
“Kamu itu beda banget. Aku jadi kasihan lihatnya.”
Velicia menyandarkan punggung ke sandaran sofa, kedua jarinya menekan kedua mata.
“Kamu lagi banyak masalah, ya? Kelihatan banget soalnya.”
“Lebih baik kamu pergi,” usir Velicia yang tidak menyukai pemuda itu ada di kantornya. “Di sini pun nggak guna cuma ngerecokin doang.”
“Jalan, yuk!” ajaknya secara gamplang tanpa mempedulikan usiran Velicia.
Ingin sekali berkata kasar. Namun, Velicia tidak semudah itu untuk marah atau berkata kasar kepada David. Mungkin karena mereka terikat status ‘pacaran’? Tidak, bukan karena itu. Lagipula, sikap mereka tidak menunjukkan status itu. Tidak pernah jalan-jalan, chattingan, bahkan sayang-sayangan. Pernyataan perasaan saja tidak pernah ada.
“Ngaco.”
“Serius, Vel. Sejak di malam itu kita pacaran, terhitung hanya seminggu kita sama-sama. Selepasnya, kamu menjauh, tatapan kamu seakan berkata bahwa kita orang asing, kamu sering menghilang. Kita enggak pernah punya waktu buat jalan-jalan.”
“Veli ada tuh di saat kamu butuh. Siapa memperjuangkan mimpi kamu di depan ayah kamu?”
Skatmat. David disumpal kata-kata tajam oleh gadis itu.
“Di saat kamu sendiri aja lemah untuk berjuang. Atau, kamu cari perhatian Veli aja, ya saat itu?” Kalimat terakhirnya hanya bercanda, tetapi ekspresi dan nada suara Velicia seperti serius. Hal itu membuat David semakin kehilangan kata-kata untuk membalas.
David tidak punya niat sedikitpun untuk mencari perhatian gadis itu. Bahkan, ketika hari Velicia datang ke rumahnya dan meminta untuk bertemu ayahnya, David tidak tahu rencana gadis itu.
“Diam berarti iya.”
Kedua mata pemuda itu menatap Velicia sejenak kemudian membuang wajahnya. Di mata Velicia, David seburuk itu. Membela diri pun pasti tidak ada gunanya. “Aku nggak seperti yang kamu pikirkan. Namun, itu hak kamu untuk percaya ucapan aku atau tidak.”
Ternyata David baperan, hal itu sukses membuat Velicia ingin tertawa tetapi berusaha ditahan untuk melancarkan actingnya. Ekspresi pemuda itu ketika pasrah sangat menggemaskan. Hal yang membuat Velicia takut kehilangannya, mungkin?
“Maaf, Vel. Aku emang selalu nyusahin kamu, ya? Orang lain juga anggap aku mendekati kamu karena memanfaatkan kepopularitasan kamu. Padahal itu enggak sama sekali. Aku bukan orang seperti itu. Namun, itu kembali sama kamu mau percaya atau enggak. Aku hanya mengatakan kejujuran, soal percaya dan tidak, itu pilihan kamu.”
Lha? Sumpah, Velicia ingin ketawa jungkir balik mendengar kepasrahan seorang David. “Berisik! Kayak cewek,” kata Velicia dengan nada ketus.
“Aku serius.”
“Mana penghulunya?”
David mengerjapkan mata menatap gadis berekspresi datar itu. Beberapa detik kemudian Velicia meledakkan tawa di saat sudah tidak tahan lagi menahan tawanya. Tidak sampai di sana, Velicia juga semakin membesarkan tawanya ketika melihat wajah David merah padam. “Blusshing? Kamu nggak pa-pa?” tanya Velicia dengan kepolosannya seperti anak TK.
Pemuda itu tidak mampu berkata-kata. Velicia mengerjainya?
“Gitu aja salah tinggah,” cibir Velicia.
Gilak.
“Tadi mau ngajak jalan? Ke mana?”
David tidak mengerti dengan pola pikir pacarnya sendiri. Ini maksudnya apa? “Vel, aku nggak cari perhatian,” ujarnya tanpa mempedulikan pertanyaan Velicia.
“Kamu tuh anak IPA, pasti pinter menganalisis.”
“Apa hubungannya?”
“Berarti kamu bisa menganalisis ucapan Veli.”
“Percuma ngomong sama orang idiot.” David tidak mengerti apa yang diucapkan gadis itu. Sabodolah... semerdeka Velicia, mau bicara apapun terserah! David mau tutup telinga, percuma mendengarkan tetapi tidak mengerti maksudnya.
Cibiran David adalah hiburan tersendiri bagi Velicia. Yang Velicia tangkap dari kata idiot adalah, orang jenius sama orang idiot itu sama, sama-sama irasional. So, David memujinya jenius. Husnudzon. “Jadi jalan, nggak? Waktu Veli mahal, nih.”
