Extraordinary Love

Extraordinary Love
Ending



Kent tertunduk lesu di kursi tunggu di depan ruang operasi Camelia. Hatinya hancur melihat sang istri tidak sadarkan diri dengan kondisi yang benar-benar membuat Kent tidak bisa berkata-kata. Kent menatap kosong lantai yang ada di depan matanya. Ini sudah 2 jam, namun dokter belum juga keluar. Lampu operasi masih menyala. Sejak tadi hanya para perawat lah yang mondar-mandirnya mengambil stok darah untuk Camelia.


Zinnia terus berjalan ke sana kemari sembari menggosokkan telapak tangannya. Dia kalut. Anak semata wayangnya sedang berjuang di meja operasi namun dia tidak bisa melakukan apa-apa. Sejak tadi Zinnia dan juga yang lain tak hentinya berdoa untuk keselamatan Camelia. Mereka tidak ingin orang yang mereka sayangi pergi.


Beberapa jam kemudian, akhirnya lampu di atas pintu ruang operasi mati. Pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter keluar dari dalam ruang operasi. Kent langsung berdiri meski dia sempoyongan. Mungkin karena terlalu lama duduk dan tiba-tiba berdiri membuat darah yang mengalir di otak Kent tidak lancar.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Kent menarik lengan dokter itu membuat sang dokter sedikit tersentak.


"Tuan, istri Anda kritis. Pendarahan nya tidak mau berhenti. Kami sudah mengupayakan berbagai cara untuk menghentikan pendarahan yang terus berlanjut, namun itu tidak berhasil."


Jantung Kent bagai terhantam beton ribuan ton. Apa maksud dokter istrinya tidak baik-baik saja?


"Dok, tolong bantu istri saya. Berapapun saya harus membayar, saya akan membayar semuanya. Saya janji, jika perlu memberikan seluruh harta yang saya miliki, saya akan memberikannya. Tapi tolong bantu istri saya Dok."


Zinnia dan Ashana menangis tersedu di pelukan suami mereka masing-masing. Tak lama setelah Kent mengatakan itu, Samantha datang menemui Kent dan keluarganya.


"Kent ada apa?" Samantha bertanya dengan wajah khawatir.


Kent tidak menjawab. Dia hanya terus menggoyangkan lengan Dokter berharap dokter itu akan mengiyakannya apa yang tadi dia minta.


"Maaf Tuan, saya sudah mengupayakan apapun. Sekarang kita hanya bisa menunggu , kita juga masih terus memberikan transfusi darah kepada istri Anda. Anda jangan putus asa seperti ini."


"Dok! Pasien siuman. Dia ingin bertemu dengan keluarganya."


Semua orang menoleh ke arah suster yang menyampaikan kabar baik kepada mereka. "Bolehkah kita menemui nya di sini?" Kent kembali bertanya untuk memastikan.


"Kita akan memindahkannya terlebih dahulu. Bersabarlah! Kau harus siap dengan kemungkinan buruk yang mungkin saja akan akan terjadi"


Dokter itu kembali ke ruang operasi. Tak lama setelah itu para medis mendorong hospital bed yang di pakai oleh Camelia. Semua orang menatap haru Camelia yang kala itu tersenyum ke arah mereka. Bayi Camelia juga di bawa oleh seorang suster. Itu artinya bayi Camelia baik-baik saja.


****


"Ingat untuk selalu menjaga ketertiban!" Dokter itu memperingatkan Kent yang hendak masuk ke ruang observasi. Segala kelengkapan telah dia pakai supaya ruangan itu bisa tetap steril.


Mereka semua di beri waktu giliran. Tidak semuanya langsung masuk. Kali ini hanya Kent dan Zinnia yang boleh melihat Camelia lebih dulu.


Kent melangkahkan kakinya dengan langkah yang sangat berat. Dadanya sesak entah kenapa. Begitupun dengan Zinnia. Suara isakkan hampir lolos dari bibirnya. Zinnia terus berusaha untuk menahan tangis, namun ternyata itu sangat menyakitkan.


"Baby!" Kent bersuara di samping ranjang istrinya. Camelia membuka matanya perlahan.


"Kakak, Ibu," ucap Camelia dengan suara yang sangat pelan.


"Iya Baby, aku di sini." Kent berusaha menahan tangis melihat Camelia yang kesulitan untuk bernapas.


"Kak, anak kita perempuan. Dia sangat cantik. Dia sangat mirip dengan mu."


Kent mengangguk. Meskipun dia belum melihat bayinya secara langsung, namun dia yakin kalau bayi mereka memang sangat cantik.


"Mama, maafkan Camelia. Camelia belum bisa membuat Mama bangga."


