Extraordinary Love

Extraordinary Love
Baju Dinas



"Hei Kau!" pekik Viola pada Camelia yang sedang asyik menonton drama di ruang tv.


Tidak ada sahutan dari orang yang di panggil. Dia masih fokus menatap layar televisi sambil mengunyah snack kentang kesukaannya.


"Hei!"...


"Garbera, budeg!" teriak Viola lagi.


Camelia menoleh. "Kak Viola memanggilku?" tanya Camelia santai.


"Emang ada orang lain lagi apa di rumah ini?" ketus Viola berdecak pinggang di hadapan Camelia.


"Lha, tadi aku denger Kakak teriak, tapi gak denger manggil nama aku."


Viola memutar bola matanya malas. "Dasar bego, tolol lo," gumam Viola dalam hati.


"Iya deh, gue tahu, gue yang salah. Makanan di kulkas udah pada abis. Lo beli sana! Indri udah pulang, bentar lagi Kent juga pulang kan dari kantor!"


"Kenapa harus aku Kak? kan harusnya istri pertama yang belanja. Kalau kayak gini, aku serasa jadi babu Kakak tahu gak?"


"Alah, banyak omong kamu tu. Nanti suami kamu pulang mau kamu kasih makan apa? di kasih makan lotus doang? kan gak enak, Kent bukan domba."


Camelia mendengus. "Yang domba itu kamu Kak Viola," gumam Camelia dalam hati.


"Ya sudah, aku mau belanja. Tapi nanti kalau belanjaan kali ini sudah habis, giliran Kakak yang belanja ya."


"Eumm... Cepatlah pergi!" usir Viola yang sudah tidak sabaran.


sepuluh menit bersiap-siap, akhirnya Camelia pun pergi ke sebuah mini market yang masih dekat dengan rumahnya. Dia mau melakukan ini karena tidak mau mendengar ocehan Viola terlalu lama.


"Bapak tunggu di sini aja ya!" ucap Camelia pada sopirnya.


"Baik Nyonya," jawab sopir itu.


Setelah mengambil troli, Camelia mulai aksi berbelanja nya. Dari rumah dia memang agak kesal ketika Viola menyuruhnya untuk berbelanja, tapi ketika sudah sampai di mini market, dia berbelanja dengan sangat gembira.


"Beras sudah, telur sudah, sayuran sudah, buah-buahan sudah," Camelia terus mendikte barang-barang yang mau dia beli setelah di rasanya cukup, Camelia mendorong troli nya ke tempat kasir.


"Semuanya menjadi 21 juta 300 Kak, ada tambahan lain?" tanya kasir itu.


"E buset, perasaan ini troli gak penuh-penuh amat. Kenapa bisa nyampe 21 juta," pikir Camelia dalam hati.


Camelia menyerahkan black card andalannya. Kent tidak akan marah hanya karena dia belanja kebutuhan rumah kan? gak mungkin, uang Kent itu banyak.


"Mau saya bantu antar ke mobilnya Kak?" ucap seorang kasir laki-laki.


"Ah iya Mas, tolong di bantu ya!"


Setelah semua barang belanjaan masuk, tiba-tiba saat Camelia ingin masuk ke dalam mobil, Camelia merasa agak pusing, dia memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Kak Kent tidak boleh pulang dulu!" guamam nya ketika sekelebat bayangan Kent dan Viola berputar di atas kepalanya.


"Nyonya tidak apa-apa?" tanya sopirnya.


Camelia menggeleng. "Saya gak papa Pak. Tolong cepat pulang ya! saya buru-buru," ucap Camelia. Sopirnya itu mengangguk lalu dengan cepat melajukan mobilnya.


"Kak Kent, angkat teleponnya!" Camelia gelisah bukan main. Dia masih terus berusaha untuk menelpon suaminya meski tidak ada jawaban.


"Kak!" pekik Camelia pada orang di sebrang telepon.


"Ada apa Bella? kenapa harus berteriak seperti itu? aku gak tuli."


"Kakak di mana? Kakak belum pulang ke rumah kan?" tanya Camelia khawatir.


"Aku sebentar lagi sampai kok. Ini lagi di depan gerbang."


"Aduh Kak, jangan masuk dulu! puter balik bentar. Aku lagi di jalan bentar lagi nyampe. Pokonya jangan masuk dulu, kalau sampai Kakak masuk ke rumah, aku akan membunuh Kakak!"


