
Velicia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Apa salahnya jika memberikan strike multipad pada David? Sejak Velicia kerja, pemasukan ke dalam rekeningnya mengalir deras. Setelah papanya kembali, biaya pegawai di rumah dan uang bulanan ke yayasan berpindah ke tangan kepada Hans. Velicia sudah tidak punya beban, dia kerja untuk pelampiasan, bukan dituntut untuk memenuhi kebutuhan lagi. Apa salahnya membantu David? Dia punya banyak uang, tetapi tidak tahu harus diapakan.
Setelah menyuruh orang kepercayaannya untuk membelikan dan memberikan alat musik modern itu kepada David, pemuda tersebut langsung menemui Velicia di kelasnya ketika waktu istirahat.
“Aku kan bilang nggak usah, Vel! Kenapa kamu bandel banget, sih?” David mengacak rambutnya frustasi. Alat musik yang diberikan Velicia harganya belasan juta, bagaimana dia tidak stress? Kesannya itu seperti David memanfaatkan kekayaan pacarnya.
Gadis itu menatap datar pemuda di depannya. Sorot mata itu sulit untuk ditebak. Tanpa satu kata pun, dia berlalu ke kelasnya. Meninggalkan David yang menatap tidak percaya. Baru dua hari yang lalu mereka jalan-jalan, sekarang kembali asing? Ada apa dengan gadis itu? Perlu David dekati seperti kemarin untuk kembali dekat?
“Pacar lo makin songong, ya,” celutuk Jeani yang tengah melipat tangan dan menyandarkan punggung ke tembok.
“Dia baik,” bela David.
“Yang kayak gitu?” tanya Jeani dengan suara mengejek.
Pemuda itu memutar matanya jengah. “Jangan mulai, deh.”
“Iya, iya! Pacar lo baik. Sampai rela ngeluarin duit belasan juta buat cowoknya. Bucin akut, tuh. Hati-hati, Dav, pas udah putus entar minta dibalikin.”
“Lo doain gue putus?!”
Jeani membulatkan mata seraya menutup mulutnya yang menganga. Beberapa detik setelahnya langsung cengengesan dengan wajah tanpa dosa. Dia tahu bahwa sahabatnya tidak mungkin marah hanya karena cibiran kecil. “Engak, Dav. Eh, Fanya nih kirim SMS. Dia dan Randi udah di rooftop.”
“Oh, lo duluan ke sana. Gue mau ambil kamera ke kelas.”
“Bodoh! Kenapa tadi nggak dibawa ke sini?”
“Lo nggak ingetin.”
Sekarang Jeani disalahkan tanpa melakukan kesalahan. Gadis itu menghela napas dan memilih mengalah daripada mendebatkan suatu hal yang penting. Arah langkah keduanya berlawan.
Ini shooting yang terakhir. Lima bulan lebih memproduksi film pendek dengan fasilitas sederhana, tetapi diolah menjadi berkualitas di bawah tangan David. Film pendek yang menjadi awal langkah David dikenal oleh dunia maya, tidak lupa dengan bantuan Velicia. Pengorbanan sudah tidak terhitung lagi, materi, tenaga, pikiran, dan waktu. Namun, David puas dengan apa yang didapatnya. Terlebih, dia sudah menerima pendapatan dari youtube. Meski belum terlalu besar, setidaknya David senang karena karyanya terkesan dihargai.
Pemuda itu berlari menaiki anak tanga menuju rooftop. Di sana sudah ada Randi, Bara, Fanya, dan sahabatnya. Tanpa mereka juga, David tidak akan sampai di titik ini.
“Nggak kerasa ya, Kak. Udah tamat aja,” ujar Bara yang selonjoran satu kaki dan satu kakinya lagi ditekuk.
“Ya… gue juga merasa begitu. Gue udah anggap kalian seperti keluarga, kita disatukan oleh projek film ini. Harapan gue ke depannya sih semoga kita nggak saling melupakan dan tetap bersapa kalau bertemu di mana pun. Thank you buat kalian yang udah bantu gue sampai di titik ini. Ini sebuah mimpi yan tidak terencana, tetapi bisa dibilang sukses.” David memberi jeda untuk mengatur napasnya. “Thank you juga buat sahabat tersayang gue, Jeani. Lo berpengaruh banget buat gue, sebuah kebanggaan tersendiri punya sahabat kayak lo. Jangan bosen-bosen gue repotin terus.”
