
Seminggu berlalu. Francis akhirnya pulang kembali ke California. Dia sangat merindukan Edna. Sepulangnya dari bandara, Francis langsung menuju mansionnya.
Francis tak memberitahu Edna bahwa dirinya pulang hari ini karena awalnya Francis akan memperpanjang waktunya di New York. Tetapi ternyata urusannya lebih cepat selesai dari diperkirakannya.
Setelah membersihkan dirinya di mansion, Francis langsung menuju kampus Edna. Francis tahu apa saja jadwal harian Edna termasuk kuliahnya.
Setibanya di kampus Edna, Francis keluar dari mobil dan menunggu di cafe dekat sana. Dia memesan kopi lalu duduk di kursi cafe yang viewnya langsung menghadap ke arah kampus Edna.
Tak berapa lama, Edna tampak keluar dari kampusnya bersama Vena. Lalu di belakang Edna terlihat seorang laki laki yang mengikuti Edna. Lalu pria itu pindah ke samping Edna dan mengobrol santai sambil tertawa.
Francis mengerutkan keningnya. Entah mengapa dia tak suka pemandangan itu. Edna memang cantik dan pasti banyak pria yang mendekatinya. Status keluarganya yang kaya juga membuatnya cukup banyak menjadi incaran pria pria disini.
Francis menyeruput kopinya lalu menaruhnya. Dia beranjak dari kursinya dan menghampiri Edna yang jaraknya hanya sekitar 10 meter darinya.
Francis memasukkan kedua tangannya di kantong celananya. Dia berjalan menuju Edna dan pandangan Edna langsung tertuju pada kekasih tampannya itu.
Edna menghentikan langkahnya dan tersenyum cantik pada Francis. Francis sangat merindukan senyum itu karena selama seminggu ini mereka tak melakukan sambungan video dan hanya menelepon saja.
Edna kemudian melangkahkan kakinya lagi dan sedikit berlari menuju Francis. Lalu Edna memeluk Francis dan mencium harum maskulin di leher Francis yang sangat dirindukannya.
"I miss you," lirih Edna.
Francis memeluk Edna dengan erat.
"I miss you too. Apakah aku sudah boleh menyentuhmu? Aku sangat ingin membawamu ke ranjangku," ucap Francis.
"Tidak, kau harus menikahiku dulu sebelum melakukan hal itu," jawab Edna tersenyum disamping leher Francis.
"Aku akan menikahimu. Aku menyerah. Aku tak ingin kehilanganmu, gadis cantikku," ucap Francis.
Edna melepas pelukannya dan memandang wajah Francis. Senyumannya melebar dengan sumringah.
"Benarkah? Aku tak butuh lamaran romantis atau apapun. Aku akan membuat semuanya simple dan mudah untuk kita," kata Edna mencium bibir Francis meskipun mereka masih berada di area kampus.
Edna hanya mengangguk.
"Jika kau menceraikanku, aku masih punya banyak cadangan laki laki tampan lainnya dan tak akan kembali padamu lagi. Jadi kuperingatkan, jangan pernah membuat masalah denganku. Kau mengerti , tuan?" kata Edna tersenyum usil.
"OOoohhh God... Aku akan masuk barisan grup suami takut istri sepertinya," kata Francis mendongakkan kepalanya ke atas.
Edna tertawa dan mengecup lehernya sekilas.
"Tidak. Kau bukan takut istrimu. Tetapi kau mencintai istrimu," ralat Edna.
Francis hanya tersenyum dan mereka pun berciuman tanpa tahu tempat.
"Pulanglah. Kalian akan berakhir di ranjang sepertinya. Dan disini hanya ada hamparan rumput," kata Vena di belakang Edna.
Edna melepaskan ciuman bibirnya dengan Francis.
"Aku akan melakukannya setelah dia menikahiku, Ven," ucap Edna.
"Jadi aku harus menunggu lagi?" tanya Francis.
Edna mengangguk dan melingkarkan tangannya lagi di leher Francis.
"Semua tergantung padamu, seberapa cepat kau akan menikahiku," bisik Edna.
"Aku akan segera mengurusnya. Jika bisa, besok aku menikahimu di catatan sipil," balas Francis.
Edna tertawa pelan dan hatinya berbunga bunga dipenuhi kebahagian dan cinta. Vena ikut tersenyum melihat hal itu.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA..❤❤❤