For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Belajar Bersama



Velicia tidak tahu ada perpustakaan sebesar itu di kamar omanya. Empat lemari menjulang penuh buku tebal-tebal. David adalah pemecah rekor pertama orang asing yang diizinkan masuk ke kamar wanita itu. Secara keluarga Velicia terlalu memprivasikan kamar masing-masing, hanya anggota keluarga itu saja yang boleh masuk.


Bertumpuk-tumpuk buku telah dipilih untuk bahan pembelajaran.


“Kalau David pinjam ke rumah, boleh?”


“Bawa saja. Opa pasti senang jika buku-bukunya dimanfaatkan.”


“Kenapa nggak disumbangkan ke perpustaan sekolah-sekolah, Oma?” tanya Velicia miris melihat sudut rak yang dipenuhi jaring laba-laba. Bahkan banyak buku di sana terlapisi debu.


“Anakku akan ke sini kalau buku  yang dicari tidak ada di perpustakaannya.”


“Setiap kamar di sini punya perpustakaan, Oma?” tanya David.


“Punya. Yang Velicia ada di langit-langit kamar. Bukunya banyak yang berantakan karena sebagian bukunya tidak muat di lemari,” jawab Oma Rianti seenak jidat membuat cucunya membulatkan mata.


“Jangan buka aib, Oma.”


“Ternyata kamu jorok juga ya, Vel.”


Gadis itu tidak menanggapinya lagi. Langkahnya menuju ke rak sebrangnya. Mata Velicia meneliti jajaran buku sampai akhirnya jatuh cinta pada buku Problem in General Physics karya I.E. Irodov yang jilidnya warna hitam.


“Itu dulu punya Oma.”


“Pinjam ya, Oma.”


“Nggak perlu pinjam segala. Itu udah jadi punya kamu mulai sekarang.”


Hampir dua jam mereka memilih buku sampai terkumpul satu dus. Setelah sadar bahwa bahan bacaannya terlalu banyak, tiga orang itu keluar. Oma Rianti yang merasa kelelahan karena terlalu lama berdiri memilih istirahat. David terlihat keberatan membawa buku satu dus itu dan Velicia berinisiatif untuk membantu. Namun, pemuda itu menolak.


Sebagai seorang princess, Velicia tidak boleh membawa hal-hal yang berat, David tidak mau gadis itu kelelahan.


“Kita belajarnya di bawah pohon yang waktu itu ya, Vel. Yang ada ayunannya.”


Velicia mengangguk menyetujui.


Mereka berjalan bersisian sampai akhirnya menemukan kumpulan teman-temannya Sumi merapatkan telinga ke pintu besar warna putih bertulisan ‘guest room’. Velicia mengerutkan kening dengan pertanyaan bergentayangan di kepala. ‘Lagi apa mereka di depan kamar tamu?’


“Sumi dan satu cowok itu mana?” tanyanya. Tadi ada dua laki-laki, Velicia tidak salah ingat. Namun, sekarang hanya hanya satu orang.


Mereka serentak kaget. Sebelum ada yang menjawab pertanyaan Velicia, mereka gelapan semua. “Di luar, Kak. Lagi cari angin,” jawab salah satu dari mereka sebagai perwakilan.


“Ngapain di sana?”


“Ta…di suara itu ada suara dari sana, di dalamnya, Kak. Tapi ini dikunci. Susah. Jadi kita gini deh.”


Apa mereka tidak pernah belajar bahasa Indonesia atau tidak fokus pada saat belajar itu? Kosa katanya terlalu berbelit. Velicia tidak berminat bertanya lagi kepada mereka. Langkah Velicia kembali berlanjut diikuti David dengan pandangan yang tidak lepas dari pintu tersebut.


Tidak ada gunanya mereka menerka-nerka apa yang teman-temannya Sumi lakukan. David sangat penasaran dengan mereka. Namun, Velicia berkata bahwa itu bukan urusan David. Akhirnya pemuda itu diam. Empat kaki milik sepasang remaja itu mulai memasuki area ladang rumput.


“Bukannya pas hari itu kamu langsung gila ya karena dipilih oleh Mr. Hayyan?”


David mengulum senyumnya sambil terus melangkah. “Waktu itu kan kaget. Nggak percaya bercampur senang. Sekarang bahagia banget. Ayah dan Bunda bangga banget. Terus bisa dekat sama kamu lagi. Padahal, ya, kita pernah nggak saling sapa dalam waktu berbulan-bulan. Kamu masih ingat, nggak?”


“Kamu nggak tahu mumetnya Veli saat itu. Untung aja otak Veli nggak meletus.”


Pemuda itu tertawa renyah sambil menyimpan dus itu di kursi yang didesain seperti pohon yang sudah ditebang. “Kamu terlalu tertutup sama aku sampai membuat aku cemburu karena pelukan dengan Kak Rio.”


“Ngobrolnya dilanjut nanti. Kita belajar dulu.”


