For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Mengarahkan Langkah



Bentangan rumput seperti tak terlihat ujungnya. Di bawah pohon itu ada meja bundar dan kursi didesain seperti kayu yang sudah ditebang. Sebuah ayunan yang talinya dibalut ilalang menambah kesan elegan. Di bawah cakrawala sore, sepasang remaja sedang terngkurap di atas rumput samping kursi.


“Visi yang kita buat akan melahirkan sejuta mimpi yang akan terjadi.”


Pemuda itu mengetikkan apa yang gadis di sampingnya katakan.


“Hurufnya jangan itu mulu, ah. Terus tulisannya simpan di atas aja. Ih, Veli cantik banget, deh. Di tambah langit birunya.” Gadis itu berkomentar tanpa direspon sedikit pun oleh David.


Pemuda itu mengikuti kemauan Velicia.


Gadis itu mencerutkan bibirnya atas diamnya David.


Di gambar itu mereka sedang di tepi danau. Berdiri bersampingan, David hendak menerbangkan kertas pesawat, Velicia menoleh ke arah pemuda di sampingnya. Potret yang luar biasa.


Daritadi David tidak mengeluarkan satu kata pun. Layaknya mayat hidup. Pemuda itu memyeramkan jika sedang sedih, hidup tanpa suara. Velicia mengerti perasaannya, tapi pemuda itu yang batu, tidak mau mendengarkan ucapan-ucapannya. Mendadak suasana menjadi hening. Gadis itu memilih untuk menutup laptop yang sedang pamuda itu pakai. Dirinya bangun seraya mengulurkan tangan kepada David.


Mereka meninggalkan buku, laptop, I-pad, dan ponsel masing-masing di tempat tersebut. Velicia mengajak pemuda itu berjalan menelusuri halaman luas tersebut. Ada gerakan di hatinya untuk memberikan semangat kepada teman barunya itu. Rasanya Velicia juga merasa terluka dengan konflik yang dihadapi David.


“Apa yang kamu sedihkan?” tanya Velicia sambil berjalan.


“Kamu percayakan omongan Jeani, kan? Tapi sumpah, aku nggak manfaatin kamu, Vel.”


“Mau memanfaatkan juga silakan. Asal jangan sampai Veli dirugikan.”


“Aku serius, Vel. Nggak ada niat sedikit pun untuk manfaatin kamu.”


Gadis itu terdiam beberapa saat. “Veli hanya bisa memgarahkan kamu menuju seatu gerbang untuk mewujudkan itu semua. Jangan dengarkan apa kata orang, kuatkan keyakinan hati untuk mencapai kesuksesan. Orang tua dan cita-cita itu sama-sama penting. Jangan pernah berpikir kamu harus memilih salah satunya, karena Veli yakin, kamu bisa menjalankan semuanya.” Velicia menoleh ke pemuda di sampingnya, mata David masih terlihat kosong saat menatap ke arah depan. “Mulailah dari sekarang. Mari satukan mimpi, untuk mengisi dunia yang akan kita buat.”


David tersenyum tipis. Kepalanya digerakkan empat puluh lima derajat ke samping kiri. Velicia membalas tatapannya dengan senyum lebar.


“Wake up, no more. Tears drop on the floor get rid of sorrow, well go. Run the world and gree tomorrow."


“Eh, itu lirik lagu Greet Tomorrow,” kata David seraya terkekeh.


“Iya. Veli tahu. Kan Veli yang beritahu tentang kamu lagu itu.”


Mereka tersenyum disaksikan senja yang mulai berkuasa di atas. Langkah menuntun mereka tanpa arah. Dirasa perasaan David mulai membaik, gadis itu mengajaknya keluar dari halaman luas tersebut.


“Biarkan seseorang mengambilnya untuk disimpan di tempat biasa Veli.”


Gadis itu mendorong pintu kaca besar. Mereka melewati koridor yang di dindingnya terdapat tanaman menggantung yang terawat. Sungguh, rumah ini benar-benar mewah sampai kepala David dipenuhi pertanyaan ‘seberapa besar rumah ini’?


Ini bukan rumah, tapi istana.


David mengekor saja tanpa ada niatan bersuara. Meski dia bertanya-tanya ke mana dirinya akan dibawa. Sesekali dia tersandung kaki sendiri karena tidak fokus berjalan, dinding dan lantai yang bisa menampakkan bayangan sudah mencuri fokus matanya.


Pemuda itu menganga tidak percaya saat dibawa masuk lift. Rasanya sulit dipercaya. Sampaj ada lift. Velicia dengan santainya keluar setelah sampai di lantai tiga. David kembali mengekor. Gadis itu mengeluarkan sebuah kartu untuk membuka pintu kamar. Apalagi ini, David bertanya-tanya. Ini rumah atau hotel?


“Tunggu di sini sebentar,” kata Velicia.


David tidak bisa melihat kamar itu karena hanya koridor yang dilihatnya saat Velicia membuka pintu. Dia membaca tulisan di depan pintu kamar gadis itu. Sampai ditulisan private segala.


Saat menunggu Velicia keluar, David mengamati sekitar. Dia masih tidak menyangka akan menginjakkan kakidi rumah sebesar ini. Belum terbayangkan sebelumnya. Setiap kali membandingkan rumahnya dan Velicia, lagi-lagi hatinya menciut, merasa rendah diri. Apalah dirinya dibandingkan dengan Velicia.


Seorang wanita berpakaian seragam yang dikhususkan untuk pelayan di rumah itu menghampiri sebuah kotak di samping pintu kamar. “Non, ada paket,” katanya di depan benda tersebut.


“Iya, sebentar,” jawab seseorang yang keluar dari kotak tersebut. Itu suara Velicia.


Lagi-lagi, David belum percaya sepenuhnya.


Velicia keluar membawa sebuah novel berjudul Isyarat dan Kenangan serta kaos yang masih dilipat. Matanya langsung tertuju ke wanita yang membawa dua paket yang terbungkus plastik hitam.


“Ini Nona paketnya.” Wanita itu memberikan dengan hormat kemudian pergi begitu saja setelah Velicia mengagguk.


Velicia memberikan novel dan kaos itu kepadanya. David masih bingung dengan apa yang dilakukan gadis itu. Ditambah satu paket yang diberikan wanita tadi diberikan padanya. “Buat kamu,” katanya.


"Ini apa?"


"Besok jemput Veli, ya. Kita berangkat bareng. Pakai hoodie dari Veli."


Baru saja David mau bersuara, Velicia lebih dahulu masuk ke kamarnya. Pemuda itu mematung sejanak, tatapannya turun ke pemberian princess bocahnya.