
Awal semester dua dimulai. Sekolah internasional itu langsung kondusif belajar meski ini hari pertama sekolah. Aura semangat menghias wajah-wajah yang memasuki kawasan SMA Pancasila, dua minggu tanpa sekolah adalah hal paling membosankan bagi mereka.
Begitupun dengan David, tahun itu banyak kegiatan seru yang akan dia lakukan. Terlebih, ayahnya sudah membebaskan David dengan mimpinya, jangan lupakan bahwa itu jasa Velicia. Ah, sungguh tidak sabar untuk bertemu gadis pujaan hatinya. Berhubung pagi tadi langsung ke kantin karena sahabatnya belum makan dari rumah, David berencana istirahat pertama mengunjungi 10-IPA-1.
Kala di rumah sakit menemui ayahnya, itu adalah hari di mana Velicia dan David bertemu. David sudah berusaha keras untuk bertemu gadis itu, sayangnya Velicia tidak dapat ditemui di rumahnya. Hampir setiap hari berkunjung ke istana Putri Velicia, tapi hanya omanya saja yang bisa David temui. Velicia sedang kerja, ada di kantornya, survey lapangan, meeting, dan berbagai alasan lainnya yang membuat David jengkel jika ke rumah gadis itu.
Velicia kerja kantoran? Udah kaya juga.
Lagipula, kerja apa yang sampai larut malam. David pernah menunggu kepulangan Velicia, demi berbincang ringan untuk melepas rindu, tapi gadis itu pulang di pukul sembilan. Keadaan Velicia sedikit mengkhawatirkan, pulang dengan wajah pucat dan rambut acak-acakan. Malam itu, David bertemu dengan Velicia, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Velicia.
“Sorry, I have to go. For the next four lessons, I’m absent.” Velicia berlalu dari meja sekretaris kelas, terburu-buru keluar sambil memasukkan beberapa buku.
“Vel, ke mana?” tanya David ketika
Velicia keluar dari kelas.
Gadis itu menggeleng pelan seraya menggendong tasnya. Langkah Velicia terbilang cepat menelusuri koridor, seperti sedang buru-buru. David segera mengikuti, mereka berjalan bersampingan ketika menuruni tangga.
Notifikasi panggilan ponselnya Velicia tidak membuat mereka menghentikan langkah, gadis itu menerima panggilan tersebut sambil berjalan. “Ya, Veli akan langsung ke sana. Pak Andri tolong bawa miniatur rumahnya, ya.”
Setelah itu, Velicia semakin cepat melangkah. Sebenarnya David sudah ingin menghentikan langkah cepat itu, hanya saja takut jika Velicia marah. David hanya mengikutinya sampai lantai dua, kemudian melangkah menuju ujung koridor yang langsung menghadap ke parkiran. Benar saja, Velicia mau keluar dari sekolah di jam pembelajaran. Namun, untuk apa?
Velicia terlalu sulit untuk ditebak, David kesusahan untuk mencari tahu.
“Aku hanya bisa berharap, semoga kamu cepat kembali seperti dulu,” gumamnya seraya melangkahkan kaki ke arah tangga yang akan mengantarkannya ke lantai tiga.
Notifikasi pesan menyapa ponsel David. Suara anak kecil yang berkata ‘aa David aya SMS’ terdengar dua kali. Jeani memberitahukan posisinya yang sedang di cafetaria. Niat awal David yang tadinya mau ke kelas menjadi berbelok.
“Jahat lo. Kok gue enggak dipesenin?” tanya David seraya menarik kursi.
“Takut salah, Dav. Pesen sendiri aja, punya kaki ini.”
Pemuda itu mendengkus dan langsung beranjak ke stand mie rebus. Velicia yang kembali asing membuat David terasa lesu, ekspresi wajah pun seperti minta dikasihani. Langkah kakinya dari stand menuju Jeani terlihat lunglai, hal itu sontak menarik rasa penasaran.
“Veli lagi ya, Dav?” tebak Jeani hati-hati, takut sahabatnya semakin badmood. “Kenapa lagi? Bukannya tadi mau ke kelas cewek lo? Kok enggak bawa Veli ke sini?”
“Lo tuh kalau nanya satu-satu, kek! Dasar cewek, mulut kereta api.”
Cibiran David justru membuat Jeani mengeluarkan tawanya lalu memamerkan cengira tak berdosa.
“Veli lagi, Dav?” tanya ulang Jeani.
“Ya siapa lagi. Cuma dia yang buat gue kayak gini.”
“Hadeeeh… bucin mulu, Bang.”
“Daripada lo, jomblo mulu.”
“Lo ngatain pacar gue?” David menyelidik sahabatnya dengan tatapan tajam. Jeani mencibir Velicia di depan pacarnya, siapa yang tidak marah? “Sikap dia itu menyesuaikan dengan sekitar. Kalau enggak tahu apa-apa mending diem.”
