Falling in Love with Celebrity

Falling in Love with Celebrity
Kejahatan Alina



Para tamu datang dan memberi selamat kepada Kevin dan Gea serta keluarganya. Tetapi beberapa staf terdengar berbisik-bisik.


"Ini benar-benar kejutan. Gea adalah istri Kevin. Sangat luar biasa." Ucap salah seorang karyawan.


"Kapan mereka menikah?" Tanya karyawan lainnya.


"Gea benar-benar beruntung. Aku sangat iri padanya." Ucap yang lainnya.


"Apakah dia menjebak Kevin? Apa kau ingat dia memiliki banyak rumor negatif." Ucap yang lainnya.


Beberapa dari mereka tampak mengangguk. Lola yang mendengar hal itu ingin memukul mereka satu persatu. Tapi Rio menahannya. Mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya dan mereka hanya berbicara omong kosong.


Sementara itu di meja Alina...


Alina tidak tahan lagi. Semakin banyak orang memuji Gea, semakin dia membencinya. Dia berjalan keluar menuju toilet. Di dalam toilet dia berteriak. Dia tidak bisa menerima Kevin telah menikah dengan Gea. Dia berpikir bahwa ini semua pasti karena tipuan Gea.


Sementara itu, Kevin mengajak Gea berkeliling dan memperkenalkannya kepada salah satu tamu orang tuanya. Mereka mengucapkan selamat kepada Kevin dan Gea. Mereka pun memuji kecantikan Gea. Orang tua Kevin senang mendengar hal itu. Mereka berdua merasa bangga dengan Gea.


Setelah berkeliling Kevin merasa kasihan melihat dia yang kelelahan dia lalu membawa Gea kembali ke meja mereka. Kevin mengambil segelas jus untuk Gea, tapi Jhony datang dan berbisik pada Kevin.


Keduanya lalu pergi bersama. Jhony ingin memperkenalkan Kevin kepada teman-temannya. Jadi dia meninggalkan Gea bersama dengan mama mertuanya dan juga kakak iparnya. Mereka lalu mengobrol bersama.


Di sisi lain, di kantor polisi. Emi baru saja mengetahui tentang identitas asli Kevin. Dia pun merasa begitu terkejut dan juga ketakutan.


Dia tahu benar bagaimana keluarga William Alta. Mereka adalah keluarga yang sangat kuat dan berkuasa. Tidak ada yang berani memiliki urusan atau bahkan mengganggu mereka. Dia pun merasa gemetar.


Seorang polisi sedang berbicara dengannya. Setelah begitu lama ditekan oleh Polisi, dia akhirnya mengakui bahwa Alina yang memberikan uang kepadanya dan memberitahukan rencana untuk menculik dan menyakiti Gea. Dia mengatakan kepada polisi bahwa sebenarnya dia tidak berani melakukan hal itu kepada Gea, meskipun dia membenci Gea. Tapi Alina memberinya dukungan untuk melakukan semua itu.


Emi melihat bahwa situasinya saat ini tidak menguntungkan baginya dan lebih baik baginya jika dia mau bekerja sama dengan polisi.


Polisi dengan cepat keluar dari ruangan introgasi dan mengeluarkan surat perintah penangkapan kepada Alina. Mereka segera pergi menuju ke hotel setelah menghubungi Riko.


Sementara itu di hotel, Gea berkata kepada Mama mertuanya bahwa dia ingin ke kamar kecil. Dia pun pergi sendirian ke kamar kecil.


Gea lalu masuk ke kamar kecil. Ada 2 orang pengawal yang mengikuti dirinya. Mereka berdiri tidak jauh dari kamar kecil dimana Gea berada. Mereka mengikuti Gea tanpa sepengetahuan Gea. Mereka takut Gea akan terkejut. Mereka juga tidak mau ketahuan oleh pelakunya.


Ketika Gea berdiri di depan cermin, dia terkejut saat melihat seorang wanita berdiri di belakangnya dan menatapnya dengan penuh kebencian di matanya. Gea sama sekali tidak mengenal wanita itu. Tapi dia heran kenapa cara wanita itu memandangnya begitu menakutkan.


Gea membalikkan tubuhnya dan dia merasa tatapan wanita itu lebih menakutkan lagi terhadap dirinya.


"Aa... apa... apa kau butuh bantuan?" Tanya Gea mencoba berbicara meskipun tangannya tampak sedikit gemetar.


Alina menatapnya dengan penuh kebencian. Dia berjalan ke arah Gea. Melihat kebencian dimata wanita yang ada dihadapannya, Gea pun melangkah mundur. Tiba-tiba Alina menampar wajah Gea dengan sangat keras.


"Wanita ******." Ucap Alina.


Gea begitu terkejut mendapatkan tamparan secara tiba-tiba di wajahnya. Dia memegang pipinya yang ditampar Alina. Tamparan itu sangat kuat.


"Si... Siapa... siapa kau? Apa aku mengenalmu? Kenapa kau menampar ku?" Ucap Gea ketakutan.


Ingatan Gea sedikit demi sedikit datang. Dia menggelengkan kepalanya. Dia merasa begitu kesakitan.


