
“You are crazy!” maki Velicia di depan pemuda yang membuatnya hilang akal.
David hanya menanggapinya dengan senyuman. “Udah dikerjain sampai selesai?”
“I don’t care!”
Ledakan tawa David menggema di koridor, dada dan bahunya bergetar hebat, lucunya ekspresi pacarnya ini. Tangan kanan pemuda itu terulur ke puncak kepala Velicia, mengacak rambut lurus tersebut, kemudian mencuil hidung minimalisnya. “Oh, dikerjain. Kalau nggak dikerjain mana mungkin akan bereaksi seperti ini.”
“Bodo amat! Kamu puas Veli dikira orang gila?”
“Senyum-senyum, ya?” David belum bisa menghentikan tawanya. Ini terlalu lucu untuk dilewatkan. Dia mengarahkan kamera yang mengalung di lehernya ke wajah cemberut Velicia. “Ngaku aja, jangan gengsi.”
“Ih! Jangan foto-foto!” ujarnya tepat ketika flash menerpa wajahnya. “Daviiiiid!” geram Velicia semakin kesal dibuatnya. Sejak kapan pemuda itu menjelma menjadi pemuda petakilan, terlalu menyebalkan!
Percayalah, hanya David yang mampu membuat sifat Velicia menjadi seperti itu.
Ini yang dirindukan oleh David. Bisa tertawa bersama gadis itu lagi, tidak apa-apa meski hanya beberapa menit. Kata Velicia, hari ini waktunya adalah milik David. Setelah pulang sekolah nanti, David bebas membawanya ke manapun dengan syarat: Buat Velicia tersenyum di setiap detiknya. Namun, sekarang, David malah membuatnya kesal.
“Nomor empat jawabannya irasional. Kamu kalau ngasih soal nggak mikir.”
“Oh, ya? Masa, sih? Gimana tuh caranya?” tanya David setelah menegak minuman kalengnya.
“Iya. 128√e980 bentuk irasional, tapi masih bisa disederhanakan jadi 128√e980 sama dengan 128√5e.196 sama dengan 128. √196. √5e sama dengan 128. 14. √5e sama dengan 1.782 √5e. e di sini bilangan euler bernilai 2,718281828… dan seterusnya begitu.” Velicia mendikte dengan lancar tanpa contekan.
Hampir saja David menyemburkan cairan yang diminumnya. Velicia menjawab tanpa melihat jawaban di kertas atau apapun. Namun, bukan itu yang membuatnya terkejut. Secara matematis, nilai dari 128√e980 adalah bilangan irrasional, yaitu bilangan yang tidak dapat di ubah menjadi bentuk pecahan yaitu a/b. Namun, yang sebenarnya soal itu adalah sebuah teka teki, yaitu dengan cara 128√e980 di ubah menjadi 1 28√e 980 kemudian kita hapus bagian atasnya sebagian maka akan terbentuk kata yang menyerupai “I love you”.
Susah memang memberi teka-teki kepada orang cerdas, dijawabnya selalu pakai logika. Pemuda itu mendengkus, gagal sudah menggombal memakai jurus matematika.
“Nomor tiga gimana cara ngerjainnya?” tanya David dengan suara malas. Mood nya hancur saat tahu jawaban nomor empat malah disederhanakan.
“Modus, median, mean,” jawabnya.
Seketika pemuda itu menepuk kening sendiri. Mentang-mentang nomor pertama dan kedua memakai perhitungan matematika, nomor tiga pun disangkutpautkan? Padahal tidak seperti itu!
“Itu I love you di keypad hp jadul, Vel.” David gemas sendiri dengan gadis itu. Angka empat dua kali itu huruf I, angka lima tiga kali itu huruf L, angka enam tiga kali itu huruf O, angka delapan tiga kali itu huruf V, angka tiga dua kali itu huruf E, dan angka delapan dua kali huruf U.
Mata Velicia mengedip sebelah. Baru menyedarinya. “Oh…,” responnya. Pandangan yang tadinya ke wajah pemuda di sampingnya beralih ke depan. “I love you too,” ujarnya seraya beranjak.
Niat bicara I love you too nggak sih? Kok Velicia pergi saat mengatakannya?
Kurang sabar apalagi coba menghadapi sikap Velicia yang seperti itu.
Pemuda itu mengejar Velicia tanpa melunturkan senyumnya. Segitu saja mereka sudah romantis. Mengingat Velicia itu orang kaku dan David bingung harus melakukan apa. “Vel, yang nomor empat itu, hapus bagian atas sebagian, dan kamu akan menemukan jawabannya.”
Velicia kesulitan untuk mencerna. Memangnya apa jawaban nomor empat itu? “Nggak hitung-hitungan?”
“Enggak.”
Mereka berjalan sepanjang koridor tanpa David sadari bahwa kakinya menginjak area kelas 10 IPA. Sesampainya di depan kelasnya, gadis itu masuk tanpa peduli dengan David yang menganga tidak percaya ditinggalkan di luar kelas.
*****!*****! *****! Ingin rasanya meninju tembok. David tidak punya niat mengantar Velicia ke kelasnya, dia kira gadis itu mengajaknya berjalan di koridor sambil bercerita. Seperti berjalan di trotoar setelah dia main skate board sambil bercerita. David mudah sekali dibodohin, ya?
Dengan hati kecewa, pemuda itu mundur alon-alon sembari menggelengkan kepalanya. Dia memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
“Wo… gimana perasaannya Pak Produser? Pacarannya seru, nggak?” Jeani menyambut sahabatnya di kelas, tepat di bangku paling depan.
“Duh, sabar banget sih ngadepin pacar begituan. Dasar bucin akut,” cibirnya mengejek pemuda itu. Andai saja Jeani yang berada di posisi Velicia, dicintai David segitunya, Jeani sudah pastikan bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan seperti yang dilakukan Velicia. Dasar gadis jenius yang tidak bersyukur!
