For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Membangun Dunia II



Pemuda itu mengangguk\-anguk saat membaca naskah yang dibuat Bara. Dia memang tidak salah memilih orang. Kepergian Velicia darisampingnya membuat semuanya sekan hancur, untuk membangun kembali perlu perjuangan. Apalagi Bara adalah penulis ganre fantasy dan horror, tentu saja bukan zonanya untuk menulis cerita fiksi remaja. Namun, David memberi semnagat bahwa Bara bisa melewati semuanya.



“Plot hole nggak sih, Bar?” tanyanya sambil menunjukkan naskah itu pada penulisnya. “Ania hilang begitu aja, apa itu nggak ngebingungin?”



“Kata Kak David kan pemeran Ania nggak bisa shooting lagi. Ini nyambung, kok. Ania tiba\-tiba nggak sekolah, terus Devan nyari sampai ke rumahnya. Nah, asisten rumah tangga Ania ngasih tahu kalau Ania pergi ke luar negeri,” jelas pemuda itu diangguki David yang duduk di kursi yang didesain seperti pohon sudah ditebang. “Pemeran Ania mendadak hilang, dan yang menjelaskan itu semua asisten rumah tanggannya. Paham?”



David terdiam sesaat seraya membolak\-balikkan naskah tersebut. “Part ini banyak mewek. Lo mau nyiksa gue yang meranin sosok Devan? Gue nggak pinter nangis.”



“Coba latihan dulu, Kak. Kalau Fanya dapat scane nangis suka banyangi hal\-hal yang sedih, baru bisa nangis,” saran Fanya yang berdiri di samping Jeani.



“Ini yang mau jadi pemeran asisten rumah tangga siapa?” David geleng\-geleng kepala. Namanya juga memulai dari awal tanpa Velicia, rasanya benar\-benar beda.



“Asisten rumah tangga gue ikhlasin buat lo pake, Dav. Rumah gue kalau mau dijadiin rumah Ania juga boleh. Gimana?” tawar Jeani.


Dia memang sahabat terbaik kesayangan David, sampai kapan pun. Sahabat paling mengerti dari siapa pun. Pemuda itu tersenyum tulus pada Jeani disertai anggukan. Jari telunjuk dan jempol David membentuk huruf O yang ditujukan untuk sahabat kesayangannya.


Diskusi sore itu berlangsung sampai pukul lima sore di halaman rumah Jeani. David berucap terimakasih pada dua adik kelasnya yang sedia membantu. Hatinya menghangat ketika membayangkan perjuangannya berhasil dan nanti akan ditunjukkan pada Velicia.



“Dav, tadi Kak Reno ketemu sama gue di koridor,” ujar Jeani setelah mereka hanya berdua saja di halaman rumah. “Lo ajak dia buat ikut di projek film kita, kan? Katanya dia nggak bisa tanpa ngasih tahu alasan kenapa nggak bisa ikut. Tapi dia rekomendisiin adik kelasnya buat diajak main film ini. Namanya Randi, anak IPS, seangkatan sama kita. Menurut lo, gimana?” Gadis itu scrool down layar ponselnya sampai menemukan sebuah foto. “Ini fotonya, ganteng, kok.”



“Ya udah, besok lo temuin dia, terus ajak gabung sama kita. Kita juga butuh pemeran cowok, kan?”



“Baik, Bosku.”



Belakangan ini Jeani sangat berjasa dalam perjuangan David. Tanpa bantuan sahabatnya, pemuda itu belum tentu sampai di titik ini. Hal terindah yang ditunggu, David semakin senang, kini Jeani mendukung penuh semua mimpi\-mimpinya.



“Jea, kalau nanti gue ajak lo makan malam, mau?”



David bodoh. Tanpa ditanya pun pasti mau. Terhitung sejak bertemu dengan Velicia, ikatan persahabatan mereka hampir saja pecah. David menyadari semakin dekat dirinya dengan gadis sejuta pesona itu, semakin jauh pula dengan sahabatnya. Kini, saatnya memperbaiki semuanya.



Jeani mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Antara David dan Jeani akan seperti dulu lagi, kembali dekat. Gadis itu memandang pemuda di depannya secara terang\-terangan. David menyergitkan kening untuk bertanya alasan Jeani menatapnya seserius itu.



“Perasaan lo sama Veli, gimana?” tanyanya pelan.



“Masih sama.”




Pemuda itu terdiam beberapa saat. Bayangan senyum Velicia yang indah membuatnya tanpa sadar ikut tersenyum. Satu per satu kalimat motivasi yang Velicia katakan membarakan semangat dalam dada. Perjuangan gadis cantik itu telah membawa langkahnya sejauh ini. “Dia penopang gue,” jawabnya dan semakin melebarkan senyuman.



“Kalau gue?”



“Orang yang selalu berjalan di samping gue.”



Kesalah pahaman terjadi. Dibandingkan dengan Velicia yang menjadi seorang penopang, Jeani menduduki posisi lebih tinggi. Benar dugaannya, David hanya memanfaatkan kepopuleran Velicia saja.



“Kenapa lo? Senyum\-senyum sendiri, kayak orang gila,” cibir David membuat gadis itu tersentak dan langsung menunduk salah tingkah.



“Thank you udah mau jadiin gue yang ada di samping lo.”



“Nggak usah kepedaan. Jadilah kayak Veli, yang digombal dikit aja nggak pernah baper.” Pemuda itu berkata dengan santainya seraya memasukkan kedua tangan ke saku celana selututnya.



Jangan tanyakan seberapa sakit dijatuhkan oleh ekspetasi. Gadis itu menunduk sambil cemberut. Ternyata hanya gombalan. Jeani sering menerima gombalan, dan sialnya selalu saja terjerumus. “Cewek kalau digombalin, ya pasti baper, Dav. Lo harus tahu kalau cewek mudah ngefly.”



“Tapi Veli jarang baper, tuh. Dia anaknya nggak mudah percaya apa kata orang. Salut deh sama dia.”



“Lo bandingin gue sama Veli?”



“Iya,” jawab David tanpa beban. “Lo itu harus belajar dari dia. Udah bertahun\-tahun gue gombalin lo, eh masih baper.”



Jeani menyembunyikan wajah sedihnya dengan seulas senyum. Seperti ada yang meremas hatinya. “Mending lo pulang, Dav. Lo hancurin mood gue tahu!” ujarya dengan nada tidak suka. Dia berdiri seraya memalingkan wajah sahabatnya kemudian melangkah memasuki rumah. Harusnya dari dulu tidak pernah berharap sedikit pun pada sahabatnya.



Itulah David dengan segala kejujurannya. Dia tidak segan\-segan berkata sadis pada sahabatnya sendiri. Bukan pada Jeani saja seperti itu, pada Velicia juga pernah. Di sanalah perbedaan mereka berdua, Jeani terlalu meninggikan perasaannya sedangkan Velicia lebih mengedepankan bodo amat. Jangan salahkan David jika Jeani terluka, karena itu kesalahannya sendiri.



Sikap Velicia yang seperti itu membuatnya kagum. Jika harus memilih antara Jeani dan Velicia, David tidak akan berpikir dua kali untuk memilih adik kelasnya itu.



“Jea, jangan lupa nanti malam. Kita dinner, oke? Nanti gue mau nyanyi di café buat lo,” teriaknya di depan rumah Jeani sebelum melenggang pulang ke rumah di sebrang sana.