FIGHTING GIRL VERSUS BADBOY

FIGHTING GIRL VERSUS BADBOY
#97



2 bulan berlalu. Damon dan Velvet sudah kembali ke New York. Velvet sudah melewati masa masa morning sicknya. Tetapi moodnnya sering bermasalah dan semakin mellow serta sensitif.


Pagi ini Damon dan Velvet kembali pergi ke dokter kandungan untuk pemeriksaan rutin bulanan. Velvet tampak melihat janinnya yang masih berusia hampir 4 bulan dari layar USG. Damon menggenggam tangan Velvet dan matanya juga fokus ke layar.


"Mereka sangat sehat. Anda menjaganya dengan sangat baik. Meskipun kemarin anda benar benar tersiksa dengan morning sick yang lumayan parah." ucap Dokter.


Velvet tersenyum dengan masih melihat ke arah USG dan Damon mencium keningnya.


Setelah selesai dari dokter, Velvet dan Damon kembali ke mansion. Damon melihat Velvet sedang fokus menonton film di televisi sambil memakan buah apelnya yang disiapkan oleh pelayan,


"Aku akan ke perusahaan. Kau tak masalah kan, honey?" tanya Damon hati hati.


"Ya, pergilah. AKu bukan anak manja yang harus selalu kau temani, sayang," jawab Velvet sambil mengunyah apelnya.


"Kau juga mengatakan hal itu kemarin. Sekarang aku ingin lebih memastikannya. Apa kau tak keberatan aku pergi ke perusahaan sekarang?" tanya Damon lagi.


Velvet hanya mengangguk dan tak melihat Damon sama sekali. Dia masih fokus dengan film yang ditontonnya.


"Baiklah. Aku sudah merekamnya. Jadi aku akan menunjukkan rekaman ini padamu jika kau marah padaku," kata Damon menunjukkan ponselnya.


"Bisakah kau tak menggangguku? Aku sedang asyik menonton film," jawab Velvet dengan wajah kesalnya.


"Oke honey. Aku tak akan mengganggumu. Bye baby," ucap Damon yang kemudian mencium bibir Velvet.


"Hmm, I love you," jawab Velvet.


"I love you too," kata Damon dan kembali mengecup bibir Velvet.


Damon pun akhirnya pergi ke perusahaannya. Velvet kembali menikmati filmnya hingga tak terasa sudah menjelang sore.


Velvet beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Dia mengambil ponselnya yang sedari tadi tak disentuhnya. Velvet melihat pesan dan telepon yang masuk tetapi tak ada telepon dari Damon sama sekali.


"Dia tak meneleponku dan tak mengirimiku pesan sama sekali. Apa dia lupa padaku?" gumam Velvet pelan.


Lalu Velvet menelepon Damon dan Damon tak mengangkatnya. Velvet hanya meneleponnya sekali dan memutuskan untuk pergi ke perusahaan Damon. Dia ingin menemui Damon langsung ke sana dan makan malam bersama sekalian.


Velvet memang sedikit menjadi lebih feminim sekarang. Dia bahkan berencana akan memanjangkan rambutnya.


Setelah sedikit berdandan dan tampil cantik, Velvet langsung berangkat menuju perusahaan Damon dengan diantar supir karena Damon tak mengizinkannya untuk berpergian sendirian kemanapun tanpa supir.



Setibanya di perusahaan, Velvet langsung masuk menuju ruangan Damon yang ada di atas. Pegawai yang mengenali Velvet tampak menundukkan kepalanya dengan hormat.


Damon juga tak mengizinkan Velvet untuk bekerja di perusahaan Heidi dan akhirnya menaruh orang kepercayaannya disana untuk menggantikan Velvet karena Heidi bersikeras tetap ingin memberikan perusahaannya pada Velvet kelak.


1 jam berlalu. Damon sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Velvet mengetukkan jarinya di meja dengan wajah yang sudah tak bisa ditebak ekspresinya.


Tak lama kemudian, tampak muncul dari balik pintu seorang pria yang tak lain adalah asisten Damon yang bernama tuan Gerry.


"Nyonya? Anda disini?" tanya Gerry.


"Kau masih bertanya? AKu sudah duduk disini berarti aku ada disini," jawab Velvet yang melepaskan kekesalannya pada Gerry.


"I..iya nyonya," jawab Gerry.


"Dimana suamiku?" tanya Velvet.


"Tuan Damon tak ada di perusahaan. Tuan sedang meeting diluar, nyonya," jawab Gerry.


"Ini sudah hampir menjelang malam. Mengapa belum juga datang?" tanya Velvet.


"Tuan Damon akan sekalian makan malam dengan relasi perusahaan kami, nyonya," jawab Gerry.


"Mengapa dia tak pamit padaku kalau akan makan malam di luar?" tanya Velvet yang matanya sudah berkaca kaca.


Gerry yang melihat hal itu langsung panik dan tak tahu apa yang harus dilakukannya.


Tak lama kemudian Velvet menangis dan mengusap air matanya.


" Nyonya ... Jangan menangis. AKu akan menelepon tuan Damon," jawab Gerry panik.


"Kau melarangku menangis?" tanya Velvet dengan sesenggukan dan sedikit membentak.


"Ti.. tidak nyonya .. Aku... " kata Gerry terbata bata.


Tangisan Velvet semakin lama semakin menjadi dan membuat Gerry semakin bingung. Dia tak mungkin meninggalkan Velvet dengan keadaan seperti itu. Tetapi dia juga harus menelepon Tuannya untuk mengabarkan hal ini. Dan ponsel Gerry ada di meja kerjanya.


"Cepat telepon suamiku!!!" ucap Velvet.


"Ba ... Baik Nyonya," jawab Gerry dan berbalik cepat menuju pintu.


"Kau mau meninggalkanku sendirian disini?" bentak Velvet.


"Oh My God... Mimpi apa aku semalam," gumam pelan Gerry dan berbalik kembali pada Velvet.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA❤❤❤