mereka memang best couple, tapi di antara mereka tidak ada apa\-apa. Satu visi yang menyatukan mereka, berjuta mimpi yang katanya akan terjadi, entah apa yang akan terjadi pada mereka ke depannya. Untuk saat ini, mereka fokuskan diri untuk bermimpi.
Baru saja Velicia hendak melangkah, David mencekal lembut pergelangan tangan gadis yang terbalut hoodie. “Buka dulu hoodienya.”
Hampir saja Velicia lupa jika tidak diingatkan. Peraturan sekolah tidak memperbolehkan muridnya memakai jaket tanpa ada ketarangan sakit atau alasan lainnya. Mereka segera melepas hoodie masing\-masing sebelum memasuki gedung sekolah.
“Nanti mau ke kelas Veli, nggak?”
David mengangguk seraya memasukkan hoodienya ke tas. “Ada apa?”
“Nitip cemilan, ya,” pintanya ditambah cengiran.
“Gimana kalau nanti kita ke kantin bareng aja?” tawar pemuda itu.
“Enggak, ah. Aku mau nitip sama kamu.”
“Manjanya….”