
Velvet kemudian berbalik pergi dan keluar dari kamar. Dia menuju lantai 3 mansion karena ingin menyembunyikan tangisannya dari Damon. Dia tak ingin siapapun melihatnya menangis.
Velvet masuk ke salah satu kamar tamu dan mengunci pintunya. Dia tak ingin diganggu dan ingin sendirian. Velvet naik ke ranjang dan tidur meringkuk. Dia ingin meredakan emosinya.
Damon keluar dari kamar mandi dan tak melihat Velvet disana. Damon menghembuskan nafasnya ketika dirinya sadar bahwa mungkin dirinya membuat masalah dan kini Velvet sepertinya marah padanya.
Damon mengambil jaket kulitnya dan keluar dari kamar untuk mencari Velvet. Dia mencari Velvet di semua ruangan dan tak menemukan keberadaan Velvet sama sekali.
"Kakak mencari apa?" tanya Phoenix yang sedang membuka kulkas di dapur.
"Kau melihat Velvet?" tanya Damon.
"Tidak, apa kalian bertengkar? Aku harap dia tak mudah memaafkanmu," jawab Phoenix tertawa meledek.
"Kau mau kuhajar?" kesal Damon.
"Mungkin dia di kamar atas. Tapi kakak harus memeriksa sekitar 15 kamar untuk mencarinya," kata Phoenix tersenyum senang melihat sang kakak yang sedang bingung.
Lalu Damon pun langsung menuju kamar lantai 2 dan 3. Hingga akhirnya ada kamar yang pintunya terkunci dan Damon yakin Velvet ada didalam sana.
"Baby, maafkan aku. Buka pintunya. Aku ingin memelukmu sebentar saja," teriak Damon dari luar pintu sembari mengetuk pintunya.
Velvet tak beranjak dari tempatnya. Dia masih tetap meringkuk di ranjang dan menghapus air matanya yang sejak tadi keluar dan membuat wajahnya sembab dan bengkak.
"Honey ... Come on ... Aku minta maaf. Tak seharusnya aku mengatakan hal itu padamu. I'm so sorry. Ayolah buka pintunya," ucap Damon lagi.
"I miss you, baby. Kau tak ingin memelukku?" lanjut Damon dan masih menunggu di luar.
Cukup lama Damon menunggu di depan pintu dan merayu Velvet. Hingga akhirnya Velvet membuka pintunya. Dia tak ingin masalah kecil ini menjadi besar karena emosinya semata.
CEKLEK...
Damon melihat bayangan tubuh Velvet di samping pintu lalu langsung memeluknya. Lalu Velvet kembali melanjutkan tangisannya kembali hingga sesenggukan dan membuat Damon bingung.
"Baby, apa aku sangat menyakitimu? Oh my God ... Sorry ...," kata Damon dan menciumi wajah Velvet yang basah karena air mata.
Bukannya berhenti, tetapi tangisan Velvet semakin menjadi.
"Hei... Katakan padaku ada apa? Aku minta maaf jika sudah menyakiti hatimu, hmm?" kata Damon menangkup wajah Velvet.
"Aku ... tak bisa ... menghentikan ... tangisanku ...," kata Velvet terisak hingga bahunya bergerak karena menahan tangisannya itu.
Damon kemudian menggendong Velvet dan membawanya kembali ke kamar mereka di lantai bawah.
Velvet melingkarkan tangannya di leher Damon dengan masih sesenggukan. Phoenix yang masih ada di dapur melihat hal itu.
"Kau membuatnya menangis, Kak? Aku akan mengadukanmu pada mommy," kata Phoenix.
Damon membelalakkan matanya pada Phoenix dan tetap terus berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Damon menurunkan tubuh Velvet di ranjang lalu memeluknya dalam posisi duduk.
"Pergilah. Aku ingin tidur," ucap Velvet pelan.
Damon kemudian mencium bibir Velvet yang sangat dirindukannya.
"Maaf," ucap Damon dan kembali mengecup bibir Velvet.
