
Keesokan paginya, Velvet bangun dan sudah tak mendapati Damon di sebelahnya. Dia mengusap ranjang yang kosong tanpa ada sosok Damon disana.
Tak lama kemudian, Velvet merasakan mual yang amat sangat di perutnya hingga akhirnya dia langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi.
Velvet memuntahkan semua isi di dalam perutnya ke toilet. Sekitar 15 menit lamanya dia berjongkok didepan toilet sampai tenaganya habis tak bersisa. Ingin rasanya dia pingsan dan tidur di atas lantai toilet yang dingin itu karena sudah tak kuat untuk berdiri.
"Oh my God ... Sepertinya aku akan stress menghadapi ini," gumam Velvet sembari memegangi perutnya yang masih sangat tak enak.
Keringatnya bercucuran meskipun udara sedang dingin. Mata dan hidungnya mengeluarkan air hingga membuat wajahnya memerah dan sembab.
Velvet menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar mandi yang dingin. Dia masih menenangkan dirinya setelah mengeluarkan energinya lumayan banyak.
Ponsel Velvet berbunyi tetapi dia tak mengangkatnya karena masih belum sanggup berjalan. 10 menit kemudian, Velvet kembali muntah karena dipikirnya dia sudah menghabiskan seluruh isi di dalam perutnya.
"Aku lebih baik berkelahi dengan selusin pria daripada merasakan hal ini," ucap Velvet lemah dengan wajah menghadap toilet.
Velvet merasa penampilannya sudah sangat berantakan. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Damon melihat Velvet duduk di atas lantai kamar mandi sembari memegangi perutnya.
"Oh God ...," gumam Damon dan menghampiri Velvet.
Damon mengambil handuk dan mengusap wajah Velvet yang basah karena keringat dan air mata.
"Sorry," gumam Damon lagi dan mengangkat Velvet ke atas meja wastafel.
"Aku harus bersandar," ucap Velvet lemah.
"Bersandarlah padaku," kata Damon menyandarkan kepala Velvet di dadanya.
"Bolehkah aku mengeluh?" ucap Velvet.
"Kau bebas melakukannya," jawab Damon mengusap punggung Velvet dengan lembut.
"Aku benci situasi ini. Apakah aku akan selalu seperti ini jika hamil?" kata Velvet.
"Maafkan aku. Aku akan selalu mendampingimu," jawab Damon pelan.
Setelah Velvet tenang, Damon mulai membersihkan tubuhnya dan menggantikannya baju. Lalu Damon membawanya ke ranjang kembali.
"Bawa aku ke dokter sekarang. Aku ingin meminta obat agar kehamilanku tak merepotkan," ucap Velvet yang memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, Galy masuk ke dalam kamar.
"Sayang ... Kau baik baik saja?" tanya Galy yang melihat Velvet lemas tak berdaya di ranjang.
"Hmm," jawab Velvet lirih.
Galy menghampiri Velvet dan memegang tangannya.
"Panggil dokter kemari, Damon," perintah Galy.
"Ya mom," jawab Damon yang langsung mengambil ponselnya dan menelepon dokter keluarga mereka.
Setengah jam kemudian dokter pun datang dan langsung memeriksa Velvet. Dokter mengatakan kondisi Velvet baik baik saja dan hanya mengalami dehidrasi.
Dokter menyarankan untuk membawa Velvet ke dokter kandungan untuk pemeriksaan kandungan. Lalu dokter juga memberikan obat pusing dan mual yang bisa di minum oleh Velvet.
"Kau tak perlu pergi di ke rumah sakit, Dam. Akan ada daddy dan Phoenix yang menjaga Dillon." ucap Galy.
"Ya mom," jawab Damon pelan dan mengusap punggung tangan Velvet yang tak bereaksi apapun.
"Mommy akan mengambilkan makan pagi untuk Velvet," kata Galy lalu keluar dari kamar.
Damon membuka jaketnya dan berbaring menemani Velvet yang masih terdiam dan memejamkan matanya.
Tiba tiba Velvet menangis kembali.
"Oh no ... Mengapa aku cengeng sekali. Aku tak suka ini," ucap Velvet terisak.
Damon menciumi puncak kepala Velvet dan mengusap perutnya.
"Keluarlah. Aku tak mau tangisanku terlihat," kata Velvet menahan tangisnya.
"Aku akan selalu di dekatmu, baby. Menangislah ... Jangan menahannya," jawab Damon pelan.
"Hmm. Tapi jangan melihat wajahku," ucap Velvet mengusap air matanya yang sudah memenuhi wajahnya.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YA...❤❤❤