
"Kau harus baik-baik saja Baby!"
Kent menautkan kedua tangannya sembari terus berdoa. Dia sudah berjanji untuk menjaga Camelia dengan baik. Namun kenapa hal seperti ini harus terjadi. Kent seperti sudah gagal menjadi suami yang baik. Pikirannya kacau, hatinya remuk melihat Camelia jatuh pingsan di depan matanya.
"Kent," panggil seseorang di lorong rumah sakit. Kent menoleh. Beberapa orang datang menghampirinya. Itu adalah kedua orang tua Kent juga kedua orang tua Camelia.
"Ada apa Kent? Kenapa Bella mendadak drop?" Zinnia bertanya dengan wajah pucat karena terlalu cemas. Navindra memegang kedua bahu Zinnia berusaha untuk menenangkan sang istri.
Belum sempat Kent menjawab, Kent sudah mendapat pertanyaan lain dari ibunya.
"Kenapa ini bisa terjadi Kent? Kenapa kamu tidak menjaga menantu Ibu dengan baik?"
Ashana bukannya menenangkan Kent malah membuat Kent semakin takut juga semakin merasa bersalah. "Sayang! Sudahlah, aku tahu ini bukan salah Kent. Kent pasti sudah menjaga Bella dengan baik. Ini sudah takdir Sayang. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun."
Ashana menatap suaminya lekat. Dia ingin menepis ucapan suaminya namun Navarro menggelengkan kepalanya membuat Ashana diam saat itu juga.
Krieetttt!
Pintu UGD terbuka. Seorang dokter muncul dengan beberapa perawat di sampingnya.
"Dok! Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Kent segera setelah dia melihat dokter itu keluar. Sang dokter tersenyum kemudian membuka masker yang tadi dia pakai.
"Istri Anda tidak apa-apa. Namun untuk memastikan hasilnya, sebaiknya kita menunggu pasien sadar. Kita juga sedang menunggu hasil lab darah. Nanti kita akan memanggil Anda setelah hasilnya keluar. Untuk sementara waktu istri Anda harus di rawat di sini. Anda bisa menyelesaikan administrasinya sekarang agar istri Anda bisa segera di pindahkan ke ruang rawat."
Kent mengangguk. Setelah semua orang berdiskusi dan menyelesaikan administrasi, kini Camelia sudah berada di dalam kamar rawat VVIP di rumah sakit. Kent sejak tadi tidak beranjak dari samping Camelia. Tangannya terus menggenggam jemari Camelia tanpa mau melepaskannya. Sesekali Kent mencium punggung tangan itu berharap orang yang mendapat ciuman bisa segera sadar.
"Eungh ...." Terdengar suara lenguhan dari dekat Kent. Laki-laki itu menoleh, Camelia membuka matanya perlahan. Entah kenapa kepalanya sangat pusing. Padahal Camelia merasa kalau dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Obat gula darah rendahnya selaku dia minum. Dia tidak stres juga tidak kecapean.
"Baby!" panggil Kent beranjak dari duduknya mendekati Camelia dan mengusap kepala istrinya lembut.
"Kak," gumam Camelia lemah. "Kenapa kalian semua ada di sini?" tanya Camelia ketika matanya melihat kedua orang tuanya juga kedua mertuanya ada di ruangan itu.
"Pa, tolong panggilkan dokter!" Minta Zinnia pada suaminya.
Navindra mengangguk. Dia keluar untuk memanggil dokter sedangkan Zinnia berjalan mendekati ranjang Camelia.
"Kamu kenapa Sayang? Kenapa kamu drop lagi? Apa yang terjadi?"
Camelia tersenyum. "Ma, Bella gak papa. Mungkin Bella hanya kecapean aja. Mama jangan khawatir."
"Bagaimana kita gak khawatir Sayang, kamu tiba-tiba pingsan. Dokter juga belum memberikan kejelasan. Ini benar-benar membuat kita semua khawatir."
Camelia meraih tangan Ashana lalu mengusap tangan itu dengan usapan yang pelan. "Ibu, Bella gak papa. Ada Kak Kent yang menjaga Bella, kalian tidak usah memikirkan hal yang tidak-tidak."