“Kamu mau?” tanya David.
“Bodoh!” Velicia tidak kuat untuk tidak mengumpat. Pertanyaan David benar-benar membuat emosi Velicia teruji. Buat apa Velicia bertanya ‘jadi jalan, nggak?’ kalau tidak mau ikut jalan.
“Ya udah, maaf.” Pemuda itu menggaruk belakang lehernya sembari memamerkan cengiran yang membuat Velicia terkekeh. “Tapi kita nggak ketempat-tempat romantis.”
“Untung nggak berharap.” Gadis itu mengelus dadanya lega.
Duh, gombal lagi. Velicia tidak mempedulikan gombalan receh itu. Usai menyusun file dan mencabut charger laptop, dia menyambar tas gendong berkarakter keropi.
“Lucu. Pikirannya udah dewasa banget, kok kesuakaannya kayak anak kecil?” cibir David masih duduk di sofa.
Mendengar ejekan itu sontak membuat Velicia tidak terima. Tatapannya langsung tajam ke arah pemuda itu. “Oke, nggak jadi pergi,” ancamannya dengan nada ketus. Velicia yang tadi tertawa hilang entah ke mana.
“Eh, jangan! Maaf, aku bercanda.”
Velicia tidak menanggapi lagi. Langkahnya mengarah pintu. Baru saja tiga langkah melewati pintu, seorang pemuda berkumis tipis menghampirinya tergesa-gesa. “Ada apa?” tanya Velicia masih mempertahankan ekspresi datar.
“Little bos nggak diapa-apain sama cowok tadi, kan?”
“Pintu dibuka, kenapa?”
Pemuda itu menggeleng cepat. “Itu keluarga little bos?”
“Jangan mencampuri kehidupan orang lain.” Velicia berlalu tepat di saat David hadir di sampingnya.
“Lha, gue ditinggal lagi.” David buru-buru mengejar gadis yang berjalan cepat. “Vel! Dia cemburu tuh. Ada ya karyawan yang jatuh cinta sama bosnya sendiri?” teriaknya membuat karyawan yang bertanya kepada Velicia mendelik ke punggung David.
Velicia tidak minat membahas hal seperti itu. Dia masuk lift terlebih dahulu, hendak meninggalkan David, beruntunglah pemuda itu masih ada waktu untuk masuk.
“Jadi cewek cantik emang seru ya, Vel. Banyak yang suka,” ujar pemuda itu di dalam lift.
“Kenapa?”
“Kayaknya dia cemburu sama kita.”
“Dia atau kamu?”
Pacaran dengan orang yang kelebihan IQ memang menyusahkan. David pasrah begitu saja, percuma bicara sama Velicia kalau hasil akhirnya memalukan. Apalah David yang ******. Sadar dirilah….
Di lantai empat ada seorang yang masuk. David berdecak karena ada orang ketiga. Laki-laki pula, syukurlah bapak-bapak. Mereka berbincang formal sebentar dan tidak terasa sudah sampai di lantai dasar.
Keduanya beriringan menuju parkiran. David berjalan ke arah timur untuk mengambil papan skateboardnya. “Sepeda kamu?”
“Di bengkel. Tadi juga ke sekolah pakai ini.”
“Veli?”
David menepuk keningnya, merutuki kebodohan yang haqiqi sejak lahir. “Aku gendong.” Senyum pemuda itu melar ke mana-mana meski dari nada bicaranya terdengar bercanda. “Bercanda, Vel. Aku pesan grab aja, ya? Wait….” Tangannya mengambil benda persegi panjang di saku jas almamaternya. “Bentar, Vel, download dulu aplikasinya.”
Niat jalan-jalan enggak? Velicia mengerucutkan bibirnya jengkel dengan tingkah pemuda itu, tetapi lucu juga. Di mana ada pemuda modelan seperti ini? Langka, sama rata dengan hewan-hewan yang hampir punah.
“David, kamu ke sini mau ngapain?”
“Lihat kamu. Tapi pengin terus sama kamu, hari ini aja, sebelum besok kembali asing lagi,” jujur David.
“Nggak niat ajak jalan?”
“Enggak.”
Pantesan. Velicia mengulum senyum. Dia tidak salah prediksi dengan David, pemuda itu spontanitas, tetapi bisa mengatasi masalah dengan secepat mungkin.
“Mobil kantor banyak tuh. Kamu ini, bodoh!”
Yang diejek hanya mengulum senyum. “Siapa yang mau nyetir, Vel? Aku kan bukan cowok keren, ke sekolah aja pakai sepeda.”
Tumben David cerdas! “Bisa nyuruh orang. Banyak anak buah ini.”
“Dih, mulai sombong. Mereka kan kerja, Vel.”
“Paksa berhenti aja,” ucap Velicia dengan gampangnya.
“Sultan mah bebas!”