
Mereka berciuman cukup lama dan tangan Velvet menyentuh dada Damon yang terbuka lalu berpindah ke punggung dengan gerakan yang sangat perlahan.
Begitu juga dengan Damon yang tangan nakalnya sudah ada di balik kaos Velvet. Lalu Damon membawa Velvet ke ranjang dan merebahkannya disana dengan bibir yang masih bertautan dengan bibir Velvet.
Nafsu sudah mulai menguasai keduanya. Velvet berpikir ini hal yang wajar karena mereka sama sama dewasa dan menginginkan hal ini. Damon menautkan jarinya dengan jari Velvet dan mengangkatnya ke atas kepala Velvet.
Ciuman berubah haluan menuju leher Velvet yang putih pucat. Tanpa sadar Velvet mendesah dan itu semakin membuat Damon bergairaah.
Tangan Damon mengangkat kaos Velvet hingga terlihat dada bulat Velvet yang masih sangat menantang dan tak tersentuh sebelumnya.
Damon mulai mencium puncak dada Velvet dan memainkan lidahnya disana. Velvet sadar bahwa pertahanannya sudah runtuh. Dia tak bisa menolak pesona Damon.
'Come on.. Siapa yang bisa menolak pesona dan godaan pria seperti Damon,' pikirnya.
Velvet menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan desahaannya. Jari jemari Velvet menyisir rambut Damon yang masih berkutat di dadanya.
TING TONG..
Bel berbunyi. Damon maupun Velvet tak menggubris hal itu.
TING TONG...
Bel berbunyi lagi dan terus berbunyi.
"Shhiiiittt," umpat Damon karena kegiatan panasnya dengan Velvet menjadi terganggu.
Seketika otak Velvet kembali lurus dan langsung mendorong dada Damon.
"Oh My God.. kurasa aku sudah gila," gumam Velvet menurunkan bajunya yang membuat dadanya terpampang sempurna tadi.
"Lain kali kita lakukan di mansionku saja," kata Damon tersenyum.
Velvet membelalakkan matanya dan segera beranjak dari ranjangnya lalu merapikan rambutnya dengan jarin tangannya.
Kemudian Velvet langsung keluar kamar dan membuka pintu apartemen karena bel pintu sama sekali tak berhenti.
"HAAIIIIIIIIII, SURPRISEEEEE," teriak Edna dan Vena yang sudah di depan pintu.
"Kalian?" kata Velvet terkejut.
"Bagaimana?? kau terkejut??" tanya Vena.
"Mengapa tak memberitahuku sebelumnya?" tanya Velvet.
"Kalau kami memberi tahumu, itu namanya bukan surprise," jawab Edna.
"Ah ya, masuklah," kata Velvet.
Kemudian Edna dan Vena memeluk Velvet setelah sekian tahun tak bertemu.
"Kami merindukanmu Vel, kau jahat sekali tak pernah mengabari kami," kata Vena.
"Sorry," jawab Velvet.
"Apa kau memakai parfum pria, Vel. Wangi tubuhmu sangat maskulin," kata Edna ketika memeluk Velvet.
"Tidak.. aku..." Ucapan Velvet menggantung karena bingung menjawabnya.
Wangi tubuh Damon menempel pada tubuhnya karena kegiatan panas mereka tadi.
Tak lama kemudian, Damon keluar dari kamar Velvet. Edna dan Vena terkejut melihat hal itu.
"Halo, kalian benar benar mengganggu kami. Seharusnya kalian datang satu jam lagi," kata Damon mengucapkan salam pertemuan yang tak biasa pada Edna dan Vena.
"Begini, kami tadi.." kata Velvet tapi langsung dipotong oleh Edna.
"Ya..Ya.. Kami mengerti, maaf mengganggu kalian," kata Edna tertawa pelan.
Lalu Damon menghampiri Velvet.
"Baiklah aku pergi dulu," ucap Damon dan mencium bibir Velvet didepan teman temannya.
Velvet menutup matanya sekilas karena darahnya berdesir setiap Damon menciumnya.
"Hmm," jawab Velvet lirih.
"Bye... Jaga pacarku baik baik," kata Damon pada Edna dan Vena.
Edna dan Vena spontan langsung mengangguk dan masih melongo melihat berita yang lumayan mengejutkan ini.
Lalu Damon pun pergi dan keluar dari apartemen
"Kau berhutang banyak cerita pada kami, Vel. Terutama tentang Damon... uuuuhhh dia hot sekali. Apakah servicenya membuatmu pingsan?" tanya Vena excited,
"Kau ini!! Itu rahasiaku dengan Damon," jawab Velvet mencebikkan bibirnya.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA....