
Pendaftaran lomba desain arsitektur untuk membuat sebuah desai sebuah museum seni di kota itu akan segera di tutup. Lebih tepatnya dua hari lagi Kent juga peserta yang lain harus segera mendaftar dan menyerahkan cetak biru mereka untuk segera di tinjau oleh pihak penyelenggara.
Kent sudah menyelesaikan desain arsitekturnya. Dia sudah merapikan cetak biru miliknya dan hanya tinggal menyerahkan semuanya pada pihak penyelanggara acara. Dia sudah sangat yakin kalau desain kali ini akan membawanya pada kemenangan.
Tok Tok Tok.
"Masuk!" sahut Kent dari dalam ruangannya.
Pintu ruangan itu terbuka. Munculah seorang wanita cantik yang kini sedang berjalan dengan anggun mendekatinya. Hati Kent menggerutu melihat Viola yang semakin hari semakin sering mendekatinya, dia sangat berharap kalau dia bisa bersikap normal kembali kepada Viola. Dia sangat tidak suka wanita licik itu mendekatinya. Apalagi kalau sampai Viola menyentuhnya. Tubuhnya seperti alergi sentuhan dari Viola. Selain dia yang suka muntah-muntah, kulit Kent yang tersentuh oleh Viola selalu membengkak layaknya orang yang alergi dingin.
"Ada apa?" tanya Kent. Sebenarnya dia sangat malas basa-basi kepada Viola. Namun, demi Camelia, dia akan melakukan ini. Dia tidak mau mengecewakan wanita yang dia cintai.
"Aku ada pekerjaan di dekat kantor mu Kak. Jadi aku mampir dulu ke sini. Aku merindukanmu, tidak apa bukan?"
Viola duduk di depan Kent, lebih tepatnya di kursi yang ada di depan meja kerja Kent. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Wajahnya condong ke depan memperhatikan wajah tampan Kent yang tegas namun benar-benar sangat manly. Wajahnya tampan dan ada kesan cantiknya meskipun hanya tidak sebanyak kesan maco nya. Ibarat aktor Indonesia, dia adalah Roger Danuarta di tahun 2000an. Seperti Jungkook BTS namun lebih cowok lagi.
*Aeng ngomong apa sih* 🤣
"Aku sedang bekerja Vi. Sebaiknya kamu langsung pulang aja. Setelah ini aku ada meeting. Lagipula kau harus banyak istirahat. Bukankah dua hari lagi kau ada penerbangan ke LA?"
Viola tersenyum bahagia. Dia berdiri dari duduknya lalu berjalan mengitari meja dan duduk di pangkuan Kent. Laki-laki itu mengeram dalam hati. Bukan karena dia tergoda, melainkan dia sedang menahan mual yang amat luar biasa di tenggorokannya.
"Kau sangat perhatian Kak. Kau bahkan tahu jadwal penerbangan ku. Aku pikir kau tidak pernah memperdulikan ku. Ternyata aku salah."
Cup.
Viola tersenyum setelah mengecup pipi Kent sekilas. Dia berdiri dari pangkuan Kent lalu duduk di atas meja.
Kent menyumpah serapah Viola di dalam hati. Dia benar-benar melaknat Viola. Wanita ini benar-benar kurang ajar. Di kasih hati malah minta jantung. Di beri ruang sedikit malah meminta tempat lebih luas.
"Maafkan aku Vi, aku harus segera pergi. Klien ku sudah menunggu. Kau boleh menungguku kalau kau mau. Aku pergi dulu ya!"
Viola terbengong ketika melihat Kent berjalan dengan tergesa dari dalam ruangannya. Wanita itu menatap Heran Kent yang menutup pintu dengan kasar. Dia ingin marah namun saat melihat sebuah tabung yang ukuranya cukup besar, panjang tabung itu mungkin sekitar 70 cm lebih. Matanya langsung berbinar. Dia sudah menunggu ini sejak lama. Bahkan Taksa sudah beberapa kali menghubunginya dan meminta kepastian atas untuk rencana yang telah dia atur.
Viola mengambil tabung itu lalu membuka tutupnya. Tangannya merogoh sesuatu yang ada di dalam tabung tersebut. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat dia melihat cetak biru milik Kent. Ternyata dugaannya memang benar. Kent benar-benar bodoh karena menyimpan cetak biru miliknya sembarangan.
Wanita licik itu mengeluarkan semua cetak biru yang ada di dalam tabung. Dia mengambil cetak biru lain dari dalam tasnya. Dia sudah persiapan cukup lama. Bahkan cetak biru yang di berikan Taksa sudah ada di dalam tasnya sejak satu minggu yang lalu.
"Maafkan aku Kent. Aku harus melakukan ini supaya aku bisa bercerai dengan mu dan dan menikah dengan Kak Taksa. Kau memang tampan. Kau juga sangat baik, tetapi itu saja belum cukup kalau kau tidak mau menyentuhku dan memperlakukan ku dengan baik. Aku wanita dewasa Kent. Aku butuh kehangatan. Apa yang tidak bisa kau berikan, Taksa bisa memberikannya padaku."
Sementara di tempat lain, Kent sedang sangat kesulitan. Dia terus memuntahkan isi perutnya. Dia berada di ruangan khusus tamu ketika perusahaannya kedatangan tamu dari luar negri. Kali ini dia benar-benar tidak bisa mentolerir sentuhan Viola. Wanita gila itu telah membuat seluruh tubuhnya gatal bahkan lambungnya ikut menjerit karena terus di paksa untuk mengeluarkan isinya.
Laki-laki itu menggeleng namun detik berikutnya dia mengangguk. Dia sudah tidak bisa menahan gejolak yang ada di dalam perutnya. Dia sudah sangat lelah. Tubuhnya sudah sangat lemas.
"Tolong hubungi dia Dev!" Titah Kent pada Devano.
"Baik Tuan."
"Halo Nyonya!" ucap Devano pada orang di sebrang telepon.
"Ada apa Dev?" tanya Camelia. Dia melirik Melodi yang ada di sampingnya. Sangat jarang Devano menghubunginya. Apa yang sedang terjadi?
"Tuan Nyonya. Dia alergi Nyonya Pertama."
"Astaga. Viola benar-benar minta di hajar. Aku akan ke sana sekarang Dev. Tolong jaga Kak Kent sebentar. 30 menit lagi aku akan sampai, tidak, aku janji, 15 menit lagi aku akan sampai di perusahaan. Jangan melakukan apapun."
Setelah menutup teleponnya. Camelia melirik Melodi kembali. "Mel, aku mau minta tolong," ucap Camelia dengan wajah memelas.
Setelah menyampaikan apa yang dia ingin sampaikan, mereka sekarang sudah ada di depan kampus. Melodi memberikan sebuah helm pada Camelia. Sementara dia sendiri tidak mengenakan helm. Aneh bukan.
"Aku tidak apa-apa. Aku harus bertanggung jawab kalau sesuatu terjadi. Lebih aman kalau kau yang mengenakan helm daripada aku."
Camelia ingin menolak namun dia tidak bisa karena Kent sedang benar-benar membutuhkan bantuannya. Semakin lama dia sampai, semakin lama pula Kent menderita.
Motor sport yang di kendari Melodi melesat pergi membelah jalanan di kota C yang kala itu terlihat sepi karena masih jam bekerja. Kalau mereka pergi di saat jam pulang kerja, mungkin lalu lintas tidak akan selancar ini.
Angin kencang yang berhembus seperti akan menerbangkan mereka berdua. Namun, Melodi maupun Camelia tidak merasa takut. Mereka sedang di kejar waktu.
Tepat 14 menit 30 detik, Camelia dan Melodi sudah sampai di depan kantor Kent. Mereka berdua langsung berlari ke dalam. Karena orang-orang yang ada di perusahaan itu sudah tahu siapa Camelia dan Melodi, mereka tidak mendapat pertanyaan apapun dari penjaga atau resepsionis yang ada di sana.
Brakkkkkk ...
Camelia membulatkan matanya saat dia melihat Kent tergeletak di atas lantai. Sementara Devano, dia hanya berdiri memperhatikan Kent.
...To Be Continued....
Alurnya membingungkan?
Mohon maaf Reader. Sedikit penjelasan. Di novel ini hampir semua orang memiliki rahasia masing-masing. Ini menceritakan tentang kehidupan Camelia di dalam sebuah novel yang sangat dia sukai. Cerita Camelia dalam kehidupan nyata miliknya hanyalah kilasan di bab awal aja. 🙏 Kalau ada kritik dan saran tolong beritahu Author biar Author bisa memperbaikinya. Terima kasih. Sekali lagi maafkan Author. 🙏