"Maafkan Ibu Sayang, maaf Ibu baru sadar kalau kamu ternyata adalah orang terbaik yang Tuhan berikan untuk keluarga Ibu."
Camelia mengangguk. Ini bukan salah Ashana. Viola itu orangnya licik. Dia bisa melakukan segala cara untuk membuat keinginannya terwujud. Wajar jika Ashana terjebak di dalam perangkap yang Viola buat.
"Dokternya sudah datang." Suara Navindra membuat semua orang menoleh ke arah pintu.
"Silahkan periksa menantu saya Dokter!"
Ashana menggeser tubuhnya memberikan ruang kepada sang dokter untuk memeriksa Camelia.
Setelah beberapa saat. Dokter itu tersenyum, dia menatap Kent kemudian menyampaikan sesuatu yang belum sempat dia katakan.
"Selamat Tuan, istri Anda sedang mengandung."
Kent terbengong. Dia menatap dokter itu dengan tatapan tidak percaya. Benarkah Camelia hamil? Dia akan menjadi seorang ayah? Kent akan memiliki seorang anak?.
Zinnia menitikkan air matanya. Begitupun dengan Ashana. Mereka berdua menetap Camelia dengan mata yang berkaca-kaca. "Selamat Nak, mulai sekarang kau akan menjadi seorang Ibu," ucap Zinnia sembari mencium kening Camelia.
Camelia hanya tersenyum, andai orang-orang tahu kalau dia adalah sosok lain di dalam tubuh Garbera. Ada perasaan bersalah juga perasan bahagia di hati Camelia. Camelia begitu bahagia karena dia dan Kent sakan memiliki momongan dalam waktu dekat. Namun yang membuat Camelia merasa bersalah adalah, dia seperti sedang menipu semua orang dengan hasil kerja gandanya. Mereka begitu menyayangi Bella, namu yang berbaring di atas ranjang adalah orang lain. Apa yang harus Camelia lakukan?.
"Kami baru melakukan cek darah saja. Untuk memastikannya, kalian lakukan saja testpack dan USG. Nanti aku akan menjadwalkan jadwal temu dengan beberapa dokter kandungan yang sudah ahli.
"Baiklah Dok. Terima kasih."
Dokter itu mengangguk kemudian berjalan keluar dari ruang rawat Camelia. Tugasnya memang sudah selesai. Untuk apa berdiam diri di ruangan itu lebih lama.
"Baby," panggil Kent menghampiri Camelia lalu mengecup kening Camelia sesaat. Kent tersenyum sembari mengucapkan kalimat-kalimat cinta juga rasa syukur.
"Sekarang kalian sudah akan menjadi orang tua. Kami semua berharap kalian akan menjadi keluarga yang utuh dan bahagia." Navarro berujar di antara semua orang. Ternyata hal yang mereka takutkan tidak terjadi. Camelia pingsan bukan untuk membuat mereka khawatir namun untuk memberikan hadiah kepada semua orang.
"Jaga Bella dengan baik Nak. Papa titipkan Bella padamu. Meskipun Papa ingin menjaga Bella, namun sekarang kau adalah orang yang paling berhak atas anak papa. Tolong bahagiakan dia."
Kent mengangguk mengiyakan apa yang di minta oleh papa mertuanya. Tanpa Navindra minta, Kent pasti akan menjaga Camelia dengan baik. Apalagi sekarang Camelia sedang mengandung. Kent harus memberikan kemanan extra untuk sang istri.
Semua orang terlihat bahagia mendengar kabar kehamilan Camelia. Sudah beberapa bulan ini mereka menunggu kehadiran cucu di antara mereka, dan baru sekarang Tuhan mengabulkan apa yang mereka inginkan.
"Mulai sekarang, aku akan mengantarmu ke kampus, pulang akan aku jemput, dan aku juga akan mempekerjakan beberapa pengawal untuk melindungi mu Baby."
Camelia tersenyum, namun hatinya menjerit . Kali ini dia benar-benar di jadikan tahanan oleh Kent. Dan sialnya lagi, Camelia tidak akan pernah bisa mengubah pemikiran sang suami. Kalau itu Kent lakukan untuk menjaga Camelia, maka keputusan yang sudah keluar dari bibirnya adalah keputusan yang mutlak.
To Be Continued.