For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Tangis Haru dan Perubahan



“Kita bisa masukkan Sumi ke sekolah biasa.”


“Pendaftarannya sudah pada ditutup, Veli. Lagipula, Suminya nggak mau sekolah,” jelas Felyana.


Gadis itu mendengkus seraya melirik Sumi yang berdiri sambil menunduk.


“Nggak ada yang bisa diharapkan dari aku, Vel. Aku ini nggak pinter kayak kamu. Lagipula, kata Emak di kampung, yang namanya seorang perempuan, setinggi apapun sekolahnya, tetap kembali ke dapur.”


“Setidaknya kamu sekolah untuk mempersiapkan mendidik seorang anak, bukan kerja. Suatu hari nanti, kamu akan menjadi seorang Ibu, Sumi. Mendidik seorang anak tidak hanya membiarkan dia tumbuh begitu saja. Harus ada didikan terbaik dari seorang ibu untuk memperbaiki generasi bangsa dari masa ke masa. Itu yang dinamakan pendidikan.”


Felyana merengkuh putrinya dari samping. Dia sangat tahu Velicia, gadis penjunjung tinggi pendidikan yang sangat peduli sekitar. Begitu Sumi menentangnya tidak mau disekolahkan, Felyana tahu bagaimana perasaan putrinya.


“Sudah berapa anak yang Mama-Papa tampung di yayasan hingga akhirnya mereka sukses? Semua biaya sekolahnya dijamin, tempat tinggalnya dijamin. Mereka sukses dengan caranya masing-masing.  Mama dan Papa tidak menuntut balasan apapun atas pengeluaran biaya untuk mereka, cukup dengan hidup mereka lebih baik, itu adalah imbalan tertinggi yang Mama-Papa mau. Sekarang apalagi yang harus diragukan? Kamu nggak perlu khawatirkan biaya sekolah, uang jajan dan tempat tinggal. Tugas kamu tinggal belajar saja, apa itu susah?”


Wajah polos dan tidak berdosa itu membuat Velicia enggan menatapnya lagi.


“Tapi sudah tidak ada sekolah yang membuka pendaftaran lagi, Vel,” alibi Sumi lagi-lagi membuat Velicia berdecak.


“Mama bisa kan cari sekolah biasa yang pendaftaraannya udah ditutup tapi masih bisa masuk ke sana?”


“InsyaAllah bisa, Sayang. Nanti Mama cari.”


Velicia mendelik ke Sumi, wajahnya diangkat membuat kesan belagu. Sumi semakin menundukkan kepalanya takut. Setelah kepergian Velicia dari ruang keluarga, Felyana segera menghampiri gadis malang yang tampak ketakutan disentak putrinya.


“Kamu nggak pa-pa, kan? Maafkan Veli, dia orangnya peduli pendidikan sekali.”


🎗🎗🎗🎗


Pagi yang indah dengan kicauan burung. Drone yangdikendalikan pria berjas menyorot gadis di belakang piano dan seorang wanita cantik terbalut dress selutut. Velicia dengan lihai menekan tuts demi tuts. Mata teduhnya menyorot wanita bergaun warna magenta. Mereka tenggelam dalam alunan musik yang Velicia ciptakan. Gadis itu mengangkat satu tangannya untuk mengenggam tangan mamanya, satu tangan lagi sibuk menekan tuts.


Lagu Mama Kaulah Bintang adalah persembahan Velicia untuk Felyana. Tidak ada satu ibu di dunia ini yang tidak bangga saat diperlakukan seperti itu oleh putrinya. Felyana menangis haru. Begitu lagu telah selesai, Velicia berdiri, Felyana langsung memeluknya erat.


“Happy birthday, Ma. I love you.”


Felyana menangis sesegukan dalam pelukan putrinya. Velicia mendorong pelan mamanya untuk melihat wajah cantik Felyana. Tangan putih berjari kecil itu mengusap lembut jejak air mata mamanya.


“I love you more, Baby.”


Suara notifikasi chat merusak suasana yang terjadi. Velicia melangkah ke arah meja, di mana ponselnya berada di sana.


Velicia menyergit mendapati chat dari David dan menanyakan keberadaannya. Gadis itu secepatnya membalas bahwa dia ada di rumah. Selepas itu dia menghampiri mamanya dan papanya yang sedang berpelukan.


“Ikut ke kantor Mama aja, yuk!”


“Veli sukanya sains, oke?” Hans menatap Felyana dengan tatapan meremehkan.


“Veli juga suka desain.” Felyana tidak mau kalah.


“Veli di rumah aja. Mau edit video, hari ini kan harus diuploud ke youtube, for you, Mom,” putus Velicia seraya mencium pipi mamanya. "Hadiah terbaik untuk Mama."


Felyana langsung memeluk putri kebanggaannya. “Thank you, Baby. Itu hadiah terindah untuk Mama.”


🎗🎗🎗🎗


David meninggalkan lapangan yang terisi oleh peserta masa pengenalan lingkungan sekolah. Langkahnya cepat menelusuri koridor. Tiba-tiba seorang gadis berseragam lengkap dengan jas almamater sekolah memblok jalannya.


“Dav, Veli sekolah di sini?” tanya gadis itu berbinar.


“Iya,” jawabnya tanpa menghentikan langkah.


“Istirahat nanti kita bertiga makan bareng, yuk!”


“Veli di rumah.”


Jeani menoleh ke pemuda yang berjalan di sampingnya. “Kok bisa? Emang nggak ikut MPLS?”


“Iya.”


“Kenapa?”


“Nyokapnya nggak kasih izin."


“Kok bisa, sih? MPLS kan wajib buat calon siswa.”


Pemuda itu menghela napas jengkel. “Mereka orang-orang yang punya kekuasaan, Jea. Mau melakukan apapun, bebas.”


Jeani menghentikan langkah, matanya menatap punggung David yang kian menjauh. Ada perubahan dalam diri sahabatnya. Mulai dari jawabannya yang singkat dan bernada datar, ekspresinya tidak bersahabat, terlihat enggan berbicara dengannya.


Dia ingin mengejar, tapi tidak mau diperlakukan seperti tadi lagi. Jeani membalikkan tubuh, mungkin David sedang ada masalah. Selama sudah lebih sepuluh tahun bersahabatan dengan pemuda itu, belum pernah David enggan bicara dengannya. Sedih tentu saja, tapi apa perlu dia menangis?