Zinnia menggeleng dengan cepat. "Jangan bicara seperti itu sayang. Kamu adalah hal terindah yang hadir di hidup Mama. Bagaimanapun kamu, Mama tidak pernah perduli."


Camelia tersenyum tipis. "Kak aku boleh bertemu Kak Samantha?"


"Biar Mama saja yang memanggilnya. Kamu tetap di sini Kent. Temani Bella."


Kent mengangguk. Dia kembali menatap Camelia dengan tatapan kerinduan. Tangannya terulur menyentuh rambut Camelia lalu mengusapnya perlahan.


"Kak, aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu Baby."


Camelia semakin merasakan sesak di dadanya. Tenggorokannya mendadak menyempit membuat Camelia kesulitan untuk berbicara. Rasa sakit di sekujur tubuhnya semakin menjadi. Penglihatannya semakin buram. Bahkan wajah Kent sudah tidak terlihat jelas.


"Bella!" Samantha menyeru ketika dia masuk ke ruangan. Camelia menarik ujung bibirnya.


"Kak Samantha!" Camelia berbicara dengan susah payah.


"Te-rima kasih karena sudah datang Kak. Kak Kent. Mendekat lah!"


Meskipun Kent tidak tahu apa yang akan Camelia lakukan, Kent mendekat membuat dia benar-benar berdiri tepat di samping Samantha.


Camelia menyentuh tangan Samantha, lalu mengambil tangan Kent dan menaruh tangan besar itu di atas punggung tangan Samantha.


Kent menatap Camelia dengan kening yang berkerut. "Apa maksud semua ini Baby?"


Camelia tersenyum. "Kak Samantha, aku tagih janjimu padaku. Tolong jaga suami juga anak ku. Tolong jadilah Ibu dari anak yang baru saja aku lahirkan."


Kent langsung menarik tangannya. "Apa yang kau lakukan Camelia? Kau mau dia menggantikannya posisimu hah? Tapi kenapa? Kau akan sembuh. Aku janji, kita akan terus bersama. Kalau aku memang belum baik untukmu, aku akan berusaha supaya aku bisa lebih baik. Tapi tolong jangan lakukan ini. Aku mencintaimu. Hanya kau yang bisa menjadi Ibu bagi anak-anak kita."


"Aku tahu Kak, namun aku sudah ti-dak ku-at. Ini terlalu menyakitkan. Tolong perlakukan Kak Samantha dengan baik. Rawat anak kita dengan penuh kasih sayang. A-aku mencintaimu Kak."


"Camelia! Baby!" Kent menggoyangkan bahu sang istri berharap kalau wanita itu hanya tertidur. "Baby, bangun Sayang. Kau harus sembuh. Setelah ini kita akan merawat anak kita bersama. Tidak, aku yang akan merawatnya. Kau hanya perlu menemani kami. Kau tidak harus capek mengurus bayi, aku yang akan mengurusnya. Sayang!"


Kent terus mengguncang tubuh sang istri. Samantha yang melihat itu merasa sangat iba. Meskipun dia tidak mengenal Camelia, namun entah kenapa melihat wanita itu tiada hatinya sangat sakit.


Samantha keluar dari ruangan itu dengan wajah yang sendu dan air mata mengalir dari pelupuk matanya. Dia hendak memanggil dokter, namun dokter ternyata sudah lebih dulu berhamburan masuk ke dalam ruang rawat Camelia.


"Apa yang terjadi Nona, kenapa dengan anak kami?" Kedua orang tua Kent dan Kedua orang tua Camelia bertanya setengah memohon kepada Samantha.


"Dia sudah pergi!" jawab Samantha membuat Zinnia langsung ambruk di atas lantai. Zinnia menatap kosong ruang rawat anaknya. Detik berikutnya, pandangan Zinnia menghitam dan pada saat itulah dia kehilangan kesadaran.


"Tidak, ini tidak mungkin sayang. Menantu Ibu pasti baik-baik saja. Kenapa dia meninggalkan kita secepat ini. Ini semua salah Ibu. Seharusnya Ibu memperlakukan dia dengan baik sejak awal. Ini semua salah Ibu."


Ashana menangis meraung-raung di pelukan suaminya. Keadaan saat itu benar-benar sangat kacau. Samantha menatap nanar semua yang terjadi di depan matanya. Mereka semua pasti sangat sedih karena di tinggal orang yang sangat mereka cintai.


****


Sayup-sayup Camelia mendengar seseorang memanggil namanya.


"Camelia, Camelia bangun Sayang!"


Camelia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah ibunya. Wajah ibu kandungnya di dunia nyata.


"Ibu Fuchsia, Ayah Adrias. Kalian,-"


"Syukurlah kamu sudah sadar Nak. Ibu sempat terkejut karena pihak sekolah mengatakan kalau kau pingsan dan tidak sadarkan diri. Sekarang kau sudah bangun. Ibu sangat lega Nak."


