For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Merdeka dengan Mimpinya



Pemuda itu menekan bel untuk memanggil penghuni rumah supaya menyambutnya. Seorang wanita paruh baya berpakaian khas asisten rumah tangga membuka pintu. Setelah sekian lama tidak menginjak rumah bak istana itu, akhirnya bisa kembali ke sana untuk menemui princess hatinya.


Sepi, suasana rumah tidak sehangat dulu. Dia celingak-celinguk setelah duduk di sofa ruang tamu. Seorang pemuda berenampilan pecicilan menghampirinya seraya tersenyum. Tunggu, dia kan…?


Yang di rumah sakit memeluk Velicia. David ingat sekali wajah itu.


“On time banget, Bro! Bagus-bagus!” serunya seraya menepuk pundak David, dia bersikap seolah sudah kenal lama. Melihat gerak-gerik pemuda itu mencari sesuatu, Ario tersenyum penuh arti. “Cari Veli?”


David mengangguk.


“Dia lagi sama omanya, nggak bisa nemuin lo. Kegiatan hari ini padat banget, mana omaya lagi manja.” Ario meneliti penampilan pemuda di sampingnya. Penampilannya rapi sekali, kulit putih bersihnya cocok untuk memakai pakaian apapun. Berbeda dengannya, yang pecicilan dan berkulit sawo matang, tapi tetap ganteng. “Velicia nyuruh gue buat bawa lo ke suatu tempat. Kayaknya kita harus berangkat sekarang.”


“Ke mana?” tanya David penasaran.


“Lo akan tahu nanti. Please jangan nolak. Ini demi Veli.”


“Sebenarnya lo siapa, sih?” Cukup sudah kesabarannya menahan rasa penasaran tentang hubungan Velicia dengan laki-laki pecicilan itu.


“Gue jelasin di mobil. Sekarang ikut gue.” Ario beranjak, matanya mengintimidasi David untuk segera mengikutinya. Baru saja melangkah menuju pintu keluar, suara pecahan piring dari arah meja makan membuat keduanya berhenti. Firasat Ario langsung tidak enak, langkah panjangnya berbalik dan lamgsung berlari ke mengarah ruang makan diikuti David.


Seorang gadis yang David rindu sedang menangis disaksikan tiga asisten rumah tangganya. Kepalanya ditundukkan, bahu mungil yang terbalut kain warna teal naik-turun. Ario langsung merengkuh gadis itu dari samping, tindakan itu jelas membuat David membuang wajah. Sebenarnya hubungan mereka apa? Katanya, Velicia anak tunggal, mana mungkin laki-laki pecicilan itu kakaknya.


Velicia menggeleng dalam rengkuhan Ario. Tangannya menghapus air mata dengan kasar. Isakannya perlahan melemah.


“Istirahat aja, ya. Kamu belum sembuh benar,” kata Ario dengan suara lembut. Dia sangat khawatir dengan gadis kesayangannya.


Mempunyai sifat keras kepala membuat Velicia menggeleng seraya mendorong Ario. Gadis itu berdiri dan langsung bersitatap dengan David. Beberapa saat mereka terdiam, keduanya sama-sama merindukan mata yang sudah lama dicarinya.


“Vel….” Ario meraih pergelangan tangan kiri Velicia saat gadis itu hendak mengambil langkah. “Kasihan Oma yang khawatir sama kamu.”


Setetes air matanya menelusuri pipi sebelah kanan Velicia. Omanya memang sedang membutuhkan seorang teman, tapi Velicia punya jadwal pemotretan pagi ini. Meski tubuhnya belum sembuh total, bagaimanapun harus bersikap professional.


Tatapan Velicia mengarah kepada sebaris asisten rumah tangga yang menunduk. “Pastikan Oma makan siang. Jika tidak, segera hubungi Veli.”


“Setelah pemotretan mau ke mana?” tanya Ario dan semakin mengeratkan cengkraman tangannya untuk menahan Velicia.


“Harus banget Veli kasih tahu?” Suara Velicia lebih tinggi dari biasanya, kekesalan karena Ario mencengkram tangannya membuat matanya menatap nyalang kepada laki-laki itu. Velicia tahu laki-laki itu khawatir padanya, tapi dia tidak suka dikekang.


Refleks, tangan sebelah kanan Velicia menampar pipi Ario. Terlihat kasar, tapi tidak ada cara lagi untuk melepaskan tangannya dari cengkraman itu. Velicia mengempaskan tangan kokoh itu dengan kasar. Kakinya berlari sekuat tenaga, meninggalkan Ario yang mematung atas tindakan Velicia. Bukan karena sakitnya, karena tamparan itu tidak terlalu sakit. Namun, apakah benar yang menamparnya gadis kecil kesayangannya?


