For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Break



David mengupload film pendek part ketiga. Apa yang dimulainya harus selesai meski tanpa dukungan ribuan orang. Semuanya harus diawali dari nol. Setelah video berdurasi 8.04 itu dapat dilihat dunia, pemuda itu harus menyiapkan hati. Tanpa promosi yang dilakukan oleh Velicia, videonya mustahil ditonton ribuan kali dalam waktu singkat.


“Nanti gue bantuin promosi,” kata Jeani seraya menepuk pundak sahabatnya untuk memberi semangat.


“Thank you.”


Gadis itu tersenyum sebagai respon. Setelah berhasil di upload, Jeani mengambil alih laptop untuk menonton ulang video itu. Dia tersenyum saat melihat dirinya acting dengan David. Di sana Jeani memasang wajah kesal ketika David berjalan cepat di koridor sekolah. Jeani mesengaja mengentakkan kakinya degan keras menyusul David.


“*Pacar kamu yang sebenarnya itu dia atau aku, Devan?” teriak Jeani di sela-sela berjalan cepat.


“Kamu, Diana,” jawab David tanpa menghentikan langkahnya.


“Terus kenapa kamu lebih peduli sama Ania? Sampai mau capek-capek samperin dia ke kelasnya segala.”


“Emang salah kalau aku peduli? Kamu nggak ada hak untuk melarang.”


“Tapi dia bukan siapa-siapa kamu*!”


Senyumnya mengembang atas bangganya Jeani bisa acting seperti itu, meski ekspresinya masih agak kaku. Maklumlah, dia bukan Velicia si gadis multitalent. Velicia bersikap dingin di dunia nyata, tapi di depan kamera bisa memainkan berbagai ekspresi. Mereka melanjutkan menonton video itu sampai akhir.


Jeani merogoh ponsel yang ada di saku celanannya. “Wait-wait. Gue like nih, ya.”


“Jea, Bi Iyem bisa juga ya aktingnya,” puji David sambil memundurkan video tersebut ke detik 6.35. Di detik itu Bi Iyem membuka pintu saat David mengetuknya berulang kali.


“*Anianya ada, Bi?” tanya David di video itu.


“Adek temannya Non Ania?”


“Iya.”


“Adek sudah terlambat. Non Ania sudah dikirim ke Edinburgh kemarin sore oleh Tuan dan Nyonya*.”


Jeani mempause tepat di detik dagu David ditarik gravitasi. Tawanya meledak sambil menunjuk ekspresi David yang kaget. “Lucu, parah! Buat ekspresi kayak gitu lagi, dong.”


“Berapa kali gagal take cuma buat ekspresi kayak gitu. Dan lo seenaknya ngetawain gue?” Pemuda itu menggeram dan bersiap untuk membalas ejekan sahabatnya. Senyum jahilnya terbit membuat Jeani menatap takut. Dalam hitungan beberapa detik, David langsung menggelitiki Jeani tanpa ampun.


Mereka sampai berguling-guling di karpet. Berkali-kali Jeani minta ampun, tapi David tidak peduli. Kegiatan keduanya tidak lepas dari pandangan wanita awet muda berjilbab biru telur asin. Melihat dua remaja itu membuatnya geleng-geleng kepala. Harapannya setiap melihat mereka tertawa seperti itu hanyalah, semoga hubungan keduanya hanya sebatas sahabat sampai kapan pun.


“Dav… ud…dah! Udah! Nanti gue ngompol!” Jeani sudah tampak kelelahan dan tak punya daya untuk melawan.


“David, jangan keterlaluan.” Peringatan wanita itu membuat David menghentikan aksinya.


Jeani bernapas lega telah terlepas dari gelitikan mautnya David. Dia memberengut kesal. Syukurlah ada bundanya David, akhirnya bebas juga. “Dengerin, Dav. Wanita itu harusnya dimuliakan. Ya nggak, Bun?”


“Orang kayak lo? Dimuliakan?” tanya David dengan nada mengejek.


Gadis itu mengangguk dua kali dengan pelan.


“Oggaaaaah!” ujarnya tepat di depan wajah Jeani. David tertawa puas dengan balas dendamnya.


Pemuda itu langsung menampilkan ekspresi sok manis seraya menggaruk belakang lehernya. “Maaf, Bun. Itu tuh, Jea yang mulai duluan.”


“Ih, kok gue, sih?”


