
Dua orang yang selalu dekat, kini seperti orang asing. Dulu, mereka bisa tertawa lepas, membincangkan banyak mimpi, dan saling menguatkan. Sekarang, saling sapa saja seperti sulit. Seperti ada benteng yang memisahkan. Padahal masih terikat status ‘pacaran’.
“Pacar lo, tuh. Samperin, gih!” Jeani menyenggol bahu sahabatnya ketika melihat seorang gadis baru turun dari mobil.
“Dia udah nggak kenal gue.” Pemuda itu mendengkus lalu mengambil langkah cepat menuju gedung sekolah sambil menunduk.
Seberapa besar rasanya kepada David, tapi Jeani tidak punya niat buruk. Melihat sahabatnya dan Velicia yang mesra setiap hari sering membuatnya cemburu, tapi melihat dua remaja itu marahan membuatnya iba. Sejak Velicia bersikap tidak peduli, Jeani kasihan melihat sahabatnya yang kehilangan semangat hidup.
Jeani harus melakukan sesuatu.
“Veli,” panggilnya sambil berlari.
Velicia hanya memelankan langkahnya tanpa ada niatan menoleh. Biarkan saja yang membutuhkannya menghampiri dengan hormat.
“David berubah sejak lo nggak peduli lagi sama dia. Projek film pendek itu nggak jalan, dia nggak mau lagi main musik, ditambah tekanan dari ayahnya yang menginginkan David sekolah di California.”
Gadis itu bergeming, tandanya ingin mendengar penjelasan lebih lanjut dari Jeani. Velicia sengaja membawa Jeani ke koridor agak sepi supaya orang lain tidak banyak yang tahu perbincangannya.
“Awalnya emang gue nggak suka David yang mau jadi fotografer, musisi, dan yang lainnya. Gue sempet ada di posisi mendukung ayahnya yang menginginkan David jadi dokter. Namun, setelah sikap lo kayak gini. David lebih sering cerita ke gue. Dia berkeluh kesah sama gue. Tanpa lo yang selalu memberikan semangat dan motiavasi, dia nggak bisa ngelakuin apa\-apa, Vel. Dia ada di posisi mau menggapai cita\-citanya, tapi nggak berani nentang orang tua. Lo bisa ngerti kan kalau ada di posisi dia?” Jeani mengembuskan napas seraya geleng\-geleng kepala. “Setiap hari dia cerita sama gue. Tentang lo yang semakin menjauh, ayahnya selalu nekan, dan mimpinya yang tidak akan pernah tergapai. Dia bener\-bener pesimis sampai perang dingin dengan bokapnya.”
“Thank you,” ujar Velicia kemudian memasuki kelas. Dia rasa penjelasan tentang David sudah cukup dipahami.
Jeani tertegun dengan mulut menganga. Tatapannya tidak lepas dari pintu kelas Velicia. Setelah dia bicara panjang lebar, respon Velicia hanya dua kata? “Songong amat tuh orang,” ucapnya sambil geleng\-geleng kepala tidak percaya.
Velicia menunduk setelah duduk. Dia harus memikirkan cara supaya pemuda itu tetap semangat tanpa kehadirannya. Delapan menit sebelum bel berbunyi hanya dihabiskan dengan lamunan tidak jelas. Masalah keluarganya sudah berat, tapi dia tidak mungkin membiarkan David dalam keterpurukan.
“Morning, class. I have a writing test for chapter six today. This test is the last test in semester one. I hope the results do not disappoint. Are you ready? The time is only forty minutes.”
Bahkan Velicia tidak sadar bel masuk sudah berbunyi. Wanita berperawakan tinggi dengan rambut digelungkan membuka lemari khusus tablet lalu membagikannya kepada seluruh murid. Velicia berusaha fokus untuk ulangan.
Velicia memejamkan mata agar otaknya fokus menghitung. Setelah menghitung hanya dengan kemampuan otak jeniusnya, Velicia menekan lingkaran yang ditengahnya ada huruf D. dia beralih ke soal selanjutnya.
Gadis itu hanya membutuhkan waktu lima belas menit kurang untuk menyelesaikan tiga puluh soal fisika. Hasil akhirnya 29/30. Dia berdesis karena salah menjawab satu soal. “Finish,” ujarnya seraya angkat tangan. Setelah guru di depannya mengangguk, dia segera keluar kelas.
Tujuan langkahnya adalah kelas 11\-IPA\-1. Gadis itu mengintip seorang pemuda yang sedang presentasi dari balik kaca. Wajah hanyalah topeng yang bisa menipu orang banyak. Sesekali pemuda itu tersenyum saat presentasi. Namun, Velicia tahu bahwa hatinya terluka oleh tekanan sang ayah. Gadis itu nekat beralih mengintip dari jendela yang terbuka.
“Because life without dreams is a mistake, page 244.” Pemuda membaca sebuah novel untuk mengatakan kata\-kata yang tertuang di novel itu. “This novel is very inspiring to keep dreaming under any circumstances. As I read it, I fell I was thrown into a space of room imagination where I could see the colors of the world. So, that’s the reviewer of the novel Shining by Velicia Navvirel Aulia.”
Gadis itu mengembungkan pipinya. Hatinya jengkel karena penuturan pemuda itu. Jika David sudah membaca novel karyanya, harusnya dia tidak putus asa seperti yang dikatakan Jeani tadi. Apa gunanya kata\-kata motivasi yang dituangkan di novel itu jika tidak mampu membangkitkan semangat orang lain untuk bermimpi.
David tersentak ketika menemukan sosok Velicia sedang mengintip. Pandangan mereka sempat bertemu beberapa detik, tapi Velicia segera berlalu membuat David mengusap wajahnya kasar.
“Miss, excuse me,” izinnya kepada guru bahasa Indonesia. David segera keluar kelas untuk mengejar Velicia. Jika gadis itu tidak peduli kepadanya, kenapa sampai bela\-belain mengintip?
Gadis itu berhenti di selasar lantai tiga yang berhadapan langsung dengan lapangan utama. Dia menunggu pemuda tadi mengejarnya.
“Vel.” Suara David terdengar lemah.
“Veli dengan dunia Veli, kamu dengan dunia kamu. Suatu hari nanti, kita satukan untuk mewarnai dunia.”
“Maksud kamu apa, Vel?”
“Veli hidup bukan untuk kamu aja. Dan kamu nggak harus selalu bergantung sama Veli. Veli janji, setelah semuanya selesai, Veli akan kembali seperti yang kamu mau. Untuk sekarang ini, kamu harus bisa berdiri sendiri, melangkah sendiri, hadapi masalah sendiri, jangan pernah banyak ngeluh, jauhkan keputusaan kamu. Pesimis hanya untuk orang\-orang yang tidak mau sukses, David.”
Pemuda itu mematung di tempat. Velicia beranjak pergi meninggalkannya yang diselimuti kebingungan.