
Tidak ada perubahan meski status telah berganti. Mereka sibuk menggeluti kegiatan tanpa melibatkan rasa di dalamnya, pernyataan rasa saja tidak pernah terucap. Tidak ada modus dan mencari kesempatan, mereka biasa dekat seperti hari-hari sebelum pacaran. Status hanyalah satatus, tidak merubah kedekatan mereka sedikit pun.
“Hati-hati jatuh,” ujar gadis itu panik melihat David sedang memaku bambu sebagai atap rumah pohon.
“Khawatir?”
“Iya.”
Satu minggu telah dihabiskan untuk membuat rumah pohon. Mereka membutuhkan tempat untuk bermimpi, berimajinasi, bercanda, dan berdiskusi. Rumah kecil mereka akan menjadi sumber imajinasi dan wadah mimpi-mimpi besar yang akan terjadi. Ini bukan sekadar bayangan, tapi benar-benar akan terjadi.
Gadis itu tidak melepaskan pandangan dari David yang sedang di atas, sesekali matanya memicing takut pemuda itu terjatuh. Hari ini adalah terakhir pembuatan rumah pohon, selama ini Velicia hanya diam, tanpa membantu sedikit pun, karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Memang ada rasa bersalah menggelayut dalam hatinya, tapi David sendiri yang melarang untuk jangan membantu apa-apa.
Katanya, “Tugas Princess hanya menemani aku. Jangan bantuin apa-apa.”
David adalah orang yang menurut Velicia unik. Pemuda langka yang spontanitas tanpa banyak janji dan teori. Meski kaku dalam mengungkapkan perasaan, tapi tindakan sudah mewakili semua itu. Baginya, suara bisa saja menipu.
Pemuda itu melayangkan palu ke tanah setelah menyelesaikan kerjaannya. Dia tidak segera turun, tapi malah duduk bertekuk lutut di atas sana. Pandangannya lurus menatap danau disertai lengkungan senyum. “Ke atas aja, Vel. Dan tolong bawa kamera aku ke sini.”
Tangga menuju rumah pohon tidak seperti pada umumnya. David tahu bahwa Velicia akan kesulitan naik jika tangganya yang ditempelkan ke pohon. Dua hari lamanya pemuda itu membuat tangga melingkari pohon layaknya tangga di rumah disertai pembatasnya dari bambu. Itu semua dilakukan untuk princessnya.
Sembari naiki satu per satu anak tangga, Velicia memotret kakinya memakai kamera David. “David, besok ngevlog sama Veli, ya. Di sini,” ujarnya.
David tidak tahu Velicia ada di mana, tapi suaranya terdengar. “Iya," jawabnya. "Sekarang masih pukul lima. Mau di sini atau langsung pulang?”
“Setengah jam lagi pulang. Sekarang gimana kalau shooting?”
Itu penawaran yang menarik. David segera turun dari atap dan langsung disambut Velicia yang baru saja menginjak tangga terakhir. “Iya, mau!” serunya semangat. Napsu David pada projek film pendek itu sedang tinggi\-tingginya. Meski baru terunggah empat part, tapi responnya positif dan subscribe yang terus bertambah.
“Udah hafal belum naskahnya?”
David menggaruk belakang lehernya seraya menggelenng pelan. “Kamu bawa naskahnya, nggak?”
Velicia mengambil tiga lembar HVS untuk diberikan kepada pemuda di depannya. “Lima menit,” ujarnya datar untuk menekan David supaya hafal dalam waktu singkat itu.
Mereka duduk bersila berhadapan. David fokus ke naskah dan Velicia setia memandang wajah tampan pemuda di depannya. Dia sama sekali tidak terganggu dengan tatapan Velicia, meski rasanya ingin tersenyum dipandang seintens itu.
“Oke, aku hafalin naskahnya bentar.”
Belum sempat Velicia merespon ucapan pemuda itu, ponsel di tas gendong mininya mengalunkan nada dering panggilan. Dia menjawab panggilan itu tanpa beranjak. David tidak mencurigai apa\-apa karena Velicia hanya menjawab singkat, hanya satu kata atau dua kata dengan suara datar.
“Veli ke sana sekarang.” Kalimat penutup itu sukses membuat David menatap Velicia. “Veli harus pulang, maaf,” katanya seraya berdiri kemudian menuruni tangga dengan tergesa\-gesa.
“Vel, pulang sendirian?” teriak David saat Velicia berlari di bawah sana.
Gadis itu berbalik sejenak untuk melihat David yang beridiri di rumah pohon. “Pak Dirga ada di depan,” balasnya sebelum kembali berlari.
Orang sibuk seperti Velicia sudah biasa seperti itu. Pergi tiba\-tiba tanpa meninggalkan penjelasan. David akan selalu memaklumi gadis itu tanpa menaruh curiga sedikit pun. Dia kembali menghafal naskah untuk besok tanpa ada firasat buruk sedikit pun tentang Velicia.
🎗🎗🎗🎗
Sulit rasanya untuk percaya. Meski wajahnya tetap datar, tapi hatinya bergemuruh hebat mendengar pernyataan yang di katakan pria berkepala plontos di depannya. Untuk sesaat dia terdiam, berusaha mengusir pikiran buruk yang menyusup ke dalam tempurung kepalanya. “Apa masih bisa disembuhkan, Dok?” tanyanya datar.
“Kemungkinan besar tidak, operasi hanya untuk menghambat penyebaran sel kanker. Terlebih, kankernya sudah stadium akhir.”
Hal tersulit untuknya yang harus memutuskan tindakan apa. Di saat mamanya didiagnosis kanker getah bening, papanya hilang entah ke mana. Matanya dipejamkan sejenak, dan dia yakin atas pilihannya. “Lakukan operasi secepatnya.”
Pria berseragam hitam di sampingnya menoleh. Putri majikannya terlalu cepat memutuskan sesuatu tanpa ada rundingan dengan keluarga. “Bagaimana dengan papa Neng Ayu?”
Gadis itu menunduk dalam, air matanya sudah tidak bisa ditahan. Kepalanya mulai pening, tapi dia harus bisa bertahan. “Saya ingin secepatnya Mama dioperasi,” ucapnya final sebelum berlari keluar.
Kemarin semuanya baik\-baik saja, meski ada sedikit perubahan dari sikap papanya. Namun, semuanya baik\-baik saja, meski semalam Velicia tahu bahwa papanya pulang larut malam. Berulang kali dia menghubungi nomor Hans, tapi hanya suara operator yang menyatakan nomor tujuan menolak panggilannya. Sampai saat ini, Velicia masih berpikiran positif.
Semuanya terlalu berat bagi Velicia. Gadis itu tidak mempedulikan pandangan orang sepanjang koridor yang menatapnya iba. Langkahnya cepat tanpa peduli beberapa kali menabrak orang. Di saat panggilannya sudah ditolak hampir sepuluh kali, dia berada di puncak marah, benci, jengkel, dan sedih membuatnya hilang kendali hingga melemparkan ponsel sembarangan. Di belakangnya pria berseragam hitam berlari mengejar. Sopir pribadinya khawatir sekaligus terkejut atas marahnya Velicia sampai seperti itu. Gadis yang biasanya memasang wajah datar, kini hanya ada sorot amarah dalam matanya.