"Apakah kau merasa aku mengabaikanmu?" tanya Damon.
Velvet menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, aku terlalu sibuk mengurus Dillon dan perusahaannya. Maafkan aku kalau kau merasa kuabaikan," ucap Damon.
"Tidak. Aku sama sekali tak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya tak suka jika kau bersikap tadi. Jika kau mengulanginya aku akan benar benar pergi darimu," kata Velvet.
"Berhati hatilah berbicara denganku. Karena aku akan sangat emosional jika kau memancing emosiku," ucap Velvet.
"Baiklah. Aku tak akan melakukan hal itu lagi padamu," jawab Damon kemudian memeluk Velvet lagi.
"Aku hamil," kata Velvet akhirnya.
Damon melepaskan pelukannya dan menatap wajah Velvet yang sembab.
Dia masih terdiam karena tak bisa berkata apapun.
"Itulah kenapa kau harus menjaga ucapanmu. Aku akan meninggalkanmu jika seperti itu lagi padaku," kata Velvet datar.
Damon menangkup wajah Velvet dan mencium bibirnya bertubi tubi hingga tubuh Velvet telentang di ranjang.
Velvet memukul bahu Damon karena merasa nafasnya akan habis. Lalu Damon melepaskan ciumannya.
"Apa kau mau membunuhku?" kata Velvet yang mengambil nafasnya dalam dalam.
"Thank you, baby," ucap Damon dan kembali mengecupi wajah Velvet.
"Kapan kau mengetahui hal ini?" tanya Damon.
"Ketika Dillon kecelakaan. Aku tak ingin perhatian kalian terpecah. Jadi aku tak mengatakannya sampai semua tenang kembali," jawab Velvet.
"Aku sudah mengatakan hal ini, sekarang pergilah," ucap Velvet.
Damon masih tak beranjak dari atas tubuh Velvet dan justru semakin memeluknya.
"Aku tak ingin meninggalkanmu sendirian, maafkan aku tak peka dengan kondisimu," jawab Damon.
"Aku bukan wanita lemah. Meskipun sekarang aku akan sangat mudah menangis. Aku tak suka hal ini. Ini bukanlah diriku," kata Velvet mengeluh.
Damon tertawa pelan mendengar ucapan istrinya yang sebelumnya bagaikan wonder woman ini dan sekarang menjadi wanita yang sangat sensitif dan cengeng.
"Jangan tertawa. Ini sangat tak lucu," ucap Velvet.
Damon menatap wajah Velvet yang memerah karena tangisannya tadi.
"Aku akan kembali 2 jam lagi. Sekarang aku milikmu," kata Damon membuka jaketnya.
"Apakah kondisi Dillon sudah membaik untuk operasi besok?" tanya Velvet.
"Hmm. Besok siang operasinya," jawab Damon sambil membuka celana jeans yang dipakai Velvet serta baju rajutnya yang tebal.
"Jangan memakai calana jeans lagi. Itu akan menekan perutmu," kata Damon.
"Hmm," jawab Velvet singkat.
Dan kini Damon memeluk tubuh Velvet dan membelai rambutnya. Tak lama kemudian, Velvet sudah tertidur nyenyak karena dia memang sangar mengantuk sejak tadi ditambah dengan adegan menangis yang membuat matanya berat dan lelah.
Hampir satu jam lebih Damon memeluk Velvet. Hingga akhirnya dia melepaskan pelukannya dan bersiap kembali ke rumah sakit.
Damon mencium kening dan bibir Velvet dengan lembut agar tak mengganggu tidur Velvet. Lalu Damon beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Dia melihat buku yang dilempar Velvet tadi berserakan di lantai depan kamar mandi. Damon mengambilnya dan melihat buku buku apa saja yang dibeli Velvet.
Senyumnya mengembang ketika melihat buku buku itu. Setelah itu, Damon menaruh buku itu di meja nakas yang ada di samping ranjang.
Tak lama kemudian, Damon pun akhirnya pergi kembali ke rumah sakit.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YA...