“Vel!” David mengambil langkah untuk menyusul gadis itu. “Velicia, aku nggak tahu kenapa kamu bisa seperti ini,” katanya tidak percaya dengan apa yang baru saja Velicia lakukan.


“Jangan pikirkan hidup orang lain jika tidak tahu permasalahannya. Mencampurinya hanya akan sia-sia. Dan jangan pernah menerka  hidup orang lain jika tidak ingin ada salah paham. Lebih baik kamu ikut dengan Kak Rio. Otak kamu terlalu gelap.” Velicia berbicara sambil berjalan keluar, sampai akhirnya masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan David yang mematung.


Otaknya bekerja untuk mencerna ucapan Velicia. Otak kamu terlalu gelap. Ha? Gelap? David menunjuk diri sendiri, bingung dengan kata gelap yang diucapkan Velicia.


Di tengah diamnya karena mencerna kata-kata Velicia, bahunya ditepuk dari belakang. “Jangan dipikirin, mending kita berangkat sekarang.” Ario melempar kunci mobil ke atas lalu ditangkap lagi. "Let's go! Jaringan aja udah 4G mau ke-5G, masa kecepatan lo kalah sama jaringan seluler!" ejaknya sambil mengait tangan David dan menyeretnya menuju mobil.


Di dalam mobil hanya ada keheningan sebelum Ario bertanya-tanya tentang Velicia di sekolahnya. David tidak mengerti kenapa Ario bertanya kepadanya, harusnya laki-laki itu yang lebih tahu Velicia.


"Kakak pasti lebih tahu, kan pacarnya," cibir David setelah bosan menjawab serangkaian pertanyaan Ario.


“Hah? Gue?” Ario tertawa keras seraya memukul stir. “Emang gue pantes sama Veli? Ya kali.”


“Terus apa maksud kedekatan kalian? Veli itu anak tunggal, Kakak bukan saudaranya, lalu kalian apa?” Bukan maksud David untuk berprasangka buruk, tapi dia penasaran. Daripada harus berspekulasi, lebih baik menanyakan langsung.


“Gini, ya, Vid. Velicia terlalu bocah buat gue yang usianya harus udah nikah, mungkin. Ah, enggak, sih. Usia gue 27 tahun, masih muda.” Ario kembali tertawa, menertawakan usianya sendiri. “Lagian, gue udah punya calon istri, ngapain gue pacaran sama bocah. Lo nyangka gue pedofil? Otak lo terlalu gelap.”


Lagi, David penasaran kenapa otaknya dikatakan gelap. Sudah dua orang dalam waktu kurang dari satu jam.  “Oh….” Tidak ada pembicaraan lagi, keduanya sibuk dengan dunia imajinasinya sendiri. Tuh, kan, benar. Prasangka buruk David salah. Velicia tidak mengkhianatinya. Mungkin saja gadis itu punya alasan lain kenapa menjauh darinya. “Kak,” panggil David ragu-ragu.


Ario menoleh seraya mengangkat sebelah alisnya. Tatapan laki-laki itu meminta David untuk berkata.


“Velicia kenapa?”


Ini bukan hak Ario untuk menjelaskan, laki-laki menggelengkan kepala sebagai wakil bahwa suaranya tidak mampu mengatakan permasalahan yang dihadapi Velicia. “Sorry, kalau soal itu, Velicia yang harusnya menjawab. Namun, yang harus lo tahu. Velicia selalu ingin tahu permasalahan orang lain karena dia akan membantunya, tapi dia tidak suka jika permasalahannya diketahui orang lain karena kita tidak akan bisa membantunya.”


“Gue akan berusaha membantunya. Kak Rio bisa kan kasih tahu gue permasalahannya?”


“Tetap nggak bisa. Maaf, bukan maksud merendahkan lo. Tapi, gue aja yang dewasa begini nggak bisa bantu apa-apa, apalagi lo, Vid.” Ario menginjak rem saat lampu lalu lintas berwarna merah. “Lo tenang aja, Velicia gadis yang cerdas, dia bisa mengatasi semuanya. Setelah semua itu selesai, dunia akan terguncang.”


David terdiam untuk mencerna ucapan laki-laki di sampingnya. “Udah, jangan dipikirin, biarkan Velicia dengan dunianya sendiri dulu,” kata Ario sebagai penutup obrolan mereka.