
Setelah mandi dan membersihkan dirinya, Velvet langsung untuk keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan.
Disana Heidi sudah menyiapkan makan malam mereka yang dipesannya melalui online. Merekapun akhirnya makan malam bersama.
Setelah makan malam, Velvet dan Heidi duduk di sofa ruang tengah. Lalu Heidi memberikan sebuah kertas pada Velvet.
"Buka dan bacalah," kata Heidi.
"Apakah aunty memberikan warisan padaku?" tanya Velvet.
"Kau sudah terlalu kaya untuk menerima warisan dariku," jawab Heidi.
Lalu Velvet membuka dokumen itu. Dia membacanya dengan seksama.
"Tuan Rey yang mengurusnya, kami ingin kau memiliki masa depan yang cemerlang sayang." kata Heidi.
"Menurut Aunty, aku harus menerimanya?" tanya Velvet.
"Ya tentu saja. Jika kau tidak kuliah, aku akan mengusirmu dari sini," jawab Heidi dengan nada bicara khasnya yang selalu sinis.
Velvet tertaawa mendengar hal itu.
"Baiklah, aku akan menerima hal ini dan kuliah dengan baik," kata Velvet.
Velvet akan masuk ke universitas Columbia yang akan dimulai minggu depan. Velvet akhirnya mengerti mengapa Heidi menyuruhnya untuk mengikuti ujian SAT dan ACT sebelum pindah ke New York.
"Tidurlah, besok kita akan mulai berbelanja semua keperluanmu untuk kuliah," kata Heidi.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Velvet.
"Hmm," jawab Heidi.
"Apa sebenarnya pekerjaan aunty?" tanya Velvet.
"Aku seorang CEO, karena menggantikan posisi suamiku yang telah meninggal. Dan Norman serta asistenku yang lain selalu setia membantuku meskipun aku selalu berpindah tempat," jawab Heidi.
"Aunty hebat," kata Velvet.
"Tidak, para asistenku yang hebat. Mereka bagaikan keluargaku yang selalu menemaniku disaat aku terpuruk sekalipun," jawab Heidi.
"Goodnight, honey," jawab Heidi.
Heidi mulai bisa menerima kematian suami dan anaknya sekarang. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke New York dan tak lari lagi dari kenangan bahagia keluarga kecilnya dulu.
Disamping itu,hal ini dilakukannya karena Velvet juga. Dia ingin Velvet maju untuk menjalani kehidupannya yang lebih baik.
‐‐---------------
"Damon, daddy menyuruh kita untuk ke Rusia dan bekerja di perusahaan uncle Alex terlebih dulu sebelum kita bekerja di perusahaan daddy. Bagaimana menurutmu?" tanya Dillon.
"Tak masalah, kita akan kesana beberapa bulan lagi setelah acara kelulusan kita," kata Damon.
"Bagaimana kabar Velvet? Apa kalian masih tak berkomunikasi?" tanya Dillon.
Dillon sudah tahu tentang Velvet dan sebagai saudara kembar Damon, dia sangat mengenal Damon. Damon adalah pria yang lumayan susah jatuh cinta.
Tetapi Dillon merasa sikap Damon pada Velvet sangat berbeda karena sebelumnya Damon tak pernah se peduli itu pada seorang gadis.
Damon selalu menyangkal bahwa sikapnya pada Velvet hanya karena rasa kemanusiaan saja dimana Velvet sudah melewati hidupnya dengan beberapa masalah yang cukup tragis di usianya yang masih belia.
"Kata daddy dia baik baik saja," jawab Damon sembari masih fokus dengan laptopnya.
"Kau tak ingin menemuinya?" tanya Dillon.
"Kurasa dia sudah nyaman dengan hidupnya sekarang. Aku bahkan tak tahu dia ada dimana. Tetapi mendengar kabarnya baik baik saja dari daddy itu sudah membuatku lega. Mungkin dia masih belum ingin diganggu," jawab Damon dan beranjak dari sofa meninggalkan Dillon.
Damon hanya tak ingin membahas hal ini lebih jauh. Dia akan teringat rasa bersalahnya pada Velvet dimana dirinya meninggalkannya dirumah sendirian ketika kejadian tragis itu terjadi.
Damon masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi kemudian membasuh wajahnya yang mulai lelah. Damon memandang dirinya di cermin.
Dia berpikir mungkin dulu Velvet tak pernah membaca suratnya sama sekali karena Velvet tak pernah membalas suratnya satupun. Dan entah mengapa itu membuatnya kecewa pada Velvet karena Velvet sama sekali tak menganggapnya apapun.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YA..........
FOLLOW IG AUTHOR @ZARIN.VIOLETTA
FOLLOW FB AUTHOR @ZARIN VIOLETTA