For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Tidak Tahu Diri



PLAK


“APA INI, SUMI?! KAMU BENAR-BENAR MALU-MALUIN BIBI! APA KATA ORANG TUAMU DI KAMPUNG, HAH? DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI!”


Kedatangan Velicia disambut ribut-ribut dari arah dapur, tepatnya di depan kamar khusus asisten rumah tangga. Wajah lelah Velicia terlihat jelas setelah di perpustakaan bertempur habis-habisan dengan fisika ceria. Langkah gontainya mengarah ke dapur.


“Bibi bawa kamu ke sini biar menjadi orang bener! Sekolah yang tinggi tanpa memikirkan biaya! Bisa kerja yang layak biar Emak-Abah kamu di kampung bangga! Hidup kamu dijamin di sini! Kelakuan bejat kamu bukan hanya mempermalukan diri kamu sendiri, tapi mempermalukan Bibi yang sudah membawa kamu ke sini! Bibi menyesal, Bibi sakit hati, rasa simpati Bibi untuk hidup kamu yang malang itu sudah tidak ada! Sekarang juga kamu pulang dan bilang sama Emak-Abah kamu kalau kamu hamil!”


Velicia langsung mematung di samping meja makan saat mendengar kata terakhir yang diucapkan Bibi.


Sumi menangis dan langsung berlutut di depan wanita separuh baya yang gemuk itu. “Hapunten, Bi. Hapunten! Sumi salah…. Tolong jangan katakan sama Emak-Abah. Sumi mau tinggal di Jakarta, Sumi mau cari kerja di sini, nanti Sumi pulang kalau udah sukses, biar bisa banggain Emak sama Abah.”


“PERCUMA! Semuanya sudah terlambat! Kamu sudah melunturkan kepercayaan almarhumah Ibu, Nyonya Oma, dan Non Velicia. Perempuan j*l*ng seperti kamu mana bisa sukses? Sekarang pergi! Bibi tidak mau melihat kamu di sini! Buat Bibi malu saja!”


“Apa itu benar, Sumi?” Velicia melangkah untuk menghampiri Sumi yang masih berlutut di depan wanita gemuk itu.


Sumi langsung beralih untuk berlutut di depan Velicia. “Tolong, Veli. Jangan pecat aku. Aku butuh kerja. Aku nggak akan buat malu lagi, aku akan gugurin bayi ini.”


PLAK


Gadis yang masih berseragam sekolah itu membulatkan mata seraya menatap tangannya yang baru saja menampar asisten rumah tangganya. Ini kali pertamanya tangan Velicia melukai orang lain. Namun, dia refleks karena ucapan Sumi yang akan menggugurkan bayinya. Malaikat kecil tak berdosa tidak perlu disalahkan atas kesalahan orang tuanya.


“Siapa laki-laki itu?” Velicia masih waras dan tidak perlu menghakimi Sumi seperti yang dilakukan wanita yang katanya sekampung dengan Sumi.


Sumi lama terdiam. Dia juga bingung siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Dan entah setan dari mana yang merasuki otak, pikirannya tertuju pada pemuda berwajah tampan yang belakangan ini dekat dengan Velicia, pemuda yang selalu belajar di taman dengan Velicia. Pemuda yang mempunyai sorot mata lembut, beraroma cendana, pemilik senyum yang meluluhkan hati. Sampai akhirnya…, dia menjawab, “David, teman kamu, Vel! Di ruang tamu pada sore hari,” jawabnya sambil menutup mata.


Badan Velicia lemas seketika. Sesaat otaknya langsung blank. Dia menggelengkan kepala sembari memijat pelipis. Ucapan tidak menjamin kejujuran, kan? Velicia harus berusaha berpikir positif. “Jangan sampai kamu gugurin. Veli jamin kamu mendapat pertanggung jawaban.” Hanya itu yang bisa Velicia ucapkan sebelum pergi ke kamarnya.


David melakukan kekejian?


Matanya berkaca-kaca saat memasuki lift sampai akhirnya menetes juga.


David?


Napas gadis itu tidak beraturan disertai sesak. Tidak! Dia harus percaya bahwa David adalah pemuda baik-baik. Ya, pemuda baik-baik saja. Semoga apa yang diharapkan memang itu kenyataannya.


***


Oma Rianti sudah hilang kepercayaan kepada David. Hal itu yang membuat Velicia semakin memutar otak untuk mengungkap fakta. Tidak semudah itu untuk bermain dengan Velicia. Untuk sementara waktu memang Velicia agak menjauh dari pemuda itu, membuat David semakin terpuruk atas fitnah yang menimpanya. Velicia hanya berpesan untuk jangan memberitahukan hal tersebut kepada orang tua David sebelum Velicia selesai menyelidiki.


Kasus kecil seperti itu cukup mudah bagi Velicia. Dia ke ruangan cctv untuk mengecek rekaman di rumahnya. Velicia bukan orang bodoh yang mudah ditipu. Jika benar David, pemuda itu tidak pernah jauh-jauh dari jangkauan Velicia hampir dua minggu belakangan ini, tepatnya sejak keduanya disatukan untuk mempersiapkan diri menghadapi olimpiade. Di sini harus ditekankan, bahwa David selalu ada di dekat Velicia, mau di sekolah ataupun luar sekolah. Mereka berpisah ketika malam hari saja. Mustahil David membelah dirinya menjadi dua, yang satu berada di sampingnya yang satu berada di pelukan Sumi.


Velicia mengamati monitor 24 inch tersebut menampilkan Sumi dan pemuda urakan memasuki kamar tamu dan teman-temannya ditinggal di luar. Pintu tertutup, empat orang yang berada di luar tersebut masing-masing menempelkan telinga ke pintu, persis saat dia dan David memergoki mereka setelah keluar dari kamar omanya.


Jadi, pemuda itu.


Namun, Velicia masih bisa berpikir positif. Mungkin mereka belajar kelompok di kamar tamu? Siapa tahu, kan. Atau pemuda urakan yang seragamnya tidak rapi tesebut sakit dan ingin istirahat di sana. Velicia menskip rekaman tersebut, setengah jam kemudian empat orang itu masih setia menguping. Dua jam kemudian tidak ada orang di sekitar sana. Velicia tidak menskip lagi, rekaman itu berputar dengan sendirinya. Sampai akhirnya Sumi keluar dengan tampilan seperti biasanya, tidak ada yang mencurigakan. Velicia kembali menskip, setengah jam kemudian seorang pemuda keluar dengan telanjang dada. Yang dipakainya hanya celana putih abu-abunya dengan keadaan kusut. Setelah menutup pintu tersebut, dia cepat-cepat memakai kaos putih tanpa lengan.


Semua bukti mengarah kepada dia. Foto profilnya Sumi juga foto pemuda itu. Bahkan, di facebook Sumi ada postingan mereka sedang berciuman.


Untuk membersihkan nama David, Velicia meminta izin pada Ms. Kelly tidak bisa belajar seperti biasanya. Hari itu juga semuanya harus selesai. Nama David tidak pantas untuk dinodai setitik pun.


“Baik, Non.”


Velicia harus ke sekolah Sumi. Di perjalanan tidak lupa mengabari David untuk datang ke rumahnya nanti malam. Praktis, cukup mudah untuk mendapatkan data pemuda tersebut. Sekolah mereka bukan sekolah elit dengan tingkat pengamanan yang tinggi. Cukup dengan berkata, “Saya membutuhkan data pemuda yang ada di foto ini.  Disebabkan suatu masalah yang dibuatnya sudah fatal.” Ketika guru yang berada di tata usaha itu bertanya-tanya, Velicia hanya menjawab privasi kemudian mereka menyerahkannya.


Mendatangi rumahnya? Iyalah. Velicia harus menyeret pemuda itu untuk mengakui kesalahannya di rumah.


Gadis jenius itu benar-benar cekatan, dia tidak mau nama David tercemar yang bukan disebabkan kesalahannya. Setengah jam setelah adan magrib, mereka berkumpul di ruang utama.


Ada Oma Rianti, David, Bibi, Velicia, Sumi, pemuda itu dan kedua orang tuanya, serta pengawas cctv rumah.


Pembawaan Velicia  yang selalu santai dan tidak menghakimi menciptakan suasana tenang di tengah ketegangan.


“Jadi benar?” Velicia mengamati pemuda di hadapannya setelah pria berjaket kulit warna cokelat terang menunjukkan rekaman cctv.


“Saya akan tanggung jawab,” jawabnya. Mengingat bahwa rumah megah itu adalah rumah Sumi, sepupu Sumi yang tak lain adalah Velicia, seorang gadis rupawan, pemuda itu bersedia menikahi Sumi karena kekayaannya dan Velicia yang cantik. Pernikahan dengan Sumia adalah awal keberuntungan hidupnya.


“Silakan datang ke orang tua di kampung. Bicara baik-baik tentang masalah ini. Cukup sampai di sini tanggung jawab saya atas hidupnya Sumi." Velicia melirik perempuan dengan rambut acak-acakkan dan kata sembab yang berdiri di samping kursi tunggal. "Sumi, kamu saya pulangkan malam ini juga, ditemani Bibi untuk memastikan kamu pulang dengan selamat,” kata Velicia dengan tenangnya.


