
Taman sampaing sekolah sudah menjadi markas mereka berdua. Karena David lebih pro dalam edit-editan, Velicia menyerahkan soal desain kepada pemuda itu. Sama seperti kemarin, tugas Velicia hanya mendikte, David yang menulisnya.
“Bagi, dong,” pinta David hendak merebut makanan ringan yang ada di tangan Velicia.
Gadis itu menjaukan makanan itu dari jangkauan David. “Nggak boleh.”
“Kok gitu, sih? Kan aku yang beli.”
“Kan ini punya Veli. Cuma buat Veli,” balasnya tidak mau kalah.
“Itu pakai uang aku loh, Vel." David mencoba mengingatkan.
Gadis itu mendengkus seraya mengambil selembar uang warna merah dari saku jas almamater sekolahnya. “Lunas, ya.”
David mendengkus sambil kembali fokus kepada kerjaannya. Tanpa mempedulikan uang yang disodorkan Velicia. Gadis itu tidak kehilangan cara untuk menggantikan uang yang dikeluarkan David untuk membeli makanannya. Velicia tersenyum penuh kemenangan saat memasukkan uang itu ke saku jasnya David.
Velicia kembali fokus ke ponselnya. Arah kameranya diarahkan ke wajah pemuda yang tengah serius ke monitor laptop. “Pangeran gantengnya Veli fokus mulu ke laptop. Kapan ke Velinya coba.” Gadis itu menutup mulutnya untuk tidak mengeluarkakn tawa terlalu besar. “David, senyum, dong,” pintanya seraya mengguncang bahu pemuda itu. “Veli lagi ngevlog, loh. Jangan buat malu, ah. David ayolaaah senyuum.”
Tingkahnya Velicia memang lucu. Namun, David berusaha tidak mudah menuruti apa perintah gadis itu.
“Cowok ganteng emang pelit senyum, ya. Ckckckc.” Velicia membalikkan fitur kamera menjadi kamera depan. “Veli jadi kesel sama cowok yang namanya David, tanpa alasan.”
David segera merapatkan diri dengan Velicia, dia memunculkan diri di ponsel gadis itu. Senyumnya ditunjukkan lebar sekali. “Bagaimana, Princess? Udah puas?”
“Lagi, dong,” pintanya.
Pemuda itu menurut.
“Makasih.”
Hal terindah dalam hari David adalah seperti ini. Bisa bersama Velicia dan melakukan sesuatu yang berguna. Sudah cukup dirinya tersiksa oleh kata\-kata Jeani yang selalu membuatnya optimis. Kini, bersama Velicia, David merasa adanya kenyamanan. Jeani akan selalu menjadi sahabatnya, tapi tidak bisa lagi sedekat dulu, karena Velicia mampu membuat harinya lebih berwarna. Sehari tanpa gadis itu, seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
Pemuda itu tersenyum penuh arti, hatinya memgucap beribu syukur atas hadirnya Velicia dalam hidupnya.
Karena Velicia sibuk ngevlog, sesekali David mencuri makanan ringan gadis itu.
“Vel, aku izin mau gombalin kamu.”
“Apa?”
“Hariku sesederhana itu, secerah biru di atas sana saat bersama kamu.” David membaca quotes yang baru saja ditulisnya.
“Itu quotes kamu yang buat, kan?” tanya Velicia menyidik sembari melirik ke layar laptop.
“Kamu yang buat.”
“Yang buatnya emang aku, tapi terinspirasi dari kamu.”
Velicia menutup wajah bagian bawahnya dengan telapak tangan. Setelah senyumnya mulai luntur, dia kembali berani menunjukkan wajah secara keseluruhan pada kamera. “Oke, jadi nanti kalian gampang menebak. Veli sama David lagi buat projek bareng. InsyaAllah secepatnya terbit, kebetulan juga saat Veli mengajukan naskah ini, penerbitnya langsung terima. So, jika nanti kalian beli karya kami, terus bertanya\-tanya quotes mana yang dibuat Veli dan mana yang dibuat David, kalian bisa membedakan kata\-kata kami dengan mudah. Yang ada bau\-bau bucin, itu made in David. Anak bucin tingkat dewa banget orangnya. Veli udah nggak tahan.”
“Kenapa? Baper?”
Velicia tersenyum seraya menggeleng. “Enggak. Veli udah kebal denger kata\-kata bucin kamu. Rasanya gimana gitu, bodo amatlah.”
David tertawa puas melihat ekspresi gadis di sampingnya. “Kalau baper harap bilang.”
“Kenapa harus bilang?”
“Karena aku harus tanggung jawab.”
“Caranya?”
“Menjatuhkan kamu akibat diterbangkan sama kata\-kata aku.” Pemuda itu tertawa melihat Velicia yang tampak ingin marah.
“Kamu sadis banget, deh. Jadi serem. Sekalinya Veli punya teman, kenapa modelan seperti ini?” Velicia menatap tidak suka kepada pemuda di sampingnya.
“Aku yakin kamu nggak akan baper, Vel. Tapi aku jamin, mereka yang lagi nonton kita bakalan baper. Iyalah, dibaperin cowok seganteng ini, siapa sih yang nggak baper?”
Gadis itu pura\-pura ingin muntah mendengarkan coletah David. Dia masih tidak percaya bahwa tingkat percaya diri David sudah melampaui batas.. “Kamu rese. Vlog Veli jadi nggak jelas gara\-gara kamu. Kalau nggak ada yang nonton, kamu tanggung jawab, ya.”
David mengangguk seraya menekan enter di keyboard. Kedua tangannya direntangkan ke depan. “Justru penontonnya akan banyak. Kan ada cowok super ganteng ini.”
“Sejak kapan kamu percaya diri tingkat dewa gini?”
“Sejak mengenalmu, Bidadari Cantikku.”
Tidak ada bawa perasaan dalam gombalan receh ini. David memang selalu menggombal, tapi Velicia tidak termakan gombalannya. Gadis itu selalu menjawab tidak baper saat David bertanya apakah gadis itu terbawa perasaan atau tidak. David percaya jawabannya, karena gadis sepolos Velicia tidak mungkin berbohong.
“Iya, Veli tahu veli cantik.”
“Aku ganteng.”
Gadis itu memutar bola matanya malas. “Nggak, kamu jelek.”
“Aw, kakak sakit hati, Adek!”