
"Kita buat photozine. Itu kayak kumpulan poto dalam sebuah buku,” jelasnya tanpa mengalihkan dari kamera. “Di setiap halamannya tambahin quotes. Itu akan menjadi sebuah karya antimainstream, David. Belum banyak buku-buku seperti itu di Indonesia.”
“Contohnya gimana, ya? Aku belum ngerti, Vel.”
“Coba kamu buka instagram, cari akun @yossy_pic_ atau @bhf_erk. Mereka berdua juga mengabadikan perjalannya ke Thailand dengan fhotozine.”
Pemuda itu menurut. Setelah melakukan apa yang diperintah, dia memberikan ponselnya pada gadis itu. “Postingan yang mana?”
Velicia mencarinya. Setelah ditemukan, dia mengembalikan lagi ponsel itu kepada pemiliknya.
“Hah? Orang Jepang?”
“Iya.”
Dia meneliti postingan tersebut. Hatinya mulai tertarik. Lengkungan senyum dan anggukan kecil adalah persetujuan atas tawaran Velicia. Sekarang, mereka kembali diikatkan oleh projek. “Jadi, rencananya bagaimana?”
“Kamu selesaikan dulu edit video klip itu. Kalau udah selesai, bilang sama Veli biar secepatnya menyelesaikan projek ini.”
“Oke.”
🎗🎗🎗🎗
Tidak mudah untuk keluar dari zona nyaman. Kagiatan di kelas, organisasi, dan ekstrakulikulernya saja sudah menyita waktu. Ditambah harus edit video. Jika saja tidak diingatkan oleh gadis itu, projek yang sudah memakan biaya jutaan itu hanyalah kesia\-siaan. David berusaha keras untuk membagi waktu, sampai berkorban mengurangi jam tidur.
Meski begitu, Velicia selalu ada untuknya. Waktu istirahat sekolah menjadi berguna, karena Velicia yang selalu berkutat pada kerjaan, dia menjadi ikut\-ikutan. Jadwal untuk belajar yang biasanya dilakukan malam hari ditarik ke sore, karena dia akan mengedit video sampai larut malam, ditemani Velicia di layar ponsel.
Semakin dekat dengan gadis itu, semakin David ingin melakukan banyak hal lagi. Perubahan akan sikap yang kini lebih ke pendiam dan menyibukkan diri sudah tidak asing lagi. Velicia tidak salah dalam hal perubahan ini, justru gadis itu yang membuat dunia David terasa lebih berarti dengan jutaan imajinasi dan mimpi.
“Vel, bagusnya ada tulisan lirik lagu nggak sih di bawahnya?” tanya David seraya menatap gadis di layar ponselnya yang masih berkutat dengan laptop. “Mending lirik aslinya atau terjemahan bahasa Indonesia, ya?”
“Terjemahannya aja, deh. Biar orang lain tahu makna lagu itu,” saran Velicia tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
Ini sudah pukul sebelas, tapi keduanya masih bergairah menyelesaikan projek masing\-masing.
“David, lusa launchingnya novel keempat Veli. Mau nggak ikut Veli ke empat gramedia dalam satu hari?”
Pemuda yang bersila di kursi belajarnya menyergit ke arah layar 6,5 inchi itu. “Maksudnya?” Dia menatap Velicia sejenak kemudian kembali memnfokuskan diri pada layar laptop di depannya.
“Pas hari lunching itu Veli diundang empat gramedia. Yang paling jauh ke Jawa Timur, haduh,” keluhnya.
David tersenyum menatap gadis yang mencerutkan bibirnya. Tangan berjari mungil gadis itu sibuk digerakkan di atas mouse pad.
“Jauh banget, Vel.”
“Udah risiko. Beberapa hari yang lalu Veli main terima aja undangannya.”
