
Camelia dan Kent memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Hari ini mereka tidak akan ke kantor karena mereka masih sangat lelah.
"Kak, proyek yang akan Kakak tangani itu adalah proyek yang sangat besar bukan? Apa Kakak tidak capek?"
Kent tersenyum. Dia menarik pinggang Camelia lalu berbisik di telinga istrinya. "Aku tidak akan capek kalau saat pulang ke rumah aku dapat service dari kamu."
"Ikh Kakak apaan sih. Suka ngada-ngada deh. Emang aku pegawai bengkel apa sampai harus jadi tukang service."
Kent terkekeh. Dia melepaskan tangannya dari pinggang Camelia lalu menarik bahu wanita cantik itu kemudian mencondongkan badannya supaya dia bisa leluasa berbisik kembali di telinga Camelia.
"Maksudku bukan service seperti itu, tetapi service di atas ranjang," bisik Kent dengan senyum menyeringai.
Camelia langsung mendorong bahu Kent dan berlari menjauh dari suaminya. "Kakak mesum ikh, bikin aku takut aja." Camelia berteriak sambil berlari. Kent hanya tersenyum sembari berjalan perlahan mengikuti langkah Camelia.
Langkah Camelia terhenti begitu dia melihat dua perempuan sedang duduk di sofa dan satu lagi sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya.
"Ibu!" gumam Camelia melihat punggung Ashana. Dia berjalan mendekat ke arah ibu mertuanya lalu menyodorkan tangannya hendak meraih tangan Ashana. Ibu mertuanya itu tidak merespon. Dia malah menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik tas yang dia bawa.
Viola tersenyum meremehkan. Tidak sia-sia dia curhat kepada Ashana dan menceritakan kondisinya yang diperlakukan tidak adil oleh Kent. Dan bodohnya, Ashana yang sangat menyayangi Viola mempercayai setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita ular itu.
"Ibu!" panggil Kent. Dia mendekati sang ibu lalu menarik bahu Camelia dan menyuruh istrinya untuk membawa Melodi pergi ke lantai atas.
"Aku akan segera menemui mu setelah ini Baby, kau pergi dulu sebentar ya," Kent berbisik di samping wajah Camelia dan langsung di jawab anggukan oleh Camelia.
"Ayo Mel, kita pergi ke kamar dulu sebentar!" ajak Camelia pada Melodi. Kent menatap punggung Camelia lalu duduk di depan ibunya dan juga di depan Viola.
"Ada apa Bu?" tanya Kent membuka pembicaraan.
"Ibu dengar kamu memperlakukan Viola tidak adil," ujar Ashana menatap Kent tidak suka. "Kent, bagaimana Viola bisa memberikan ibu cucu kalau kamu tidak pernah menyentuhnya! Perlakukan Viola dengan baik Nak, buat dia hamil agar ibu bisa cepat menimang cucu.
Kent tersenyum namun senyumannya tidak sampai ke mata tajamnya. Dia melirik Viola sekilas lalu berdecih merasa jijik dengan sikap Viola yang bertingkah seperti orang terzolimi di depan ibunya.
"Aku akan bercerai dengan Viola Bu."
Satu kalimat itu sukses membuat Viola dan Ashana membulatkan matanya terkejut. Bola mata mereka hampir saja menggelinding. Kalimat sakral yang keluar dari mulut Kent itu membuat kedua orang yang duduk di depannya mengepalkan kedua tangan mereka kesal.
Brakkkkk!
Ashana membanting tasnya ke atas meja. Dia berdiri lalu melemparkan bantal sofa pada Kent.
Bugh!
"Dasar anak tidak berguna, kenapa kau mau menikahi Viola kalau dalam waktu kurang dari dua bulan kau sudah akan menceraikannya. Kau pikir kau siapa bisa seenaknya berbuat seperti itu."
Bugh!
Ashana kembali melemparkan bantal ke wajah Kent.
