For The World We'Re Gonna Make

For The World We'Re Gonna Make
Putus



Gadis itu sedang menghitung cepat dalam buku catatannya. “Tambahkan delapan orang pekerja supaya proyek itu selesai tepat waktu,” ujarnya pada seorang pria berkemeja biru langit yang memakai helm safety untuk keselamatan kerja.


Pembangunan baru mencapai 65% sedangkan waktunya tinggal menghitung hari. Kerja mereka membuat sang bos kecil kecewa. Percuma Velicia kerja menggunakan kecepatan di atas 4G jika pada tahap pembangunan menggunakan kecepatan 2G. Velicia sudah mengingatkan timnya bahwa kita bukan kaum siput! Lalu, kenapa ini bisa terjadi?



Benar\-benar menyebalkan! Kerja apa saja mereka?



Ditambah kualitas batako yang rapuh, semen abal\-abal, dan alat kontruksinya sedikit.



Seperti biasanya, marah Velicia adalah diam. Dia hanya mengingatkan untuk mengganti bahan bangunan dan menambah alat kontruksi lagi pada pria berkemeja biru langit itu. Ada sesuatu yang tidak beres!



Diamnya selalu menghanyutkan. Lihat saja tindakan apa yang akan dilakukan Velicia.



Gadis itu berlalu dengan kecewa yang sangat mendalam. Setelah memasuki mobil, dia mengontak wanita kesayangannya. “Hallo, Oma,” sapanya lembut. “Malam ini Veli tidak pulang. Oma jaga kesehatan, ya.”



“Kenapa? Sudah dua hari kamu tidak pulang. Oma khawatir sama cucu kesayangan Oma.”



“Veli baik\-baik saja, Oma. Ada sedikit masalah di kantor. Veli harap Oma mengerti.”



“Besok pulang, ya?”



“Iya.”



Velicia memutuskan sambungan secara sepihak. Tujuannya langsung ke kantor. Velicia harus segera menyelesaikan masalah baru yang menimpa kantornya. Suatu yang terlihat mustahil dikerjakan oleh bocah lima belas tahun ditentang oleh gadis bernama Velicia Navvirel Aulia. Penyelidikan untuk mencari bukti.



Sesampai di kantornya langsung dihadapkan oleh tumpukan file.



“Tolong bacakan.” Otak gadis itu sudah terlalu mumet untuk membaca rangkaian kata berbaris rapi. Dengan senang hati sekretarisnya itu menuruti kemauan sang bos kecil. “Di mana harus tanda tangan?” tanyanya setelah Mia selesai membaca.



Wanita calon ibu itu menunjukkan tempat di mana Velicia harus membubuhkan tanda tangan.



Satu jam kedua perempuan itu berkutat dengan pekerjaannya, Mia sudah mencapai waktu untuk pulang. Jangan tanyakan Velicia, gadis itu akan menjadi penunggu kantor semalaman.



“Mau pulang kapan, Veli?”



Gadis itu mengalihkan tatapan dari monitor ke pria yang berjalan mendekatinya. “Ada yang tidak beres, Pak,” katanya memancing penasaran Pak Andri.



Pria itu cepat duduk mendengar kalimat pertama bos kecilnya yang terdengar serius. Upss, bukannya Velicia selalu serius dalam segala hal?



Velicia gadis cekatan yang teliti. Dia menceritakan begitu detail soal kejanggalan. Semakin kagumlah Pak Andri kepada bos kecilnya itu. Penciuman gadis itu sangat tajam pada suatu konflik. Padahal konflik di kantor tersebut bisa dibilang baru dimulai.



“Jadi, kamu akan nginap di sini lagi?”



“Ya. Sampai sebuah bukti Veli dapatkan.” Sisi ambiusnya muncul lagi. Apa tidak capek?



Pak Andri mendapatkan panggilan suara dari istrinya, hal itu yang membuat pria itu cepat\-cepat pergi. Tinggallah Velicia sendiri mencari bukti untuk mengungkap kejanggalan. Ternyata, tidak semudah itu. Mencari bukti bagaikan menyusun puzzle tingkat hard.



Langkah demi langkah akhirnya Velicia menemukan setitik cahaya. Setiap perkembangan selalu Velicia laporkan kepada Pak Andri dan sekretarisnya. Cahaya itu kian bertambah, sampai Velicia terkejut saat orang yang bekerja di kantor juga terlibat.




“Pak Andri nggak hadir lagi?”



Mia menunjukkan gelagat aneh. Hal itu membuat kening Velicia bergelombang. Sorot matanya mengancam calon ibu itu untuk mengatakan sesuatu.



