
Di dalam mobil, Rio melihat Gea sedang melihat keluar jendela. Mata Gea tampak merah.
"Aku minta maaf." Ucap Rio.
"Tidak apa-apa Rio." Balas Gea.
Rio memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia menatap Gea dan dia melihat wajah Gea yang sedih. Hal itu membuatnya ikut merasakan sakit.
"Apa kau ingin bicara?" Tanya Rio.
Gea menoleh dan menatap Rio.
Rio mengulurkan tangannya dan menyeka air mata Gea.
"Aku minta maaf." Ucap Rio lagi.
Gea menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tersenyum. Dia menyeka air matanya sendiri dan tersenyum.
"Itu bukan salahmu, jangan minta maaf." Ucap Gea.
"Ini karena Kevin kan?" Ucap Rio.
Gea hanya tersenyum lalu menatap Rio dan melihat ke arah setir mobil.
"Apa kau tidak ingin pulang?" Tanya Gea pada Rio.
Rio tahu bahwa Gea tidak ingin membicarakan apapun. Jadi dia tidak bertanya apapun lagi. Dia lantas menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi. Dia tahu bahwa sesuatu terjadi antara Gea dan Kevin.
Saat mereka tiba di apartemen Gea, Gea keluar dari dalam mobil setelah berpamitan dan berterima kasih kepada Rio.
Rio pun pergi dan Gea masuk ke apartemennya.
Ketika Gea ingin membuka pintu apartemennya, tiba-tiba Kevin berdiri di belakangnya. Gea begitu terkejut. Tetapi setelah mengetahui itu adalah Kevin, Gea lantas dengan tenang membuka pintu dan masuk ke dalam dengan Kevin yang mengikutinya masuk.
Kevin menarik tangan Gea dan membuat wajah Gea menghadap ke arah dirinya. Dia mengangkat dagu Gea dan membuat Gea menatap matanya.
"Kevin, apa yang kau inginkan?" Tanya Gea.
"Apa yang kau inginkan? Gea yang benar saja? Apa kau lupa bahwa kau adalah wanitaku? Beraninya kau pergi dengan Rio." Ucap Kevin seraya memegang dagu Gea dengan keras.
Gea pun merasa kesakitan.
"Kevin lepaskan aku. Kau menyakitiku." Ucap Gea.
Kevin menundukkan kepalanya dan mencium bibir Gea dengan keras. Gea mencoba mendorong Kevin, tapi Kevin menahannya dengan erat.
"Aku merindukanmu. Jangan pergi dengan pria lain lagi. Aku tidak menyukainya." Ucap Kevin.
"Kevin..." Ucap Gea.
Air mata Gea jatuh setelah mendengar ucapan Kevin. Dia juga merindukannya. Gea perlahan melingkarkan tangannya di pinggang Kevin.
Kevin melepaskan ciumannya dan menatap mata Gea.
"Jangan pergi dengan pria lain lagi." Ucap Kevin.
"Kevin, Rio dan aku hanya berteman, kami sudah seperti saudara." Ucap Gea.
"Tapi aku tidak suka melihat kau bersama pria lain. Kau hanya milikku." Ucap Kevin.
"Kevin, aku..."
Sebelum Gea bisa menyelesaikan kalimatnya, Kevin sudah menutup mulut Gea dengan ciumannya. Dia lalu membawa Gea ke kamar tidur.
--
Setelah Gea bangun, dia melihat Kevin sedang tidur di sampingnya. Dia memeluk pinggang Kevin.
Ketika dia mengingat tentang apa yang terjadi tadi malam, wajah Gea memerah. Betapa konyolnya dia. Gea lalu menggelengkan kepalanya.
Semalam Kevin memberitahu Gea tentang Alina. Dia seharusnya mendengarkan Kevin lebih dulu. Tapi dia mempercayai semua rumor bodoh itu. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Kevin dan memberikannya ciuman ringan di pipi Kevin lalu dia memeluk Kevin erat.
Gea membenamkan kepalanya di dada Kevin kemudian dia merasa mengantuk lagi.
Kevin melihatnya dan menciumnya yang membuat wajah Gea memerah.
"Pergilah mandi, makanannya hampir siap." Ucap Kevin.
Gea mengangguk lalu berjalan kembali ke kamarnya.
Ketika mereka sedang makan siang, Kevin melihat jam di tangannya. Gea melihat Kevin dan bertanya padanya.
"Apa kau ingin melakukan sesuatu?" Tanya Gea.
Kevin mengangguk.
"Kami ada undangan untuk menghadiri sebuah acara TV." Balas Kevin.
"Kalau begitu kau harus pergi." Balas Gea.
Kevin menatap Gea. Dia berdiri dan membungkuk untuk mencium Gea.
"Sampai bertemu nanti." Ucap Kevin.
Gea mengangguk dan mengikuti Kevin ke pintu. Kevin membalikkan tubuhnya dan menatap Gea dari atas ke bawah.
"Apa?" Tanya Gea.
"Ganti pakaianmu. Kau ikut aku." Balas Kevin.
"Apa?" Ucap Gea lagi.
Kevin mendorong Gea ke kamarnya.
"Cepat." Ucap Kevin.
"Kevin apa boleh?" Tanya Gea.
Kevin mengerti tentang pertanyaan Gea. Dia lantas dengan cepat menjawabnya.
"Tentu saja." Ucap Kevin.
Kevin lalu menelpon seseorang dan Gea tidak tahu siapa yang di telepon Kevin.
Mereka lalu berjalan keluar dari apartemen Gea dan masuk ke dalam mobil Kevin. Mereka pergi ke apartemen Kevin.
Setelah berganti pakaian, asisten Kevin, Riko datang dan mengantar mereka ke stasiun TV. Kevin masuk bersama pengawalnya. Gea juga mengikutinya.
Ketika mereka sampai di belakang panggung, Gea melihat anggota The Rain lain sudah ada di sana. Dia menyapa mereka. Gea merasa malu ketika mereka memandangnya. Staf yang lain juga kaget saat melihat Gea datang bersama Kevin.
Kevin tidak peduli dengan pendapat mereka.
Gea tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Gea yang canggung, Kevin menyuruh Gea untuk berpura-pura menjadi asistennya. Karena Gea harus bertindak sebagai asisten Kevin, jadi dia mengurus semua kebutuhan Kevin, seperti mengambil minumannya dan yang lainnya.
Kevin sangat senang dengan adanya Gea di sampingnya sepanjang waktu.
Ketika The Rain naik panggung, Gea keluar dari belakang panggung dan menemukan tempat untuk dia bisa menonton penampilan mereka. Kevin dan yang lainnya terlihat sangat hebat.
Setelah penampilan The Rain selesai, mereka kembali ke belakang panggung untuk berganti pakaian. Setelah itu mereka meninggalkan stasiun TV.
Riko datang dengan mobil. Dia membuka pintu mobil untuk Kevin dan Gea. Tapi mereka tidak tahu bahwa seseorang melihat itu dan mengambil foto mereka.
Kevin menyandarkan kepalanya di bahu Gea dia menatap dia dengan penuh perhatian.
"Sayang ayo kita pergi ke London bulan depan. Mama ingin bertemu denganmu." Ucap Kevin.
"Tante?" Tanya Gea.
Kevin mengangguk. Dia meraih tangan Gea dan menciumnya.
"Sayang bisakah kita tetap seperti ini saja, jangan berkelahi lagi." Ucap Kevin menatap mata Gea.
Gea pun mengangguk seraya tersenyum pada Kevin.
Bersambung...