“Tapi seneng, sih.” David menopang dagu dengan kedua telapak tangannya dan kedua sikut menumpu ke permukaan meja. “Veli lucu banget tadi. Apalagi pas bilang I love you too sama gue.” Iya, mending jika perempuan yang menopang dagu, pastinya akan lucu. Kalau laki-laki? Mungkin amit-amit.
Ternyata sudah sejauh itu. Jeani hanya mencebik kemudian menampilkan senyuman untuk menutupi luka. Perasaan, kapan matinya? “Serah lo deh, serah! Veli terkesan menyia-nyiakan lo, Dav. Just ngasih tahu aja. Nggak lebih.”
****
Klise, David dipanggil Mr. Hayyan dan Velicia dipaggil Ms. Kelly. Mereka dipertemukan di ruangan Mr. Hayyan. Dari ribuan murid Pacasila, dua remaja itu dipilih untuk menjadi perwakilan sekolah. Don’t forget, Velicia adalah murid kesayangan Ms. Kelly, tidak salah jika beliau mengajukan Velicia. Begitu pun dengan David, pemuda yang unggul di bidang kimia itu menggerakkan hati Mr. Hayyan untuk mengajukan David. Perlu diketahui, Mr. Hayyan tidak pernah mematenkan satu atau dua murid menjadi murid kesayangannya, karena semua murid di SMA Pancasila itu sama, sama-sama belajar tanpa harus diunggulkaan salah satunya.
Alasan menarik David yang dipercaya untuk mewakilkan sekolah adalah, nilai-nilainya dipelajaran tersebut tidak pernah kurang dari great! Jika di sekolah biasa sama dengan seratus. Lagipula, David pernah meraih mendali emas ketika olimpiade nasional tahun lalu.
“International chemistry Olympiad will begin on Monday, July 21 and ends on Wednesday, July 30. And International Physics Olympiad will begin on Sturday, July 7 and ends on Sunday, July 15. So, you prepare yourself from now on.”
Binar mata David sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mewakili sekolah di olimpiade sains internasional? Daebak! Ayahnya harus tahu itu! Memang pada dasarnya David itu terlalu merendah dan sederhana, dia sering memaki diri sendiri dengan kata ‘bodoh’ tetapi pada nyatanya….
Velicia terkekeh melihat pemuda di sampingnya yang menahan napas. Lucu sekali. “Don’t let your die before the Olympics.”
Mr. Kelly dan Mr. Hayyan memusatkan perhatian kepada David dan langsung tertawa untuk sesaat. Dasar pemuda cerdas yang sontoloyo. Sikap David itu seperti tidak menunjukkan bahwa dia cerdas, tingkah konyolnya membuat orang-orang tidak mampu menahan tawa.
David menghirup oksigen sebanyak-banyak kemudian ditahan sebentar sebelum dikeluarkan sambil cengengesan. Orang tidak punya sikap! Bagaimana bisa Velicia mau menjadi pacarnya.
“Sorry Mr. Sorry Ms. I’m excited,” kata David sambil mengelus-ngelus dadanya. Menjadi orang cerdas itu tidak perlu serius banget kuadrat seperti Velicia. Orang cerdas juga butuh hiburan.
“You can go back to class. After school I’ll wait here,” kata Mr. Hayyan melirik ke David.
“Velicia, Ms is waiting for you at the library,” kata Ms. Kelly sembari senyum tipis kepada murid kesayangannya.
“Allright.” Keduanya serempat menjawab seraya menundukkan kepala sebagai tanda kehormatan kemudian menyalimi mereka.
Keluar dari ruangan Mr. Hayyan membuat David gila. Seakan pasokan oksigen ke paru-parunya kurang. Sudah seperti ikan yang disimpan didarat saja. Melihat tingkah ajaib bin gila itu membuat Velicia geleng-geleng kepala.
“Duh, Vel, itu internasional, loh. Gilaaa akuuu,” racaunya sambil menjambak rambut sendiri. “Benar-benar gila. Ayah pasti excited banget dengernya, tapi aku yang deg-degan! Nanti aku harus apa di sana?”
“Anak kampung aja nggak selebay kamu,” cibir Velicia.
“Vel. Aku pernah ikut olimpiade nasional. Di sana aja aku udah deg-degan. Kayak mau mati tahu nggak sih. Apalagi pas natap saingan, tanganku sampai gemeteran pas mau jawab. Gimana internasional coba?! Saingannya huuuh.”
“Kamu bisa melewati olimpiade itu dan membawa pulang mendali emas, meski kamu dalam keadaan gugup. Kenapa sekarang enggak?”
“Takut aja sih. Deg-degan juga.”
“Kembali ke kelas sana."
“Masih mau sama kamu.”
Gadis itu mendengkus kemudian berlalu tanpa peduli dengan David lagi. Dia tidak suka David yangterus-terusan menggombal atau bercanda seperti itu. Dulu sih iya tidak berefek apa-apa sama kesehatan jantung dan wajahnya. Sekarang beda lagi. Dikit-dikit jantungnya berdetak abnormal, dikit-dikit wajahnya terasa terbakar. Ini sebenarnya kenapa? Kenapa harus terjadi kepada Velicia?
“Vel, nanti pulang sekolah aku ke kantor kamu, ya?” teriak David.
Tidak ada respon. Velicia tetap berjalan cepat. David menyimpulkan bahwa diamnya gadis itu adalah jawaban kata ‘iya’. Namun, beberapa saat, dia teringat harus menemui MR. Hayyan setelah pulang sekolah.
Gagal total jalan-jalan sepulang sekolah dengan gadis itu.