“Dari rekaman cctv, Pak Andri datang ke kantor ini semalam. Cctv ruang kerjanya disabotase, tapi melihat dari cctv koridor, Pak Andri pulang membawa dus berisi tumpukan file dan alat\-alat kerjanya.”



Yang namanya hati manusia sulit diselami. Jangankan menyelami hati orang lain, terkadang menyelami hati sendiri saja kita kesulitan. Dunia ini terisi beragam manusia, yang baik, jahat, egois, sabar, rakus, dan lain sebagainya. Tidak menutup kemungkinan bahwa orang sebaik Pak Andri terlibat dalam masalah ini, ini baru kemungkinan.



“Ya sudah, kamu boleh kembali kerja.”



“Soal meeting besok, apa Velicia bisa pukul sepuluh?”



Seketika teringat ulangan matematika di jam pelajaran lima dan enam. “Tolong kamu usahakan diundur sampai Veli pulang sekolah.”



Wanita itu mengangguk kemudian berlalu dari ruangan bos kecilnya.



Gadis itu semakin gencar mengungkap fakta yang hampir terbuka. Namun, hari itu, Velicia masih belum menemukan titik terang meski sudah ada kemungkinan besar bahwa Pak Andri pelakunya. Sampai mentari muncul di ufuk timur, bukti\-bukti yang Velicia kumpulkan hampir 80%. Orang dalam yang terlibat masih warna abu\-abu.



Alarm dari ponselnya nyaring, tertampanglah dua kata di layar ponselnya. ‘Waktu Sekolah’ itulah nama alarmnya.



Dia mengerang frustasi sembari mengacak rambutnya. Malasnya mandi dan sekolah benar\-benar membalut diri Velicia saat itu. Padahal, sedikit lagi kotak itu terbuka. Namun, Velicia juga harus memikirkan masa depannya. Menjadi arsitek bukan cita\-citanya, meskipun hidupnya akan terjamin bekerja di bidang itu. Ah, menjadi ilmuan lebih keren lagi, itu kan Velicia banget.


    Papanya menjadi ilmuan, adik papanya yang meninggal karena ledakan di laboratorium kampus adalah seorang ilmuan, opa dari papanya adalah ilmuan, omanya juga sarjana kimia yang bercita-cita menjadi ilmuan, tetapi berhenti kerja setelah menikah. Mereka membanggakan di mata Velicia, menciptakan atau memperbaharui sesuatu untuk kelangsungan hidup. Wow! Keren sekali, kan?


Dia menyambar jas almamater yang menutupi sandaran kursi kerja Velicia lalu keluar dari ruangannya.



Sopir pribadinya sudah standby di parkiran. Velicia langsung memasuki mobil itu dan cepat\-cepat mengeluarkan buku serta I\-pad. Catatan Velicia baru sedikit, belakangan ini jarang masuk pelajaran. Untuk mengejar keterlambatannya, dia selalu bertanya pada gurunya tentang pembahasan apa saja kemudian belajar otodidak.



Yang patut Velicia syukuri adalah, otaknya tidak meledak dibawa kerja rodi 24/7.



“Neng Ayu, tadi pagi Oma mencari Neng Ayu sampai bertanya ke Bapak. Tadi Bapak berbohong telah mengatakan kalau Neng Ayu sudah berangkat sekolah jam enam. Neng Ayu, Bapak boleh kasih saran?”



“Hm…,” respon gadis itu tanpa mengalihkan pandanga dari  I\-Pad yang sedang memutar video edukasi.



“Kalau Neng Ayu pulangnya untuk menyakinkan Oma kalau Neng Ayu tidak lembur, sebaiknya Neng Ayu juga pulang ketika subuh. Biar Oma tidak mencari\-cari saat pagi hari.”



Haish….


   Velicia memang pulang supaya omanya tidak khawatir, setelah wanita itu terlelap, Velicia kembali lagi ke kantornya.


Velicia tidak menanggapi saran Pak Dirga, meski dalam hatinya membenarkan.



Sesampai di sekolah, Velicia langsung dihadang David dan Jeani ketika turun dari mobil. Pemuda itu mengulurkan kertas yang dilipat empat kepadanya, setelah itu pergi tanpa kata sambil merangkul sahabatnya.



Ada sesuatu yang tidak beres melihat dua remaja itu pergi. Pandangannya beralih pada kertas di tangannya. Jangan bilang jika itu surat pernyataan David memutuskannya lalu pacaran dengan Jeani.



Wajah gadis itu tetap datar meski perasaannya tidak enak. Ekspesi datar itu manipulasi, agar Velicia sulit ditebak.


   Harusnya Velicia sadar, mana ada laki-laki yang terus mau dicuekin pacarnya sendiri. Selama ini dia memprioritaskan sekolah dan kerjaan, sampai melupakan kehadiran David.