
Di malam hari...
Kevin memberitahu Gea bahwa dia sudah menyiapkan mobil untuk Gea dan orang tuanya. Mereka dibawa ke sebuah restoran kelas atas. Ketika mereka tiba, mereka dipandu oleh seorang pelayan dan memasuki sebuah ruangan VIP. Kevin sedang duduk di sana. Ketika dia melihat Gea dan orang tuanya datang, dia segera berdiri.
"Papa, Mama." Ucap Kevin.
Kedua orang tua Gea memeluk Kevin. Gea sedikit terkejut ketika mendengar Kevin memanggil orang tuanya dengan sebutan mama dan papa juga.
'Sejak kapan mereka dekat? Kenapa aku tidak tahu?' tanya Gea dalam hati.
Mereka semua lalu duduk dan kemudian pelayan mulai menyajikan makanan untuk mereka.
Salah satu pelayan diam-diam melirik ke arah Kevin sambil meletakkan makanan di atas meja. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia bisa melihat Kevin sedekat itu. Tapi dia juga penasaran tentang siapa wanita di samping Kevin itu dan apa hubungan mereka.
Namun karena kode etik pekerjaannya, dia tidak berani bergosip. Setelah melayani Kevin dan yang lainnya, dia dengan cepat mengikuti manajernya keluar dari ruangan itu.
Kevin adalah sosok pria idaman semua wanita, tentunya termasuk pelayan itu sendiri. Ketika mereka berada di dapur, pelayan itu bertanya kepada manajernya tentang Kevin. Tetapi manajernya memperingatkan dirinya dan karena dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya, jadi dia tetap diam.
Di dalam ruangan VIP, Kevin tengah mengobrol dengan orang tua Gea. Terkadang dia mengambil makanan dan menaruhnya di piring Gea. Orang tua Gea melihat itu dan mereka merasa puas juga bahagia.
Kevin juga berbicara banyak hal tentang bisnis dengan Papa Gea.
Gea sedikit bingung karena dia tidak tahu bahwa Kevin juga sangat pandai dalam hal bisnis. Dia tidak pernah mengecek latar belakang pendidikan Kevin. Dia hanya mengira Kevin adalah seorang idola, seorang musisi. Dia pikir Kevin hanya tahu tentang musik.
Gea merasa seperti melihat dua sosok Kevin yang berbeda malam ini. Ketika dia mendengar Kevin bicara tentang bisnis, Kevin terlihat seperti pengusaha sejati. Gayanya sangat berbeda dari biasanya. Kharismanya dan caranya bicara dengan serius, semuanya begitu mempesona.
Gea menatap Kevin terus-menerus seolah-olah dia terhipnotis. Gea merasa jantungnya berdegup kencang dan wajahnya menjadi merah. Kevin tahu jika Gea menatapnya sepanjang waktu. Dia pun tersenyum. Dia lalu membalas menatap Gea. Lalu Gea dengan cepat menoleh ke makanannya untuk melanjutkan makan.
Tidak lama kemudian makan malam mereka berakhir. Mobil yang membawa Gea dan orang tuanya mengantar mereka kembali ke apartemen mereka. Sementara Kevin sendiri diantar oleh bodyguard kembali ke apartemennya.
Ketika Gea berada di apartemennya dia bertanya kepada orang tuanya tentang Kevin dan dia akhirnya tahu bahwa Kevin adalah lulusan jurusan bisnis. Kemudian orang tuanya memberitahu bahwa perusahaan tempat Gea bekerja adalah bisnis keluarga Kevin.
Dia sedikit terkejut karena dia tidak mengerti kenapa Kevin tidak mau berbisnis orang tua dia memberitahunya bahwa musik adalah hobi Kevin dan mereka hanya tahu itu.
"Gea, Mama dan Papa akan kembali ke rumah besok." Ucap Mama Gea.
Gea merasa sedikit sedih. Dia belum ingin berpisah dari orang tuanya.
"Tinggallah lebih lama Ma." Ucap Gea.
"Sayang, kami harus segera kembali secepatnya. Kau tahu bahwa Papa juga punya pekerjaan. Akan lebih baik jika kau yang pulang ke rumah saat kau punya waktu luang." Balas Mama Gea.
Gea pun hanya bisa berjanji pada mereka bahwa dia akan pulang suatu hari nanti. Setelah itu dia berjalan ke kamarnya. Tetapi dia kembali lagi. Dia berdiri di sana sebentar dan menatap orang tuanya.
Orang tua Gea tahu bahwa Gea memiliki sesuatu dalam pikirannya.
"Ada apa sayang? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Papa Gea.
Orang tua dia merasa senang untuknya. Tetapi mereka sebenarnya ingin menceritakan tentang pertunangannya dengan Kevin. Tapi Kevin sendiri meminta mereka untuk tidak memberitahu Gea tentang hal itu karena Kevin ingin memberitahunya sendiri. Kevin sudah punya rencana dalam benaknya sendiri.
Orang tua Gea tahu tentang bakat yang Gea miliki dan mereka pun setuju dengan apapun keputusan yang diambil Gea.
"Tapi Gea, setidaknya kau harus membicarakan hal ini dengan Kevin." Ucap Mama Gea.
Gea tampak bingung.
"Kenapa aku harus membicarakan hal ini dengan Kevin?" Tanya Gea.
Orang tua Gea terdiam.
"Hmmm bukankah kalian berdua tengah dekat. Setidaknya Kevin harus tahu tentang hal itu." Ucap Papa Gea.
Gea masih bingung. Untuk apa dia harus membicarakan hal itu dengan Kevin. Padahal mereka hanya berpacaran.
'Apa hubungan antara beasiswaku dengan Kevin? Kenapa aku harus meminta persetujuan Kevin?' tanya Gea dalam hati.
Gea kembali ke kamarnya. Setelah mandi, dia bersiap untuk tidur. Dia lalu berbaring. Kevin menelponnya, Gea pun menjawab panggilan Kevin.
"Apa kau sudah tidur?" Tanya Kevin.
"Baru saja mau tidur. Kenapa?" Tanya Gea.
"Apa kau merindukan aku?" Tanya Kevin.
"Tidak." Balas Gea.
"Kau bohong. Aku melihat kau menatapku sepanjang waktu tadi saat makan malam. Apakah kau puas menatapku?" Tanya Kevin.
Wajah Gea memerah. Tiba-tiba Kevin menutup telepon dan mengalihkannya ke video call.
"Sayang." Ucap Kevin.
Gea melihat wajah Kevin. Kevin tampak memakai piyama dan rambutnya masih basah. Dia terlihat sangat seksi.
'Tuhan apa yang terjadi? Kenapa aku sangat gugup? Kenapa dia terlihat sangat menawan dan seksi hari ini?' pikir Gea.
Gea merasa malu, dia lalu menggelengkan kepalanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah. Kevin lantas menggodanya dan membuat wajah Gea semakin memerah. Setelah beberapa saat, Kevin memberitahu Gea bahwa dia akan sibuk dalam beberapa hari ini. Jadi mungkin dia tidak dapat menjemput atau menelpon Gea.
"Tapi aku akan mencoba mengirim pesan kepadamu jika aku punya waktu luang." Ucap Kevin.
Setelah memberikan ciuman selamat malam, mereka pun mengakhiri video call mereka.
Bersambung...