"Jangan berpura-pura wanita ******. Apa kau tidak mengenalku?" Teriak Alina.


Alina lalu menarik rambut Gea. Hal itu semakin membuat Gea merasa kesakitan. Dia mencoba melwan, tapi Alina menamparnya lagi. Dia merasa semakin kesakitan. Kakinya terasa gemetar.


Alina kembali menarik rambut Gea dan menariknya ke atas. Gea pun berteriak.


"Apa yang kau inginkan?" Ucap Gea.


"Apa yang aku inginkan? Aku ingin kau mati. Kau begitu berani mengambil Kevin dariku. Kau mengambil semuanya dariku." Teriak Alina pada Gea.


Gea teringat sesuatu sekarang. Ada banyak sekali penggemar Kevin yang gila.


'Apakah wanita ini juga penggemar Kevin?' tanya Gea dalam hati.


"Apakah kau penggemar Kevin?" Tanya Gea.


Alina tertawa.


"Apakah menurutmu aku ini penggemarnya?" Ucap Alina balik bertanya.


"Tapi, jika kau bukan penggemarnya, lalu kenapa kau melakukan hal ini padaku?" Tanya Gea dengan raut wajah bingung.


"Karena aku membencimu... aku sangat membencimu. Apa kau mendengar ku?" Ucap Alina.


Alina menarik rambut Gea lagi.


"Lihat aku! Kevin harus menjadi milikku. Kami saling mencintai. Aku baru saja pergi sebentar darinya dan kau masuk dalam kehidupan Kevin dan kau mengambil semuanya. Kau menyebalkan." Ucap Alina marah.


Sekarang Gea mengerti mengapa Alina melakukan hal itu kepadanya.


"Tapi..."


Gea ingin mengatakan sesuatu, tapi Alina melanjutkan ucapannya.


"Tapi jika kau menghilang sekarang, maka Kevin akan kembali kepadaku." Ucap Alina.


Gea merasa sangat kesakitan karena Alina menarik rambutnya dengan kencang.


Saat itu Kevin kembali ke tempat duduknya dan dia tidak menemukan keberadaan dia.


"Mama di mana Gea?" Tanya Kevin.


"Dia bilang bahwa dia ingin ke kamar kecil." Balas sang mama.


"Apa? Apa dia pergi sendiri?" Tanya Kevin panik.


Mama Kevin mengangguk. Kevin lalu dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menelpon Riko.


"Sial." Ucap Kevin.


"Ada apa Nak?" Tanya Mama Kevin.


Kevin langsung berjalan menuju kamar kecil dengan cepat.


Bodyguard yang berdiri di luar mendengar teriakan Gea, mereka langsung lari ke kamar kecil. Mereka melihat Alina menarik rambut Gea dan tangannya memegang benda tajam yang ditaruh di leher Gea. Bodyguard itu tidak berani bertindak gegabah.


"Minggir. Biarkan aku lewat, atau jika tidak, dia akan mati." Ucap Alina


Kevin berlari keluar diikuti oleh Jhony. Riko sudah berada di depan kamar kecil. Beberapa pengawal sudah mensterilkan area itu. Untungnya lantai itu sudah di booking oleh Kevin, jadi tidak banyak orang berada di lantai itu.


Pintu kamar kecil terbuka dan 2 pengawal keluar diikuti oleh Alina dan Gea.


Kevin melihat wajah Gea yang tampak kesakitan.


"Alina, lepaskan dia." Teriak Kevin.


"Kevin..." Gea memanggil Kevin.


"Melepaskan dia? Hahaha... Jika aku melepaskannya, apakah kau akan kembali kepadaku? Apakah kau akan mencintai aku lagi?" Ucap Alina.


Kevin melihat tangan Alina yang memegang benda tajam dan dia menekan benda itu di leher Gea dan sekarang leher Gea tampak berdarah. Hati Kevin begitu terluka saat dia melihat hal itu. Kevin merasa bahwa ini semua karena kesalahannya.


"Lepaskan dia dan aku akan pergi bersamamu." Ucap Kevin.


"Tidak... tidak... Kevin." Ucap Gea menggelengkan kepalanya.


Kevin adalah seorang bintang besar. Dia juga CEO dari perusahaan besar. Gea berpikir bahwa Kevin adalah pria yang penting. Tapi dia sendiri, dia hanyalah wanita biasa dan dia tidak penting. Dia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Kevin. Alina melihat ke arah mereka. Mata mereka dipenuhi dengan cinta. Dia menjadi semakin marah dan cemburu. Dia tiba-tiba tertawa.


"Hahaha, kalian berdua saling mencintai satu sama lain bukan? Tapi sayang sekali karena aku tidak akan membiarkan kalian berdua bersatu dan bahagia." Ucap Alina.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Kevin.


"Menyingkir lah dari hadapanku." Ucap Alina seraya menarik Gea menuju pintu darurat.


Para bodyguard melihat ke arah Kevin, menanyakan perintah dari Kevin.