“Menyesuaikan?” Jeani tidak mengerti dengan maksud kata itu. Yang dia tahu, Velicia itu angkuh dilihat dari ekspresi dan singkat dalam bicara. Mungkin karena sudah terkenal, anak multitalent, dan orang berada, maklum jika ingin sombong.
“Jea, jangan gituin pacar gue. Gue mau marah sama lo, tapi nggak bisa.” Bagi David, Jeani bukan hanya sekadar sahabat, melainkan bisa jadi adik yang pengertian, seorang ibu yang memperhatikan anaknya, atau seorang anak kecil yang manjanya minta ampun. Untuk marah pun, David berpikir dua kali.
Gadis itu mengembuskan napasnya kemudian menyeruput jus alpukat. “Iya, Dav. Maaf. Habisnya, cewek lo gitu. Dulu gue pernah cerita panjang kali lebar kali tinggi, eh responnya cuma thank you. Coba kalau waktu itu lo yang direspon gitu sama Velicia, lo juga akan ngerasa sakit hati.”
“Gue udah sering, Je.”
Seorang pria setengah baya meletakkan mie pesanan David beserta es teh manisnya. David merogoh saku jasnya untuk mengambil uang kemudian diberikan pada pria itu. “Velicia emang enggak suka basa-basi. Tolong ngertiin dia, ya. Lo kan sahabat terbaik gue.”
Jika seperti ini caranya, Jeani menjadi teringat dengan film My Heart. Anggap saja David itu Farel, Velicia-Rachel, dan Jeani-Luna. Apa suatu saat nanti, Velicia akan meninggalkan dan endingnya David bisa bersama Jeani?
Gadis itu menepuk keningnya merutuki kehaluan. Hatinya berkata, gue nggak sakit kayak Luna, mana mungkin itu terjadi. Kenapa halu lo makin tinggi, hah?
“Kenapa lo?” David ngeri sendiri melihat Jeani yang menepuk kening, geleng-geleng dan terkekeh dengan mata seperti tengah membayangkan sesuatu. “Woi! Jea, lo dengar gue, kan? Jin apa yang masuk ke tubuh lo?”
Jeani menepis tangan sahabatnya yang melambai di depan wajah. “Nggak asyik, sumpah. Gambaran masa depan gue ambyar, deh.”
“Lo mikirin cowok?! Eh, lo udah mau punya pacar? Siapa-siapa? Ayo curhat, gue bakal jadi pendengar setia lo.”
“Yeuu… dasar. Siapa juga yang mikirin cowok!” sanggahnya. “Lagian, otak lo tuh bucin mulu. Gara-gara gaul sama Veli nih, jadi gini.”
“Jea…,” geram pemuda itu lalu memasukkan mie sebanyak mungkin ke mulutnya sebagai pelampiasan. Dia kesal dengan Jeani, tapi tidak berani memarahinya. “Kenapa harus Velicia lagi, sih? Dia enggak salah apa-apa.”
“Siapa yang nyalahin dia? Yaelah, Dav, gue cuma bercanda.”
“Jangan apa-apain Velicia, ya,” pinta pemuda itu dengan penuh permohonan.
“Apa-apain gimana?”
“Kayak di film-film, gitu. Cewek yang suka labrak pacar orang. Please, ya, jangan lakukan itu sama Veli. Kalau lo cemburu, marah sama gue aja, jangan sama Veli.”
Reaksi Jeani langsung menyemburkan tawanya. Ekspresi permohonan David benar-benar lucu, ditambah lagi permintaannya. Memangnya Jeani perempuan apa sampai melakukan hal tidak berguna seperti yang David takutkan. Kepalanya digelengkan beberapa kali. “Dav, Dav, gue emang cemburu kalau lo lagi sama dia atau lo bahas dia. Tapi, gue nggak pernah ada niat sedikit pun buat nyakiti dia. Apalagi labrak-labrak gitu. Gue cewek waras kali, ngapain bully orang lain. Tentang lo dan Velicia, itu urusan hati lo. Bagi gue, cinta itu sederhana. Gue suka sama lo, perihal lo mau suka sama gue atau enggak, itu hak lo, dan gue enggak akan maksa. Perihal lo suka sama Veli, itu hak hati lo, dan gue enggak mempersalahkan itu.”
David juga tahu bahwa Jeani bukan orang jahat yang akan menghalalkan segala cara. Termasuk untuk mendapatkannya. Sebenarnya hati David juga terasa teriris saat mendengar pengakuan sahabatnya, tapi pemuda itu benar-benar tidak bisa membalas perasaan sahabatnya.
“Thank's, ya. Lo emang sahabat yang paling ngerti gue. Nanti pulang sekolah gue bawa keliling Jakarta Pusat, ya.”
Mulut Jeani yang penuh dengan brownies membuat pipinya mengembung seperti ikat buntal. Kepalanya dianggukan membuat kesan lucu, persis seperti anak kecil.
“Juanji?”Gadis itu mengacungkan jari telunjuknya dan langsung disambut jari telunjuk David. Dua jari remaja itu dikaitkan sebagai ikatan janji mereka.