“Bentar." Pemuda itu merasa ada kejanggalan. Datang ke orang tuanya di kampung? "Katanya Sumi anak yatim piatu. TERNYATA KAMU ANAK KAMPUNG, MI? Terus soal Velicia itu sepupu kamu, apa itu benar?!” Pemuda itu merasa tertipu.


Yang Velicia khawatirkan keadaan omanya. Bentakan pemuda itu langsung membuat omanya memegang dada sebelah kirinya. Menyaksikan pernyataan tentang salah satu asisten rumah tangganya yang menciptakan kebohongan besar membuat wanita itu shock sekali.


“Tolong bawa Oma ke kamarnya, Bi,” perintah Velicia pada wanita paruh baya yang gemuk itu.


Setelah omanya dibawa pergi, tidak ada lagi penghalang antara David dan Velicia.


“Vel….” David menundukkan kepalanya sedari tadi. Menjadi korban fitnah itu sangat memberatkan untuk David.


Velicia meraih tangan pemuda itu untuk memberi  ketenangan. David disalahkan tanpa melakukan kesalahan, pastinya shock berat. Apalagi difitnah melakukan kekejian. Dan Velicia mengerti sekali perasaannya.


“Sekarang apalagi kebohongan kamu, Mi? Ngaku kalau rumah ini milik kamu? Mengambil unag SPP untuk memenuhi kebutuhan kamu? Selama Veli kerja, Papa nggak ada, Oma ngurung diri di kamar, kamu mengambil kesempatan untuk menjadi ratu di rumah ini? Selama ini Veli diam bukan tidak tahu, Mi. Tapi Veli mau tahu sampai kapan kamu bertahan dengan kebohongan yang kamu ciptakan dan bagaimana cara mengatasinya. Dengan adanya insiden fatal ini, Veli sudah kehilangan rasa simpati untuk kamu. Terlebih kamu memfitnah David yang bahkan belum pernah menyentuh kulit kamu barang seinchi pun.


“Kamu salah memilih lawan, Mi. Untuk pertama kalinya, Veli melakukan kesalahan karena menyelematkan orang seperti kamu.”


“Harusnya kamu sebagai pembantu sadar, Sumi! Kamu bisa sekolah karena kebaikan almarhumah Ibu dan Non Veli. Harusnya kamu tahu diri—”


“Jadi, lo cuma pembantu di rumah ini?!” Pemuda itu langsung bangkit di antara kedua orang tuanya. Memotong ucapan Bibi yang baru kembali dari mengantar Oma Rianti “Heh, j*l*ng nggak tahu diri! Lo sama gue bukan pertama kalinya, ya! Gue tahu lo itu udah nggak perawan pas sama gue! Lagian dari kejadian itu baru dua minggu! Dua minggu, Mi! Masa iya baru dua minggu perut lo udah buncit begitu! Dan kalian harus tahu.” Pemuda itu menunjuk semua orang secara bergantian. “Gue bukan bapak dari anak yang dia kandung! Tanya aja tuh sama Ivan, Dian dan Rahmat. Mereka udah lebih dulu nyobain lo sebelum gue, kan?”


Sumi hanya bisa menunduk sambil terisak daritadi. Perempuan malang yang menciptakan kebohongan untuk menyakiti diri sendiri dan mengambil langkah tanpa berpikirkan panjang. Apa yang ditanam itu yang dipanen. Klop dengan perempuan itu, kan?


“Angga! Cukup! Jika kamu benar melakukannya, tanggung jawablah, Nak.”


“Enggak, Pak! Dia bukan anak Angga! Lagian dia yang nawarin diri duluan! Sampai kapan pun Angga nggak akan tanggung jawab!” ucapnya menggebu kemudian berlalu dari hadapan semuanya.


“Angga! Angga!” Kedua orang tuanya berusaha memanggil, tetapi pemuda itu tetap melangkahkan kaki keluar.


“Sudah, Pak, Bu. Tujuan saya meluruskan permasalahan ini untuk membersihkan nama David. Jika ada yang mau dibahas dengan Sumi, itu di bawah tanggung jawab saya dan jangan dibahas di sini. Veli beri satu jam untuk kamu membereskan barang-barang, Sumi. Setelahnya, go from here!” Velicia memberikan lima lembar uang warna merah kepada Bibi untuk ongkos mereka pulang. Kecewa dengan orang yang diberi kesempatan untuk sukses berakhir dikhianati. Kepalanya digelengken pelan seraya mengerjapkan mata untuk menahan air yang sudah menumpuk di kelopak.


“Makasih, Vel.” Tangan David dan Velicia masih berpegangan. Pemuda itu semakin mengeratkannya. “Kamu istirahat, ya. Aku mau pulang. Kalau nanti malam mau nangis, telepon aku.”