Kevin menggelengkan kepalanya. Saat itu di waktu yang bersamaan, polisi juga tiba dengan pakaian biasa yang mereka kenakan. Mereka bergabung bersama Kevin.


"Nona Alina, lebih baik jika anda melepaskan Nona Gea. Kita bisa bicara dengan tenang." Ucap salah seorang polisi kepada Alina.


"Buka pintunya." Ucap Alina memberikan perintah kepada Gea yang berdiri di depannya.


Gea lalu membuka pintu darurat itu.


Alina memasuki pintu darurat dan tangannya terus menarik rambut Gea.


Gea merasakan sakit di kepalanya dan beberapa bayangan dari ingatannya muncul dan menghilang lagi. Jhony tanda kepada Bodyguard untuk mengikuti dirinya.


"Jangan berpura-pura wanita ******. Ini semua karena dirimu." Ucap Alina yang melihat Gea tampak kesakitan.


Gea juga merasa perutnya sakit. Dia tidak bisa berjalan dengan sangat cepat. Gea berusaha mengurangi rasa sakit di kepala dan perutnya dengan memegang terali yang menjadi pegangan tangga darurat itu.


Kevin dan yang lainnya yang mengikuti Alina tidak berani terlalu dekat dengannya.


"Sialan kau wanita ******. Lepaskan tanganmu dari terali itu." Ucap Alina seraya memukuli tangan Gea yang terus memegang terali itu.


Alina terus menarik Gea untuk turun ke tangga yang sebenarnya hanya tinggal dua langkah lagi. Tapi Gea terus memegang terali itu. Kevin berjalan mendekat ke arah Gea. Dia melihat air mata Gea yang turun ke pipinya.


"Alina lepaskan dia." Ucap Kevin kepada Alina.


"Kevin apa bagusnya wanita ini? Kenapa? Kenapa kau memilihnya Kevin? Aku sangat mencintaimu. Apakah ini semua karena aku meninggalkan dirimu waktu itu sehingga kau membenciku?" Ucap Alina.


Kevin mencoba untuk mengalihkan Alina. Dia memberikan tanda kepada Riko dan polisi dengan matanya.


"Alina, aku tidak membencimu. Kau selalu menjadi teman terbaikku. Tidak bisakah kau menaruh benda itu dulu. Itu sangat berbahaya." Ucap Kevin terus bicara dan berjalan mendekat. "Lepaskan dia dan kita bisa bicara dengan tenang." Ucap Kevin lagi.


Kevin tahu bahwa Alina sekarang berdiri di tempat yang tidak stabil. Dia dan Gea berdiri di dekat tangga.


"Benarkah? Kau pasti bohong demi kebaikanku bukan? Aku tidak percaya kepadamu dan aku tidak mau menjadi teman baikmu." Ucap Alina.


Tiba-tiba dia menarik rambut Gea dengan sangat keras.


Gea pun berteriak, "aaaaahhh..."


"Alina..." Teriak Kevin.


Gea berusaha menggunakan tangannya untuk meraih tangan Alina jadi tangan Alina bisa terlepas dari rambutnya karena tindakan Gea yang secara tiba-tiba membuatnya melepaskan pegangannya pada terali itu hingga menyebabkan mereka berdua pun terjatuh dan berguling ke lantai bawah.


Kevin berlari turun melalui tangga. Jhony yang sudah berada di lantai bawah dengan cepat berlari naik ke lantai atas.


Kevin tiba di bawah dan melihat Alina dan Gea tak sadarkan diri di lantai. Kelihatannya kepala mereka berdua terbentur. Ada darah menggenang di lantai. Polisi mengatakan bahwa Alina tertusuk di perutnya sendiri dengan benda tajam yang dia bawa dan kelihatannya benda tajam itu tampak seperti pisau yang sudah di modifikasi.


Kevin dan Riko pergi ke rumah sakit. Beberapa petugas polisi mengamankan lokasi kejadian dan membuat semuanya seolah tidak terjadi apa-apa karena mereka tidak mau ada kekacauan yang terjadi.


Setelah memberikan beberapa pernyataan kepada polisi, Jhony pergi kembali ke ruang pesta. Orang tuanya melihat ke arahnya dan Jhony membisikkan sesuatu di telinga Papanya.


Mereka mencoba bersikap normal.


Tak lama setelah itu, pesta pun berakhir. Jhony dan kedua orang tuanya dengan segera pergi menuju rumah sakit di mana Gea berada.


Kevin menunggu di luar ruangan gawat darurat. Orang tuanya datang.


"Papa... Mama..." Ucap Kevin.


"Bagaimana keadaan nya?" Tanya kedua orang tua Kevin.


Kevin menggelengkan kepalanya. Mereka semua duduk di bangku yang ada di luar ruang gawat darurat. Mama Kevin menangis dan Papanya mengusap punggung istrinya itu. Tidak lama setelah itu pintu ruang gawat darurat terbuka dan seorang dokter berjalan keluar.


"Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya Kevin.


Dokter itu adalah dokter yang sama yang juga merawat Gea waktu itu dan dia juga merupakan dokter keluarga dari William Alta, keluarga Kevin.


Bersambung...