For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Asing



Hidupnya terlalu serius. Gadis itu tidak punya banyak waktu untuk bersama teman-teman. Cenderung sendiri dan bergelut dengan kerjaan. Baru beberapa saat merasakan apa itu pertemanan, kini sudah tidak lagi merasakannya. Bukan keinginannya seperti ini, tapi keadaan yang menarik paksa. Dituntut untuk menjadi seorang dewasa di usianya yang sangat belia bukan hal mudah. Memulihkan sebuah perusahaan yang kacau bukanlah pekerjaan anak kecil. Namun, gadis itu harus tetap turun tangan hingga membuat banyak orang tidak percaya.


“Ini ada rekomendasi buku tentang dasar teknik arsitek, tolong beli buku mana yang terbaik. Nanti langsung kirimkan ke rumah Veli,” ujarnya seraya memberikan kertas list buku-buku yang direkomendasikan teman onlinenya.


Wanita berpakaian hitam putih khas sekretaris mengangguk dan menerima kertas tersebut.


“Satu lagi, sebelum jam pulang, panggilkan Pak Andri untuk ke sini.”


“Baik.”


Gadis itu memijat pangkal hidungnya setelah sekretaris mamanya keluar dari ruang tersebut. Rasanya seperti mimpi. Kini, gadis itu satu-satunya harapan. Wajah almarhumah Felyana terlintas saat dia memejamkan mata. Sudah tiga minggu lebih sosok malaikat tanpa sayap itu pergi. Dia tenggelam dalam lamunan, kenangan demi kenangan memenuhi tempurung kepalanya. Indah.


Namun, itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba dia teringat dengan Hans, pria itu….


Velicia segera menggelengkan kepala dan mencoba fokus membaca buku Architects` Data karya Ernst Neufert new international edition. Seperti inilah kegiatannya setelah pulang sekolah. Jika tidak membaca tentang dunia arsitektur, dia menonton video teknik dasar dalam sketsa bangunan sambil dipraktikkan sendiri.


Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Dia harus berusaha memulihkan perusahaan mamanya. Meski terbesit rasa tidak mungkin dalam benaknya. Namun, jiwa optimisnya bergelora hingga mati-matian mempelajari sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya. Tahu apasih Velicia tentang arsitektur?


“Assalamuaikum, bidadari cantik.”


Velicia mengalihkan pandang ke arah pintu. Laki-laki pecicilan itu tersenyum menghampiri gadis yang kembali berkutat dengan buku setelah menjawab salamnya.


“Kakak ganggu, nggak?”


“Ya.”


Laki-laki itu menyimpan paper bag motif batik di atas meja, tepat di samping laptop yang menghadap ke Velicia. “Yah, galak banget jawabannya. Padahal Kakak ke sini niatnya baik.”


Velicia tidak menanggapinya.


Selalu saja seperti itu. Ario sudah biasa tidak dianggap oleh Velicia. “Ibu buatkan makanan buat kamu. Terus anak-anak di yayasan nulis surat gitu buat kamu. Semuanya ada di paper bag.”


“Bisa nggak sih Kak Rio jangan ganggu? Veli sedang mati-matian mempelajari semuanya. Ngerti sedikit bisa, nggak?”


Bukan hal asing jika sikap Velicia seperti itu. Ario paham betul kondisi gadis itu. Belajar ya belajar, tapi jangan over. Gadis ambisus itu juga harus lihat kondisi fisik, jangan sampai terlambat makan dan kurang tidur. Ada kalanya otak juga lelah jika terus dipakai. Ario mengkhawatirkan gadis kesayangannya, itu yang membuat kakinya setiap hari melangkah ke ruang ini hanya untuk memastikan kondisi Velicia. Apa itu salah?


Ario menatap gadis itu memohon. “Terserah mau dimakan atau enggak. Kakak seperti karena khawatir sama kamu. Ibu capek-capek masak karena peduli sama kamu. Anak-anak yayasan nulis sesuatu buat nyemangatin kamu. Kita semua sayang sama kamu, Vel. Melampiaskan sakit yang kamu rasakan tidak perlu seperti ini. Kamu kira, dengan menyibukkan diri 24 jam akan membuat kamu puas? Pikirin baik-baik, Vel. Kasihan juga Oma di rumah khawatir terus sama kamu.”


Kesunyian menguasai beberapa saat. Pandangan mereka bertemu dalam hitungan detik. Velicia mendengkus seraya kembali membaca. “Nanti dimakan. Kak Rio boleh pergi sekarang.”


“Kamu harus pulang sekarang.”


