Extraordinary Love

Extraordinary Love
Tidur di Kamar Yang Sama



Camelia, Kent dan Melodi sedang duduk di meja makan. Melodi sedang memakan mie buatan Camelia dengan nikmat, sedangkan Kent sedang menatap tajam wanita yang ada di hadapannya itu karena marah.


"Kakak!" panggil Camelia menarik tangan suaminya. Dia tahu dan dia bisa merasakan aura tidak menyenangkan dari suaminya itu.


Kent menoleh. Dia menatap Camelia dingin. Kenapa di rumahnya ada wanita asing, sudah cukup Viola ada di sana dan mengganggu kehidupan mereka. Kini harus bertambah lagi orang baru. Apa Camelia tidak merasa terganggu dengan itu.


"Kakak, jangan seperti itu. Dia adalah teman ku satu-satunya. Aku tidak memiliki teman lagi selain dia, apa Kakak tega membiarkan ku hidup tanpa memiliki seorang teman?"


Kent diam, dia berpikir untuk sesaat. Bukan maksud Kent untuk melarang Camelia memiliki teman, dia hanya tidak suka melihat orang baru masuk ke dalam rumah nya begitu saja.


"Aku tidak mempermasalahkan mu memiliki teman, mau berapa banyak pun teman yang kau miliki, aku tidak masalah. Tapi jangan seperti ini. Kalau dia menganggu orang rumah bagaimana?"


Camelia terkekeh. Dia mengerti apa yang di maksud Kent padanya. Laki-laki ini tidak melarang dia membawa orang ke rumah mereka, dia hanya takut waktunya berduaan dengan Camelia terganggu.


"Selama Melodi tinggal di sini, dia akan tidur di kamar ku. Dan aku akan tidur di kamar Kakak!" bisik Camelia di telinga Kent.


Sontak saja Kent langsung tersenyum. Kalau seperti itu, satu bulan pun Melodi menginap di rumahnya, Kent tidak akan keberatan. Apalagi Camelia akan memiliki teman ketika dia berangkat ke kampus. Kent bisa lebih tenang sedikit.


"Sekarang pergilah ke kamar Kakak! Nanti akau akan menyusul. Aku akan membuatkan jus alpukat."


Kent menurut. Dia pergi ke kamarnya setelah mendapat kecupan dari Camelia.


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah menikah?" tanya Melodi. Dia menyeruput kuah mie yang ada di mangkuknya sampai tetesan terakhir. "Aku pikir ini adalah rumah orang tuamu. Kau masih muda, kenapa kau memutuskan untuk menikah? dan usia kalian terpaut jauh bukan?" tanya Melodi bertubi-tubi.


Camelia hanya tersenyum. Dia mengambil mangkuk mie yang sudah kosong lalau membawanya ke wastafel dan mencucinya sampai bersih.


Melodi mengikuti nya dari belakang. Dia masih penasaran menunggu jawaban dari Camelia.


"Aku menikah dengannya karena aku mencintai nya Mel, umur bukan suatu alasan untuk menghalangi cintaku padanya. Aku hanya mengikuti kata hatiku."


Melodi mengangguk. Meskipun dia tidak mengerti, tapi dia tahu kalau dia tidak berhak mencampuri urusan orang lain. Kalau memang Camelia mencintai Kent, biarkan saja yang penting dia bahagia. Daripada terjerumus ke lembah dosa, lebih baik mencintai orang yang memang sudah halal, bukankah dengan begitu kita tidak akan berdosa jika melakukan hal-hal yang biasa orang lakukan ketika mereka pacaran.


"Aku akan mengantarmu ke kamar," ucap Camelia sambil membawa segelas jus alpukat di tangannya. Dia tadi sudah janji pada Kent kalau dia akan membuatkannya jus alpukat.


Mereka naik ke lantai atas. Saat tiba di depan pintu, Camelia menyuruh Melodi masuk.


"Anggaplah kamar mu sendiri. Aku juga masih suka tidur di sana kok. Jadi kamarnya terawat," ucap Camelia. Melodi mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Camelia.