Kent menjauhkan ponselnya dari wajahnya. "Gadis ini gila atau bagaimana?" batin Kent menggerutu.


"Baiklah, aku gak akan masuk dulu. Kamu cepatlah pulang!" ucap Kent dan...


Tutttt... Dia menutup panggilan telepon nya.


"Baik Tuan."


"Gadis bar-bar itu ngapain sih nyuruh nunggu di luar rumah, gak ada kerjaan banget. Mending kalau bentar. Ini, udah lima belas menit nunggu masih gak muncul juga itu orang."


Setelah dua puluh menit berlalu, akhirnya Kent bisa melihat sosok istri kecilnya yang keluar dari dalam mobil.


Tok Tok Tok.


"Kak, buka pintunya!" teriak Camelia pada Kent yang ada di kursi belakang.


Blammmm...


Kent di buat terperangah dengan sikap bar-bar istrinya ini, kenapa harus sampai membanting pintu mobil coba? padahal situasi gak lagi urgent kan?..


"Kak! Kakak gak boleh masuk kamar dulu!"


Kent mengerutkan keningnya bingung. Emangnya kenapa kalau dia masuk kamar, bukankah kamar juga kamarnya dia, terserah dia dong mau masuk kapan aja. Kenapa jadi Camelia yang repot.


"Ya gak bisa gitu lah, kalau aku gak ke kamar, bagaimana aku bisa berganti pakaian, belum lagi aku harus mandi."


"Shuttttt," Camelia menaruh jemarinya di depan bibir.


"Kakak tahu gak? Kak Viola sedang merencanakan sesuatu, kalau sampai Kakak masuk sekarang, Kakak akan masuk perangkapnya."


"Maksudmu apa Bella? jangan bertele-tele," ucap Kent yang mulai kesal dengan ucapan Bella yang tidak tahu arah itu.


"Gini deh, aku bakal jelasin semuanya sama Kakak. Tapi untuk sekarang, Kakak ikutin apa yang aku bilang," ucap Camelia lagi. Matanya menatap dalam mata Kent yang terlihat sangat indah itu.


"Kak!" panggil Camelia ketika melihat Kent hanya diam sambil menatapnya tanpa berkedip.


"Kak!" teriak Camelia lagi.


Kent terperanjat. "Apa?" tanya Kent.


"Astaga Kakak. Kenapa malah jadi lemot kayak gini sih? Aku capek jelasinnya."


Kent menautkan alisnya. Memang dia salah apa? harusnya kan Camelia yang di salah kan. Siapa suruh Camelia bercerita dengan jarak yang terlalu dekat, kalau Kent gagal fokus dia gak salah dong.


"Sekarang gini aja, Kakak ikut ke kamar aku, dan Pak Indro suruh ke kamar Kakak, nanti sopir aku biar suruh nunggu di luar gerbang aja supaya Kak Viola gak curiga."


"Apapun yang kau rencanakan aku akan mengikuti alur nya," ucap Kent pasrah.


"Cakep!" Camelia mengacungkan kedua jempolnya di hadapan Kent.


****


Sesuai dengan rencana Camelia, Kent sudah masuk ke kamarnya Camelia. Sementara Indro, di suruh masuk ke kamar Kent. Entah apa yang sedang Indro lakukan di kamar Kent, tapi sudah 10 menit sejak dia masuk ke kamar itu, dia belum keluar.


Karena bosan, Kent ikut menyumbulkan kepalanya dari pintu kamar Camelia, Camelia mendongakkan kepalanya saat dia merasa ada seseorang yang berdiri di belakang tubuhnya.


"Kak!" bisik Camelia. "Ngapain di sini?"


"Aku bosan. Sudah diam saja. Kau mau Viola tahu kalau kita mengganti orang."


Akhirnya Camelia diam.


"Akhhhhhh."


Camelia dan Kent menolehkan kepalanya ke arah suara. Viola keluar dengan wajah yang memerah bak cabe rawit.


"Kau tidak boleh melihatnya Kak," ucap Camelia yang sudah berbalik dan menutup mata Kent. Perlahan, tubuh mungil itu mendorong masuk Kent kembali ke dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Kent melepas tangan Camelia yang menutupi matanya. Dia menunduk menatap Camelia lekat.


"Dia sedang memakai baju dinas Kakak!"


Kent semakin di buat bingung. "Baju dinas apa?"


...To Be Continued....