“Santailah. Gue akan selalu ada buat lo,” balas Jeani senang.
David mengangguk sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Senyumnya tercetak miring seraya terkekeh. “Harusnya mellow-melow gini di akhir, ya. Gue salah nempatin situasi. Yok, ah! Kita mulai shootingnya.” Pemuda itu bertepuk tangan untuk menyemangati.
“Action!”
“Lebih baik kamu lepaskan daripada kamu miliki tetapi dia tidak mau digenggam. Biarkan Devan dengan keputusannya menemui Ania di Inggris. Perasaan mereka ada untuk diperjuangkan hingga melukiskan cerita. Kalau itu untuk kebahagian Devan, kenapa kamu enggak mencoba untuk ikhlas?”
“Iya. Gue lagi mencoba buat ikhlasin Devan.”
“Semangat, Diandra. Kasih tahu aku kalau udah ikhlas melepas Devan. Biar nanti aku jadikan kamu milik aku.”
Langkah David perlahan maju, mendekati kedua punggung remaja yang menikmati semilir angin. Gerakan kakinya berhenti sesaat kemudian diputar seratus delapan puluh derajat. Kamera yang dikendalikan David mengambil Fanya yang berdiri di depan pintu rooftop sebagai objeknya dengan pandangan kosong.
Ekspresi Fanya dibuat seterluka mungkin melihat pemandangan dua remaja yang berdiri di depan pembatas. Patah hati sangat terlihat jelas dari sorot matanya.
David perlahan mendekat ke gadis malang itu. “Devan pergi, Randi sama orang lain.” Fanya mengembuskan napas kasar seraya mengerjap-ngerjap mata ketika mendongak. “Harusnya dari awal aku sadar, tempatku bukan di sini.”
Berakhir?
David mengakhiri pengambilan videonya kemudian geleng-geleng tidak percaya.
Berakhir?
Ini benar sudah berakhir?
“Sumpah, sih, gue belum percaya udah berakhir,” ujarnya. “Buat kalian semua, terima kasih banget udah mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran buat projek ini. Kerja sama timnya benar-benar terasa. Gue tanpa kalian itu siapa?” David membiarkan kameranya mengalung di leher. Matanya menjelajah ke wajah-wajah timnya. “By the way, ada kenang-kenangan dari gue. Biar kalian ingat terus sama gue dan teman-teman di sini. Gue udah pesen kaos dan ada nama judul film ini, sore nanti dibagiin. Kalian datang aja ke kafe Mandala pukul empat, kita kumpul-kumpul sebagai akhir perkumpulan.”
“Kok gue sedih, sih?” rengek Jeani yang matanya sudah berkaca-kaca. Begitu pandangannya bertemu dengan Fanya, dia langsung menabrakkan diri ke adik kelasnya itu. “Gue belum siap pisah sama kalian. Meski kita masih satu sekolah, tapi kan setelah ini kita kembali ke dunia masing-masing.”
“Sama, Kak. Aku sedih banget akan berpisah sama kalian.”
Para pemuda menyaksikan dua perempuan yang berpelukan itu geleng-geleng kepala. Kaum Adam juga sedih, tetapi tidak bisa pelukan sebebas mereka. Nanti terjadi fitnah jika itu terjadi. Mereka hanya bisa bertos lalu menepuk pundak dua kali yang dapat diartikan sebagai tanda menyemangati atau perpisahan.
Fanya, Bara, dan Randi, sampai kapanpun David tidak akan melupakan mereka.
“Sukses terus, bro! Gue tunggu karya-karya selanjutnya.” Randi tersenyum memberi semangat pada produser film mereka sekaligus pemeran utamanya.
Ini pengalaman pertama bagi mereka. Di mana David dan Jeani berakting pertama kalinya, Bara yang membanting stir menulis genre fiksi remaja, serta Fanya dan Randi berakting di genre fiksi remaja, bicara cinta-cintaan saat akting.
“Thanks banget. Gue bukan David yang seperti ini tanpa kalian.”