
Pagi harinya Gea bangun dan mendapati dirinya berada di tempat tidur Kevin. Tapi dia tidak melihat keberadaan Kevin. Dia segera keluar dari dalam kamar dan dia melihat sekeliling dan menemukan Kevin baru saja keluar dari kamar lainnya.
Melihat Gea yang sudah bangun, Kevin berjalan mendekat ke arah Gea dan memberikan ciuman singkat di bibir Gea.
"Kevin apa kau baik-baik saja sekarang?" Tanya Gea.
Gea mengulurkan tangannya dan meletakkannya di kening Kevin. Dia merasa lega karena kening Kevin sudah tidak panas lagi.
"Aku baik-baik saja. Aku punya perawat yang hebat untuk merawat ku. Tentu saja aku baik-baik saja." Ucap Kevin.
"Siapa perawat mu?" Uap Gea berpura-pura kesal.
Kevin lalu langsung menarik Gea ke dalam pelukannya.
"Terima kasih sayang." Ucap Kevin.
Gea membalas pelukan Kevin dengan erat.
Walaupun Kevin sudah tidak demam lagi, tapi dia masih sedikit lemah. Jadi Gea tetap berada di apartemen Kevin seharian untuk menjaga Kevin. Mereka pun menghabiskan hari mereka di apartemen Kevin.
...----------------...
Keesokan harinya Kevin membawa Gea pergi ke luar kota. Mereka memakai masker dan pergi berkencan seperti pasangan muda lainnya. Beberapa kali mereka terpaksa berpisah karena Kevin dikenali oleh para penggemarnya. Gea harus berpura-pura mengelak dan menunggu Kevin di pojokan. Terkadang mereka berdua berlari menghindari kejaran para penggemar Kevin.
Mereka pergi ke beberapa tempat. Kevin juga menemani Gea berbelanja.
Mereka benar-benar bersenang-senang. Setelah seharian bermain di luar, keduanya merasa kelelahan. Mereka pergi ke villa pribadi Kevin dan tinggal di sana. Setelah mandi, Kevin berdiri di balkon. Dia menikmati pemandangan di malam hari.
Kevin berjalan ke arah Gea dan memeluknya dari belakang. Kevin sangat suka memeluk dan mencium leher Gea. Dia mencium cuping telinga Gea dan membuat Gea merasa geli.
Kevin mulai mencium setiap sudut leher dan bahu Gea. Dia membalikkan tubuh Gea dan mencium kening, lalu mata dan hidung Gea, hingga akhirnya bibir Gea.
Sementara Gea meletakkan tangannya di leher Kevin.
Saat itu Kevin tengah mencium Gea dalam-dalam. Kevin menempelkan tubuh ke tubuh Gea dan tubuh mereka berpelukan erat satu sama lain. Ciuman mereka semakin panas. Kevin menggendong Gea dan membaringkannya di tempat tidur, lalu mencium Gea lagi. Setelah beberapa saat, mereka pun berhenti berciuman untuk mengambil nafas.
Beberapa jam kemudian keduanya berbaring di tempat tidur tanpa mengenakan sehelai benang pun. Kevin menatap wanita di sampingnya yang sudah menjadi miliknya seutuhnya. Dia tersenyum dan mencium kening Gea yang sudah tertidur karena kelelahan.
...----------------...
Keesokan harinya Gea bangun dan merasa seluruh tubuhnya sakit. Dia melihat Kevin yang masih tidur di sampingnya. Dia tersenyum dan memberikan ciuman ringan pada Kevin. Wajahnya memerah mengingat apa yang terjadi kemarin malam. Akhirnya Gea memberikan hal yang paling berharga untuk pertama kalinya kepada Kevin.
Gea perlahan mengangkat selimut dan turun dari tempat tidur mengambil pakaiannya dan memakainya. Tapi dia merasakan ada sesuatu di jarinya. Dia lalu melihat jarinya sendiri. Ada cincin di jarinya itu. Kevin meletakkan cincin di jari Gea ketika dia sedang tidur. Gea menatap cincin itu. Kevin membuka matanya dan melihat Gea.
"Apakah kau menyukainya?" Tanya Kevin.
"Kevin aku..." Ucap Gea terbata-bata seraya melihat ke bawah dengan malu-malu dan mengangguk.
Kevin lalu menarik Gea kembali ke pelukannya dan mencium Gea.
"...." Gea terdiam.
Melihat Gea yang tidak menjawab, Kevin bertanya lagi dia takut jika akan menolak.
"Apa kau tidak mau menikah denganku?" Tanya Kevin.
Gea menggelengkan kepalanya.
"Tidak... tidak..." Ucap Gea.
"Jadi kau benar-benar tidak mau menikah denganku?" Ucap Kevin ingin bangun dari tempat tidur.
Dia merasa kecewa. Gea lantas menarik Kevin kembali.
"Kevin bukan begitu. Aku tentu mau." Ucap Gea.
Kevin merasa senang dan mencium Gea lagi.
"Mulai sekarang, kau milikku." Ucap Kevin lalu menarik Gea ke dalam pelukannya.
Gea akhirnya memilih Kevin daripada mimpinya untuk belajar di Paris.
Setelah beberapa saat, mereka pun bangun. Kevin memberitahu Gea bahwa dia sudah meminta seseorang untuk memberitahu perusahaan bahwa Gea tidak akan masuk kerja karena sesuatu. Sebenarnya Gea merasa bersalah karena dia sudah terlalu sering bolos kerja. Dia berpikir mungkin lebih baik jika dia berhenti dari pekerjaannya.
Ketika mereka sedang makan siang, ponsel Kevin berdering. Dia melihat nomornya tidak ada nama pemanggil di sana dan Kevin tidak tahu itu nomor siapa. Jadi dia menolak panggilan itu dan tidak mau menjawabnya.
Nomor itu juga menelpon Kevin kemarin. Tapi Kevin tidak mau menjawab karena dia tidak mengenal siapa yang menelponnya itu. Gea melihat Kevin yang tidak mau menjawab panggilan itu dan dia pun merasa ada yang tidak beres dengan hal itu.
"Kevin ada apa?" Tanya Gea.
Kevin kembali tersadar. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Kevin lalu berkata, "tidak... tidak apa-apa. Maaf, ayo lanjutkan makan." Ucap Kevin seraya meraih tangan Gea dan mencium tangan Gea.
Kevin sedang berada di ruang belajarnya. Ketika Gea masuk, dia melihat ada beberapa buku di dalam ruang belajar Kevin. Gea meminta izin sebelum membaca buku itu.
"Kevin bolehkah aku meminjam buku mu?" Tanya Gea.
"Tentu saja." Balas Kevin.
Ketika Gea mengeluarkan salah satu buku, sebuah foto terjatuh. Gea mengambilnya dari lantai dan melihat foto itu adalah foto seorang wanita cantik. Gea ingin bertanya pada Kevin. Dia lalu membalik bagian belakang dari foto itu dan ada beberapa kata yang tertulis disana. Tapi sebelum Gea sempat membacanya, Kevin sudah memanggilnya.
Suara Kevin yang memanggilnya membuat Gea kembali sadar. Dia dengan cepat mengembalikan foto itu ke dalam buku dan mengambil buku yang lain dan berjalan menuju Kevin. Dia tidak berani bertanya pada Kevin. Dia duduk di samping Kevin lalu meletakkan kepalanya di dada Kevin dan memeluk Kevin erat-erat. Dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam hatinya. Tapi dia tidak tahu apa itu.
Bersambung...