“Ya, emang elo.”


“Enggak, Bun. David fitnah tuh.”


Wanita itu menyimpan dua gelas tersebut di atas meja, lalu beraksi untuk membekap mulut dua remaja itu. Jika tidak dibungkam, cekcok antara keduanya tidak akan berhenti sampai salah satunya lelah.


🎗🎗🎗🎗


 


David berusaha membagi waktu untuk belajar, mengurus organisasi, latihan ektrakulikuler, dan shooting. Kegiatan yang menekan seperti itu menuntut David harus cekatan dalam segala hal. Beberapa kegiatan saja sudah menguras tenaga, apalagi Velicia yang mempunyai banyak kegiatan. Kini, tidur saat larut malam bukan asing baginya.


Sepulang sekolah harua shooting. Jeani dan Randi menjadi objek kamera. Dua remaja itu duduk di atas batu yang didesain buaya di tepi kolam sekolah, Jeani terisak seraya menyandarkan kepalanya di bahu pemuda di sampingnya.


“Gue cuma bisa miliki raganya Devan. Dan Ania, cewek itu akan selamanya unggul. Dia itu langit, sedangkan gue hanya bumi, yang direndahkan dan diinjek\-injek,” ujar Jeani sambil melap air matanya dengan tisu.


“Pikiran lo salah.” Randi menimpali. “Apa yang menurut lo terbaik untuk sekarang, itu belum tentu akan menjadi yang terbaik di masa depan. Arah hati sulit diarahkan, Diana. Tuhan buka semuanya sekarang, lo ketahui fakta bahwa Ania dapatkan hati Devan, dan lo hanya mendapatkan raga Devan. Mungkin aja, itu artinya, lo harus tinggalin Devan.”


Itu adalah shooting terakhir untuk part empat. Tugas David tidak hanya sampai di sini, malam nanti harus begadang untuk mengedit. Begitu Randi dan Jeani menyudahi aktingnya, David kembali memutar ulang video yang diambilnya.


“Vid, gue duluan, ya. Udah ditungguin anak teater buat latihan.”


“Ah, ya, silakan. Thank you, Ran.”


Pemuda itu mengacungkan kedua jempolnya lalu pergi setengah berlari.


“Oh iya, gue lupa bilang. Ini shooting kita yang terakhir, ya. Dikarenakan ujian semester udah dekat, kalian fokus buat belajar, jangan sampai kegiatan sampingan kita mempengaruhi nilai akademik,” kata David yang diangguki Jeani, Bara, dan Fanya. “Fanya, nanti tolong bilangin sama Randi.”


“Iya, Kak.”


“Yang terakhir bukan berarti selesai, ya. Nanti kita diskusi lagi, kalau pas libur semester kalian free, kemungkinan kita bisa shooting pas libur.”


“Gue mau ke Jerman, Dav. Lo lupa? Kita lanjut shooting lagi pas tahun ajaran baru aja, tahun depan,” usul Jeani.


David melupakan satu hal, bahwa Jeani akan ke Jerman jika ada libur panjang. Perceraian orang tuanya yang mengakibatkan Jeani tinggal di Indonesia bersama daddynya, sedangkan mommynya menetap di Jerman bersama keluarga besar. Jeani hanya diizinkan ke Jerman saat ada libur sekolah saja, hal itulah yang kadang membuat David iba kepada gadis itu. Tidak bertemu satu hari saja dengan sang bunda membuatnya tidak bersemangat menjalani hari, apalagi ada di posisi Jeani yang bertemu dengan mommynya setahun dua kali. Jika David ada di posisi itu, mugkin bisa gila.


“Ya udah, kita break satu tahun. See you next year buat shooting lagi, oke?” finalnya.


“Oke!” jawabnya serempat. Mereka berakhir saling tos ria sebagai ikatan tim.


Waktu begitu cepat berlalu, menelan kejadian demi kejadian. Satu semester terisi dengan awal langkahnya mengejar mimpi. David tidak menyangka akan ada yang mengubah hidupnya. Gadis itu hebat, sangat berjasa sepanjang hidupnya. Mana mungkin David melupakan seseorang yang sudah menopang langkahnya sampai titik ini. Meski hubungan keduanya semakin menjauh, tapi David yakin, akan ada suatu hari nanti dia dan Velicia bersama kembali, berjalan beriringan. Menggapai mimpi besar bersama.