Camelia mengerutkan keningnya bingung. "Ini tanggal berapa Bu?"


"Tangga xx xx xxxx. Kenapa Sayang? Ada apa?"


Camelia menggeleng dengan cepat. Ini tidak mungkin. Tanggal ini masih sama dengan tanggal di mana dia kala itu berangkat ke sekolah lalu dia berseteru dengan temannya.


"Kak Kent, ini tidak mungkin. Anak kita." Camelia bergumam dalam hati. Dia menyentuh perutnya yang masih terasa sangat rata. Ini tidak mungkin. Setahun lebih dia hidup dengan Kent, namun kenapa tiba-tiba dia kembali ke sisi ibu kandungnya. Kalau itu hanya mimpi, bagaimana bisa Camelia masih merasakan sakit di dadanya. Bahkan Camelia masih ingat betul bagaimana rupa suami juga putrinya. Perlahan air matanya menetes.


"Ibu, Camelia ingin pulang."


Fuchsia mengangguk. Dia dan suaminya bergegas membawa Camelia pulang ke rumah mereka. Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan rumah dengan sebuah taksi yang mengantar.


Ketika taksi itu berhenti, Camelia langsung berlari menuju pintu. Dia berusaha untuk membuka pintu, namun pintu itu masih terkunci.


"Ibu, mana kuncinya? Cepat berikan padaku!"


Fuchsia merasa heran melihat tingkah Camelia yang tidak biasa. Setelah Fuchsia membuka pintu, Camelia langsung menerobos masuk ke kamarnya.


Brakkkkk!


Camelia membanting pintu kamarnya kasar. Dia mengobrak-abrik semua barang yang ada di kamarnya untuk mencari buku novel yang belum selesai dia baca. Camelia hanya ingin tahu, apakah cerita dalam novel itu berubah atau tidak.


Setelah semua sisi teraba, Camelia membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya. Matanya berbinar melihat buku novel yang sejak tadi dia cari-cari.


Camelia membuka lembar demi lembar cerita dalam novel tersebut. Tangannya refleks membekap mulut ketika dia membaca setiap cerita yang dulu pernah dia baca telah berubah. Alurnya persis seperti apa yang terjadi dalam kehidupan nya selama satu tahun ini.


"Kak Kent!" Camelia mulai terisak. Hatinya sakit. Ribuan jarum terasa sengaja di tancapkan ke jantungnya.


Dengan cekatan Camelia membuka halaman terakhir dari buku itu. Air mata Camelia semakin mengalir dengan deras. Bahkan suara isakkan yang tadi sempat dia redam, kini malah terdengar sampai keluar kamarnya.


"Kenapa kau sangat keras kepala Kak? Aku sudah menitipkan kalian kepada Samantha. Kenapa kau tidak mendengar ku? Kau malah mengurus anak kita sendiri. Kau benar-benar keras kepala."


Camelia mendekap buku novel itu dengan air mata dan tangisan yang semakin menjadi. Fuchsia dan Adrias masuk ke kamar Camelia dan ikut terduduk di depan anak mereka.


"Ada apa sayang? Kenapa kau menangis seperti ini?" Fuschia bertanya sembari merengkuh tubuh Camelia di dalam dekapan.


"Hikssss. Camelia merindukan seseorang Ibu. Camelia sangat merindukannya."


Fuchsia mengelus punggung Camelia lembut. Dia pikir mungkin Camelia memang sedang merindukan seseorang. Namun Fuchsia tidak pernah tahu kalau yang dia rindukan adalah sosok Kent juga anaknya yang berada di dimensi lain.


Kehidupan Camelia seperti di permainkan oleh takdir. Dia menderita lalu merasakan kebahagiaan. Namun belum sempat dia memetik kebahagiaan itu lebih banyak, takdir menariknya kembali untuk mengingatkannya bahwa kehidupan dia yang senarnya adalah di dunia nyata.


Kehancuran Kent tidak terjadi. Namun kini hati mereka lah yang hancur karena mereka tidak bisa terus bersama. Kisah cinta yang teramat manis namun berakhir dengan sebuah perpisahan. Takdir keduanya tidak berpihak kepada mereka. Dan mereka juga tidak bisa melakukan apapun selain menerima takdir itu meskipun rasanya sangat sulit.


The End.


Hore. Akhirnya novel ini tamat juga. Terima kasih untuk para pembaca setia juga untuk para Author yang selalu mendukung Kim. Sehat selalu untuk kalian semua. Semoga rezeki kita semua lancar ya. Aamiin.


See you in the next projek. Jangan lupa mampir ke karya terbaru ya.