"Kent tidak pernah mencintai Viola, Kent terpaksa menikahi dia karena Ibu dan Ayah memaksa Kent untuk melakukan itu. Sekarang Kent sudah menikah dengan Viola, maslah Kent mau menceraikannya atau tidak, itu urusan Kent Bu, kenapa Ibu harus ikut campur?"
Ashana semakin geram mendengar penuturan dari putra semata wayangnya. Dia ingin menampar wajah Kent namun Viola mencegahnya.
Kent menautkan kedua alisnya. "Jangan bawa-bawa Bella dalam hal ini Viola, dia tidak salah apa-apa. Dan bukankah kamu mencintai orang lain? Seharusnya kamu sadar diri, apa yang sudah kamu lakukan itu sangat keterlaluan."
Viola mematung. Dia tidak berani melanjutkan ocehannya. Ashana juga beralih menatap Viola. "Apa maksud Kent Viola, kenapa dia mengatakan kalau kau mencintai orang lain?"
Viola menggelengkan kepalanya. "Kak Kent bohong Bu, Viola hanya mencintai Kak Kent. Viola tidak mencintai orang lain. Hanya Kak Kent yang ada di dalam hati Viola."
Tak! Tak! Tak!
Semua orang menoleh ke arah tangga. Camelia turun dengan senyuman termanis yang dia miliki. Langkah teraturnya membawanya mendekat ke arah sekumpulan orang yang sejak tadi terus membicarakan hal yang tidak jelas.
"Jangan membohongi dirimu sendiri Kak Viola yang cantik jelita," ucap Camelia dengan penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan. "Aku punya bukti kalau kau memiliki pria lain dan ya, aku juga punya bukti tentang pengkhianatan yang kau lakukan pada Kak Kent."
"Jangan mengancam ku seperti itu Bella, kalau kau memang memiliki bukti, tunjukan!"
Camelia kembali tersenyum. Dia mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto pada semua orang.
"Apa ini sudah jelas?" tanya Camelia.
Ashana membekap mulutnya. Dia sangat terkejut melihat apa yang ada di depan matanya. Bisa-bisanya Viola tidur dengan laki-laki lain, sementara dari apa yang dia dengar, Kent yang notabenenya suami dari Viola saja belum menidurinya.
"Jangan percaya, itu semua bohong. Bella pasti mengedit foto itu, itu bukan aku."
Viola masih berusaha untuk membela dirinya. Bahkan setelah bukti terpang-pang jelas di depan matanya saja dia masih berusaha untuk mengelak dan malah menuduh Camelia mengedit fotonya.
"Aku masih ada satu bukti lagi," ucap Camelia.
Mereka kembali menoleh ke arah tangga. Dari sana, Melodi muncul dengan sebuah laptop di tangannya. Melodi tersenyum sambil menggoyang-goyangkan laptop itu di hadapan semua orang seolah dia ingin mengatakan kalau dia punya bukti yang mungkin bisa saja menjadi bom waktu untuk Viola.
"Putar Videonya Mel!" titah Camelia pada Melodi.
Melodi mengangguk. Dengan segera dia memutar video yang dimaksud oleh Camelia. Viola sudah gemetar. Dia meremas ujung dres yang dia kenakan. Sementara Ashana, dia fokus menatap layar laptop dan melihat apa yang ada di dalam video yang di siapkan oleh Camelia.
Setelah cukup lama Video itu berputar, Ashana menoleh ke arah Camelia. "Apa maksud dari video ini Bella?" tanya Ashana.
Kent menarik bahu Camelia, "Aku yang akan menjelaskan semuanya."
Perlahan, saat Kent semakin memperjelas isi dalam video tersebut, Ashana mulai melirik Viola. Dia berjalan mendekati Viola dan ...
Plakkkkkkk!
Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi menantu kesayangannya. Viola meringis. Dia memegangi pipinya yang terasa panas juga berdenyut nyeri.
"Ibu!" gumam Viola menatap Ashana sendu.
"Jangan panggil aku Ibu, aku bukan Ibumu. Aku tidak sudi memiliki menantu seperti mu."
...To Be Continued....