Sudah seminggu lebih mereka melakukan panggilan video di setiap malam. Kedekatan di sekolah pun menjadi lengket, kemana\-mana selalu bersama. Tidak ada yang membuat dua orang itu menyatu selain mimpi\-mimpi yang mereka punya. Keselarasan dalam berdiskusi, bincangan yang dapat mengihilangkan penat, dan memiliki pola pikir yang sejalan adalah tunjungan keduanya bisa dekat.
David menyayangi gadis itu layaknya adik. Begitu pun sebaliknya.
“Ya udah, nggak pa\-pa. Nggak berpengaruh juga kalau kamu ikut.”
Pemuda itu mendengkus pelan. Velicia membuatnya kesal. “Dasar bocah. Terus ngapain kamu ajak aku, Princess Bocah?”
“Mau ngajak aja, emang nggak boleh?” Gadis itu menutup laptopnya seraya menguap. “Siapa tahu mau ikut. Ongkos di tanggung Veli. Sayang loh kalau nggak diambil, kapan lagi Veli sebaik ini?”
“Jadi kamu ngarep aku buat ikut?” tanya David sambil memicingkan mata curiga.
“Enggak. Lagian kenapa harus ngarep? Kamu kan bukan orang penting buat ikut.”
Meski David mengenal Velicia belum lama. Baru dua hal yang menjadi kekurangan gadis itu. First, terlalu asal bicara dan berujung melukai hati orang lain. Second, wajahnya yang flat terkesan sombong. Namun, di balik itu, Velicia adalah gadis manis yang memperdulikan sekitar. Jiwa tolong menolongnya patut diacungi jutaan jempol. David like that.
“Aa sakit hati, Dek.”
“King drama,” ejak gadis itu sambil menyunggingkan senyum.
“Princess Bocah, kamu belum ngantuk?”
Velicia mencerutkan bibir, di mata David itu ekspresi paling lucu. “Veli ngapain lagi ya setelah ini?” Pertanyaan itu ditunjukkan pada diri sendiri. Ujung jari telunjuknya diketuk\-ketuk ke dagu, bola matanya menatap jendela kamar yang sengaja dibuka.
“Tidur aja, udah malem.”
“Mau ke luar, ah.” Gadis itu beranjak sambil membawa ponselnya. Lantai layaknya samudera di siang hari tersorot lampu membuat tidak kalah indah. “Mau lihat bintang, nggak?” tanyanya pada pemuda yang terfokus pada layar laptop.
Ketika melihat Velicia berada di luar kamar, pemuda itu berdecak. “Bandel banget, sih. Nanti kalau masuk angin gimana?”
Gadis itu memanfaatkan rubik yang ada di atas meja sebagai sandaran untuk ponsel. Langkahnya menuju ke teropong. Langit malam yang bersahabat. Taburan bintang di atas sana membuat dua sudut bibirnya naik. Tiba\-tiba sebuah ide muncul untuk memperlihatkan keindahan langit malam kepada David. Ponselnya diambil dan segera menekan fitur untuk mengganti kamera depan menjadi kamera belakang. Kamera ponselnya ditempelkan pada lensa objektif..
“Aku mau lihat langsung,” kata David.
“Ke sini aja.”
“Nanti keluarga kamu marah.”
“Marah kenapa?” tanya Velicia polos.
“Nggak pa\-pa. Aku ngantuk, belum kuat begadang lama.”
“Payah,” ejeknya sembari menggantikan kamera belakang ke kamera depan lagi.
David tersenyum begitu melihat wajah Velicia kembali. “Sebentar lagi juga kamu akan tidur.”
“Kata siapa? Veli kuat nggak tidur semalaman.”
“Tidurlah, Princess. Begadang itu nggak baik,” ujarnya selembut mungkin.
“Iya, Pangeran, tapi nanti. Veli belum mengerjakan tugas sekolah.” Gadis itu tertawa palsu. “Kalau mau tidur, silakan. Good night, Pangeran ganteng.”
David belum sempat merespon perkataan gadis itu, panggilan video terputus begitu saja. Dia menggelengkan kepala atas kelakukan princess bocahnya. Ada\-ada saja!