Mereka masuk zona serius. Buku demi buku mulai dibaca. Memahami terori, menganalisis, dan menjawa soal-soal. Tidak ada suara yang mengisi kecuali embusan angin. Velicia sering berganti posisi untuk mencari kenyamanan. Mulai dari duduk di atas rumput, duduk di kursi, berbaring, selonjoran, bahkan berbaring. Beda lagi dengan David yang anteng-anteng bae di ayunan dengan bolpoin diselipkan di atas daun telinganya.


Pemuda itu sesekali memijat pelipis, pusing sendiri karena dipermainkan salah satu soal. Dia rasa rumusnya benar, perhitungannya juga benar, kenapa tidak ada jawaban di option? David menyederhanakan bilangan tersebut, tetapi tidak mendapat jawaban juga. Terlalu kesal karena soalnya menjengkelkan, dia mengacak rambut dengan kasar.


Suara notifikasi dari ponsel Velicia membuat gadis itu bangun. Ms. Kelly mengirim file yang berisi modul pembelajaran disertai latihan soal di dalamnya. Dia segera membalas untuk mengucapkan terima kasih kemudian menyimpan benda cerdas tersebut di atas tumpukan buku.


“Vel, nomor kamu yang dulu tidak aktif?”


Gadis itu menoleh. “Hp dan kartunya hilang.”


“Hm… pantes.” David kembali lagi menunduk, mencoba mencari jawaban lagi. Bukan David namanya kalau mudah putus asa. Dia berusaha fokus pada soal, menahan diri untuk tidak meminta nomor Velicia yang baru sekarang, nanti juga ada waktu.


Cakrawala mulai  dikuasai senja, tetapi tak mengusik kegiatan dua insan itu. Dari sebelah utara taman ada dua mata yang mengawasi, tatapannya penuh iri dan tidak bersahabat. Kemudian dari belakang muncul seorang pemuda yang rambutnya acak-acakan dan seluruh kancing kemeja sekolahnya terbuka, memperlihatkan kaos putih yang kusut.


“Sumi, thank’s, ya. Gue balik dulu,” ujar pemuda itu dengan suara parau.


Sumi menggigit bibir bawahnya tanpa ada minat merespon ucapan pemuda itu. Dirinya dikuasai keinginan berada di posisi Velicia, punya segalanya, bergelimbang harta, bersekolah di sekolah yang bisa dibilang kaum bangsawan, punya rupa yang sempurna, dan dikenal banyak orang di dunia maya. Bayangannya tertuju pada waktu tes di SMA Pancasila. Di mana dia tidak bisa menjawab satu soal pun karena soalnya memakai bahasa Inggris, dia pun tidak bisa mengeluarkan suara saat diwawancara menggunakan bahasa internasional itu.


Merutuki diri sendiri yang bodoh membuat hatinya semakin iri kepada gadis yang sedang belajar bersama pacarnya. Hidup tanpa rasa syukur selalu penuh kekurangan, itulah kenapa Sumi tidak menyukai putri majikannya.


“Kenapa hanya melihat saja? Kalau mau belajar bersama, gabung saja sama mereka.”


Sumi tersentak dan langsung menoleh. Wanita paruh baya di sampingnya tersenyum penuh ketulusan. “Di sini saja Oma. Sumi udah belajar, kok.”


“Oh, baguslah. Kamu tahu, nggak? Cucuku dan Nak David itu mau ikut olimpiade internasional. Oma itu bangga sekali sama mereka, cocok juga, kan? Cantik dan ganteng, sama-sama cerdas, kesukaan mereka juga banyak yang sama.”


“Iy…ya, Oma.” Seumur hidupnya, Sumi merasa belum pernah ada yang memuji seperti orang lain memuji Velicia. Yang ada dirinya selalu dihina, direndahkan, dan seakan tidak dianggap.


“Sumi, kamu itu harus banyak belajar dari cucuku. Semester kemarin juara parallel, bisa menjadi arsitek tanpa sekolah artitektur terlebih dahulu, pintar menulis, dan banyak bakat-bakat lainnya.” Wajar jika seorang nenek ingin membanggakan cucunya di depan orang lain. Namun, Oma Rianti salah membanggakan Velicia di depan orang seperti Sumi. “Oma itu bangga sekali punya cucu seperti dia. Andai menantuku masih ada di sini, pasti bangga sekali.”


Terus aja dipuja-puja. Nggak Oma, nggak Bibi dan pembantu lainnya, nggak temen-temen di sekolah, semuanya aja puji-puji Velicia. Lo juga manusia biasa, Vel. Lo nggak pantes dapat pujian berlebihan dari semua orang! Apa spesialnya lo, sih? Muka datar aja belagu.


“Kamu masuk, gih. Siapkan makanan untuk kami makan malam. Menunya harus spesial, Oma akan ajak Nak David makan malam di sini.”


Ini nasib atau apa? Velicia dipuja-puja, tetapi Sumi diperintah-perintah. Dia benci dengan pekerjaannya yang sebagai babu, orang lain seenaknya memerintah.