****


"Kak!" panggil Camelia ketika dia sudah ada di dalam kamar. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok sang suami. Tapi suaminya itu tidak ada.


"Kak kau di mana?" panggil Camelia lagi. Dia meletakan gelas jusnya di atas nakas lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Tok Tok Tok...


"Kakak!" panggil Camelia sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Kakak ada di dalam tidak?"


Masih tidak ada sahutan. Sebenarnya Kent ini kemana, kenapa dia tidak ada di kamar. Bukankah tadi Camelia menyuruh nya untuk menunggu di kamar.


Pintu kamar itu terbuka. Camelia langsung menoleh ke arah pintu. Senyuman di bibirnya tersungging dengan indah tat kala matanya bertemu dengan mata sang suami yang sejak tadi dia cari-cari.


"Kakak dari mana saja?" tanya Camelia memeluk suaminya erat.


"Aku tadi ke ruang baca dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan. Teman mu sudah masuk kamar?"


Camelia mengangguk. "Dia sudah masuk ke kamar ku sejak tadi Kak. Aku juga sudah membawakan mu jus alpukat yang aku janjikan. Tadi kau makan hanya sedikit, minum lah jus nya terlebih dahulu!" ucap Camelia . Dia melepas pelukannya lalu menuntun Kent untuk duduk di tepian ranjang.


"Ini! minum dan habiskan!"


Camelia menyodorkan gelas berisi jus alpukat itu ke hadapan Kent.


"Terimakasih!" ucap Kent lalu mulai menenggak jus yang di berikan Camelia padanya.


****


Di sebuah kamar hotel bintang lima yang ada di kota itu, seorang perempuan cantik sedang asik menunggang kuda jantan kesayangannya. Dia tak henti-hentinya melengguh saat kenikmatan-kenikmatan yang dia dan laki-laki itu ciptakan mereka rasakan berkali-kali.


"Apa ini enak Kak?" tanya sang wanita.


Laki-laki itu menggeram sambil memukul paha wanita itu sampai meninggalkan jejak kemerahan di pahanya.


"Sebut namaku Viola!" pinta Taksa pada wanita yang sedang berada di atas tubuhnya.


Setelah perjuangan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai pada pelepasan yang sangat mereka sukai. Mereka sudah sering melakukan ini, tapi mereka selalu menginginkan lagi dan lagi. Seolah kegiatan seperti ini sudah menjadi candu untuk mereka.


"Aku capek Kak!" ucap Viola yang sudah ambruk di atas dada Taksa. Dia memejamkan matanya menikmati sensasi luar biasa yang sudah dia rasakan berkali-kali selama dua jam terakhir ini.


"Tidurlah!" ucap Taksa pada Viola. Wanita itu menggeleng.


"Aku tidak bisa Kak, aku harus pulang. Aku takut Kent curiga kalau aku tidak pulang sekarang."


"Eumm, maafkan aku Vi, karena aku, kau harus melewati ini semua. Aku janji, setelah semua rencana kita selesai, aku akan menikahi mu, sampai saat itu tiba, bersabarlah sebentar lagi heummm!" pinta Takasa membuat Viola tersenyum bahagia.


"Aku gak papa Kak. Aku bahagia bisa melewati ini semua dengan mu."


Setelah istirahat tiga puluh menit, Viola sudah rapih mengenakan pakaian yang tadi berserakan di atas lantai. Dia sedang merapikan rambut juga memakai sedikit riasan di wajahnya.


"Kau yakin bisa pulang sendiri?" tanya Taksa memeluk Viola dari belakang.


Viola tersenyum. Dia mengelus punggung tangan Taksa yang melingkar di perut rampingnya.


"Aku bisa pulang sendiri Kak. Aku bukan wanita lemah yang harus selalu mendapat penjagaan ketat. Lagipula kalau Kakak mengantar ku, aku takut Kent akan curiga."


Taksa mengangguk. Dia mengecup bibir Viola sekilas lalu mengantarnya sampai di depan pintu kamar hotel.


...To Be Continued....