Velicia melempar tatapan tajam ke pemuda di depannya. Dia segera shut down laptopnya dan menumpuk buku yang berserakan di meja. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, sekali kedip sudah dipastikan akan jatuh.


Setelah mengembuskan napas lelah lalu beranjak pergi, tidak lupa membawa paper bag yang dibawa Ario. Baru saja mau membuka pintu, seseorang dari luar lebih cepat membukanya. Velicia langsung tersenyum kepada pria itu. “Veli perlu diskusi, bisa?”


“Ayo, Pak,” ajak Velicia kepada pria bernama Andri.


Hal itu langsung membuat Ario naik darah. Tangannya terkepal kuat. Keras kepalanya Velicia tidak bisa diruntuhkan dengan mudah.


🎗🎗🎗🎗


 


Sebuah bola basket melambung tinggi keluar lapangan. Pemuda yang mengisi lapang terkejut saat memprediksi bahwa bola itu akan mendarat sempurna di kepala seorang gadis yang berjalan menunduk ke I\-pad di tangannya. Sebelum gadis itu terluka, sebuah tangan lebih cepat menahan bola tersebut. Dalam jarak sedekat itu, keduanya merasa canggung untuk bertegur sapa. Tatapan mereka sempat beradu dalam hitungan detik sebelum gadis itu memilih pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Pemuda itu langsung melempar bola orange tersebut kea rah lapang. Pandangannya tidak bisa lepas dari punggung gadis yang perlahan menjauh. Dari sorot matanya, gadis itu telah berubah. Seakan tidak mengenalinya, mungkin? Embusan napasnya terdengar lelah, sorot matanya berkaca dan kosong.


Sampai kapan kita akan seperti ini, Vel?


“Kalau lo percaya sama dia, harusnya yakin kalau Veli akan kembali lagi. Udahlah, ayo ke kantin!” Jeani langsung menarik sahabatnya . Sebaik mungkin dia harus menghibur David yang galau karena bucin.


“Gue harus gimana?” tanya David di tengah\-tengah sahabatnya yang terus menarik tangannya menelusuri koridor menuju kantin.


“Biarin Velicia kayak gitu. Kan masih ada gue. Yang gitu aja dibingungin.”


Dia akan percaya sama Velicia. Meski sikapnya seperti itu, tapi Velicia pasti punya alasan. Berpikir buruk hanya untuk orang\-orang yang tidak percaya, dan dia percaya dengan gadis itu. “Lo bener, Veli kan udah janji mau kembali kalau udah selesai.”


“Sejak lo ketemu sama Veli, lo ngejauh dari gue. Sejak lo pacaran sama Veli, lo puji dia terus. Sejak Veli menjauh dari lo, kenapa lo jadi bucin, sih?”


David menghentikan langkah. Bibirnya perlahan melengkungkan senyum. Dia menatap sahabatnya dengan binar bahagia. “Gue nggak mau kehilangan Veli, Jea. Gue akan selalu percaya, semoga dia nepati janji.”


Gadis itu berdecak kesal. Kepalanya digelengkan sebagai wakil suara bahwa dia tidak sanggup mendengar kalimat\-kalimat bucin sahabatnya. “Gue laper, gue mau ke kantin. Kalau lo terus\-terusan curhat, gue tinggalin!” ucapnya menggebu dan segera mengambil langkah cepat.


Alasan kepergian Jeani mudah sekali untuk ditebak. Ini bukan salahnya, tapi dia bisa disebut orang yang salah. Jeani punya perasaan untuknya, tapi David tidak bisa membalas itu. David segera menyusul sahabatnya yang sedang marah. Di jarak yang sudah dekat dengan kantin, pemuda itu meraih tangan Jeani dari belakang. “Lo cemburu?”


“Yailah! Masa lo nanya lagi.”


David memamerkan deretam giginya seraya menggaruk belakang leher. “Sorry.”


“Ya udah, makan yuk!” ajaknya sambil tersenyum.


Melihat sahabatnya yang cemberut kini bisa tersenyum lagi membuat David juga ikut senyum.


“Gue traktir.”


Mereka berbaikan sesederhana itu. Tanpa syarat dan ketepaksaan. Tidak pernah ada masalah serius yang melanda persahabatan mereka. Keduanya masuk ke kantin bersama. Jeani mengangguk lalu jari tangannya membentuk huruf O. David yang paham dengan isyarat itu mengangguk sebagai wakil suara ‘iya’. Jeani meminta nasi goreng dengan es teh manis dengan isyarat tangan. Dan David paham itu. Mereka berpisah untuk beberapa menit. Jeani memilih tempat duduk yang kosong sedangkan David menghampiri stand nasi goreng.